BANGSA “TERORIS”, MENGANDALKAN SEGALA CARA, SOK BERKUASA, SUKA HIDUP MEWAH, DAN BANYAK OMONG?


BANGSA “TERORIS, MENGANDALKAN SEGALA CARA,

SOK BERKUASA, SUKA HIDUP MEWAH, DAN

BANYAK OMONG?

(Refleksi Orang Awam Terhadap Orang “Gedhe”)

Oleh: Wawan Kardiyanto*

Ini tulisan lama………. Tapi coba saya jadikan baru dengan memberi jahitan kecil di dalamnya………….

Menteri Senior Singapura, Lee Kuan Yew kembali mengejutkan bangsa Indonesia lewat pernyataannya yang mengindikasikan bahwa bangsa Indonesia adalah sarang teroris. Pernyataan Lee kuan Yew didasarkan pada kenyataan bahwa dalang operasi Jemaah Islamiyah yang tertangkap di Singapura dinyatakan masih berkeliaran bebas di Indonesia. Karena itu menurutnya ancaman terhadap Singapura hanya bisa disingkirkan jika jaringan operasi yang dilatih Al Qaeda di sekitar Singapura dibubarkan termasuk yang ada di Indonesia.

Pernyataan Lee tersebut begitu membuat berang pejabat pemerintah dan orang-orang gedhe di negeri ini. Banyak yang menyesalkan pernyataan Lee itu, yang menurut mereka tidak berlandaskan pada bukti dan data akurat. Akibatnya hubungan Indonesia dan Singapura yang akhir-akhir ini sering bermasalah akan semakin parah. Bagai kebakaran jenggot pejabat pemerintah dan orang-orang gedhe Indonesia balik memberikan pernyataan, dari mencoba minta klarifikasi, membantah keras pernyataan Lee, hingga mengutuk dan menghujatnya. Menurut pemerintah Indonesia pernyataan Lee itu telah menyinggung bangsa Indonesia.

Terlepas dari benar atau tidaknya teriakan Lee bahwa Indonesia adalah sarang Teroris, dan terlepas dari persoalan issu terorisme internasional yang akhir-akhir ini dijadikan propaganda pemerintah Amerika Serikat sebagai musuh yang harus ditumpas, dan terlepas dari segala tetek mbengek yang diributkan, sebaiknya bangsa Indonesia mencoba berkaca diri kembali.  Tuduhan sebagai bangsa teroris harus menyadarkan kita akan sepak terjang kita 4 tahun belakangan ini. Peristiwa-peristiwa teror, kerusuhan dan kejahatan sosial yang hingga saat ini belum reda di tanah air,  bukankah dapat dikatagorikan label terorisme? Tindakan kejam, banjir darah, perang antar agama, suku dan kampung, peledakan bom, bukankah itu tindakan teroris? Apapun alasannya, tindakan-tindakan anarkhis tersebut jelas-jelas dilakukan oleh “sesuatu” yang layak dicap sebagai teroris!

Kalau begitu, mari kita mencoba kembali merenungkan pertanyaan tersebut di atas. Benarkah bangsa Indonesia adalah bangsa teroris?

Suka Hidup Mewah?

Sore itu, kalau tidak salah Selasa 19 Februari 2002, aku nonton televisi pada acara Cek & RiCek di RCTI.  Pada saat itu acaranya cukup membuatku berpikir –bukan pada acara yang sedang kutonton–, namun pada tayangan televisi sebelumnya selama hampir dua minggu, yaitu musibah banjir yang melanda kota Jakarta dan beberapa pelosok nusantara. Banjir yang terjadi menurutku begitu mengenaskan, rumah-rumah terendam air hingga 4 meter, hampir selama 2 minggu di Jakarta. Para penduduk terlihat berusaha menyelamatkan keluarga dan hartanya masing-masing. Mereka berbondong-bondong mengungsi di daerah ketinggian yang tidak terkena banjir. Dari tayangan lewat udara, Jakarta terlihat laksana sebuah lautan baru yang diwarnai bintik-bintik hitam genteng-genteng rumah penduduk yang terendam, tak mengenal kaya maupun miskin.

Musibah banjir ini menjadi sebuah tragedi yang menjadi perbincangan banyak orang. Banyak omongan yang berupa pertanyaan, pendapat, tanggapan hingga hujatan mewarnai musibah banjir tersebut. Dari pertanyaan; Kenapa banjir bisa terjadi begitu luas dan lama?, Apa sebabnya?, Apa yang dikerjakan pemerintah guna menang-gulangi musibah banjir?, Musibah banjir disebabkan karena ini, karena itu, hingga hujatan, Apa kerja dan tugas aparat pemerintah sih, koq mereka dengan enteng ngomomg musibah banjir adalah musibah musiman, nanti khan mensusut sendiri, sekarang kami tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menunggu menyusutnya air! Akhirnya aparat disalahkan, penduduk pun disalahkan. Lalu bermunculanlah beberapa kambing hitam.  Refleksi sana-refleksi sini; Oo, ternyata selama ini penerapan tata kotanya salah kaprah, Oo, ternyata tanah-tanah yang sebenarnya untuk serapan air hujan, seperti kawasan Puncak, sekarang sudah disulap menjadi vila-vila orang ghede dan berduit. Oo, Gubernur Sutiyoso pun lekas-lekas merobohkan vilanya.

Seperti semut diseberang lautan tampak dan gajah dipelupuk tak tampak, tatkala banjir usai penderitaan penduduk pun terlupakan. Mereka banyak yang kehilangan keluarga, harta, dilanda kelaparan dan penyakit pasca banjir. Mereka butuh uluran tangan kedermawanan, ini tugas pemerintah dan tanggungjawab moral orang-orang kaya, pokoknya orang gedhe. Inilah abtraksi pikiranku tatkala menonton televisi acara Cek & RiCek yang pada saat itu sedang menayangkan pesta pernikahan seorang anak pengusaha kilang minyak Jodi Setiawan di sebuah hotel berbintang. Pesta pernikahan yang begitu meriah, dihadiri artis-artis cantik, pejabat-pejabat tinggi negara, bisnisman dan orang-orang terkenal.  Sang ayah, saat menjawab pertanyaan kru Cek & RiCek dengan enteng ngomong, “Syukurlah hari ini tidak hujan dan tidak banjir, namun sebenarnya saya pun telah menyewa pawang hujan untuk melancarkan acara pernikahan putriku ini.”

Ironis, begitu kilasan otak dan hati kecilku. Apakah aku salah berpikir?

Banyak Omong?

Di arena Pemilihan Umum (Pemilu) 1999, untuk mendapatkan simpati dan suara masyarakat, partai-partai peserta pemilu banyak melontarkan janji-janji kemakmuran bagi rakyat, kelak bila partainya menang. Entah itu janji penurunan harga Sembako, penurunan harga BBM, tarif dasar listrik, tarif dasar PDAM, harga tarif dasar angkutan, peningkatan gaji guru, peningkatan tenaga kerja, peningkatan modal bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM), pemberantasan KKN, efisiensi dana APBN dan penurunan gaji pegawai setingkat eselon I dan II, dan lain sebagainya.

Namun, apa lacur, janji tinggallah janji. Setelah menang dan berkuasa lupalah segala janji-janji dan yang terjadi adalah sebaliknya; harga-harga kebutuhan pokok setahap demi setahap malahan membumbung tinggi baik itu sembako, BBM, tarif dasar listrik, tarif dasar PDAM, dan tarif dasar angkutan, pengangguran semakin meningkat, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) terkatung-katung ditangan BPPN, KKN semakin meraja lela dan pemberantasannya pun hanya sebuah sandiwara –kasus BLBI contohnya, bocornya dana APBN di sana sini, dan meningkatnya gaji para pejabat tinggi, DPR, DPRD, pejabat  eselon I dan II.

Demikianlah, arena Pemilu ternyata adalah arena membual nasional, alhasil produk Pemilu pun terdiri dari para pejabat pembual yang hanya suka banyak omong. Contohnya kasus BLBI yang tak tentu arah rimbanya, mereka tidak menangkapi para mafia perbankan namun malahan menambahi kucuran dana bertrilyun-trilyun kepada mereka. Sedangkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang mereka unggul-unggulkan sebagai tonggak perekonomian yang tidak akan hancur dilandai krisis ekonomi, yang sekarang menjerit kesakitan dan terancam penyitaan aset dan bahkan teror akibat terlanda krisis ekonomi 1997 lalu yang mengakibatkan sedikitnya 414,743 unit UKM tertimpa kredit bermasalah sebesar 39,6 trilyun, mereka biarkan terkatung-katung nasibnya. Restrukturisasi utang UKM yang digembar-gemborkan pemerintah pun terbukti hanya sekedar dari usul ke usul. Berkenaan dengan restrukturisasi UKM ini harian Kompas 21 Februari 2002 membeberkan SK-SK menteri sejak dua tahun lalu, dari SK Menteri Negara Koordinator Ekonomi No. Kep. 01.A/M.EKUIN/01/2000 tertanggal 25 Februari 2000 tentang Kebijakan Restrukturisasi dan Penyelesaian Pinjaman Bagi Debitur di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) hingga konon ada draf ke-15 dari rancangan Keputusan Presiden RI yang akan dikeluarkan menjadi Keppres mengenai Restrukturisasi Usaha Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, sampai saat ini belum ada tindak lanjutnya. Hampir dua tahun, sebenarnya orang-orang gedhe ini kerjanya apa?

Berkenaan dengan kerja orang-orang gedhe ini, mungkin seperti apa yang dilakukan gubernur Jawa Timur yang saya lupa namanya (maklum orang kecil), dipecat gara-gara kasus sampah yang menumpuk di hari-hari pasca libur lebaran. Apa yang dikerjakan si Gubernur hingga dipecat oleh rakyat? Tatkala dikabarkan hilang tak terlihat batang hidungnya hampir dua minggu dan mbolos bekerja, ternyata sang Gubernur berlibur di Australia.

Beginikah yang dikerjakan orang gedhe?

Itu dulu, sekarang….???

Sama saja….! Lihat drama scandal BIBIT-CANDRA, SCANDAL BANK CENTURY menjadi DAGELAN MEMUAKKAN….. Mafia Kasus, Mafia Koruptor tlah menjajah lembaga Kejaksaan dan Kepolisian. Tidak hanya oknumnya, system dan kulturnya-pun ikut terjajah Sang Koruptor… Rekaman percakapan Anggodo bukti nyata yang menggambarkan betapa begitu bobroknya lembaga peradilan di negeri ini. Presidennya-pun mencoba-ikut-ikutan mo menutupi kasus itu. Smoga Tuhan memberi secercah kebenaran kepadamu SBY………….

Hilangnya kesadaran tentang “aku”?

Kasus-kasus  yang secara sembarangan penulis tuliskan di atas adalah sekedar contoh bagi pembelajaran, wacana dan sarana bagi kita dalam berintrospeksi. Siapakah “aku” manusia Indonesia ini?

Siapakah “aku”, manusia Nusantara dan anak sebuah bangsa yang bernama Indonesia? Di mana “aku” harus bercermin ketika “aku” sendiri tidak punya muka, di mana “aku” harus menempatkan identitas ketika “aku” sendiri hilang? Begitu FT Handi Feryandi, mahasiswa UGM mengawali tulisan resensi buku yang berjudul “Menjadi Manusia Indonesia” di Kompas, 21 Februari 2002. Sayangnya barangkali ia keliru menulis, “Itulah pertanyaan-pertanyaan kontemplatif-reflektif yang barangkali muncul di pikiran banyak orang”, yang benar adalah muncul di pikiran sedikit orang.

Oleh penyunting buku “Menjadi Manusia Indonesia”, dituliskan; Kita akan melihat suatu penyadaran baru oleh Radhar Panca Dahana (si pengarang) tentang “aku” yang selama ini hilang. Hilangnya konsep “aku”, sebagai suatu sosok manusia, sekaligus pribadi yang mempunyai otoritas dan otonomi sebagai makhluk monodualis, ternyata sudah menjadi benalu dalam kesadaran bangsa Indonesia selama berabad abad lebih. Saat bangsa ini ditindas oleh negeri Belanda selama hampir 350 tahun, plus Jepang 3,5 tahun, plus pemerintahan Orde Baru, sebenarnya bangsa ini telah tertindas oleh dirinya sendiri.

Hilangnya kesadaran tentang “aku” sebagai manusia Indonesia yang otonom seperti digambarkan oleh Radhar tersebut, lebih ditekankan kepada terjadinya budaya kolektivitas yang disebutnya “semangat dan ide ‘yang tak mengenal individu’”. Lebih jauh dikatakan, eksistensi budaya seperti ini akhirnya hanya akan bermuara ke dalam kepengecutan. Ia akan selalu berlindung di balik massa, menyatakan diri dalam gerombolan atau kerumunan, dan menempatkan diri dalam pihak “tak bersalah”. Maka segala kejahatan yang berbau massa, ras, etnis, agama, partai, organisasi, institusi dan bahkan negara, menjadi sesuatu yang legal dan tak bersalah. Akibatnya kekerasan pun menjadi sah. Dan terjadinya begitu banyak kekerasan massa yang mengorbankan beribu-ribu nyawa manusia di negara tercinta ini sejak kurang lebih 4 tahun belakangan, hingga saat ini, dijadikan bukti bahwa pemikirannya itu benar.

Benarkah pernyataan yang telah digambarkannya tersebut?

Memang, realitas dengan begitu nyata mengambarkan fenomena ini. Seakan-akan membenarkan asumsi di atas. Namun, benarkah hal ini yang terjadi? Sebuah massa tidak bisa dipersalahkan  tatkala individu-individu di dalamnya tidak betul-betul mengerti apa yang mereka perbuat. Individu-individu ini kebanyakan hanya ikut-ikutan dan adapula orang bayaran yang dibayar hanya untuk melaksanakan tugas. Dan diduga inilah yang telah terjadi. Apa yang terjadi dalam kekerasan massa belakangan, lebih banyak disebabkan oleh provokasi dan digerakkan. Sedikit yang benar-benar murni gerakan spontan maupun terorganisir dari masyarakat.

Akibatnya, kita pun sangsi akan keabsahan terjadinya apa yang disebut budaya kolektifitas tersebut terhadap masyarakat pada umumnya yang kebanyakan mereka tidak tahu-menahu persoalan yang sebenarnya terjadi. Namun, bila terjangkitnya budaya kolektifitas ini diarahkan kepada orang gedhe, mungkin bisa dibenarkan. Merekalah yang bertanggungjawab atas semua kejadian-kejadian mengerikan yang telah terjadi hampir 4 tahun belakangan ini. Bagai teroris yang kejam, mereka meneror seluruh pelosok negeri yang masyarakatnya dikenal cinta damai ini. Mereka menghasut sana-sini, menyebar teror kekerasan, kerusuhan berdarah, aksi bakar-membakar, aksi peledakan bom, perang saudara, perang suku, perang antar kampung, perang agama, sabotase, dan aksi-aksi anarkis lainnya. Mereka memanfaatkan orang-orang yang lapar, para preman, tentara siluman dan masyarakat yang sedang keruh, lemah dan putus asa untuk melaksanakan aktifitas teror mereka. Mereka melakukan semuanya itu hanya untuk memenangkan kepentingan kelompok dalam perlombaan merebutkan sebuah kekuasaan, dan harta.

Terjadinya budaya kolektivitas yang disebut “semangat dan ide ‘yang tak mengenal individu’” dan bersifat pengecut ini di sisi lain menandai hilangnya jati diri sebuah pribadi “aku” itu sendiri. Apabila sebuah pribadi kehilangan “aku” yang sedemikian rupa, maka harga diri (ego) seorang yang mempunyai otoritas hak cipta, karsa dan karya akan melemah tajam, sehingga etos kerja bisa menjadi musnah. Manusia yang mengalami degradasi semacam ini, akan menjadi manusia tanpa ego. Seseorang yang telah menjadi manusia tanpa ego, maka ia akan mempunyai sifat-sifat yang cenderung destruktif dan kehilangan hati nurani. Apabila sebuah bangsa orang-orangnya telah menjadi manusia tanpa ego, maka hilanglah kesadaran akan cita-cita dan tujuan sebenarnya sebuah bangsa itu tatkala didirikan. Mereka akan lupa kepentingan rakyat, cenderung mementingkan diri sendiri dan kepentingan kelompok.

Sudah menjadi demikiankah manusia-manusia Indonesia?

Dalam orasinya tatkala meresmikan kampus baru Universitas Paramadina 4 Oktober 2001, Nurcholish Madjid melontarkan gagasan yang intinya mendukung bahwa manusia Indonesia telah menjadi manusia tanpa ego seperti tersebut di atas. Menurutnya (Kompas, 5 Oktober 2001), tekanan yang terlalu berat terhadap pembangunan ekonomi, namun tidak disertai pembangunan etika dan moral pribadi maupun sosial melalui keteladanan para pemimpin, telah menjerumuskan sebagian anggota masyarakat kita kepada pandangan hidup yang hedonistik, yang enak-kepenak. Kelompok masyarakat ini dipenuhi obsesi bagaimana cara mengumpulkan kekayaan pribadi dalam waktu sesingkat-singkatnya dan semudah-mudahnya, serta menempuk jalan pintas tanpa peduli kepada hukum dan norma-norma etika dan moral.

Lebih ironis lagi begitu menurut Nurcholish Madjid, ditengah kemiskinan dan penderitaan rakyat yang mencekam, ada segolongan masyarakat kita yang fasiq, yang dengan penuh kebanggaan memamerkan kekayaan dan kemewahannya. Akibatnya tumbuh jurang perbedaan yang menganga antara golongan kecil yang kaya dan superkaya dengan rakyat umum yang hidup melarat penuh nestapa.

Inilah (pemicu) perlawanan prinsipil terhadap asas keadilan sosial! Inilah kezaliman yang menjadi pemicu segala rupa tindakan perusakan akibat kekecewaan dan putus asa! Inilah tanda jaman bagi hancurnya sebuah bangsa, dengan akibat-akibat mengerikan, yang saat ini belum bisa diperkirakan,” tegas Nurcholish. Dan Khusus terjadinya kejahatan kemanusiaan di tanah air dengan tertegun, Nurcholish kemudian bertanya,”Ke manakah gerangan dasar negara ‘Perikemanusiaan yang adil dan beradab’ itu pergi dan lenyap dari kesadaran kehidupan kita berbangsa dan bernegara? (Bukankah) perikemanusiaan adalah prinsip dalam kehidupan berbangsa, dan bangsa yang melanggar prinsipnya sendiri tidak akan bertahan lama.”

Benarkah bangsa dan negara Indonesia ini akan berakhir?

Wallahu ‘alam bish Shawab.

*Penulis adalah seorang penulis lepas yang tinggal di Solo.

3 comments on “BANGSA “TERORIS”, MENGANDALKAN SEGALA CARA, SOK BERKUASA, SUKA HIDUP MEWAH, DAN BANYAK OMONG?

  1. sejenak merenung, kita ini ya memang sudah tak punya martabat. Bangga dengan harta hasil colongan dan korupsi. Bangga sudah bisa menekan orang untuk memenuhi nafsu kuasanya.

  2. Serat Wulangreh
    Oleh Sri Mangkunegoro IV

    Mingkar – mingkur ing angkara
    Akarana karenan mardi siwi
    Sinawung resmining kidung
    Sinuba sinukarta
    Mrih Kretarta pakartining ngelmu luhung
    Kang tumrap neng tanah Jawa
    Agama ageming aji

    Jinejer neng Wedhatama
    Mrih tan kemba kembanganing pambudi
    Mangka nadyan tuwa pikun
    Yen tan mikani rasa
    Yekti sepi asepa lir sepah samun
    Samangsane pakumpulan
    Ganyak-ganyuk nglelingsemi

    Nggugu karsane priyangga
    Nora nganggo paparah lamun angling
    Lumuh ingaran balilu
    Uger guru aleman
    Nanging janma ingkang wus waspadeng semu
    Sinamun ing samudana
    Sesadon ingadu manis.

    Si Pengung nora nglegewa
    Sangsayarda denira cacariwis
    Ngandhar-andhar angendhukur
    Kandane nora kaprah
    Saya elok alangka lokanganipun
    Si Wasis waskitha ngalah
    Ngalingi marang si Pingging.

    Mangkono ngelmu kang nyata
    Sanyatane mung weh reseping ati
    Bungah ingaranan cubluk
    Sukeng tyas yen den ina
    Nora kaya si punggung anggung gumunggung
    Ugungan sedina-dina
    Aja mangkono wong urip.

    Uripe sapisan rusak
    Nora mulur nalare ting saluwir
    Kadi ta guwa kang sirung
    Sinerang ing maruta
    Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung
    Pindha padhane si mudha
    Prandene paksa kumaki.

    Kikisane mung sapala
    Palayune ngendelken yayah-wibi
    Bangkit tur bangsaning luhur
    Lah iya ingkang rama
    Balik sira sarawungan bae durung
    Mring atining tata-krama
    ngGon-angon agama suci.

    Socaning jiwangganira
    Jer katara lamun pocapan pasthi
    Lumuh kasor kudu unggul
    Sumengah sesongaran
    Yen mangkono kena ingaran katungkul
    Karem ing reh kaprawiran
    Nora enak iku kaki.

    Kekerane ngelmu karang
    Kakarangan saking bangsaning gaib
    Iku borfeh paminipun
    Tan rumasuk ing jasad
    Amung aneng sajabaning daging kulup
    Yen kapengkok pancabaya
    Ubayane mbalenjani

    Marma ing sabisa-bisa
    Babasane muriha tyas basuki
    Puruita-a kang patut
    Lan traping angganira
    Ana uga angger ugering kaprabun
    Abon-aboning panembah
    Kang kambah ing siyang ratri.

    Iku kaki takokena
    Marang para sarjana kang martapi
    Mring tapaking tepa tulus
    Kawawa nahen hawa
    Wruhanira mungguh sajatining ngelmu
    Tan pasthi neng janma wredha
    Tuwin mudha sudra kaki.

  3. Assalamu alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Wahai Saudaraku sekalian di seluruh penjuru Dunia maya,

    Akhir-akhir ini, banyak orang dari berbagai penjuru dunia sedang memperingati Hari Anti Korupsi Internasional.
    Hari peringatan yang bertepatan dengan maraknya pembahasan tentang kasus penggelapan dana Bank Century di negeri kita.
    Dan juga termasuk salah satu hari yang memuakkan bagi saya.
    Hari yang memuakkan, dimana kita memperingati suatu perbuatan yang sangat memalukan, KORUPSI!
    Kenapa juga kita harus memperingati jasa-jasa para koruptor yang telah membantu penghancuran kehidupan umat? He he he…

    Untuk selengkapnya, baca di:

    http://dir88gun0w.blogspot.com/2009/12/corruption-day.html

    _____________________________________
    INDONESIA GO KHILAFAH 2010
    “Begin the Revolution with Basmallah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s