SPESIFIKASI KESELAMATAN DI HARI PEMBALASAN


Untitled-1

31 comments on “SPESIFIKASI KESELAMATAN DI HARI PEMBALASAN

  1. Dear Wawan,

    Wawan, oh Wawan….
    Kenapa jiwa/ruh mu masih tetap terkurung dalam raga?
    Biarlah jiwa/ruh bersatu dalamNya.
    Menafsirkan Keadilan Allah sebagai neraca RASIONAL….
    Kecil sekali jiwa/ruh itu…(I’m sad)
    Padahal pada saat kita mampu “menyentuh-NYA”, bersama dengan DIA dan dalam DIA
    Damai…
    Indah…
    Tenang…
    Hening…
    Bahagia…

    Be Positive.

  2. trims sahabat………

    mas posisi kita sudah jelas ada sedikit yg beda..
    Sahabat lebih condong kpd hati… silahkan membersihkan hati dgn bertapa hehe…

    saya lebih memposisikan keseimbangan hati dan rasionalitas, bertapa dan beriptek, dzikir dan pikir…….

    ruh tanpa raga.. tidak akan ada manusia…
    raga tanpa ruh.. juga tidak akan ada manusia…

    jadi ruh dan raga semuanya penting… menjadikan manusia menjadi manusia..

    udah-lah sahabat, posisimu hanya di hati… klo sudah cukup, smoga berbahagia..

  3. Dear Wawan,

    Kesimbangan hidup adalah pada saat berada di “zero” poin. Jiwa dan Raga.
    Jiwa selalu bersama Allah, tapi Pikiran dan Rasionalitas milik raga. Insan kamil dalam kehidupan bukan melalui kalkulasi rasional. Insan kamil berada pada saat manusia itu “meninggal”. Itulah makna dari sempurnanya hidup. Titik “NOL”.
    Mencampuradukkan ketentuan / hukum raga dalam segala bentuk ilmu (yang fisik) dengan hukum jiwa hanya menipu keimanan manusia. Kalau manusia tidak merasa bahwa telah menipu dirinya dengan ketentuan/hukum raga yang fisik terhadap sesuatu yang transenden , artinya manusia itu munafik, dan ini jauh dengan sifat Allah yang salah satunya “jujur”
    Pikiran dengan Rasionalitas tidak akan menyentuh Allah.
    Kesadaran dengan Rasionalitas yang mampu menyentuh Allah, bukan Pikiran.

    Oh Dear… oh dear….

    Have Positive Days

  4. tapi Pikiran dan Rasionalitas milik raga
    ===========

    hehehe… pengetahuan sobat masih kurang sepertinya…
    pikiran/rasionalitas dan juga hati seluruhnya milik jiwa. Jiwa adalah gabungan ruh dan raga, ini konsep Qur’an. Ruh Allah yang ditiupkan saat janin bentuk raganya sempurna (4 minggu) dalam rahim- tlah mengaktifkan/memberi hidup Jiwa manusia yang sebelum ditiup ruh Allah masih seonggok daging berbentuk manusia.

    Mencampuradukkan ketentuan / hukum raga dalam segala bentuk ilmu (yang fisik) dengan hukum jiwa hanya menipu keimanan manusia.
    =====================
    orang yang tertipu malah sebaliknya… bila hanya tergantung dari salah satu komando hidup itu… hati saja atau rasionalitas saja.
    Manusia menjadi manusia yg tidak tertipu apabila bisa mensinergikan rasio dan hatinya…(bukan mencampur-aduk) tapi mensinergikan, menyelaraskan….

    Sinergi pikir dan dzikir adalah output maximum manusia dalam menyentuh Allah. Pembatasan/dualitas/ …. akan menjebak dan menipu manusia….

    Hati tanpa pikir akan terjebak pada nafsu/emosi/jiwa negatif….
    pikir tanpa hati akan terjebak pada rasionalitas tanpa kesadaran…

    Kalau tidak paham2… konsep yg begini terang, yach…. harus aku bilang apa…??? hehe…………………………..

  5. Dear Wawan,

    Konsep yang universal “mensinergikan, menyelaraskan……..” memang benar,
    Sinergi, selaras memang bukan mencampur aduk
    ===
    Sinergi pikir dan dzikir adalah output maximum manusia dalam menyentuh Allah.
    ===
    Saya setuju sekali, seratus kali seratus persen….
    Tapi,
    Tabel semacam itu pada pemaknaan sebagai kalkulasi, sangat merendahkan Allah.

    Juga hendaklah memperhatikan :

    “Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untukku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, hadits shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dari kesyirikannya”)”

    Cermatlah membedah mana yang tersurat dan mana yang tersirat, karena semua yang dalam bahasa Allah hanya dapat dimengerti oleh jiwa/ruh bukan dengan kalkulasi, seperti seorang pemungut cukai bagi kerajaan duniawi.

    Have positive days.

  6. Tabel semacam itu pada pemaknaan sebagai kalkulasi, sangat merendahkan Allah.
    ========================
    hehe….
    perlu diketahui, kalkulasi diatas adalah kalkulasi yg saya maknai dari firman Allah dalam Alqur’an dan hadits sebagai sebuah upaya tafsir dan ijtihad… Ijtihad sangat dihargai oleh Allah/agama… sebuah ijtihad walaupun “salah” nilainya 1 dan kalau “benar” nilainya 2… IJTIHAD ADALAH UPAYA HATI DAN PIKIR DALAM MEMAKNAI “SESUATU” SECARA SUNGGUH2 DAN MENDALAM..

    “Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untukku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, hadits shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dari kesyirikannya”)”
    =====================
    Hadits ini sangat bagus dan tujuan utama sebuah amalan/ibadah…. muaranya kepada ikhlas….

    hadits ini tidak bertentangan dengan kalkulasi di atas dan juga dengan konsep pahala…

    Hadist ini hanya mengiingatkan dan meluruskan pada niat amalan dan ibadah hanya tertuju kepadaNYA… ikhlas dan Pasrah.

    Di satu sisi Niat yang benar dan tertinggi amalan manusia adalah menuju ridlo-Allah dan rahmatullah… itu ikhtiar manusia.

    Dan di sisi lain Allah sendiri tlah berjanji akan memberi reward/pahala/siksa kepada output prilaku manusia seadil2-nya sebagai sebuah Janji Dzat Yang Menepati janji…ini dasar Qur’annya:

    Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (QS, 21:47)

    (Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS, 31:16)

  7. Dear Wawan,
    He…he…

    Benar kan ?! Banyak orang memahaminya masih secara tekstual dan belum mampu keluar perangkap raga.
    ===
    Dan di sisi lain Allah sendiri tlah berjanji akan memberi reward/pahala/siksa kepada output prilaku manusia seadil2-nya sebagai sebuah Janji Dzat Yang Menepati janji…ini dasar Qur’annya:
    ===

    Yang paling mudah memahami Bahasa Allah adalah dengan laku/perbuatan yang sifatnya memelihara ke”sejahteraan” alam semesta. Hubungan antara manusia dan alam (termasuk antar manusia dan manusia)yang harmonis dan saling menghargai, inilah yang namanya “perimbangan”. Dalam laku/perbuatannya ada hukum-hukumnya, yaitu hukum alam. Agama (apapun) menerjemahkan hukum alam (hukum alam Allah yang menciptakan).

    “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
    Segala pujian bagi Allah, Tuhan semesta alam.
    Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
    Yang menguasai di Hari Pembalasan.”

    Apa makna Hari Pembalasan?
    Pembalasan = menyeimbangkan, membuat seimbang.
    bukan pukul balas pukul… bunuh balas bunuh…

    “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
    Tunjukanlah pada kami jalan yang lurus”

    Lurus = seimbang, tidak miring juga tidak membentuk kurva.

    Semua itu mengarah pada laku dan pebuatan.

    Bahasa Allah dalam hukum Alam bukan untuk nanti, nanti urusan nanti. Tapi untuk sekarang (hidup raga) (baca THE POWER OF NOW, eckhart tole)

    Tidak perlu “menagih” JANJI ALLAH, kalau belum(mampu) bersamaNya.

    Mrk 12:17 Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Mereka sangat heran mendengar Dia.

    kalau soal “din”,

    Mat 17:20 Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

    He…he….
    Mas Wawan yang budiman,
    aku menganggap forum ini untuk sharing dan diskusi… he…he…

    Ha positive days

  8. Dan di sisi lain Allah sendiri tlah berjanji akan memberi reward/pahala/siksa kepada output prilaku manusia seadil2-nya sebagai sebuah Janji Dzat Yang Menepati janji…ini dasar Qur’annya:

    Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (QS, 21:47)

    (Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS, 31:16)

  9. Dear Wawan,

    Tidak perlu memikirkan ataupun menagih JANJI ALLAH, kalau belum(mampu) bersamaNya. Hati-hati nilainya, bisa mendatangkan riya, sekecil apapun riya akan melunturkan semua nilai pahala yang sebesar gunung.

    Hukum Alam itu pasti(hukum yang diciptakan Allah sendiri, bisa dalam “agama”/”din” apapun), maka jagalah agar selaras, sinergis, dan harmonis dengan alam semesta (manjing ajur ajer dengan pusaka hasta brata) atau kesimbangan mikro-makro kosmos

    Yang kita lihat dan kita rasakan sejatinya bersifat netral,bebas nilai. Sementara itu yang memberi nilai adalah pikiran kita (logika/rasional).(bisa juga untuk mengomentari tulisan Wawan = “BANGSA “TERORIS”, MENGANDALKAN SEGALA CARA, SOK BERKUASA, SUKA HIDUP MEWAH, DAN BANYAK OMONG?”

    Have positive days, sahabat

  10. Tidak perlu memikirkan ataupun menagih JANJI ALLAH, kalau belum(mampu) bersamaNya. Hati-hati nilainya, bisa mendatangkan riya, sekecil apapun riya akan melunturkan semua nilai pahala yang sebesar gunung.
    ======================

    sangat sepakat sobat… hehe…

    Tapi menafikan janji Allah, dan sama sekali tidak mempercayainya adalah sebuah kenaifan…

    Hari pembalasan boleh-lah ditafsiri sebagai pengembalian kepada keseimbangan nilai keadilan sejati… Allah hakim-NYA… Dan Allah pada hari itu pasti tidak akan menyalahi janjinya…

    kembali saya haturkan ayat ini:

    Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (QS, 21:47)

    (Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS, 31:16)

  11. Dear Wawan,

    ==kembali saya haturkan ayat ini:

    Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (QS, 21:47)

    (Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS, 31:16)

    ===
    Setuju, selama tidak ada pemahaman tekstual, hati-hati…. bisa menjebak pada pemaknaannya.

    Kalau boleh saya katakan “janji” bukanlah sebagai janji yang kita pahami, “janji” di dalam Hukum Allah adalah sebuah kepastian, yang sebenarnya sudah tidah membutuhkan “timbangan” ataupun kalkulasi.

    have positive days

  12. Kalau boleh saya katakan “janji” bukanlah sebagai janji yang kita pahami, “janji” di dalam Hukum Allah adalah sebuah kepastian, yang sebenarnya sudah tidah membutuhkan “timbangan” ataupun kalkulasi.
    ======================

    ini esensi perbedaan kita.
    Timbangan mesti butuh kalkulasi.. Janji Allah dan timbangan Allah juga mesti butuh kalkulasi. Ayat yg kita bahas sangat jelas menyebut kepastian kalkulasi itu= sekecil biji sawi sebuah perbuatan baik atau buruk akan mendapat balasannya..

    memang timbangan dan kepastian Allah adalah hukum Allah dan hak mutlak Allah. Di-sana-lah nantinya kepastian, keadilan, kebijakan dan cinta Allah akan kita saksikan bersama…

  13. Dear Wawan,

    Hukum Allah pasti dan bernilai mutlak, manusia tidak memiliki hak untuk membuat neraca dan “kalkulasi”. Karena sebelum terjadi “kalkulasi” hukum sudah berjalan.
    Jadi “kalkulasi” adanya dari manusia untuk menimbang dan memilih laku/perbuatannya.
    Allah tidak pernah membuat “kalkulasi”, juga malaikat, hanya manusia yang membuat “kalkulasi”.

    [42:17] Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat ?

    Ini bukan masalah perbedaan esensi, Allahmu adalah Allahku juga. Kalau ada perbedaan esesnsi artinya allahmu ya allahmu, allahku ya allahku, artinya ada lebih dari satu allah.

    Aku paham dengan maksud esensi, lebih pas dengan “persepsi”.
    Persepsilah yang melahirkan perbedaan tafsir, bukan esensinya. Allah sebagai subyek dan predikat. Bukan obyek, setuju?

    Jangankan soal Hukum Allah, persepsi akan “syukur” saja sudah berbeda yang jelas dan seharusnya ada dalam diri manusia.Sebagian besar manusia akan bersyukur apabila merasa dirinya menerima “sesuatu”. Ada sebagian manusia yang merasa bersyukur pada saat dirinya memberi sesuatu.
    Adakah makna syukur pada saat dirinya “kehilangan” sesuatu?
    Sekedar introspeksi ke dalam diri kita untuk memaknai tawakal,tawhid dan taqwa.

    Sudah nonton 2012?

    [17:16] Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta’ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
    [17:17] Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.
    [17:18] Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

    lalu:

    [20:15] Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan

    kemudian:

    [25:11] Bahkan mereka mendustakan hari kiamat. Dan kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat.

    [43:61] Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.

    dan :

    Mrk 13:33-37 “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga.Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta,supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur.
    Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!”

    Mas Wawan, 2012 juga soal persepsi,
    tidak ada yang salah.

    Have positive days….

  14. Hukum Allah pasti dan bernilai mutlak, manusia tidak memiliki hak untuk membuat neraca dan “kalkulasi”. Karena sebelum terjadi “kalkulasi” hukum sudah berjalan.
    Jadi “kalkulasi” adanya dari manusia untuk menimbang dan memilih laku/perbuatannya.
    Allah tidak pernah membuat “kalkulasi”, juga malaikat, hanya manusia yang membuat “kalkulasi”.
    ===================
    pada dasarnya secara substansi sy 100% sepakat bahwa inti dasar dari kalimat itu adalah “kalkulasi” adalah hasil dari laku manusia. Laku manusia adalah sebuah ikhtiar, proses merubah, menjadi, atau QADAR yang berisi kalkulasi laku baik dan buruk dimana freewill/kehendak bebas kita untuk memilih mana yang akan kita ikuti/jalani di setiap kita melangkah keseharian.

    Sedangkan “kalkulasi” Allah sebenarnya hanya mengikuti output proses laku manusia di mana seluruh hasil ujian di dunia besok akan digelar sedetail2nya di hari perhitungan.

    Pikiran dan Hati manusia hanya diri sendiri dan Allah yang bisa mengetahui..

    begitu-pun dengan makna kebenaran..
    persepsi kebenaran sangat berbeda dengan kebenaran itu sendiri. pikiran dan Hati yang sudah mengetahui-memahami-meyakini kebenaran di sisi Allah, kalau tidak menjadikan kita iman, adalah tipe manusia KAFIR TULEN

    Kalau baru persepsi ini kualitas tersendiri.
    persepsi adalah tafsir. Tafsir bisa benar dan salah tergantung dari kualitas landasan ke mana kita berpijak.

    kualitas persepsi beda dengan susgeti, dan kualitas susgeti pun berbeda dengan kualitas keimanan. Keimanan menuntut ketahuan, kemengertian, kepahaman, keyakinan dan implementasi kelakuan. Masihkah dia berjalan pada jalan lurus? beruntunglah yang bagi yang mengikuti jalan lurus itu… inilah tipe manusia BERIMAN.

    ini dulu…
    untuk memahami ini perlu ilmu tentang:
    1. Takdir, qada’ dan qadar
    2. Dalil aqli dan naqli
    3. konsep AKAL, rasio dan hati
    4. konsep bayi lahir tanpa dosa/ tabula rasa
    5. Konsep baliq (pertama kalinya manusia tahu benar dan salah)
    6. konsep keimanan pada Hari akhir dll…

  15. Dear Wawan,
    Lalu apa maksudnya dengan Neraca / Tabel itu?
    dan,
    ===
    suzi@ ya… yang menghitung Allah. Dan hitungannya dengan neraca keadilan Allah sendiri.
    ===

    Dalam syiar/dakwah agama ada beberapa hal yang perlu dicermati:

    Hati-hati dengan riya.
    Tipis bedanya antara yang riya dan yang bukan. Seperti halnya sedekah, memberi karena kelebihan yang kita miliki, bisa bermakna riya, membagi kebutuhan kita bisa bermakna sedekah yang sebenarnya.

    Hati-hati dengan pemahaman takdir, qada’ dan qadar.Kesadaraan akan ketentuan dari Hukum-hukum Allah akan memilah mana yang keputusan Hukum Allah dalam Hukum Alam Semesta, dan mana yang hanya mengikuti kehendak rasional kita. Sangat naif kalau kita membatasi takdir sebagai kondisi karena Allah. Ini karena jiwa kita dikurung dalam pemahaman rasional yang sempit.

    Dalil aqli dan naqli, inilah pemahaman “kasunyatan”. Bagaimana memberdayakan nurani dalam membuat laku dan keputusan yang rasional.

    Agama bukan untuk merayu Allah. Agama hanya media untuk mengenalNya. Baru
    mengenal, jangan merayu.

    Kafir tulen dan beriman penuh, bukan kita yang membuat keputusan.
    Ini masalah persepsi lagi.
    Kambing adalah kambing, apapun persepsinya dia tetap kambing. Kambing tidak akan terbang seperti burung atau memanjat seperti kera, ini hukum alam. Hukum yang didasari dari Hukum Allah. Bahasa rumahnya, “tahu diri”.

    ====
    Sedangkan “kalkulasi” Allah sebenarnya hanya mengikuti output proses laku manusia di mana seluruh hasil ujian di dunia besok akan digelar sedetail2nya di hari perhitungan.
    ====

    Jugdement day, dimaknai sesaat setelah kita melakukan sesuatu, bukan “nanti”.
    Kalkulasi tidak pernah dibuat Allah. Manusia yang membuat kalkulasi untuk dirinya sendiri, dengan penuh kesadaran akan baik buruk, dan kewaspadaan untuk tidak berbuat buruk.

    Allah tidak pernah menguji manusia, manusia yang menguji dirinya sendiri dan menguji Allah! Ini yang namanya “tidak tahu diri”. Mempelajari ilmu-ilmu agama bukan pula untuk menguji Allah. Ada sebab pasti ada akibat. Maka Allah itu sebagai “Causa Prima”.

    Kiamat yang dipahami hingga sekarang ini sepertinya perlu dikoreksi, pemaknaannya secara tekstual sebagai “kehancuran” perlu disadari, bahwa kiamat sudah terjadi kapan saja setiap saat. Adakah kesadaran manusia bahwa “dunia” ini tidaklah abadi. Tubuh ini akan mati dan hancur, seperi juga bumi seisinya akan hancur dimakan usia.
    Pemahaman tentang Shiva dalam Hindu sepertinya lebih pas. Shiva sebagai “pelebur”
    jasad bumi.
    Kewaspadaan untuk menjauhi segala sesuatu yang tidak selaras dengan Hukum Alam, ini lebih penting.

    Gitu dulu Mas,
    Have Positive days.

  16. hehe….

    naah.. ternyata sangat banyak latar belakang pengetahuan antara kita yang berbeda mas…
    kita berbeda dalam banyak hal, dari tulisan mas terakhir, kita beda di sini:
    1. konsep takdir, qada’ dan qodar
    2. konsep akherat dgn kalkulasinya
    3. dalil aqli dan naqli
    4. konsep tujuan manusia dihidupkan di bumi
    5. dll

    tentu latar belakang pengetahuan yg berbeda akan menimbulkan kesimpulan yg berbeda pula hehe…. makanya lihat dulu perbedaan kita di mana. Blom2 sudah protes hehe…

    maksud kalkulasi saya di atas adalah:
    sebuah usaha tafsir tentang siapa saja yg selamat di hari pembalasan dengan membuat kalkulasi yg lebih fair terhadap klaim keselamatan yg saat ini slalu bersifat subyektif.
    seperti, tidak ada keselamatan di luar gereja katolik atau seluruh orang non muslim masuk neraka, dll yg sama di setiap agama menyatakan spt itu.

    terinspirasi Dari konsili vatikan II yg ada menyatakan bahwa orang kristen anonim (non kristiani yg sama sekali tidak mengetahui ajaran krestiani) dinyatakan selamat oleh gereja di akherat kelak, sy memcoba mencari apakah di Islam juga ada konsep seperti itu.

    lalu spt apa konsepnya?
    konsepnya telah sy utarakan di tread agama keturunan. dan juga ide pikiran sy di profil.

    kalkulasi di atas adalah hanya sebuah tafsir/ide spesifikasi seperti apa yg besok akan selamat di akherat kelak dengan landasan KEADILAN Tuhan.

    dan saya yakin bahwa:
    1. Muhammad diutus Allah tidak untuk menghakimi hati seseorang..
    2. Keselamatan seseorang di akherat kelak adalah mutlak hak Allah semata.
    3. Islam melarang mengkafirkan secara sembarangan seseorang bahkan orang non muslim sekalipun.
    4. Orang mukmin, yahudi, nasrani, shabiin, majusi dll sebagai seorang manusia mempunyai derajat yg sama di mata Tuhan.. (wallahu a’lam bishowab…)

  17. Dear Wawan,

    Seperti protes ya ??
    Padahal tidak lho?!

    Saya tidak mewakili sebuah agama, saya msebagai “AKU”, yang melepaskan “ageman” jaket agama. Doktrin dan Dogma Agama sudah tidak mengikat saya. Begitu pula dengan jiwa/bathin/nurani/hati saya … sudah tidak terikat dengan pemahaman dogmatis.

    Doktrin dan Dogma Agama sudah tidak mampu “menakut-nakuti” saya.

    menurut saya,
    ===
    konsepnya telah sy utarakan di tread agama keturunan. dan juga ide pikiran sy di profil.
    ===
    tetap mengurung jiwa dan menjadi “hamba” pemikiran rasionalitas.

    Allah janganlah di letakan dalam pemikiran/pemahaman rasional, ya… yang hanya berhenti pada tembok “Yang Maha Kuasa”, ya… yang pada akhirnya menjalankan syariat sebagai “hamba” tanpa menyadari dan memahami maknanya.
    “Ya, pokoknya udah tertulis demikian….”

    Kenapa kita tidak mau mendekatkan kepadaNya ?
    Kenapa kita terdoktrin untuk “percaya” tapi tidak memahami kenapa kita harus percaya? Kanapa hanya “… kan ada tertulis…..!”

    Kenapa kita mengurung jiwa kita?
    Biarkan jiwa kita bersama dengan Allah.
    Biarkan jiwa kita bercengkerama mesra dengan Allah.
    dalam Damai, Hening, Indah…

    ===
    kalkulasi di atas adalah hanya sebuah tafsir/ide spesifikasi seperti apa yg besok akan selamat di akherat kelak dengan landasan KEADILAN Tuhan.
    ===

    Seperti apa sih akherat ?
    Takaran/Kalkulasi manusia membuat landasan Keadilan Tuhan (dengan tafsir/ide)… dasyat !!

    Keadilan Tuhan tidak perlu dipahami dalam akherat.
    Tuhan adil selama-lamanya dalam keabadian.

    Tidak ada “besok” yang ada “sekarang”, untuk sebuah keadilan.

    Tuhan tidak pernah menunda apapun tentang keadilan, kita yang terlambat memahami sehingga seolah-olah “besok” pasti ada keadilan.

    “Keselamatan” bukan sekedar hak Allah semata!
    Tapi kewajiban kita!
    Itu bentuk kita menghargai Allah sebagai pencipta kita yang dianugrahkan “free will”.

    Muhammad utusan yang sangat mulia, Beliau panutan hidup semua orang bukan hanya yang beragama Islam, semua orang wajib melihat dan belajar dari Beliau.
    Hanya itu !! kita tidak berhak mehakimi dan membuat persepsi lebih tentang beliau.

    Allah tidak menciptakan “Surga dan Neraka”
    Allah hanya menciptakan “Surga”
    “Neraka” adalah hasil kalkulasi dan produk tafsir manusia.

    Susah ya ?

    Ya udah ntar tak sambung lagi.

    Have positive days

  18. pemikiran2.. mas aloy yg dapat sy simpulkan, sebaiknya mas Aloy pergi bertapa saja di puncak gunung, cari goa dan hiduplah di sana. Membuat rumah dan jangan- pernah menengok ke bawah untuk kembali ke masyarakat yg banyak aturan main rasionalnya.

    sy yakin mas Aloy akan lebih damai, hening, indah dan bahagia tu merenungi hati dan jiwa mas mendekatkan diri pada Allah. hehehe….

    Banyak pikiran mas Aloy yg tidak konsisten, ambigu, dan ragu2…
    Mas Aloy mencoba keluar dari tatanan rasional masyarakat, agama dan legalitas baju. Dan mencoba menerapkan konsep jiwa dan hati yg damai. Tapi sy belum melihat konsep “gerak” ke hati yg seperti apa?

    Deisme dan new age sepertinya pas untuk semua pikiran2 dan menjadi “agama” mas saat ini.

    Mungkin agar fokus ntar saya buka tread khusus kita berdiskusi dalam tema2 tertentu agar kita tahu letak banyak perbedaan yg kita punya, kalau disepakati. Mulai dari mana? silahkan mas Aloy usul jg boleh koq hehehe…

  19. Dear Wawan,

    Ha…ha…ha…

    Saya ada sebuah pengalaman…. (maaf ini benar2 pengalaman)

    Setiap pagi dan sore, aku nyempetin memberi makan seekor kera, entah siapa namanya, dan entah siapa nama yang punya. Ada pelajaran yang menarik dari seekor kera yang dirantai oleh “majikannya”. Setiap kali dikasih makan, selalu diambil semua, walaupun tangan dan kakinya sudah tidak mampu memegang makanan. Yang sebenarnya makanan itu tidak akan ke mana-mana (diambil – persepsi kera). Berusaha “melindungi” semua yang dia anggap sebagai miliknya. Bahkan rantai yang mengikat tubuhnya juga “dilindunginya” supaya tidak diambil.
    Menilik teori evolusi Charles Darwin, kera tadi mewakili manusia, dan mendukung (sebagian kecil)teori evolusi Charles Darwin.

    Kera sadar akan “keberadaannya”, kera tahu ada sesuatu yang membelenggu dirinya, tapi tidak menyadari. Kera kurang cerdik menyikapi keberadaan dirinya, bahkan kunci gembok diletakan disebelahnya, malah dibuang. Kera protes kalau dirinya dirantai, tapi malah “melindungi” apa yang membelenggu. Ingin bebas, tapi tetap menjaga dirinya tetap terbelenggu…..

    he…he… he…
    Siapa yang tidak konsisten…?
    he…he… he…

    Soal persepsi, belajarlah keluar dari dunia kita sekarang.
    Berada pada sudut pandang yang berbeda akan memberi kita pemahaman bentuk yang lebih nyata. Meluaskan persepsi kita.
    Ingat cerita tentang orang Aceh dan orang Flores ?

    ” Whoever may want to become ENLIGHTENED must reconquer lost childhood.
    The battling between antitheses destroys occult powers. This battling of reasonings damages the mind’s powers.
    This is how we can acquire true divine Wisdom without damaging the mind’s
    powers with the battling of reasonings, or with vain intellectualism.
    Meditation is the sage’s daily bread.”

    Deisme dan New Age yang dikenal orang adalah pembenaran untuk kepentingan kelompoknya, untuk menjadi pemenang. Saya tidak butuh kemenangan.

    sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake.

    konsep takdir, qada’ dan qodar
    konsep akherat dgn kalkulasinya
    dalil aqli dan naqli
    konsep tujuan manusia dihidupkan di bumi

    Sudahkah dimaknai sebagai “kasunyatan” – kenyataan?
    Bukan ilusi tekstual?

    “We must turn the mind away from all kind of earthly
    thoughts. Earthly thoughts must fall dead before the doors of the temple. We have to concentrate the mind only inwards… on our INTIMATE one”

    Dengan berat hati saya katakan “percayalah”!

    Have positive days.

  20. Dear Wawan,

    Mas Wawan yang budiman,
    Tentang diskusi kita….
    Jujur…
    Aku mengangapnya sebagai sebuah analogi kehidupan yang semakin kompleks dengan bermacam-macam pemahaman. Kadang muncul pemahaman yang kontradiktif dengan pemahaman kita.
    Secara pribadi saya sangat menghargai dirimu.
    Dengan banyaknya pemahaman mampukah kita memahami bahwa ini soal “persepsi”, bahwa sebenarnya tidak ada “kebenaran mutlak”.

    Seperti dalam Agama, pro dan kontra “juklak” syariat juga janganlah diposisikan sebagai pemicu ketegangan, perpecahan ataupun pemutusan hubungan baik/silaturahmi. Tapi yang penting pemahaman pelaksanaannya, lebih dari petunjuk untuk melaksanakannya (syariat-hukum agama).

    Era terbentuknya sebuah agama juga mempengaruhi bagaimana persepsi akan hukum-hukum dan persepsi dalam memaknai “kontain” nya.

    Saya berharap sekali ini dapat membangun apapun yang positif.

    Have positive days.

  21. salam manis Allah,

    Saya tidak mewakili sebuah agama, saya msebagai “AKU”, yang melepaskan “ageman” jaket agama. Doktrin dan Dogma Agama sudah tidak mengikat saya. Begitu pula dengan jiwa/bathin/nurani/hati saya … sudah tidak terikat dengan pemahaman dogmatis.
    Doktrin dan Dogma Agama sudah tidak mampu “menakut-nakuti” saya.
    ===================
    1. Tetapi kenapa masih memakai baju katolik…? konsistenkah? Anda tlah kehilangan jati diri, identitas. Anda sekarang menganut keyakinan apa?

    tetap mengurung jiwa dan menjadi “hamba” pemikiran rasionalitas.
    Allah janganlah di letakan dalam pemikiran/pemahaman rasional, ya… yang hanya berhenti pada tembok “Yang Maha Kuasa”, ya… yang pada akhirnya menjalankan syariat sebagai “hamba” tanpa menyadari dan memahami maknanya.
    “Ya, pokoknya udah tertulis demikian….”
    ==========================
    Anda sudah mengakui sinergisitas rasio dan hati, tapi masih selalu menafikan rasionalitas, konsistenkah? Anda sbagai fotografer telah mengakui pentingnya sinergisitas rasio-hati tapi masih selalu meremehkan rasionalitas, konsistenkah?

    Kenapa kita tidak mau mendekatkan kepadaNya ?
    Kenapa kita terdoktrin untuk “percaya” tapi tidak memahami kenapa kita harus percaya? Kanapa hanya “… kan ada tertulis…..!”
    Kenapa kita mengurung jiwa kita?
    Biarkan jiwa kita bersama dengan Allah.
    Biarkan jiwa kita bercengkerama mesra dengan Allah.
    dalam Damai, Hening, Indah…
    ==========================
    slalu anda menyatakan spt ini tetapi tidak mampu menjawab konsep pendekatan jiwa kepada Allah yang mana dan bagaimana?

    Keadilan Tuhan tidak perlu dipahami dalam akherat.
    Tuhan adil selama-lamanya dalam keabadian.
    Tidak ada “besok” yang ada “sekarang”, untuk sebuah keadilan.
    Tuhan tidak pernah menunda apapun tentang keadilan, kita yang terlambat memahami sehingga seolah-olah “besok” pasti ada keadilan.
    ===================
    kalimat anda di sini sangat jelas menyatakan bahwa anda tidak mempercayai hari akherat kelak. Dan menafikan segala ketidak-adilan di dunia ini, padahal inilah kasunyatan yg sebenarnya di dunia. Banyak orang terbunuh, teraniaya, terdholimi, dll yang tidak mendapat keadilan yg anda anggap sebagai angin lalu….

    Allah tidak menciptakan “Surga
    dan Neraka”
    Allah hanya menciptakan “Surga”
    “Neraka” adalah hasil kalkulasi dan produk tafsir manusia.
    Susah ya ?
    =================
    yach memang susah dan payah pikiran anda, Anda tidak punya konsep yang jelas tapi sudah berani membuat sebuah kalimat yang tidak konsisten…

    Perumpamaan kera di atas juga lemah logikanya:
    kera itu tidak punya “kesadaran”, kesadaran manusia itu adalah sinergi rasio dan hati. Kalau manusia hanya mengandalkan nafsu, emosi dan hatinya saja dan menafikan rasionalitas maka manusia itu menjadi seperti kera yang terbelenggu. Karena memang tidak punya kesadaran yang prima hehehehehe…………

    Boleh ni bertanya mas? Konsep tujuan manusia hidup di bumi menurut hati mas itu seperti apa? Menurut hati lho mas? jangan menggunakan rasio hehehe…. ntar malah tidak bisa menuliskannya hahahahaha………….. siapa yang tidak konsisten.

  22. Mas Wawan yang budiman,
    Tentang diskusi kita….
    Jujur…
    Aku mengangapnya sebagai sebuah analogi kehidupan yang semakin kompleks dengan bermacam-macam pemahaman. Kadang muncul pemahaman yang kontradiktif dengan pemahaman kita.
    Secara pribadi saya sangat menghargai dirimu.
    Dengan banyaknya pemahaman mampukah kita memahami bahwa ini soal “persepsi”, bahwa sebenarnya tidak ada “kebenaran mutlak”.

    Seperti dalam Agama, pro dan kontra “juklak” syariat juga janganlah diposisikan sebagai pemicu ketegangan, perpecahan ataupun pemutusan hubungan baik/silaturahmi. Tapi yang penting pemahaman pelaksanaannya, lebih dari petunjuk untuk melaksanakannya (syariat-hukum agama).

    Era terbentuknya sebuah agama juga mempengaruhi bagaimana persepsi akan hukum-hukum dan persepsi dalam memaknai “kontain” nya.

    Saya berharap sekali ini dapat membangun apapun yang positif.
    ======================

    1000% saya spakat.

  23. Dear Wawan,

    Pernah nonton wayang?
    Ada Pendawa,
    Ada Kurawa.
    Keduanya masuk dalam satu kotak, kotak diibaratkan JIWA kita.
    Dalang adalah “kesadaran” kita mengelola yang ada dalam kotak, “cerita”nya sudah ada / “pasti”.
    Apakah seperti anak kecil yang memahami sebagai “cerita heroik”, berantem, ada yang kalah dan yang menang.

    ===
    Perumpamaan kera di atas juga lemah logikanya:
    kera itu tidak punya “kesadaran”, kesadaran manusia itu adalah sinergi rasio dan hati. Kalau manusia hanya mengandalkan nafsu, emosi dan hatinya saja dan menafikan rasionalitas maka manusia itu menjadi seperti kera yang terbelenggu. Karena memang tidak punya kesadaran yang prima hehehehehe…………
    ===
    Ini sudah jawaban.
    Apakah kita akan seperti kera yang tidak punya “kesadaran”? Yang tahu “dibelenggu” tapi tidak sadar, bahkan menginginkan tetap terbelenggu. Ini pilihan, bukan dogma.

    Dalam Agama (ageman- pakaian – kostum) hanya bentuk dan tata cara kita untuk “berkarya” (pengertiannya = ibadah)

    Kalau kita melihat Allah menciptakan “surga dan neraka”, kita diwajibkan memilih, lalu pilihan kita pasti “surga”. Lalu bagaimana dengan adanya pilihan “neraka”? Kita harus yakin, Allah Maha Pemurah dan Maha Penyayang, dlm Kemaha Kuasa an Nya. Kuasanya adalah “CINTA”, Cinta selalu menyatukan, ini bagian dari hukum alam. Dalam Cinta ada Nafsu, ini membutuhkan pengelolaan. Nafsu yang tidak terkelola menyebabkan akibat yang kita tidak dapat mengelolanya, hasilnya “NERAKA”, Lihat kisah Adam Hawa dengan pemaknaan yang lebih “cerdas”, di sinilah kita melihat adanya konsep “neraka”.
    Pada saat kita melihat manusia sebagai “Aku”, “being”… Lihat lebih nyata siapa “Aku”, yang sebenarnya aku bukanlah “Aku”. (ini sangat sulit bagi yang mengurung jiwanya dalam rasionalitas). Kalau memahami konsep “Aku” saja sudah tidak mampu, bagaimana bisa memahami Allah? Allah secara rasional hanya sebuah “ilusi tekstual”.
    Tapi bagaimana dengan Allah yang sebenarnya?

    Saya mengatakan sekali lagi dalam Agama (ageman- pakaian – kostum), kita baru mengenal “Asma” dan “Sifat”, belum “Wujud”. Wujud bukan makna harafiah.
    Allah, The Holliness…kita harus mampu bersamanya, karena kita berasal dari Dia.

    ===
    Kalimat anda di sini sangat jelas menyatakan bahwa anda tidak mempercayai hari akherat kelak. Dan menafikan segala ketidak-adilan di dunia ini, padahal inilah kasunyatan yg sebenarnya di dunia. Banyak orang terbunuh, teraniaya, terdholimi, dll yang tidak mendapat keadilan yg anda anggap sebagai angin lalu…
    ===
    Benarkah??
    ===
    Keadilan Tuhan tidak perlu dipahami dalam akherat.
    Tuhan adil selama-lamanya dalam keabadian.
    Tidak ada “besok” yang ada “sekarang”, untuk sebuah keadilan.
    Tuhan tidak pernah menunda apapun tentang keadilan, kita yang terlambat memahami sehingga seolah-olah “besok” pasti ada keadilan.
    ===

    Ini makna dari “syukur” dan “tawakal”

    ===
    Banyak orang terbunuh, teraniaya, terdholimi, dll yang tidak mendapat keadilan…
    ===

    Bagi yang terbelenggu dalam rasionalitas akan berpandangan seperti itu.
    Maka itulah kehidupan yang harus kita waspadai.

    Pernah lapar?
    Saya katakan lapar adalah pemaknaan “syukur” yang sebenarnya.
    Pada saat ada hidangan di hadapan kita untuk kita santap, itu adalah hasil dari rasa “bersukur”.
    Kalau ada hidangan, yang kemudian kita menyantapnya,lalu kita “bersyukur”, “terlambat” memaknai “syukur”
    Berpuasa dengan kesadaraan sebagai ibadah yang mengelola nafsu, artinya kita sedang bersyukur terhadap fitrah kita. Itulah makna kekuatan “kekinian”,

    Selama takarannya adalah “raga” dan “rasionalitas” tetap saja tidak mengenal Allah. Raga dan rasionalitas sebagai visualisasi dalam ilusi tekstual, bukan yang sejati. Rasionalitas itu sendiri yang akan melebur raga dalam istilah Mas Wawan sebagai “akherat”. Dengan memaknai ALFA dan OMEGA kita akan melihat “rotasi” dalam kehidupan. Tidak “stay” tapi bergerak dan bertujuan.

    “Siapakah Allah tanpa “Aku”?”

    inilah tujuan dan “motifasi untuk berkarya” manusia dalam hidup di bumi.

    “Aku”,
    yang menjadikan Allah “ada”,
    “Aku”
    yang menjadikan Allah Maha Kuasa, Esa, Suci, Mulia.

    Apakah kera mengenal Allah? dalam rasionalitasnya.
    Apakah cacing mengenal Allah? dalam rasionalitasnya.

    Memaknai “kisah” dalam Buku Suci, seperti memahami bagaimana seorang dalang memainkan lakon / ceritanya.
    Kalau memahaminya secara tekstual dan apa adanya menjadikan makna buku suci sebagai kisah usang.

    “Berpikir dengan “hati” merupakan makna kesadaran rasional yang sebenarnya”

    Have positive days.

  24. Salam manis Allah,

    secara substansi (esoteris) saya sebenarnya berpikiran sama denganmu sahabat. Tujuan kita sama lihat di sini anda pasti kelewat membacanya: https://wawankardiyanto.wordpress.com/2008/11/20/antara-monoteisme-dan-multiisme/

    tetapi secara eksoteris kita beda. Banyak pernyataan anda yang mengerdilkan rasionalitas, ini yang tidak saya spakati.

    Saya mengerti, mungkin anda mau menuju iman Al qawas bil qawas/ Manunggaling kawulo gusti. Tapi untuk mengarah ke sana adalah tidak gampang… Dan Tujuan Islam tidak sekedar ke sana…

    Dalam Islam ada tingkattan keimanan:
    1. Iman orang awam (iman tekstual/rasional semata/atau sekedar yakin tanpa ilmu)
    2. Iman Al qawas (iman yang ikhlas total berdasarkan ilmu dan kepasrahan)
    3. Iman al qawas bil qawas (menyatu dengan Allah) Iman hakekat.

    Prosentase 1 adalah mayoritas, ke 2 hanya sedikit. dan yg ke 3 amat-amat sangat sedikit..

    Ketiga tingkatan Iman ini kita harus bijak dan teliti dalam memahaminya… Jangan terjebak dalam ketidak harmonisan sinergisitas rasio dan hati.

    itu dulu yach…

  25. Dear Wawan,

    ===
    Saya mengerti, mungkin anda mau menuju iman Al qawas bil qawas/ Manunggaling kawulo gusti. Tapi untuk mengarah ke sana adalah tidak gampang… Dan Tujuan Islam tidak sekedar ke sana…
    ===

    Setiap tujuan membutuhkan satu langkah awal, untukkemudian dilanjutkan ke langkah-langkah berikutnya.
    Sugesti negatif menghasilkan negatif, yang positif menghasilkan positif, setuju?

    ===
    Tapi untuk mengarah ke sana adalah tidak gampang…
    ===

    Kata “tidak gampang” akan menjadi sulit… ini menjadi sugesti dalam “mind” kita bahwa itu benar-benar sulit.

    Paling tidak, walaupun orang bilang sulit,
    yang terpenting menjalani dengan kesadaran akan tujuan, dan fokus terhadap “goal”nya.

    The art of war ( Sun Tzu ) mengatakan : Pemenang perang, adalah orang yang sudah memiliki “design” kemenangannya, bukan perang dulu lalu mencari kemenangan.

    “The winner has degined his winning goal then fight, the loser, fight first then seek the winning”

    Terima kasih untuk meluangkan waktu bercengkerama dalam “tujuan hidup”.

    Ada orang “sukses” bilang:
    “kalau mau sukses kita harus menemukan “kunci”, salah satu kunci itu adalah “MAU” dan “MAMPU” melakukan sesuatu yang orang lain “TIDAK” (mau/mampu)

    Sahabat saya mengatakan, Hingdranata (based on NLP) kalau mau bahagia , ya tempuh jalan dengan yang tidak normal (rasional), agak aneh… tapi terbukti dan masuk akal (alias rasional…)…

    Any way,

    Matur nuwun

  26. Tapi untuk mengarah ke sana adalah tidak gampang…
    ===============
    Saya katakan tidak gampang, karena laku yang harus dijalani seorang yang mau mengapai iman hakekat adalah tidak sembarang orang bisa melakukannya. Banyak syarat2 dan tahapan2 yang mesti dilalui.

    Bagi orang2 yang berilmu sedikit seperti saya dan sebagian besar orang pada umumnya untuk menjadi orang2 sekaliber, Rumi, al halaj, syeh siti jenar, atau para walisongo dan ulama2 yang waskito lainnya adalah seperti punguk merindukan bulan. Mereka telah melewati dan menempuh pengalaman rohani yang tidak mudah ditempuh oleh orang2 seperti kita.

    Laku mereka untuk ditiru bagi saya terus terang tidak mudah. Pingin sih pingin bisa mengetahui di balik kesadaran jiwa kita, tetapi wallahu ‘alam spt-nya saya tidak akan mengarah ke-sana. Cukup mengambil substansi ajaran mereka saja bagi saya sudah luar biasa. hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s