SINERGIKAN HATI DAN DAYA PIKIR KITA


SINERGIKAN HATI DAN DAYA PIKIR KITA

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kami tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. 17:36)

images

Allah adalah Kreator dan Operator Agung kita. Namun apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh manfaat dari “pengetahuan tentang Allah” yang disingkapkan dalam ayat-ayatNya? Antara lain, kita harus “cenderungkan hati kita pada daya pikir”, memiliki hasrat sepenuh hati untuk memperoleh dan mempertunjukkan sifat ini. Untuk itu, kita harus bermunajab kepada Allah, sebagaimana Allah berfirman dalam Qur’an 16:78, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. Ayat itu rnemberitahukan kepada kita bahwasanya pengetahuan adalah modal penting untuk mengetahui semua pertanyaan hakekat kehidupan (pasca kelahiran), yakni apa, mengapa, bagaimana, siapa, di mana, ke mana, tujuan hidup kita. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya,” (QS. 17:36) Apa gerangan pengetahuan, hikmat, dan daya pikir?

Pengetahuan adalah pengenalan akan fakta-fakta yang diperoleh melalui pengalaman, pengamatan, atau pelajaran. Hikmat adalah kesanggupan untuk menerapkan pengetahuan dengan cara efektif dan benar. “Allah mengangkat derajat orang yang percaya dan orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. “(QS. 58:11) Daya pikir adalah “ketajaman dalam membuat penilaian”. Ini adalah “kesanggupan atau kemampuan pikiran yang dapat membedakan satu hal dengan hal yang lain”. (Webster’s Universal Dictionary) Jika kita mencenderungkan hati kepada daya pikir, Allah akan menghadirkan hikmat kebenaran Islam kepada orang-orang yang mau mengunakan daya pikirnya tersebut. Namun, bagaimana daya pikir dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan?

DAYA PIKIR DAN TUTUR KATA

Daya pikir membantu kita menyadari bahwa ada “waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara”. Sifat ini juga membuat kita berhati-hati akan apa yang kita katakan. Untuk itu setiap orang muslim harus memelihara lidahnya dari segala kata, terkecuali yang baik, kalau kira-kira sama baiknya di antara diam dan bicara, maka lebih baik diam, sebab adakalanya bicara yang baik itu juga melantur kepada bicara yang tidak baik. Abu Hurairah r.a., berkata: Bersabda Nabi s.a.w. : ‘Siapa yang percaya kepada Allah dan hari kemudian, hendaknya berkata baik atau diam.” (hadist Buchary, Muslim) Orang yang tidak berakal budi memandang hina sesamanya sendiri, tetapi orang yang berdaya pengamatan luas adalah orang yang tetap diam. Orang yang berjalan ke sana kemari sebagai pemfitnah menyingkapkan pembicaraan yang bersifat gunjingan, tetapi orang yang mempunyai semangat setia menutupi perkara. ” Ya, seorang pria atau seorang wanita yang menghina orang lain “tidak berakal budi”. Menurut leksikograf Wilhelm Gensenius, orang seperti itu “tidak memiliki pengertian”. Ia tidak memiliki kemampuan menilai yang baik, dan digunakan istilah “budi” memperlihatkan bahwa sifat-sifat positif dari manusia batiniahnya kurang. Jika seseorang yang mengaku muslim memperkembangkan obrolannya sampai ke taraf memfitnah atau mencerca, maka diibaratkan lebih kejam daripada pembunuhan, pepatah mengatakan lidah lebih tajam dari sebilah pedang.

Berbeda dengan orang-orang yang “tidak berakal budi”, orang-orang berdaya pikir luas” berdiam diri bila hal itu tidak pantas dilakukan. Mereka tidak menghianati apa yang orang lain percayakan kepadanya. “Tepatilah janji, sesungguhnya janji itu akan ditanyakan dan dimintai tanggungjawabnya.” (QS. 17:34) Karena mengetahui bahwa tutur kata yang tidak dikendalikan dapat mengakibatkan kerugian, orang-orang yang berdaya pikir “mempunyai semangat setia”. Mereka loyal kepada rekan-rekan seiman dan tidak membocorkan perkara-perkara gunjingan yang dapat membahayakan rekan-rekan mereka. Jika orang-orang muslim yang berdaya pengamatan menerima keterangan apapun yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak jelas terhadap rekan maupun sahabatnya, mereka akan mendiamkan dan merahasiakan. Berkenaan dengan hal itu, apa yang dilakukan orang-orang Muslim yang setia dan berdaya pikir sehubungan dengan keterangan yang bersifat gunjingan? Janganlah kita menjadi orang-orang munafik, yaitu; Abu Hurairah r.a., berkata: Rasulullah bersabda: “Tanda orang munafik itu ada tiga; jika bicara ia dusta, jika berjanji mengingkari, dan jika dipercaya berhianat.” (Buchary, Muslim)

DAYA PIKIR DAN TINGKAH LAKU

Islam membantu kita menggunakan daya pikir dan menghindari tingkah laku yang tidak pantas. Tingkah laku yang tidak pantas adalah tingkah laku yang selalu mengikuti hawa nafsu yang buruk. Sesunguhnya manusia itu cenderung mengikuti nafsu buruknya. Allah berfirman,” …karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”(QS. 12:53). Orang-orang yang menuruti hawa nafsu cenderung bertingkah laku bebas tanpa batas. Padahal Allah melarang sifat melampaui batas, “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu … dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia melihat apa yang kamu kerjakan. “(QS. 11:112)

Bagi orang bebal, menuruti nafsu dan bertingkah laku bebas adalah seperti permainan, tetapi hikmat adalah bagi orang-orang yang berdaya pikir. “Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke neraka jahanam dengan sekuat-kuatnya. “(QS. 52:11-13) Orang-orang yang menganggap menuruti nafsu dan bertingkah laku bebas “seperti permainan” sebenarnya buta dan salah haluannya, mereka mengabaikan Allah sebagai pribadi yang kepada-Nya semua harus memberikan pertanggungjawaban. ‘Orang-orang bebal’ semacam itu menyimpang penalarannya sampai-sampai menganggap bahwa Allah tidak melihat perbuatan salah mereka. Melalui tindakan, mereka sebenamya mengatakan, “Tidak ada Allah.” (QS. 2:55) Karena tidak dibimbing oleh prinsip-prmsip ilahi, mereka kekurangan daya pikir dan tidak dapat menghakimi perkara-perkara dengan tepat.

“Orang yang berdaya pikir” menyadari bahwa tingkah laku bebas yang menuruti hawa nafsu bukanlah “permainan” ataupun perlombaan. la mengetahui bahwa itu mengecewakan Allah dan dapat merusak hubungan kita dengan-Nya. Tingkah laku semacam itu bodoh karena hal itu menjatuhkan harga diri, menghancurkan perkawinan, merusak pikiran maupun tubuh, dan membawa kerugian secara rohani. Oleh karena itu, marilah kita mencenderungkan hati kita pada daya pikir dan menghindari segala macam tingkah laku bebas atau perbuatan amoral apa pun.

DAYA PIKIR DAN EMOSI

Mencenderungkan hati kita kepada daya pikir juga membantu kita mengendalikan emosi.Orang yang sabar besar pengertiannya, “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.”(QS. 4l:35) Tetapi siapa cepat marah memperbesar kebodohan. Salah satu alasan mengapa seseorang yang berdaya pikir berjuang menghindari kemarahan yang tidak terkendali adalah karena marah memiliki pengaruh yang merugikan atas diri kita secara jasmani. Ini dapat menaikan tekanan darah dan menyebabkan sesak nafas. Para dokter menyebut kemarahan dan kemurkaan sebagai emosi-emosi yang memperburuk atau yang menyebabkan penyakit-penyakit seperti asma, penyakit kulit, problem pencernaan, dan stroke.

Kita menggunakan daya pikir dan bersikap sabar tidak sekedar untuk menghindari problem kesehatan. Ketidaksabaran dapat membawa kepada tindakan bodoh yang akan kita sesali. Daya pikir membuat kita memikirkan apa yang dapat diakibatkan oleh tutur kata yang tidak terkendali atau tingkah laku yang gegabah dan dengan demikian kita terhindar dari “membesarkan kebodohan” karena melakukan sesuatu yang tidak bijaksana. Daya pikir khususnya membantu kita menyadari bahwa kemurkaan dapat merusak proses berpikir kita, sehingga kita tidak dapat menggunakan kemampuan menilai yang sehat. Ini akan merusak kesanggupan kita untuk melakukan kehendak Ilahi dan hidup selaras dengan prinsip-prinsip Allah yang Maha Adil dan Maha Benar. Ya, mengalah kepada kemarahan yang tak terkendali dapat merusak rohani kita. Sesungguhnya ledakan kemarahan digolongkan di antara pekerjaan-pekerjaan setan yang akan mengakibatkan kita menjauhi Allah Yang Maha Penyayang. Maka, sebagai orang-orang muslim yang berdaya pikir, marilah kita “cepat mendengar, lambat berbicara dan lambat murka.”

Jika kita menjadi marah, daya pikir dapat menunjukkan bahwa kita hendaknya tetap tenang dan sabar agar terhindar dari konflik. Islam mengajarkan “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin.” Daya pikir dan kasih persaudaraan akan membantu kita melihat perlunya mengendalikan dorongan untuk menceletuk dengan kata-kata yang menyakitkan. Jika suatu ledakan amarah telah terjadi, kasih sayang dan kerendahan hati akan menggerakkan kita untuk meminta maaf dan berdamai. Namun, misalkan seseorang telah menyakiti hati kita, maka hendaklah kita berbicara kepadanya secara pribadi dengan lemah lembut dan rendah hati dan dengan tujuan utama untuk memajukan perdamaian.

DAYA PIKIR DAN KELUARGA

Anggota-anggota keluarga perlu memperhatikan hikmat dan daya pikir, sebab sifat-sifat ini akan membina suatu rumah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah. Hikmat dari daya pikir diumpamakan seperti bahan-bahan bangunan bagi kehidupan keluarga yang berhasil. Daya pikir membantu orang tua muslim untuk menimba perasaan dan kekhawatiran anak-anak mereka. Seseorang yang berdaya pikir sanggup untuk berkomunikasi, untuk mendengarkan dan mendapatkan pemahaman akan perasaan dan pikiran teman hidupnya.

Tak diragukan lagi, hikmat dan daya pikir perlu bagi kehidupan keluarga yang bahagia. Misalkan perempuan yang bijak mendirikan (membangun) rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri. Seorang wanita yang menikah yang bijaksana dan berdaya pikir serta memiliki ketundukan yang patut kepada suaminya akan turut bekerja keras demi kebaikan rumah tangganya dan dengan demikian turut membangun keluarganya. Salah satu sikap yang akan “membangun rumahnya” antara lain bahwa ia selalu mengatakan hal-hal positif tentang suaminya dan dengan demikian meningkatkan respek orang lain kepada sang suami. Dan seorang istri yang berdaya pikir dan cakap serta memiliki rasa takut yang penuh hormat kepada Allah memenangkan pujian bagi dirinya sendiri. Demikian pula bagi seorang suami, ia harus bertanggungjawab penuh akan kebahagiaan dan keabadian rumah tangga baik secara lahir maupun batin. Kasih sayang yang dibangun berlandaskan daya pikir oleh kedua orang suami-istri akan dapat membantu komunikasi keduanya, sehingga mereka dapat lebih saling memahami satu sama lain. Hal ini tentu akan menciptakan kelanggengan sebuah keluarga.

Allah berfirman dalam ayat-Nya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari pada sebahagian yang lain. (karena) Bagi orang laki-laki ada bahagian yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah MahaMengetahui segala sesuatu” (QS. 4:32)

DAYA PIKIR DAN HALUAN HIDUP

“Daya pikir dapat membantu langkah kaki kita dalam mengambil, memahami dan mengatur haluan hidup yang nantinya akan mengatur segala urusan kita. Daya piker yang dilandasi hati nurani tentu dapat membimbing kita kepada jalan yang lurus (shirathalmustaqiim), yaitu jalan orang-orang yang telah dianugerahi “nikmat” oleh Allah dan bukan jalan orang-orang yang dimurkai Allah dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat (QS. 1:5). Siapakah orang-orang yang telah diberi “nikmat” oleh Allah itu?

Orang-orang yang telah diberi “nikmat” oleh Allah adalah mereka yang bertaqwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang telah dianugerahkan oleh Allah, dan mereka yang beriman kepada kitab (Alqur’an) yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad dan beriman kepada kitab-kitab yang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akherat (QS. 2:3). Setelah mengetahui apa itu jalan yang lurus, terus bagaimana agar kita dapat melewatinya dengan aman dan tidak berbelok-belok? (a). Bagaimana daya pikir mcmilih haluan hidup kita? (b). Apa itu jalan lurus? (c). Jalan siapakah shirathalmustaqiim itu? Di dalam diri kita sebenamya terdapat “fitrah” (ciri dasar manusia) yang selalu mengajak kepada kebaikan (“hanif”). Tetapi di dalam diri kita juga terdapat “nafsu” yang selalu cenderung mengajak ke jalan yang jahat. Keberadaan manusia yang demikian, -maksudnya mempunyai kecenderungan akan kebaikan dan kejahatan, bukankah Allah telah berfirman, “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya (manusia) dua buah jalan (jalan kebajikan dan jalan kejahatan),” (QS. 90:10)- menuntut kita berlaku hati-hati dalam memelihara haluan hidup. Apa yang harus kita perhatikan? Ke mana kita akan melangkah? Di sinilah arti penting daya pikir di samping hati nurani. Oleh sebab itu, Alqur’an mengingatkan; “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya.” (17:36)

“Selanjutnya, daya pikir dan hati nurani apabila mengikuti apa-apa yang telah diketahuinya bahwa haluan hidup yang dilaluinya itu benar, maka itulah kepercayaan. Manusia membutuhkan kepercayaan sebagaimana ia membutuhkan makanan. Kepercayaan ini harus diyakini kebenarannya, sehingga diperlukan kepastian, tidak mungkin keraguan. Inilah yang disebut kepercayaan kepada kebenaran yang mutlak. Dan tidak ada suatu kebenaran yang mutlak kecuali kebenaran Tuhan. Karena manusia menjadikan kebenaran mutlak (Tuhan) itu sebagai tujuan hidupnya, maka ia harus mengabdi, tunduk dan pasrah. Dan keadaan tunduk dan pasrah itu disebut Islam.

Oleh karena itu daya pikir menuntun kita kepada haluan hidup yang benar itu adalah Islam (tunduk dan pasrah kepada Tuhan).

Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya agama (haluan hidup yang diridloi) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Alkitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, dan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya,” (QS. 3:19).

“Barang siapa mencari haluan hidup selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (haluan hidup itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. 3:85) “Pada hari ini telah Kusempumakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Aku ridloi bagimu Islam sebagai agamamu” (QS. 5:3)

9 comments on “SINERGIKAN HATI DAN DAYA PIKIR KITA

  1. Dear Wawan,

    Cool…..
    Saat kita berada dalam ruang yang sama, meskipun kita menempati sudut yang berbeda, kita sama-sama merasakan segarnya udara dalam ruangangan, betapa kita merasa aman dalam ruangan, tidak pernah berpikir bahwa di sudut mana yang lebih nyaman.

    Ada beberapa catatan yang “sugestif”, sadar atau tidak, percaya atau tidak, mau atau tidak. Hal yang bersifat “sugesti negatif”, walaupun niatnya tidak, ada dampak yang negatif. Ini semestinya di masukkan dalam bak sampah.(Untuk tulisan ini tidak wasted mind)

    Sugesti negatif memang hanya berlaku dan terjadi pada orang yang “cupet kemampuan berpikirnya”, dan masih banyak yang demikian itu. Maka dari itu “perbadingan kebenaran” akan mendukung fanatisme apapun.

    Aku pernah membuat tulisan soal “Safety Living”, walaupun ranah pembaca adalah orang ber”label” Katolik, konsepsi dasarnya bisa diterapkan pada apapun dan siapapun. Sebagai identitas kekatolikan aku hanya karena ada kutipan injil, dan penafsirannya. Lepas dari itu aman-aman saja.

    Sbagai seorang yang pluralis, sering pada saat ditanya identitas agama, aku menjawab “aku tidak beragama”, agamaku “multi”. Aku belajar Islam, dan berusaha menerapkan untuk kejernihan hati/jiwa. Aku mencoba memahami Hindu dan Budha untuk memperoleh ketenangan dan kedamaian hati / jiwa. Katolik sebagai pondasi rumah damai yang sedang aku bangun.
    Ternyata ada reduksi dari beberapa sahabat penggali jiwa adalah :
    Resep untuk damai cukup “senyum tanpa butuh alasan”,
    karena damai hanya butuh pemahaman dan kesadaran diri. Senyum sebgai pilihan penyebab, bukan karena menerima akibat.

    Terima kasih Sahabat ku, Wawan Kardiyanto,

  2. Dear Wawan,

    Aku mau kirim ini tp aku ga tahu alamat email jenengan,
    kalau lah dirimu sudi, sms aku alamat email jenengan di 0856 78 25 539.

    Puanjaaaaang bgt:

    dari : http://www.islamliberal.net/issue.html

    10 Macam Penyakit atau Masalah dalam Masarakat Islam kita di Akir zaman ini…….

    cukup menarik dan banyak sekali celah untuk berdiskusi dan berdialog, terutama untuk saling mengisi kekosongan jiwa kita.

  3. Assalmkum…
    Tulisan anda mengekpresikan anda seorang liberal…. apakah anda pengikut dan ngefans sama JIL (Jaringan Iblis Liberal) yg ada di Indonesia. Kebenaran datangnya dari Allah… Jika Allah yg berfirman jangan kau ingkari.

  4. Salam manis Allah,

    to Adikhde

    Tulisan anda mengekpresikan anda seorang liberal…. apakah anda pengikut dan ngefans sama JIL (Jaringan Iblis Liberal) yg ada di Indonesia.
    ======================
    sama sekali bukan JIL ato fansnya hehe….
    sy hanya orang Islam biasa saja….

    Kebenaran datangnya dari Allah… Jika Allah yg berfirman jangan kau ingkari.
    ======================
    spakat 1000…..%

  5. Dear All,

    Wuih….
    Kenapa sih JIL jadi ( Jaringan Iblis Liberal)….?

    Apakan yang menyebut seperti itu mamahami “ISLAM” dengan benar apa yang di Imani nya?

    Atau sudahkan yang bersangkutan mengenal JIL.
    Kalau belum, berarti membuat sebuah pola generalisasi yang tidak mendasar. Artinya “CUPET” / “sempit” peta dunianya.

    Mungkin ini bisa membantu:

    Tentang Jaringan Islam Liberal

    1. Apa itu Islam liberal?

    Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan landasan sebagai berikut:

    a. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.

    Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).

    b. Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks.

    Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur’an dan Sunnah Nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.

    c. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.

    Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.

    d. Memihak pada yang minoritas dan tertindas.

    Islam Liberal berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada kaum minoritas yang tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas yang minoritas adalah berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas di sini dipahami dalam maknanya yang luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik, dan ekonomi.

    e. Meyakini kebebasan beragama.

    Islam Liberal meyakini bahwa urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan.

    f. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

    Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam Liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.

    2. Mengapa disebut Islam Liberal?

    Nama “Islam liberal” menggambarkan prinsip-prinsip yang kami anut, yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. “Liberal” di sini bermakna dua:

    kebebasan dan pembebasan. Kami percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Kami memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu “liberal”. Untuk mewujudkan Islam Liberal, kami membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL).

    3. Mengapa Jaringan Islam Liberal?

    Tujuan utama kami adalah menyebarkan gagasan Islam Liberal seluas-luasnya kepada masyarakat. Untuk itu kami memilih bentuk jaringan, bukan organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik. JIL adalah wadah yang longgar untuk siapapun yang memiliki aspirasi dan kepedulian terhadap gagasan Islam Liberal.

    4. Apa misi JIL?

    Pertama, mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang kami anut, serta menyebarkannya kepada seluas mungkin khalayak.

    Kedua, mengusahakan terbukanya ruang dialog yang bebas dari tekanan konservatisme. Kami yakin, terbukanya ruang dialog akan memekarkan pemikiran dan gerakan Islam yang sehat.

    Ketiga, mengupayakan terciptanya struktur sosial dan politik yang adil dan manusiawi.

  6. JIL….???

    Ada banyak kesamaan faham yg digulirkan yg saya sepakati. dan banyak pula perbedaan faham yg tidak sy sepakati dr JIL..

    JIL hanya salah satu dari beribu kelompok pemikir dalam Islam… tidak perlu dianggap aneh…

    Perbedaan pemikiran bagi sy sah2 saja, tetapi kala mencoba memaksakan pemikiran dan menutup pada perbedaan pemikiran yg lain itu yg sangat saya sesalkan pada JIL…

    JIL itu dicurigai sebagai jaringan pemikiran yg tidak independen, didanai sponsor, dan apa maunya sponsor….

    JIL bukan murni sebuah gerakan pemikiran dari orang2 yg murni memikirkan perkembangan peradaban Islam….

    JIL tidak menghargai hasanah lama/klasik yg kaya dari para pemikir Islam yg tidak sejalan dgn pemikirannya….

    JIL berpaham mo memisahkan agama dan politik/negara ini juga sy tidak sepakat…. dll

  7. Dear all,

    Sip,
    artinya ada sikap.
    Yang penting saling menghargai. Hanya sepertinya ada beberapa justifikasi, men”genaralisasi”kan sesuatu karena tidak tahu / kenal.

    Kalo soal indipenden atau tidak, atau ada kepentingan pihak sponsor , aku ga tahu itu, dan sepertinya aku juga ga boleh tahu.

    Ada pesan dari si HATI wan,
    Marilah kita berpositf IQ, berpositf EQ, berpositf SQ. untuk INDONESIA kita.

    Salam Damai dalam Allah Tuhan Kita.

  8. Obviously if your doctor strips your membranes it is based on imperical scientifically
    proven evidence that the doctor truely believes. Florette Darien (Farrell) is
    a nightclub singer with bleached curls who refuses to accept the
    advice of anyone who sees babies as more than screaming nuisances.
    All in all, a dilation and curettage takes about 20
    minutes.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s