Bagaimana Tuhan Merekayasa, Merencana, Membuat dan


jagadBagaimana Tuhan Merekayasa, Merencana, Membuat dan

Menghancurkan Jagat Raya?

Perkembangan ilmu Pengetahuan (scientific progress) biasanya ditemukan dalam langkah kecil-kecil saja. Kita lambat memahami kenyataan. Tetapi, pada suatu saat yang tepat seorang ilmuwan akan menemukan langkah kemajuan yang menghasilkan suatu kebenaran ilmiah. Bila ini terjadi pemahaman kita terhadap kenyataan akan berubah menjadi baru. Saat kanak-kanak, tentu masih teringat ketika kita bermain di waktu malam hari bersama teman-teman. Anak-anak sering bertanya, “Siapa ya, yang bisa menghitung banyaknya bintang di langit?”

Pengalaman Carl Sagan Direktur NASA; menyatakan bahwa orang tua kurang berpikir, justru anak-anaklah yang sering ingin tahu seperti apa itu Lubang Hitam, apa komponen terkecil dari materi, mengapa kita teringat masa lalu dan bukan ingat masa depan, dan mengapa ada jagat raya? Kebanyakan orangtua atau guru malahan merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, karena akan menyingkap keterbatasan pemahaman kita, manusia.

Menjawab beberapa pertanyaan di atas ilmuwan menyatakan bahwa Matahari, Bumi, Bulan, bintang Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto itu merupakan sistem matahari dan berada di galaksi Bima Sakti; galaksi kita ini, demikian pula galaksi yang lain dihuni oleh kurang lebih 100 milyar bintang. Dan jumlah galaksi-galaksi (seperti galaksi Bima Sakti, galaksi Spiral dll) di langit terdapat sebanyak 100 milyar juga. Jadi total bintang di langit adalah 100 milyar kali 100 milyar = 10 ribu milyar-milyar? Inilah yang dimaksud dengan “jagat Raya”. Jagat raya yang berisi bintang-bintang itu berbentuk tidak seperti bola, namun seperti “dendeng sapi”, pipih, karena efek “inflation” dan berada di ruang kosong, (nothingness) tak seperti apapun.

Apa yang ada di alam raya itu ternyata identik sama dengan apa yang ada di otak manusia. Banyaknya neron di otak manusia pun juga kurang lebih 100 milyar. Ilmuwan James Jean berkata, kinerja jagat raya itu tidak seperti mesin “great machine”, namun seperti otak manusia, yakni berpikir “great thought”.

Bagaimana Alam Semesta Dibuat dan Dihancurkan?

Dalam buku kosmolog nomor wahid, Stephen Hawking; A Brief History of Time, 1988; dan Stephen Hawking for beginners, 1996, dibuka dengan pertanyaan dasar; Dari mana jagat raya itu berasal dan akan ke mana? Adakah awal jagat raya, dan jika ada apa yang terjadi sebelumnya? Apakah kodrat waktu itu? Akankah waktu itu kunjung berakhir?

Pertanyaan-pertanyaan Hawking ini aslinya adalah pertanyaan kuno yang dibenahi untuk lebih menjurus ke perspektif dari pertanyaan filsuf Yunani Aristoteles 2500 tahun yang lalu, yakni; How is the universe constructed? (Bagaimana jagat raya dibuat?). Hingga jaman milenium ini tak ada ilmuwan yang mampu mendekati jawaban pertanyaan itu, kecuali Hawking.

Singkatnya, di tahun 1995 Hawking dengan pendekatan ilmiah, dan didukung oleh General Relativitynya Einstein, Eddington, Penzias-Wilson; Quantum theory of Planck, Heisenberg, Schrodinger & Bohr; Quantum Cosmology of H&H, George Smoot; Expanding universe of Friedman, Hubble dan sederet pakar yang lain, berhasil menjawab pertanyaan Aristoteles yang mahsyur; “Bagaimana jagat Raya dibuat?” Namun jawabannya membingungkan (paradox), yakni jagat raya bermula namun juga tidak bermula. Dengan kata lain, bermula (suatu penciptaan) sedang tak bermula (analog tak ada penciptaan). Jagat raya ada dan eksistensinya berlanjut terus; Juga ada big bang namun sesungguhnya tak ada big bang.

Dengan hasil jawaban seperti itu Hawking kebingungan, sehingga dia mendambakan Theory of every thing (teori asal mula sesuatu) yang akan dapat menjelaskannya, dan pada dasarnya dapat difahami oleh semua orang, bukan hanya ilmuwan, hingga kita mengerti pikiran Tuhan. Seperti dinyatakan oleh filsuf Geston Bachelard bahwa manusia modern akan ditantang oleh permasalahan-permasalahan yang “contra mind”, salah dan benar, baik dan buruk menyatu, membingungkan (paradox). Kenyataan yang membingungkan (paradoxical fact) ini baru akan menjadi wajar nanti pada cucu-cucu kita, kata Hawking. Einstein sendiri hingga ajalnya menolak yang “membingungkan” itu dengan ucapannya yang terkenal;” Saya tidak percaya Tuhan bermain dadu terhadap jagat raya. Pengertiannya adalah bahwasanya hukum Sains itu tertentu (determinan), maka Einstein tak percaya kalau hukum Tuhan itu awur-awuran, acak-acakan, tidak determinan.

Ketidakpastian hasil temuan ilmiah yang saling bertentangan namun masing-masing teori dapat dibuktikan tersebut pada dasarnya telah menghancurkan pandangan bahwa ilmu pengetahuan alam yang dipandang Hawking pasti, tampaknya kini sejak Einstein mengemukakan teori relativitasnya menjadi sebaliknya, yaitu justru menjadi penuh ketidakpastian. Ruang dan waktu yang diyakini Newton sebagai absolut teryata bagi Einstein adalah justru relatif. Ruang dan waktu menjadi relatif ketika unsur cahaya menjadi variabel dari gerak. Oleh karenanya, panjang ruang dan panjang waktu adalah sesuatu yang relatif, karena ternyata keduanya tergantung kepada keadaan pengukurnya.

Teori relativitas Einstein kemudian memperoleh dukungan secara revolusioner dari teori fisika Quantum Plank, yang membicarakan tentang dunia mikro sub-atomik, yang merombak total pandangan tentang materi. Dengan teori ini pandangan lama tentang bahwa atom-atom dunia mikroskopik adalah materi terkecil dari materi, terpaksa harus ditinggalkan dan tergusur serta terpuruk menjadi tidak relevan. Alam yang menurut teori lama Newton diyakini sebagai hukum-hukum sebab akibat yang berjalan secara deterministik dan pasti ternyata menurut teori Quantum tidaklah demikian, melainkan —alam tersebut— diatur oleh hukum-hukum kemungkinan. Artinya, pada tingkat materi yang terkecil alam mengelak tidak bisa diketahui oleh mata manusia. Di sinilah kemudian para ilmuwan meyakini adanya ruang mistik dalam ilmu fisika yang selama ini diyakini sebagai ilmu pasti. (Komaruddin Hidayat & M. Wahyuni Nafis: 1995)

Demikian pula dengan rekayasa jagat raya (alam semesta) ini pun akhirnya akan dapat kita pahami. Di dalam AlQur’an kitab Suci umat Islam pada ayat pertama surah Al Fatihah terdapat kata, al-alamin, kata yang berulangkali dalam AlQur’an sebanyak 37 kali itu telah coba ditafsirkan oleh para ulama terdahulu. Mereka berkesimpulan bahwa alam terbagi ke dalam dua bagian, yaitu alam atas yang meliputi semua benda-benda di langit dan alam bawah yaitu semua benda hidup dan mati yang terdapat di atas bumi.

Ternyata, menurut Abdu al Razzaq Naufal, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa alam semesta terbagi ke dalam dua alam, yaitu alam yang tampak (fisikal) dan alam yang tak tampak (nonfisikal). Yang pertama adalah segala yang tampak baik dengan mata telanjang atau pun dengan alat. Dan alam yang tidak tampak merupakan kenyataan yang tidak diragukan lagi. Menurut para ulama sekarang bahwa alam yang tak tampak adalah lebih luas dan lebih sarat dengan isinya dibandingkan dalam alam yang tampak. Dalam surah Al Haaqqah,69:38-40 Allah telah bersumpah dengan kedua alam ini:

فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ# وَمَا لَا تُبْصِرُونَ#

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

“Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya AlQur ‘an itu adalah benar-benar wahyu Allah (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.”

Sedang dalam surah Al A’raf, 7:27 Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya syaitan dan bala tentaranya melihat kita, tetapi kita tidak melihat mereka:

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ

“Hai anak Adam janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperhatikan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”

Dalam surah Al Nisaa, 4:153 Allah mencerca orang-orang yang mengaku bahwa satu-satunya sumber informasi tentang alam fisik adalah melalui pengamatan pancaindera.

يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَن تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَاباً مِّنَ السَّمَاءِ فَقَدْ سَأَلُواْ مُوسَى أَكْبَرَ مِن ذَلِكَ فَقَالُواْ أَرِنَا اللّهِ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ ثُمَّ اتَّخَذُواْ الْعِجْلَ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَفَوْنَا عَن ذَلِكَ وَآتَيْنَا مُوسَى سُلْطَاناً مُّبِيناً

“Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar daripada itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata. “Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.”

Berita alQur’an di atas temyata relevan dengan hasil yang diperoleh ilmuwan modern dalam bentuk teori-teori hasil penelitian ilmiahnya. Teori-teori. tersebut adalah teori Relativitas Umumnya Einstein (klasik) dan teori Fisika Quantumnya Plank seperti yang telah kita singgung di atas.

Pertama, teori Relativitas Umum Einstein, mampu menjelaskan kosmologi atau alam semesta, makrokosmos yang tampak. Dan kedua, teori Quantum Plank, mampu menjelaskan lingkup atau obyek yang sangat-sangat kecil hingga tak terinderakan (gaib), mikrokosmos (alam semesta yang tak tampak). Dan tampaknya kita perlu memahami keduanya secara garis besar dalam konteks isu penciptaan alam semesta (universe) ini.

Teori Quantum Plank

Seperti yang telah sedikit kita singgung di depan, teori Quantum adalah teori untuk mengukur obyek yang sangat kecil hingga yang tak terinderakan (bisa yang gaib). Teori ini membicarakan tentang dunia mikro sub-atomik, dan merombak total pandangan tentang materi. Dengan teori ini pandangan lama yang meyakini bahwa atom-atom dunia mikroskopik adalah materi terkecil dari materi, terpaksa hams ditinggalkan dan tergusur serta terpuruk menjadi tidak relevan. Menurut teori Quantum di wilayah alam mikrokosmik diatur oleh hukum-hukum kemungkinan. Artinya, pada tingkat materi yang terkecil alam mengelak tidak bisa diketahui oleh mata manusia.

Dari teori Quantum inilah fisika atau lebih tepatnya ilmu pengetahuan mengakui adanya alam yang tidak tampak, alam gaib, alam non-fisikal. Sehingga ramalan adanya alam akherat pun relevan dipercayai adanya dan dapat dibuktikan. Alam non fisikal itu berbeda dengan fenomena ruang kosong (vacum) dan fenomena lubang hitam. Tetapi keduanya dapat membuktikan adanya alam tak tampak tersebut.

Dalam level Quantum semuanya relatif tidak ada kepastian. Dasar hukum teori quantum adalah pengamatan dan pendefinisian yang cermat pada variabel 1 (kamar 1) akan menghancurkan atau menghilangkan variabel 2 (kamar 2), dan sebaliknya; kalau pengamatan dan pendefinisian tidak tepat, ketat dan cermat maka keduanya tidak saling menghancurkan dan menghilangkan (kompatibel), dan ada bersama-sama (Bohr).

Berkenaan dengan hukum Quantum tersebut The uncertainty principle & Virtual particles; Heisenberg, menjelaskan bahwa ada batas kecermatan yang kita dapati tatkala kita mengamati kuantitas phisik tertentu, misalnya posisi, implus, energi dan bahkan waktu. Hingga tidak ada kuantitas dengan ketepatan mutlak. Partikel dan anti partikel yang satu mempunyai energi positif, yang lain mempunyai energi negatif, bila keduanya bertemu keduanya menghilang, hal ini biasanya terjadi di ruang kosong dan dekat lubang hitam, Prinsip ketidakpastian meramalkan bahwa energi dapat muncul secara kontinu dan menghilang pada skala yang ditentukan oleh konstanta Plank; namun dengan persamaan Einstein E = me2 energi ini dapat berubah menjadi partikel dan anti partikel, muncul dan menghilang… ini dinamakan partikel virtuil melonjak-lonjak di mana-mana tepat di bawah ambang dari fakta/realitas teramati.

Dengan Model Matematika (MM) Schrodinger yang dapat menggambarkan sifat gelombang dan partikel pun dapat membuktikan bahwa kepastian adanya alam nonfisikal itu adalah benar. Dan keberadaan alam yang tampak dan alam yang tak tampak dilingkupi oleh ruang kosong yang amat sangat luas.

Relativitas Umum Enstein

Pada dasamya Teori Relativitas Einstein dapat menjelaskan proses awal dan akhir terjadinya alam semesta yang tampak (universe), baik kemungkinan mengembangnya (Big Bang) maupun kemungkinan mengerutnya (BigCrunch).

Teori Relativitas Urnum Einstein pada tahun 1995 sudah meluas dan diakui. Teori Einstein mencoba mengoreksi teori Hukum Gravitasi Newton. Menurut Newton buah apel yang jatuh ke bumi itu karena adanya forsa tarik dari Bumi yang bermassa besar (ingat magnet yang mempunyai kekuatan untuk menarik besi).

Teori Einstein mengoreksi bahwa forsa tarik itu tidak ada. Sebetulnya apel itu tidak ditarik bumi, namun apel itu meluncur (nggondor, Jw.) ke arah bumi. Hal itu berkenaan dengan adanya hubungan antara materi dan ruang. Dijelaskan bahwa materi memberi tahu ruang bagaimana harus melengkung, lalu ruang memberitahu materi bagaimana harus bergerak, jadi tak ada forsa tarik Newton. Ruang yang berada dekat bumi (materi yang massanya besar) akan melengkung seperti gambar “contong”, “terompet”, “kerucut”. Makin besar massanya maka makin memanjang, membesar dan melebarkan mulut contong hingga peluncuran benda (apel, bintang) semakin deras.

Demikianlah, teori ini menjelaskan akan terjadinya alam semesta yang mengerut (Big Crunch). Apalagi fenomena Lobang Hitam telah diketemukan. Apa itu Lobang Hitam?

Lobang Hitam adalah sebuah wilayah yang dulunya dihuni oleh sebuah bintang. Bintang-bintang memancarkan cahaya dengan mengkonsumsi massanya sendiri melalui proses pembelahan nuklir. Dan ketika tidak lagi mampu melakukan radiasi, bintang-bintang tersebut akan kehilangan medan gravitasi. Hal ini secara efektif menjebak energi cahaya yang terdapat dalam medan tersebut, atau sebaliknya, mencegah cahaya dari luar untuk memasuki wilayahnya.

Sebuah Lobang Hitam memecah ruang tiga dimensi menjadi dua bagian: Sebuah wilayah dalam yang dibatasi oleh sebuah permukaan lunak dua dimensi yang disebut event horizon; dan wilayah lain, diluar event horizon, berupa lempeng yang tidak menggejala (a symptomatically)… Diandaikan, sebagai bagian dari definisi, tidak ada satupun titik diwilayah dalam dapat berhubungan dengan titik mana pun yang ada di luar. Ketiadaan hubungan ini dibuktikan dengan tidak adanya sinyal cahaya yang berasal dari wilayah-dalam menembus event horizon. Keberadaan lempeng yang tidak menggejala bukti bahwa Lobang Hitam memiliki wilayah yang terpisah, dan juga memiliki hukum alam yang berbeda dengan bagian alam yang lain. Artinya Lobang Hitam adalah alam raya yang tertutup kebalikannya dengan alam raya kita saat ini yang bersifat terbuka dan mengembang. (Candrasekhar: 1984.hlm.504)

Karena nilai energi cahaya dapat saling dibalik melalui persamaan relativitas Einstein, maka implikasi kosmologis dari keberadaan lobang Hitam adalah: ia akan mereduksi massa yang dapat digunakan untuk mencapai tekanan kritis, sehingga menjadwalkan alam raya ini tetap berkembang. Akan tetapi misalnya lobang hitam itu membuka diri (akibat sangkakala yang dibunyikan), maka akan terjadi big crunch.

Gambarannya, dalam perjalanan waktu, oleh karena banyak benda langit, bintang terperangkap dan meluncur ke dalam terompet dari lubang hitam yang sangat besar massanya, maka makin lama massanya bertambah dan peluncuran menjadi lebih deras hingga sinar yang berada dekat lubang hitam terperangkap pula. Semakin bertambah massanya maka mulut contong semakin melebar hingga bisa jadi seluruh bintang dalam galaksi tertelan semuanya. Dan kalau proses ini terus berlanjut, maka seluruh alam semesta akan tersedot. Dengan kata lain alam semesta tidak mengembang tapi mengkerut dan mengecil dan lenyap, terjadilah Big Crunch. Semua kembali ke singularitas atau yang Maha Satu jika sangkakala atau terompet beraksi dan dibunyikan.

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ#

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاء اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُم قِيَامٌ يَنظُرُونَ#

“Dan mereka tidak mengagung Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya, pada hari kiamat langit akan digulung dengan kekuasaannya… Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang dilangit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah..”(QS. 39:67-68)

Di lain pihak setelah Ilmuwan Rusia Friedmann membuang konstanta kosmologi Lamda dari persamaan teori Relativitas Einstein dia mendapatkan satu alam semesta (universe) yang mengembang. Einstein marah…, namun akhirnya mengakui kebenarannya, bahwa alam semesta kemungkinan juga mengembang. Saat ini kemungkinan ini sudah dibuktikan kepastiannya dengan diketemukannya fenomena Big Bang yang menghasilkan teori Big Bang.

Secara ringkas teori tersebut menyatakan bahwa alam raya ini berasal dari sebuah massa gas dengan tekanan maha besar, yang karena tekanan internalnya “meledak” dan memancarkan materi yang sangat panas. Begitu materi tersebut mendingin maka lahirlah galaksi-galaksi dengan segala bintang-bintang dan tata suryanya. Ledakan inilah yang menjadi sumber istilah “Alam Raya yang Mengembang” (expanding Universe) yang prosesnya juga masih berlangsung hingga saat ini (Weinberg: 1978).

Teori Big Bang dengan “Alam Raya yang Mengembang itu ternyata relevan dengan kitab suci Alqur’an yang menyatakan:

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan dia (langit itu masih merupakan) asap…(QS. 32:11)

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya ” (QS. 21:30)

وَالسَّمَاء بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

“Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan Kami, dan Kami meluaskannya” (QS.51.47)

QS. 32:11 menetapkan adanya suatu kumpulan gas dengan bagian-bagian kecil yang sangat halus. Dukhan = asap. Asap itu terdiri dari stratum (lapisan) gas dengan bagian-bagian kecil yang mungkin memasuki tahap keadaan keras atau cair dalam suhu rendah atau tinggi. Dan QS. 21:30 menyebutkan proses perpisahan (fatq) dari suatu kumpulan pertama yang unik yang terdiri dari unsur-unsur yang dipadukan “ratq”. Kita tegaskan lagi, “fatq” dalam bahasa Arab artinya memisahkan dan “ratq” artinya perpaduan atau persatuan beberapa unsur untuk dijadikan suatu kumpulan yang homogen. Sedangkan QS. 51: 47 menyatakan bukankah langit, terjemahan kata “samaa”‘ itu tidak lain daripada alam di luar bumi? Yang diterjemahkan: “…dan Kami meluaskannya” adalah kata fa’il daripada kata kerja ausa’a yang artinya membesarkan, melebarkan. (Maurice Bucaille: 1976)

Selanjutnya Friedmann memprediksi untuk eskpansi alam semesta dapat disarikan dengan mengamati tiga nilai yang berbeda untuk massa universe dalam term rasio omega. Pertama, Densitas massa universe lebih besar dari nilai kritis, maka laju ekspansi rendah dan massa begitu besar untuk gravitasi hingga menghentikan ekspansi dan membalikkannya. Big Crunch terjadi singularitas, omega >1. Kedua, Densitas massa lebih kecil dari nilai kritis. Maka universe mengembang cepat. Gravitasi tak mampu menghentikannya, namun mengerem sedikit. Omega <1. Dan ketiga, Densitas massa sama dengan nilai kritis. Universe ekspansi cukup cepat lalu melambat, namun tidak berbalik. Kecepatan ekspansi menurun asimtotis. Omega=l. Untuk memahami tiga kemungkinan di atas secara mudah, barangkali bisa kita bayangkan bahwa alam semesta itu sama dengan sebuah bola tennis dan dilemparkan ke atas agar bisa mengembang. Pelemparan pertama, kita lempar bola itu ke atas, maka bola akan segera kembali jatuh ke tanah. Lemparan kedua, dengan kekuatan tangan raksasa, maka bola kita lempar menembus langit dan tidak kembali ke tanah. Dan lemparan ketiga, lemparan pakar matematik dan kekuatannya pun besar, maka bola akan menembus langit tak jadi dan akan kembali jatuh ke tanah pun tidak bisa, bola mengambang di angkasa.

Kata Hawking, laju awal pemuaian alam semesta harus dipilih dengan sangat cermat agar laju pemuaian selanjutnya masih begitu dekat dengan nilai kritis untuk menghindarkan keruntuhan kembali. Ini berarti bahwa memang pasti keadaan awal dipilih dengan sangat seksama jika model dentuman besar big bang itu benar hingga sampai ke awal waktu sekalipun. Akan sangat sukar untuk menjelaskan mengapa alam semesta harus mulai tepat seperti itu, kecuali bahwa itu perbuatan Tuhan yang bermaksud menciptakan makhluk seperti kita.

Lalu katanya, kita tidak tahu berapa banyak materi di alam semesta ini. Hasil pengamatan sejauh ini menunjukkan bahwa materi yang ada di alam semesta ini tidak cukup untuk menahan pengembangan alam semesta. Karena itu, pengembangan ini akan terjadi selamanya. Tetapi jika terdapat materi yang ekstra gelap (seperti fenomena lubang hitam) di alam yang belum kita ketahui, alam semesta bisa runtuh dan menjadi kerkahan besar (big crunch). Tetapi menurut Hawking, bila alam semesta itu mengerut sekalipun, ia tidak akan runtuh kembali selama 10 milyard tahun lagi, sebab sekurangnya selama 10 milyard tahun itulah alam semesta ini telah mengembang (bisa kita pegang kira-kira umur alam semesta itu 20 milyard tahun),

27 comments on “Bagaimana Tuhan Merekayasa, Merencana, Membuat dan

  1. dear wawan,
    Oke banget nih tulisan yang sempet kelewat ga ke baca,
    sori ya wan…..

    Aku mau berkomentar soal ekstra logika, di luar kemampuan logika saat ini, namun dapat dimengerti dan dipahami.

    Aku pergi ke barat mencari barat,
    aku tidak menemukan “barat”,
    demikian juga ke timur, ke utara dan ke selatan.

    Aku tahu matahari terbit di timur,
    terbenam di barat,

    Namun dengan pemahaman bathin,
    aku tahu semuanya,
    bathin itu percaya, yakin akan harapan.

    Thanks, wan!

  2. Dear Wawan,

    Aku sampai baca berkali-kali lho wan,

    Intinya gini,

    Ilmu pengetahuan yang didasari rasional adalah menterjemahkan “hukum alam” ke dalam bahasa “wujud”

    Yang pertama alam itu pasti, baik secara yang materiil maupun yang tidak.

    Yang kedua alam itu teratur, baik secara wujud maupun tidak, dalam esensi pemahaman “sifat”nya.

    Yang ketiga, “metafisika” itu ada karena “fisika”
    Semua yang berada “diluar” kita adalah “apa adanya”.
    Yang menjadikan ketidak”apa adaan-nya” adalah karena kita terkurung dalam pemahaman “wujud yang rasional”
    (bingung kan…..? he… he…)

    Mereka para “ilmuwan dan filsuf” , sebenarnya menyampaikan hukum alam sebagai “hukum Tuhan” dalam pemahaman “wujud rasional” yang terbatas.

    ilustrasi:
    http://www.etoday.ru/2009/09/fotopodborka-za-mesjac-kosmos.php

    Tingkatan pemahaman materi yang rasional naik ke tingkatan hakekat. Kesadaran akan hakekat menaikan lagi ke tingkat tarekat,
    lalu “aku bukan lah aku, akulah “tuhan”, namun Tuhan bukan lah aku.

    Tuhan sebagai Causa Prima (penyebab utama), Alpha dan Omega (yang awal dan akhir), hingga saat ini masih terjebak dalam pemahaman “wujud rasional” dalam menerjemahkannya. Tuhan adalah “energi” yang bersifat kekal.
    Kalau mencari “timur”, “barat”, “selatan” dan “utara” ya tidak akan ketemu, karena itu semua bukan wujud.

    Wan, aku senang banget dengan tulisan kamu itu. paling tidak sebagai bahan renungan dan meditasiku.

    Salam Damai dalam Allah Tuhan Kita.
    Trims banget.

  3. trims ya sobat, emang mesti dibaca berulang2 hehe….
    tu memahami sesuatu yg kita blom faham.
    termasuk kabar gembira Islam yang datang di hadapan kita.

    —————————-
    Tingkatan pemahaman materi yang rasional naik ke tingkatan hakekat. Kesadaran akan hakekat menaikan lagi ke tingkat tarekat,
    ======================
    Tingkatan berpikir itu perlu diluruskan..
    dalam konsep sufi ada tingkatan yg disebut maqom yg garis besarnya sbb: dari bawah ke atas:
    1. syariat
    2. tarekat
    3. hakekat
    4. ma’rifat

    Rasionalitas berada –umumnya– di tingkatan antara syariat-hakekat. Tetapi seorang sainstis bisa juga sampai ke ma’rifat. Kala dia mendapatkan ilham (kilatan intuisi ilmu) sekaligus hidayah (kilatan hati) dari Allah.

    Rasionalitas memang terbatas. Tetapi sekarang rasionalitas bisa membuktikan adanya alam ghaib, dengan teori kwantum plank ataupun relatifitas einstein.

    Spt yg lalu2 sy slalu tekankan Rasionalitas dan hati mesti senergis dalam konsep2 tertentu yang keduanya wajib sinergi. Dan pd hakekatnya keduanya wajib saling menguatkan tauhid, sebab semuanya itu khan sumbernya hanya satu, yaitu ALLAH.

    dengan tulus hati tanyakan kpd nurani, lebih diterima konsep Allah Yang ESA ato konsep ALLAH Trinitas?….

    insyaallah jalan lurus membentang di hati kita.

  4. Sama-sama sahabatku,

    Selamat Hari Raya mohon maaf lahir dan batin.

    Dan maaf pula aku lama ga merespon (bantuin istri jualan)

    Dengan tulus aku jawab pertanyaan tentang konsep Allah Yang Maha Esa atau Konsep Trinitas,

    Kedua-duanya tidak ada beda.
    Pemahaman Trinitas dan Pemahaman Allah Yang Maha Esa adalah satu.

    ada seseorang yang belum pernah ke Aceh, dan ada seseorang yang belum pernah ke Flores.
    Kedua-duanya bertemu di Jakarta. Kedua-duanya bersahabat dalam urusan hidup di Jakarta. Pada suatu ketika si Aceh bertutur cerita tentang Aceh kepada si Flores. Apa yang ada dalam benak si Flores tentang Aceh tentunya tidak akan sama dengan visualisasi tentang Aceh. Karena si Flores belum pernah ke Aceh.

    Saya berharap Wawang dapat mengembangkan cerita ini dengan yang positif.

    Kalau Wawan telah memahami teori2 tentang “EVERY EVENT MUST HAVE CAUSE” tidak dengan batasan RASIONAL (SYARIAT) tapi ada kesadaran akan HAKEKAT, tentunya konsep TRINITAS tidak membingungkan.

    Alam pikir manusia memiliki potensi yang luar biasa, tapi dalam RASIONALITAS (SYARIAT) manusia hanya memanfaatkan 12% saja dari kemampuannya. Ada tingkatan kesadaran ALPHA (HAKEKAT), ada tingkatan kesadaran THETA (TAREKAT), dan DELTA (MA’RIFAT).
    Dalam ajaran Budha ada pemahaman seperti ini,
    dalam Hindu juga ada, dan di dalam semua agama ada.

    Apa hubungannya dengan TRINITAS?
    BAPA, PUTRA, dan ROH KUDUS.
    Konsep ini ada di abad ke 3 , saat dibuat oleh Constantin (II atau I ? aku lupa) pada konsili Nicea II.
    Saat Kekuasaan Romawi yang besar, dan pengaruh Kristiani sangat mendominasi jajahan-jajahan Romawi.
    Paulus (Saulus) yang awalnya Anti Kristus ikut ambil bagian dalam keputusan-keputusan politik, walaupun tidak secara langsung (ada di injil surat-surat Paulus)
    Dari konsili ke konsili, perkembangan Gereja mengalami perubahan-perubahan, hingga muncul Lutheran dan Protestan, namun “ROMAN CATHOLIC” tetap utuh hingga sekarang, karena sangat fleksibel dalam menerjemahkan doktrin-doktrin kepada umatnya. Katolik Roma bukannya tanpa kesalahan, hukuman mati GalileoGalilei atas penyanggahan teori Copernicus(?) salah satunya.
    BAPA bermakna TUHAN sekaligus The Oneness yang menjadi naungan, PUTRA adalah manusia itu sendiri, dan ROH KUDUS adalah pemaknaan dari sifat keesaan Tuhan sebagai semagat hidup.

    TRINITAS bukan wujud tapi pemahaman dan pemaknaan akan sifat ilahi untuk dinyatakan dalam perbuatan (dalam keselarasan dengan kehendak Tuhan)
    Sebenarnya kalau mau jujur dengan kesadaran penuh akan TUHAN yang transenden , TRINITAS dan ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN adalah sama. Yang berbeda adalah SYARIATnya. Apakan kita hanya berada dan bergumul pada syariat saja. (bukan berarti syariat tidak penting) kita harus lulus, dan melanjutkan kepada dan ke dalam kesadaran yang lebih dalam.

    Wan, sori kepanjangan.

    Have positive day…
    Enjoy living in happiness without any reasons!

  5. Kedua-duanya tidak ada beda.
    Pemahaman Trinitas dan Pemahaman Allah Yang Maha Esa adalah satu.
    =====================

    Sebenarnya sebagai seorang yang awam sudah begitu jelas perbedaan konsep itu. Kalimatnya saja sudah sangat berbeda. Hakekat kata adalah wujud. Satu (1) dengan tiga (3) jelas berbeda.

    Apalagi satu (1) dibandingkan: satu (1) adalah tiga (3) dan tiga (3) adalah satu (1) jelas amat sangat berbeda. Membingungkan….

    Sudah banyak memang bantahan dan apologik jawaban yang saya baca dalam membahas Trinitas ini, dan tidak perlu diperpanjang lebarkan…

    Kita berbeda konsep.

    Saya bersaksi bahwa:

    1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,

    Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

    Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,

    dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”.

    (QS: Al ikhlas)

    2. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS: 5;17)

    3. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun. (QS, 5;72)

    4. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS, 5;73)

    semoga kita terhindar dari pikiran2 yang sedemikian..

  6. Dear wawan,

    He…he…

    Rupanya cerita orang Aceh dan orang Flores benar-benar terjadi (awam). Bagaimana bisa saya menjelaskan sesuatu kepada yang belum lulus pada pemahaman transendental, bagaimana seorang yang mampu menjabarkan quantum plank, big bang, immanuel kant, einstein… tapi masih bergumul dan kebingungan antara yang rasional dan metafisik.

    understanding how matter exists and moves about in Space in a necessarily interconnected way.The first philosophy (Metaphysics) is universal and is exclusively concerned with primary substance
    …being central to: simplicity, unity, reality, necessary connection, causation, logic, knowledge, certainty, senses, science and truth.
    The true value of a human being is determined primarily by the measure and the sense in which they have obtained liberation from the self. … We shall require a substantially new manner of thinking if humanity is to survive. (Albert Einstein, 1954)

    that metaphysics, is ‘beyond’ our senses (and thus not limited by them).

    Kalau Buku Suci menjabarkan sesuatu, karena memang suci adanya, tentunya perlu dipahami akan makna keabadian, bukan tekstual saja, yang bersifat temporer.

    Bagaimana saya bisa menjelaskan pada sesorang yang masih mempunyai visualisasi Tuhan sebagai wujud/jasad?

    Bagaiman saya bisa menjelaskan kepada orang yang memahami surga dan neraka sebagai sebuah tempat?

    Bagaimana saya bisa menjelaskan pada orang yang masih memahami bahwa roh dan badan adalah sama (wujud)?

    Bagaimana saya bisa menjelaskan kepada orang yang memahami pahala sebagai hadiah dari Tuhan sebagai poin reward, dan azab dari Tuhan sebagai hukuman?

    Banyak sekali yang harus ditembus, tidak sekedar membaca Buku Suci dengan pemahaman tekstual, tapi harus ada pengalaman spiritual untuk menembus pemahaman Buku Suci supaya bernilai kekal.

    Wan,
    misteri Trinitas hanya bisa ditembus dengan bagaimana kesadaran manusia yang mendalam, bukan sekedar syariat (ibadah badan). Harus lulus dengan kesadaran tingkat tinggi.

    Baca pemahaman tentang :

    The Power of Now (Eckhart Tolle),

    The Power of Forgiveness And The Power of Say Thank You. Free From Fear is Fear It Self (tulisanku sendiri)

    Master Ash Hole (Anand Krisna)

    Sepertinya buku-buku itu sangat “berat” karena membutuhkan kemampuan menembus batas, yaitu batasan bagaiman menampatkan rasionalitas terhadap transendental dan metafisika.

    The key is Be Positive…
    Trust me.

  7. dear sahabat,

    … tapi masih bergumul dan kebingungan antara yang rasional dan metafisik.
    =========================
    “Kebingungan”…? sepertinya kita beda konsep.
    ——————————————–

    Kalau Buku Suci menjabarkan sesuatu, karena memang suci adanya, tentunya perlu dipahami akan makna keabadian, bukan tekstual saja, yang bersifat temporer.
    ========================
    Kenyataannya mayoritas manusia lebih banyak yang sederhana cara berpikirnya….? seperti itulah cara Tuhan menjelaskan ajaran-NYA……….

    ———————————–
    Bagaimana saya bisa menjelaskan pada sesorang yang masih mempunyai visualisasi Tuhan sebagai wujud/jasad?
    ========================
    Tuhan itu “sesuatu” yang “WUJUD” atau bukan?
    RUH itu “sesuatu” yang “wujud” atau bukan?
    sesuatu yang dikategorikan “metafisik” itu sebuah “wujud” atau bukan?
    ayo sobat gmana jawabnya….? hehe

    ————————————-
    Bagaiman saya bisa menjelaskan kepada orang yang memahami surga dan neraka sebagai sebuah tempat?
    ======================
    Kalau bukan sebuah tempat/ruang tertentu lalu apa coba? sebuah hayalan yang tidak berwujud? begitu?

    ————————————-
    Bagaimana saya bisa menjelaskan pada orang yang masih memahami bahwa roh dan badan adalah sama (wujud)?
    ===============
    kembali saya bertanya roh dan badan itu apakah bukan sesuatu “wujud”…?

    —————————————-
    Bagaimana saya bisa menjelaskan kepada orang yang memahami pahala sebagai hadiah dari Tuhan sebagai poin reward, dan azab dari Tuhan sebagai hukuman?
    =========================
    lebih masuk diakal dan benar di hati mana konsep reward dan konsep tanpa reward…?

    ————————————-
    Banyak sekali yang harus ditembus, tidak sekedar membaca Buku Suci dengan pemahaman tekstual, tapi harus ada pengalaman spiritual untuk menembus pemahaman Buku Suci supaya bernilai kekal.
    =========================
    Buku Suci itu kompleks dan sarat makna di dalam kalimat isinya. Ada yang menjelaskan sesuatu dengan gamblang secara tekstual ((tersurat) dan ada yang menjelaskan sesuatu secara simbolik (tersirat). Tafsir mesti menyesuaikan makna isi kalimat ayatnya apakah tersurat ataukah tersirat?…..

    Hal2 yang rasional mesti dijelaskan dengan rasional.
    yang metafisik juga dengan konsep metafisik. Yang kontekstual mesti dengan konteksnya dan seterusnya. Intinya sebuah tafsir sangat beragam cara membuat nisbah pengertian, dan hukumnya…

    ———————————
    misteri Trinitas hanya bisa ditembus dengan bagaimana kesadaran manusia yang mendalam, bukan sekedar syariat (ibadah badan). Harus lulus dengan kesadaran tingkat tinggi
    ==================
    Kesadaran tingkat tinggi yang dibuat2 sendiri dan karena tingginya menjadi sulit dimengerti hehehehe…….

    —————————
    Sepertinya buku-buku itu sangat “berat” karena membutuhkan kemampuan menembus batas, yaitu batasan bagaiman menampatkan rasionalitas terhadap transendental dan metafisika.
    ==================
    sepertinya sahabat terjebak dalam batas2 dan sekat2 bahasa itu sendiri lho hahahaha……

    salam hangat.

  8. Dear Sahabat,

    Kita dulu pernah belajar matematika, fisika, kimia, biologi. Dari ilmu induk itu melahirkan banyak ilmu turunan yang mempelajari detai tentang Alam Semesta dengan hukum-hukumnya. Hukum alam semesta sama dengan hukum Tuhan, manusia mempelajari dengan kekuatan rasionalnya.
    (baca tentang Kahn, Plato,Philo, Newton dan Einstein yang mencoba menjelaskan kebuntuan rasionalnya menghadapi metafisika)
    Karen Amstrong membuat potret pemahaman manusia tentang Tuhan dari berbagai era dalam kebudayaan Semai (Samawi). Transendental Tuhan bukan hal tentang “wujud” atau fisik, maka deskripsinya akan bermacam-macam, tergantung dimana manusia itu berada.

    Contoh :
    Tuhan versi Hindu yang di”reform” oleh Budha berbeda dengan Yahudi, Kristen dan Islam. Ini hanya masalah bagaimana memahaminya dan melakukan ritual sebagai bentuk fisik pemahaman, ini syariat. Namun Transendental Tuhan tetap sebagai Tuhan apapun bahasanya. Kalau mau memahami Tuhan secara utuh ya harus menembus batas, bukan hanya berkutat dalam kemelut syariat. Kesadaran manusia akan hakekat akan membuat nyaman dalam melakukan syariat, karena manusia mempunyai tujuan hidup, tidak perduli dengan kendaraan apa dan baju warna apa.

    Memiliki “pemetaan” yang lebih luas tentang alam semesta bukan masalah beda konsep, tapi masalah kesadaran.
    Sebagai oran Aceh tentunya akan memperoleh visualisasi yang sesuai dengan cerita orang Flores tentang Flores. Karena orang Aceh tersebut walaupun belum pernah ke Flores, ada kesadaran untuk mencari informasi tentang Flores. Ingat Karl May, dengan Winetou… Dia belum pernah menginjakan kakinya ke Amerika, namun Novelnya mendiskripsikan Amerika sesuai dengan visual Amerika.

    Ada satu kelemahan pemeluk Islam yang sangat mencolok, yaitu terjebak pada pemahaman wujud fisik saja. Roh Halus juga sesuatu yang dianggap punya wujud fisik yang “ultra micro”. Tuhan yang sepertinya wujud fisik.

    Percayalah kalau pahala adalah suatu reward dari Tuhan itu artinya merendahkan Tuhan, seolah Tuhan berpikir seperti manusia, hanya punya kemampuan seperti manusia, berhitung.
    Pahala adalah terkabulnya afirmasi positif dari manusia dalam bentuk doa, keyakinan dan perbuatan. Jadi yang menetukan pahala adalah manusia bukan Tuhan.
    Tuhan tidak pernah menciptakan neraka, karena Tuhan baik adanya. Tuhan tidak pernah menghukum manusia apapun perbuatannya sejahat apapun perbuatannya. Hukuman itu dari manusia itu sendiri. Neraka adalah rekayasa alam pikir manusia bukan Tuhan. Tuhan itu Maha Baik. Sebuah perbuatan disebut dosa karena manusia yang menyatakan itu dosa. Tuhan tidak pernah menciptakan dosa.

    Kalau Wawan sedang jalan malam hari, lalu terkantuk batu kemudian jempolnya bengkak, lalu jatuh, lutut dan tangannya lecet. Siapa yang salah? Batunya atau Wawannya?
    Siapa yang menanggung akibatnya? Batu atau Wawan?
    Iman adalah lentera (nur ilahi). Kalau bawa lentera kan jadi bisa lihat ada batu apa tidak. jadi tidak terkantuk, tidak ada yang luka. Inilah namanya kesadaran.

    Tidak usah mikirin konsep sama atau tidak, Trinitas masuk akal atau tidak. Agama ini benar atau tidak. Kalau mau mikirin hal iyu sebagai studi harus lulus dulu dengan ijazah “AWARENESS”. Bagi orang seperti saya, maaf, Wawan seperti katak dalam tempurung yang tidak mampu memembus batas.
    Katanya,
    —-
    Hal2 yang rasional mesti dijelaskan dengan rasional.
    yang metafisik juga dengan konsep metafisik. Yang kontekstual mesti dengan konteksnya dan seterusnya. Intinya sebuah tafsir sangat beragam cara membuat nisbah pengertian, dan hukumnya…
    —-
    Kondisi DUALITAS selalu melekat pada manusia, dan manusia yang tidak mampu menembus batas selalu kebingunan soal metafisik dan fisik. Padahal dengan pijakan rasional yang terbatas, kita mampu menembus batas hanya dengan pola kesadaran, pola kesadaran diperoleh dari bacaan “berat” yang saya pernah sebutkan sebelumnya.

    Konsep Karma,Doa, Pahala, Dosa, Surga dan Neraka, Reinkarnasi, Trinitas, bukan konsep rasional.
    Apakah Tuhan juga berdoa ? (pertanyaan kiasan)
    Jawabannya Iya.
    Tuhan Berdoa untuk keselamatan Alam semesta (jagad raya) seisinya.
    Lalu apa Doa Tuhan?
    Doa Tuhan adalah kebaikanNya, kemurahanNya, rahmatNya dalam Hukum Alam Semesta. Doa Tuhan adalah dalam bentuk Hukum Alam.

    Pertanyaannya akan konyol, apakah Tuhan wudhu sebelum berdoa/shalat? Ini namanya tidak ada kesadaran menembus batas rasional.

    Have Positive Day!
    Be Happy.

  9. salam manis Allah,

    hehehe…. bingungkan?
    input pengetahuan yang kita dapat dari diskusi kita selama ini ternyata cukup membuat kita berbeda dalam memiliki pola2 kesadaran output keilmuan kita.

    dari beberapa pemikiran sahabat; khususnya di ranah metafisik kita berbeda rumusannya dan simpulan ilmunya… seperti pertanyaan2 yang sobat tanyakan.
    1. Tuhan itu berwujudkah?
    …. Wujud (bhs arab)/being (english) hampir memiliki arti sama, yakni “ADA”= keberadaan, eksistensi yang mesti berada dan memiliki “wujud” tertentu/ materi tertentu. ADA lawannya TIADA. Tuhan itu ADA sehingga DIA berwujud. Wujud Tuhan tiada mampu akal (rasio dan hati) manusia membayangkan dan membuktikannya secara harafiah di alam ini. Tetapi di hari akhir kelak Allah berjanji akan memperlihatkan WAJAH/WUJUD-NYA kepada hamba2nya yg terpilih.
    2. Roh itu apa?
    …. Roh juga makhluk ciptaan Tuhan yang menjadi sofware/energi gerak/kehidupan badan/body/hardware makhluk hidup. Tingkatan roh ini macam2, roh batu beda dengan roh tumbuhan, roh hewan, roh manusia, roh malaikat, roh jin dll. Roh karena ADA maka dia juga berwujud walaupun bersifat materi ghaib. Dalam Kristen konsep roh mungkin beda dengan Islam.
    3. masih banyak mungkin perbedaan konsep berpikir kita. ntar boleh diperpanjang lho hehehe…..

    Percayalah kalau pahala adalah suatu reward dari Tuhan itu artinya merendahkan Tuhan, seolah Tuhan berpikir seperti manusia, hanya punya kemampuan seperti manusia, berhitung.
    =====================
    Sama sekali tidak merendahkan Tuhan. Lalu angka2 fantastik hasil rumusan2 fisika, kimia, matematika dll yang melingkupi alam semesta ini bukan hitungan Tuhan???…

    bedanya hanya kemampuan berhitung Tuhan sedemikian MAHA-nya sehingga manusia tak sebanding dengan -NYA.

    Pahala adalah terkabulnya afirmasi positif dari manusia dalam bentuk doa, keyakinan dan perbuatan. Jadi yang menetukan pahala adalah manusia bukan Tuhan.
    Tuhan tidak pernah menciptakan neraka, karena Tuhan baik adanya. Tuhan tidak pernah menghukum manusia apapun perbuatannya sejahat apapun perbuatannya. Hukuman itu dari manusia itu sendiri. Neraka adalah rekayasa alam pikir manusia bukan Tuhan. Tuhan itu Maha Baik. Sebuah perbuatan disebut dosa karena manusia yang menyatakan itu dosa. Tuhan tidak pernah menciptakan dosa.
    ===================
    di sini sobat telah menafiqkan teori immanuel khan. Hari pembalasan di akherat kelak itu pasti ada. Sebab di dunia ini sangat banyak manusia2 durjana yang lepas dari hukuman atas segala kejahatannya. Apakah mereka hanya dihadiahi hukuman mati saja??? Lalu bagaimana manusia2 yang baik? kalau tidak ada reward, ADILkah TUHAN?

    inilah bukti kebenaran konsep reward.

    ——————-
    Kalau Wawan sedang jalan malam hari, lalu terkantuk batu kemudian jempolnya bengkak, lalu jatuh, lutut dan tangannya lecet. Siapa yang salah? Batunya atau Wawannya?
    Siapa yang menanggung akibatnya? Batu atau Wawan?
    Iman adalah lentera (nur ilahi). Kalau bawa lentera kan jadi bisa lihat ada batu apa tidak. jadi tidak terkantuk, tidak ada yang luka. Inilah namanya kesadaran.
    ====================
    Ini bahasan konsep TAKDIR. Punyakah di katolik ilmu tentang TAKDIR??? sepertinya tidak yach hehehe…..

    gitu dulu yach, mo ngajar dulu…

  10. Wan yang pertama di hapus aja ada kesalah ketik mestinya “atas” terketik “atau” (pemaknaanya jauh… he…he….)

    Dear Sahabat,

    Dulu saya pernah bilang kita berada di ruang yang sama , masuk dari pintu yang berbeda, dan menempatkan diri di sudut berbeda.
    Saya setuju dengan terjemahan “wujud” secara tekstual yang berarti ada. Namun pemahaman “wujud” dalam bahasa indonesia adalah bentuk materi. ini soal bahasa.

    Benar, Roh itu ada. tapi sama sekali bukan materi yang kelihatan dengan mata dan tersentuh tangan (termasuk bau dengan hidung dan bersuara dengan telinga).
    Roh dalam katolik artinya semangat untuk berbuat. Bisa dikatakan energi dan niat untuk gerak, laku. Benda tak bergerak tidak memiliki roh. Roh yang baik(untuk niat yang selaras dengan Tuhan) dinamakan Roh Kudus, karena datangnya dari Tuhan. Roh jahat(untuk niat jahat) dinamakan iblis. Roh Kudus adalah semangat Tuhan.
    Tuhan dalam katolik (hanya di indonesia sering disebut sebagai Allah Bapa) Yesus adalah Putra yang artinya Yesus itu manusia, yang dalam pemahaman diriNya bersama Roh Kudus berbuat sesuai dengan keselarasan Tuhan Allah Bapa yang empunya kerajaan surga (kebahagiaan) Bapa, Putra dan Roh Kudus atau TRINITAS. Pada pemahamannya kesatuan pamahaman Bapa,Putra dan Roh Kudus sudah bukan keadaan jasad/fisik tapi SEMESTA. Ada Tuhan, ada ciptaanNya, ada kehidupan yang selaras dengan Alpha dan Omega.

    Menempatkan Pahala sebagai keputusan dari Tuhan tetap saja merendahkan Tuhan. Karena perbuatan baik, walaupun sudah ada petunjuk, tetap saja ada unsur kepentingan. Perbuatan baik dalam takaran manusia untuk mendapatkan pahala berbeda-beda. Demikian juga Dosa. Sebuah perbuatan dosa atau tidak bukan Tuhan yang menentukan, tapi manusia dengan pemahaman petunjuk dari Tuhan. Pemahaman ini juga berbeda-beda karena kemapuan manusia memetakan dunianya (seperti orang Aceh dan orang Flores)
    Perbuatan yang disebut dosa mendapat hukuman, yang baik mendapat pahala dari Tuhan. Tapi pemahamannya masih berdasarkan kemampuan manusia memetakan dan menerjemahkan petunjuk dari Tuhan. Ini sama saja menghilangkan konteks dan konsep Tuhan yang MAHA.

    Pahala/reward. Adalah keputusan manusia bukan Tuhan. Ini pemahaman metafisik seperti halnya grafitasi dalam fisika. Pemikiran manusialah yang menciptakan pahala/reward dalam LoA (Law of Attraction) bagi dirinya. Demikian juga dengan Surga dan Neraka. Bukan tempat tapi keadaan. Bahagia atau tidak bahagia adalah konsep pemahaman surga dan neraka. Tapi yang jelas Tuhan tidak pernah menciptakan neraka. Tuhan hanya menciptakan kebahagiaan. Kalau itu bukan kebahagiaan artinya itu ciptaan manusia, pilihan manusia.
    Disinilah letak kesetaraan manusia dengan Tuhan. Setara dalam memiliki kebebasan untuk berkehendak.
    Pelanggaran atas penerjemahan atas petunjuk Tuhan dalam hukum alam adalah perbuatan yang merendahkan Tuhan. Manusia tidak setara dengan Tuhan dalam keMaha-anNya. ke Esa-anNya. Maka pemahaman transendental tentang Tuhan jangan dicapur aduk, antara yang fisik dan yang metafisik. Kesulitan manusia karena dualitas yang melekat pada manusia itu. Maka dibutukan kesadaran atau awareness dalam menemukan kejernihan.

    Takdir hanya Hidup dan Mati, ini adalah bagian dari keabadian Tuhan. Selain Hidup dan Mati, dan yang bersifat sementara bukan takdir tapi pilihan manusia. Rejeki bukan Takdir, Jodoh bukan Takdir. Karena manusia mampu untuk lebih baik dalam menentukan pilihannya pada saat pilihannya dianggap kurang baik, keputusasaan menyebutnya itu takdir.

    Be Positive

  11. Oke sobat,

    sebenarnya aku udah sedikit tahu konsep2 Kristiani dalam wacana2
    konsep Wujud,
    konsep roh,
    konsep takdir (yang jg blom jelas percaya ada takdir tidak),
    konsep dosa warisan,
    konsep tiada reward,
    konsep hari akhir yang blom jelas –apakah ada pengadilan di sana– sebab yang diyakini hanya Cinta Tuhan dan balasannya hidup bersama Tuhan, tetapi bagi orang yang jahat dan kafir (non kristiani) mereka balasannya hanya MATI. ini mestinya khan jg pengadilan konsep reward, yang hanya tidak disebut pahala.

    ————
    Benar, Roh itu ada. tapi sama sekali bukan materi yang kelihatan dengan mata dan tersentuh tangan (termasuk bau dengan hidung dan bersuara dengan telinga).
    ===========
    Roh ternyata benar khan adalah berwujud (ada). Dan saya spakat bukan materi yg kelihatan tetapi suatu materi ghaib. di alam semesta ini bukankah ciptaan Tuhan itu ada dua, yakni materi Nyata dan materi Ghaib.

    —————————
    Roh dalam katolik artinya semangat untuk berbuat. Bisa dikatakan energi dan niat untuk gerak, laku. Benda tak bergerak tidak memiliki roh. Roh yang baik(untuk niat yang selaras dengan Tuhan) dinamakan Roh Kudus, karena datangnya dari Tuhan. Roh jahat(untuk niat jahat) dinamakan iblis. Roh Kudus adalah semangat Tuhan.
    =========================
    sebenarnya tidak ada materi yg tidak bergerak. Batu adalah juga materi yg bergerak, menyimpan materi dan energi (roh) di dalamnya (ada atom, proton, neutron, elektron dan quark. Bumi ini adalah terdiri dari batu2-an dll yang kelihatannya tidak bergerak, tapi kenyataannya bergerak sangatlah cepat, matahari, bintang dll semuanya bergerak dan mempunyai ruh Tuhan. Jadi, Batu, tumbuhan, hewan semuanya mempunyai roh/sofware/energi hidup dari Tuhan. Hanya kualitas rohnya masing2 berbeda tingkatannya. Roh manusia adalah kualitasnya yg paling tinggi (ada akal dan kehendak)
    Tuhan bukanlah roh. Tuhan adalah suatu Dzat tiada bandingannya. Roh adalah jg salah satu ciptaan Tuhan.

    Dalam Islam ruh manusia ditiupkan kpd manusia ketika perkembangan janin pada fase pembentukan embrio sudah sempurna (kurang lebih 8-10 mingguan dlm rahim)
    Ruh ini yang menggerakkan pengelihatan, pendengaran dan hati. Kualitas ruh manusia seperti gambar Tuhan.

    —————————
    Tuhan dalam katolik (hanya di indonesia sering disebut sebagai Allah Bapa) Yesus adalah Putra yang artinya Yesus itu manusia, yang dalam pemahaman diriNya bersama Roh Kudus berbuat sesuai dengan keselarasan Tuhan Allah Bapa yang empunya kerajaan surga (kebahagiaan) Bapa, Putra dan Roh Kudus atau TRINITAS. Pada pemahamannya kesatuan pamahaman Bapa,Putra dan Roh Kudus sudah bukan keadaan jasad/fisik tapi SEMESTA. Ada Tuhan, ada ciptaanNya, ada kehidupan yang selaras dengan Alpha dan Omega.
    ===============
    sepertinya tafsiran Trinitas sahabat sangat berbeda dengan kebanyakan orang Katolik lho hehe….

    sah2 saja tafsiran spt itu. tapi kenyataannya
    1. Bapa itu wujud tersendiri (Allah)
    2. Putra itu jg wujud tersendiri (Yesus/nabi Isa)
    3. Ruh kudus jg wujud tersendiri (energi hidup)

    yang mestinya kualitas tingkatan wujud ketiganya adalah berbeda. tetapi dikatakan sama, aneh. Ketiganya juga disebut Tuhan, ini juga aneh. Salah satu dari ketiganya juga disebut Tuhan, Tuhan Yesus, Tuhan Bapa, Tuhan Roh Kudus, benar2 sangat aneh hehehehe….. katanya itulah tafsiran kata persona yg paling tepat…

    Padahal konsep trinitas ini adalah buatan umat kristen sendiri (konsili nicea I, chalcedon dll) sejak abad ke 3. Lagi2 sangat aneh…. Tuhan dirapatkan dan didefinisikan oleh manusia wujud dan hakekat Dzatnya. Luar biasa…!!!!

    Pahala dan reward bagi kami ada keputusan dan janji Tuhan. Manusia hanya berusaha sebaik2nya untuk menjadi lebih baik. Potensi AKAL (rasio dan hati) dan kehendak bebas merupakan fasilitas manusia untuk hidup dan menempuh ujian di dunia ini. Karena tidak ada keadilan di dunia ini, maka akan ada keadilan seadil2nya di akherat kelak. Tuhan Maha Tahu segala2nya, sepercik niat di hati manusia Tuhan sudah mencatatnya. Jadi, niat dan tingkahlaku manusia semuanya secara detail ada dalam genggaman Tuhan di hari pembalasan. Yakinlah… ini yg lebih masuk akal.

    Untuk itu perlu adanya syurga dan neraka dan ini bagi kami adalah termasuk sebuah akidah keyakinan. Pertanggungjawaban manusia akan digelar dan ada pahala dan reward.

    Takdir dalam Islam terdiri dari qada’ dan qodar. Qada’ adalah takdir yang sudah ditetapkan/planing Tuhan sejak dan tidak bisa dirubah seperti warna kulit, kelamin, dll. sedangkan Qodar adalah takdir yang berproses dimana Tuhan bisa mengubah Takdir manusia disesuaikan dengan bagaimana proses kehendak manusia berjalan. Manusia berusaha, Tuhan yang menetapkan. Di sini ada proses yg berjalan. Orang tersandung batu adalah Qada’. Jodoh adalah Qodar. dllnya….

    ——————–
    Pelanggaran atas penerjemahan atas petunjuk Tuhan dalam hukum alam adalah perbuatan yang merendahkan Tuhan. Manusia tidak setara dengan Tuhan dalam keMaha-anNya. ke Esa-anNya. Maka pemahaman transendental tentang Tuhan jangan dicapur aduk, antara yang fisik dan yang metafisik. Kesulitan manusia karena dualitas yang melekat pada manusia itu. Maka dibutukan kesadaran atau awareness dalam menemukan kejernihan.
    ================
    Di sinilah sahabat terjebak dalam definisi sebuah bahasa, definisi sebuah teori yang telah ada dll. sebuah bahasa dan teori pada saat tertentu dan suatu saat bisa salah.

    Contohnya;
    TUHAN ALLAH adalah WUJUD/ADA/ dan mestinya jg punya materi fisik. Sebuah materi fisik mesti juga punya ruh, energi hidup dan dalam sebuah dimensi ruang waktu tertentu.

    Tapi yang perlu dicatat!!! Wujud/Ruh/Energi hidup/ dan juga dimensi ruang waktu Tuhan tidak bisa didefinisikan manusia/tidak bisa dibayangkan dan dipikirkan manusia seperti apa. Sebab, masih bersifat MATERI GHAIB…

    Gitu dulu dech…
    salam hangat.

  12. Dear Wawan,

    ===
    Takdir dalam Islam terdiri dari qada’ dan qodar. Qada’ adalah takdir yang sudah ditetapkan/planing Tuhan sejak dan tidak bisa dirubah seperti warna kulit, kelamin, dll. sedangkan Qodar adalah takdir yang berproses dimana Tuhan bisa mengubah Takdir manusia disesuaikan dengan bagaimana proses kehendak manusia berjalan. Manusia berusaha, Tuhan yang menetapkan. Di sini ada proses yg berjalan. Orang tersandung batu adalah Qada’. Jodoh adalah Qodar. dllnya
    ===

    Thanks,
    ini pemahaman baru buat saya soal Takdir. Terutama soal qada’ dan qodar.
    Apakah mengubahnya artinya mengubah “kehendak TUHAN”, kalau masih bisa dirubah bukan takdir dong namanya ?? Manusia punya hak lho untuk mengubahnya.
    Tapi hidup dan mati manusia tidak dapat merubahnya.
    Apa sih terjemahan kata TAKDIR ?

    Manusia berusaha tanpa ada keyakinan akan hasil usahanya, maka tidak ada hasil riilnya, bukan karena Tuhan tapi karena manusia itu sendiri.

    ====
    Pelanggaran atas penerjemahan atas petunjuk Tuhan dalam hukum alam adalah perbuatan yang merendahkan Tuhan. Manusia tidak setara dengan Tuhan dalam keMaha-anNya. ke Esa-anNya. Maka pemahaman transendental tentang Tuhan jangan dicapur aduk, antara yang fisik dan yang metafisik. Kesulitan manusia karena dualitas yang melekat pada manusia itu. Maka dibutukan kesadaran atau awareness dalam menemukan kejernihan.
    ================
    Di sinilah sahabat terjebak dalam definisi sebuah bahasa, definisi sebuah teori yang telah ada dll. sebuah bahasa dan teori pada saat tertentu dan suatu saat bisa salah.
    ====
    Tentunya ya…! Terjebak kalau belum mampu menembus batas.
    Kesadaran dan kejernihan tidak menjebak.
    Tanpa tahu alasan kenapa Tuhan menciptakan manusia dan alam semesta akan menjebak makna kata “ADA”

    Justru :
    ====
    Contohnya;
    TUHAN ALLAH adalah WUJUD/ADA/ dan mestinya jg punya materi fisik. Sebuah materi fisik mesti juga punya ruh, energi hidup dan dalam sebuah dimensi ruang waktu tertentu.

    Tapi yang perlu dicatat!!! Wujud/Ruh/Energi hidup/ dan juga dimensi ruang waktu Tuhan tidak bisa didefinisikan manusia/tidak bisa dibayangkan dan dipikirkan manusia seperti apa. Sebab, masih bersifat MATERI GHAIB…
    ===

    Kepasrahan dan pemahaman yang terbatas pada pemahaman fisik. Asal muasal yang berupa fisik pahami dalam ranah fisik.
    Asal muasal yang berupa metafisik pahami dalam ranah metafisik . Kalau dicampur aduk malah percaya dalam rasional yang terbatas. ini yang namanya terjebak.
    “mentok”.

    Kata kias nya:
    MIND MAKES UNIVERSE, GOD CREATE THE UNIVERSE BECAUSE OF HIS MIND.
    Dari mana Dia ADA?
    Bagi banyak pemeluk agama (apapun), termasuk katolik. Hanya berhenti pada causa prima yang alpha omega, dll.

    Sesuatu ADA tentu ADA penyebabnya.
    TUHAN itu ADA karena Ada yang menyebabkan Dia ada.
    yaitu MIND.
    MIND ada yang fisik dan ada yang metafisik.
    Lalu siapa yang menciptakan MIND ?
    Ya Tuhan juga yang membuat MIND itu ada.
    Lho Kok Muter-muter . Ya karena TUHAN tanpa batas, seperti halnya ALAM semesta didasari dari keterikatan tanpa batas, ROUND.
    Tidak untuk wilayah rasional.

    Be positive

  13. (Apakah mengubahnya artinya mengubah “kehendak TUHAN”, kalau masih bisa dirubah bukan takdir dong namanya ??)
    …. Manusia hanya berusaha semampu dan sekuat2nya merubah Takdir Tuhan lewat Qodar. Dengan akal dan kehendak bebasnya manusia siap untuk itu. Tetapi setelah itu hasilnya tetap hak Tuhan yang menetapkannya, apakah manusia itu berhasil dengan usaha kerasnya atau tidak. Manusia hanya bisa pasrah. Inilah makna kepasrahan (Islam). Itulah maknanya tetap Takdir.

    (Manusia punya hak lho untuk mengubahnya)
    …. benar.

    (Tapi hidup dan mati manusia tidak dapat merubahnya.
    Apa sih terjemahan kata TAKDIR ?)
    … Takdir adalah sesuatu ketetapan yang sudah terjadi.

    (Manusia berusaha tanpa ada keyakinan akan hasil usahanya, maka tidak ada hasil riilnya, bukan karena Tuhan tapi karena manusia itu sendiri.)
    ….. Ini pengertian yang salah. Manusia harus berusaha dengan keyakinan penuh bahwa usahanya dikabulkan Tuhan.

    (Tentunya ya…! Terjebak kalau belum mampu menembus batas.)
    …. menembus batas kesadaran itu, hanya orang2 tertentu yang bisa melakukan. Orang yang sudah banyak ilmu dan pengalaman belum tentu bisa mendapatkan ilham/wangsit ini hehe…

    (Kesadaran dan kejernihan tidak menjebak.)
    … belum tentu. Tinggal menurut siapa? ilmunya siapa? kenyataannya pendeta, biksu, kyai yang tergolong oarng yg demikian masih tetap mengklaim kebenaran dan kesadarannya masing2 hehehe….

    Kesadaran dan kejernihan yang tidak menjebak hanya hak Tuhan.

    (Tanpa tahu alasan kenapa Tuhan menciptakan manusia dan alam semesta akan menjebak makna kata “ADA” )
    … oke bolehkan saya tahu konsep ini di dalam Katolik?

    (Kepasrahan dan pemahaman yang terbatas pada pemahaman fisik. Asal muasal yang berupa fisik pahami dalam ranah fisik.
    Asal muasal yang berupa metafisik pahami dalam ranah metafisik . Kalau dicampur aduk malah percaya dalam rasional yang terbatas. ini yang namanya terjebak.
    “mentok”.)

    …… hehehe….. di sini kalau boleh sy tanya yang terjebak siapa? Konsep Trinitas atau Tuhan Yang Maha Esa (tauhid)?…

    (Kata kias nya:
    MIND MAKES UNIVERSE, GOD CREATE THE UNIVERSE BECAUSE OF HIS MIND.
    Dari mana Dia ADA?
    Bagi banyak pemeluk agama (apapun), termasuk katolik. Hanya berhenti pada causa prima yang alpha omega, dll.)

    ….. di sini saya sepakat2 aja koq hehe….

    (Sesuatu ADA tentu ADA penyebabnya.
    TUHAN itu ADA karena Ada yang menyebabkan Dia ada.
    yaitu MIND.
    MIND ada yang fisik dan ada yang metafisik.
    Lalu siapa yang menciptakan MIND ?
    Ya Tuhan juga yang membuat MIND itu ada.
    Lho Kok Muter-muter . Ya karena TUHAN tanpa batas..)

    … ini saya juga sepakat.

    (seperti halnya ALAM semesta didasari dari keterikatan tanpa batas, ROUND.
    Tidak untuk wilayah rasional. )
    …. di sini saya tidak sepakat. Alam semesta adalah makhluk ciptaan Tuhan juga yang terikat dalam batas2 kehendak Tuhan. Dan ranah Rasional sangat bisa mempelajarinya sebagai bukti bahwa ini adalah ciptaan Tuhan.

    salam manis Allah.

  14. Dear Wawan,

    Hanya ekspresi…
    Hua…ha..ha..ha…ha…ha…

    Indah sekali. Indah karena perbedaan kita.
    Ini bukan mengadu siapa yang lebih
    ini membuka cakrawala, dan melihat dunia jadi lebih indah

    Kita kembali lagi,
    Takdir, tidak ada dalam pemahaman iman katolik, yang ada adalah menyerahkan pada kehendakNya yang belum terjadi.
    Kepasrahan bukan pada ukuran atas kemampuan rasional, namun pasrah dengan penuh keyakinan akan jalan yang selaras dengan Tuhan. Tuhan memang berhak, tapi manusia jyga punya hak juga, karena Tuhan sudah mengaruniakan HAK sebagai ciptaanNya yang tertinggi. Hak itu adalah free will. Inilah kesetaraan manusia dengan Tuhan. Tuhan berhak atas keputusanNya. Manusia juga berhak atas pilihannya. Oleh sebeb itu apapun ajaran agama yang datangnya sebagai nur ilahi, ada “tool” untuk menyelaraskan HAK TUHAN dan HAK MANUSIA,
    Yang ada adalah PENYELARASAN, bukan PERHITUNGAN sebagai reward atau pahala. Kalau PERHITUNGAN akan ada perebutan HAK Tuhan dan HAK manusia. Tapi penyelarasan adalah harmonisasi antara Tuhan dan manusia. Dalam beberapa agama ada pemahaman jiwa yang sudah meninggalkan badan pasti menuju surga. Dalam katolik, jiwa “transit” dalam “api penyucian”, ini pemahaman ROH bukan jasmani/fisik. Kemudian menuju ke surga pada akhirnya. Dalam pemahaman roh tidak berlaku dimensi apapun, jadi takarannya adalah KEABADIAN.

    Kalau memahami TRINITAS dengan skala RASIONAL yang mengacu pada pemahaman jasad/badani, tidak akan ketemu, TRINITAS sebagai cara pemahaman transendental Tuhan. Sebagai DOGMA keimanan, yang hanya dipahami melalui iman. TRINITAS tetap sama dengan The Oneness sebagai bentuk pemahaman.

    He…he…he…
    Mau tahu kenapa dan bagaimana memahaminya?
    Akuilah TRINITAS sebagi Dogma iman Wawan….
    ….. Just kidding….. he…he..he…

    Maksudnya adalah TRINITAS bisa dipahami kalau sudah berada di dalamnya,

    Sudah pernah makan daging babi? (he…he..he..)
    Tidak akan pernah bisa memahami seperti apa rasa daging babi, kalau belum merasakannya.
    Kurang lebih seperti itu. Dalam Taurat juga mengharamkan babi, demikian juga mereka tidak memahami dogma trinitas.

    Betul , semua konsep pemahaman dalam katolik adalah “rekayasa” manusia, dan yang merekayasa adalah mereka yang sudah “dikaruniai” roh kudus dari Tuhan.
    Simpel kan?!
    Yang dikaruniai roh kudus adalah yang sudah selaras dengan Tuhan, artinya sudah menemukan kejernihan, lebih sebaga penyebab, bukan sekedar penerima akibat.
    Pemahaman Trinitas adalah bentuk tauhid.

    Be Positive,
    Sahabat.

  15. Betul , semua konsep pemahaman dalam katolik adalah “rekayasa” manusia, dan yang merekayasa adalah mereka yang sudah “dikaruniai” roh kudus dari Tuhan.
    ===============

    hehe…..
    Roh Kudus disahkan menjadikan Tuhan oleh manusia katolik sendiri pada abad 5M dalam konsili chalchedon lho hahahaha…. emang benar2 luar biasa aneh…

    Tuhan direkayasa sendiri dan dijadikan alasan untuk membuat kebenaran dogma sendiri??????????????????

    sungguh luar biasa???
    ini serius…. bukan just kidding.

  16. Dear Wawan,

    Kutipan lho :

    (Kata kias nya:
    MIND MAKES UNIVERSE, GOD CREATE THE UNIVERSE BECAUSE OF HIS MIND.
    Dari mana Dia ADA?
    Bagi banyak pemeluk agama (apapun), termasuk katolik. Hanya berhenti pada causa prima yang alpha omega, dll.)

    ….. di sini saya sepakat2 aja koq hehe….

    (Sesuatu ADA tentu ADA penyebabnya.
    TUHAN itu ADA karena Ada yang menyebabkan Dia ada.
    yaitu MIND.
    MIND ada yang fisik dan ada yang metafisik.
    Lalu siapa yang menciptakan MIND ?
    Ya Tuhan juga yang membuat MIND itu ada.
    Lho Kok Muter-muter . Ya karena TUHAN tanpa batas..)

    … ini saya juga sepakat.

    (seperti halnya ALAM semesta didasari dari keterikatan tanpa batas, ROUND.
    Tidak untuk wilayah rasional. )
    …. di sini saya tidak sepakat. Alam semesta adalah makhluk ciptaan Tuhan juga yang terikat dalam batas2 kehendak Tuhan. Dan ranah Rasional sangat bisa mempelajarinya sebagai bukti bahwa ini adalah ciptaan Tuhan.

    Be positive.
    Sahabat

  17. Dear Wawan,

    Tgl 09+10 Octbr aku di Yogja, mungkin iso ketemuan ga?

    No Hpku 08567825539.

    Nek iso mampir nggonaku, aku jadi juri Gadis Sampul 09.

    Be Positive.

  18. trims ajakannya sobat. Insyaallah, kalau ada waktu senggang ntar saya kontak.

    Saya skarang baru direpotin 2 anak sy yang masih balita semua. 1 umur 2th yang kecil umur 3bln. hehe….

    rencana menginap dimana?
    Klo pulang mampir solo juga boleh kog…

  19. Dear Wawan,

    Ternyata aku sibuuuuuuuk bgt, aku ga ada no telp/hp kamu. jadi aku ga isa kontak jenengan.
    Aku dah di jakrta lgi. kmren aku nginip di hotl zaphir 2 mlm.

    Ya udah lah ntar kalo ada waktu kan kita bisa ketemuan…

    be positive

  20. dan memang bahasan ini indah sekali, percaya atau tidak, aku membacanya berulang kali dan masih merasa takjub, bahwasanyta Allah memberikan modal keilmuan yangluar biasa indah dalam Al Quran. Sungguh merugi tiap manusia yang berjiwa yang diberikan kemampuan untuk berpikir dan menelaah justru tidak menggunakannya dengan baik untuk mengenal siapa penciptanya… Maha Besar Allah dengan segala firmanNya.

  21. Dear Suzi,
    —-
    Sungguh merugi tiap manusia yang berjiwa yang diberikan kemampuan untuk berpikir dan menelaah justru tidak menggunakannya dengan baik untuk mengenal siapa penciptanya…
    —-

    Bagaimana Aku ada,
    karena Dia ada.
    Bagaimana Dia ada,
    karena Aku ada.

    Kita berpikir akan Dia,
    Maha Besar…. Sebesar apa?
    Bukan mengingkari terhadap yang “Maha Besar”… tapi bagaimana memaknai “Maha Besar”.

    Have positive days.

  22. Bukan mengingkari terhadap yang “Maha Besar”… tapi bagaimana memaknai “Maha Besar”.

    =============
    memaknai = sebuah usaha untuk memahami …..? hanya sebatas itukah? hehe….

    mengingkari = menjilat ludahnya sendiri… wuih..

  23. 1…Carl Sagan Direktur NASA. Tidak Pernah
    “dendeng sapi”. Istilah aslinya apa? Gak pernah dengar atau baca istilah ini.
    2…membingungkan (paradox). Paradoks tidak sama dengan membingungkan.
    3…Einstein sendiri hingga ajalnya menolak yang “membingungkan” . Einstein bukan menolak paradoks, tetapi menolak teori kuantum.
    4. Ruang dan waktu menjadi relatif ketika unsur cahaya menjadi variabel dari gerak. Rancu nih. Ruang dan waktu itu jadi satu, 4 dimensi, yang tetap adalah kecepatan cahaya.
    5. ..ilmu pengetahuan alam yang dipandang Hawking pasti, tampaknya kini sejak Einstein mengemukakan teori relativitasnya menjadi sebaliknya,.. Einstein dulu baru Hawking, mas. Hawking belajar dari Einstein.
    6. Artinya, pada tingkat materi yang terkecil alam mengelak tidak bisa diketahui oleh mata manusia. Mata manusia memang cuma bisa melihat pada wilayah yang sempit. Di bawah infra merah dan di atas ultra ungu tak terlihat. Yang tak terlihat dapat “digeser”, diheterodyne agar masuk ke wilayah yang tampak.
    7. Heisenberg, menjelaskan bahwa ada batas kecermatan yang kita dapati tatkala kita mengamati kuantitas phisik tertentu, misalnya posisi, implus, energi dan bahkan waktu. Ini kalimat keren dan rumit tapi sama sekali tidak menjelaskan mekanika kuantum, tidak mengandung nilai.
    8. E = me2 energi ini dapat berubah menjadi partikel dan anti partikel, muncul dan menghilang…Mestinya: E=mc2, dan tak ada hubungannya dengan muncul dan menghilangnya partikel.

    Wah, banyak kalimat keren tapi tak bermakna dalam artikel anda ini. Ini belum selesai menkoreksinya. Saya harus pergi dulu.
    Jangan kombinasikan ayat suci dengan sains. Jangan dicocok-cocokkan. Ranah yang berbeda.
    Saya kawatir anda bangga dengan tulisan anda, padahal anda sendiri tak sepenuhnya memahami teori-teori yang anda kutip dalam tulisan.
    Kelihatan keren bagi yang juga tak paham, tapi menggelikan bagi yang rada paham teori-teori yang anda kutip.
    Nanti saya lanjutkan

  24. taufiq mahlan@
    1. Trims telah mengoreksi tulisan saya… tulisan ini saya buat dari meracik tulisan2 kontroversial teori of everything DR. Taufik Rusdi dan menggabungkan dengan pengetahuan saya yg berbasis Ushulluddin… jadi kalau ada kekeliruan mohon dikoreksi.
    2. dendeng sapi juga istilah yg saya kutip dari tulisn taufik rusdi.
    3. Paradoks tidak sama dengan membingungkan. betul.
    4.Einstein sendiri hingga ajalnya menolak yang “membingungkan” . Einstein bukan menolak paradoks, tetapi menolak teori kuantum. betul. hanya istilah bahasa saja.
    5. nomor 4 sebagian benar, 4 dimensi masih hipotesa.
    6.Einstein dulu baru Hawking, mas. Hawking belajar dari Einstein. betul mas.
    7. nomer 6 trims lebih memperjelas.
    8. nomer 7 adalah hipotesis.
    9. nomer 8. mohon diperjelas lagi, biar saya jadi dong hehe…

    jangan kombinasikan ayat suci dengan sains. Jangan dicocok-cocokkan. Ranah yang berbeda.
    Saya kawatir anda bangga dengan tulisan anda, padahal anda sendiri tak sepenuhnya memahami teori-teori yang anda kutip dalam tulisan.
    Kelihatan keren bagi yang juga tak paham, tapi menggelikan bagi yang rada paham teori-teori yang anda kutip.
    ==========
    kombinasi sains dan kitab suci sah2 saja mas, Sebuah tafsir sama dengan hipotesis,jadi boleh2 saja mengkombinasikannya dan tidak ada yg salah dengan mengkombinasikannya. Saya yakin sains dan Qur’an (khususnya) tidak terjadi konflik. lihat buku bibel, qur’an dan sains modernnya maurice bucaille dan syiarnya pertemuan sains dan Qur’annya Harun yahya..

    trims banyak telah mengoreksi, betul sy bukan dari latarbelakang sains.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s