jihad ofensif tidak dikenal dalam Islam

Mengapa Kita Memerangi Orang Kafir (Apakah karena kekafiran mereka atau karena permusuhan mereka?) Jan 14, ’09 10:39 PM
for everyone

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Mukadimah

Telah terjadi perselisihan para ulama tentang masalah ini, apakah sebab peperangan kita dengan orang kafir; apakah karena kekafiran mereka semata, atau karena sikap permusuhan mereka terhadap kaum muslimin. Namun, sayang perselisihan ini oleh sebagian orang dijadikan sebagai ajang untuk memusuhi dan memfitnah sesama muslim dan ulama. Syaikh Hasan Al Banna dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi yang memandang bahwa peperangan dengan Yahudi adalah karena sikap mereka yang memusuhi, mengusir, dan memerangi umat Islam. Fatwa ini disebut oleh Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali sebagai pendapat dan fatwa yang jahat. Lalu, diaminkan oleh yang sepemikirann dengannya. Masih bagus seandainya dikatakan, “ Ada dua pendapat dalam masalah ini, pendapat yang kuat adalah ini dan yang itu lemah.” Apa perlunya dibubuhi dengan istilah ‘fatwa yang jahat’? bukankah itu juga difatwakan oleh para imam seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  mengatakan inilah pendapat yang benar. Maka, jahatkah fatwa para imam ini?

Ada sebagian kaum muslimin, meyakini bahwa memerangi orang kafir adalah karena kekafirannya, bukan karena permusuhan mereka terhadap kita. Inilah pandangan Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu, dan Syaikh Sayyid Quthb Rahimahullah. Sikap ini tentu membawa konsekuensi bahwa orang kafir di muka bumi ini harus binasa tanpa sisa. Namun, kadang terjadi sikap yang kontradiksi, ketika mereka meyakini bahwa orang kafir harus diperangi karena faktor aqidah mereka yang kafir, namun dalam kehidupan keseharian, orang-orang ini  justru   jauh dari sikap keras terhadap orang kafir.

Ketika para ulama, seperti Syaikh Farid Washil, Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Syaikh Sayyid Ath Thanthawi, Syaikh Ali Jum’ah, Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan lain-lain, memfatwakan boikot produk Yahudi dan Amerika, justru mereka melecehkan fatwa ini, dan ‘melawan’ fatwa tersebut dengan fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin tentang hukum jual beli dengan orang kafir (Yahudi), yang pada dasarnya adalah mubah. Lucunya, mereka bersemangat menghajr (boikot) sesama muslim, bahkan sesama mereka sendiri, hanya karena berbeda pendapat dengan mereka, hanya karena berhubungan dengan organisasi dakwah Islam atau yayasan Islam tertentu. Sementara memboikot penjajah kafir mereka tidak mau. Wallahul Musta’an!

Ketika ramai segenap umat Islam mengecam Yahudi, atas serangannya ke Jalur Gaza, dan memberikan dukungan moril dan materil terhadap pejuang Palestina, khususnya HAMAS, justru anehnya sebagian dari mereka menyalahkan HAMAS. Bahkan menyebarkan tulisan di internet tentang kesesatan HAMAS yang ditulis oleh beberapa masyayikh mereka, serta ada beberapa SMS gelap yang diterima beberapa ikhwah bahwa menurut mereka HAMAS lebih Yahudi dibanding Yahudi!. Walau ini hanyalah oknum, tetapi ada apa sebenarnya ini?

Maka, inilah kenyataan, sedangkan sebelumnya hanyalah teori belaka. Dan Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff (61): 2-3)

Lanjut membaca

MUTIARA KEBIJAKSANAAN

“Ma’rifat (pengetahuan) adalah modalku,

akal pikiran adalah sumber agamaku,

cinta adalah dasar hidupku,

rindu adalah kendaraanku,

berdzikir adalah kawan dekatku,

keteguhan adalah perbendaharaanku,

duka adalah kawanku, 

ilmu adalah senjataku,

ketabahan adalah pakaianku,

kerelaan adalah sasaranku,

faqr (kesederhanaan) adalah kebanggaanku,

menahan diri adalah pekerjaanku,

keyakinan adalah makananku,

kejujuran adalah perantaraku,

ketaatan adalah ukuranku,

berjihad adalah perangaiku dan

hiburanku adalah sholat.”

(prinsip utama ALI BIN ABITHOLIB)