<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Wawankardiyanto&#039;s Weblog</title>
	<atom:link href="http://wawankardiyanto.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com</link>
	<description>every thing to knowing (BACALAH dengan menyebut Tuhanmu!)</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Nov 2009 04:15:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='wawankardiyanto.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/7f81952ba6159c8e4262e8280fa96669?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Wawankardiyanto&#039;s Weblog</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>TUNTASKAN SCANDAL BANK CENTURY PLUS INDONESIA BEBAS KORUPSI</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/11/03/tuntaskan-scandal-bank-century-plus-indonesia-bebas-korupsi/</link>
		<comments>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/11/03/tuntaskan-scandal-bank-century-plus-indonesia-bebas-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 04:15:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[import opini]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[bibit candra]]></category>
		<category><![CDATA[scandal bank]]></category>
		<category><![CDATA[scandal bank century]]></category>
		<category><![CDATA[sri mulyani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Skandal Bank Century dan Teatrikal Palsu Negara
Kasus Bank Century terus menggelinding sebagai isu panas minggu ini. Pasalnya bank milik Robert Tantular itu telah memicu konflik terbuka antara Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Terkesan aneh, mengingat seorang menteri bertindak &#8216;terlalu&#8217; berani terhadap atasan. Ada apa sebenarnya?
Kasus dana talangan yang diberikan kepada Bank [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=227&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignright size-full wp-image-229" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/11/images1.jpg?w=218&#038;h=147" alt="images" width="218" height="147" />Skandal Bank Century dan Teatrikal Palsu Negara</p>
<p>Kasus Bank Century terus menggelinding sebagai isu panas minggu ini. Pasalnya bank milik Robert Tantular itu telah memicu konflik terbuka antara Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Terkesan aneh, mengingat seorang menteri bertindak &#8216;terlalu&#8217; berani terhadap atasan. Ada apa sebenarnya?</p>
<p>Kasus dana talangan yang diberikan kepada Bank Century mencapai Rp 6,7 triliun (bahkan bisa lebih banyak) itu ternyata tidak mendapat persetujuan dari Wapres K sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap perjalanan dinamika perekonomian bangsa ini. Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur.</p>
<p>Kini persoalan Bank Century hampir pasti mengkuti pola dan kesalahan yang dilakukan pemerintah pada BLBI pertama tahun 1998, ketika pemerintah memberikan bail-out kepada bank-bank yang dananya dirampok oleh pemiliknya sendiri dan menjadikan pemerintah sebagai penjamin, tameng, dan atau bodyguard untuk keamanan semuanya.</p>
<p>Menarik untuk mencermati tentang dana talangan atau bail-out Bank Century yang membengkak menjadi Rp 6,7 triliun. Secara institusi, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengaku telah mengkonsultasikan tambahan suntikan dana tersebut kepada Bank Indonesia (sebagai regulator). Dalam hal ini, penambahan dana dilakukan karena Bank Century tidak memiliki rasio kecukupan modal (CAR).</p>
<p>Sebagai catatan, CAR Bank Century per 31 Oktober 2008 telah minus dari 3,25% anjlok menjadi -35,92%. Dengan demikian, LPS</p>
<p>menyuntikkan dana segar atau penyertaan modal menjadi 10%. Dana yang dibutuhkan untuk hal ini mencapai Rp 2,77 triliun. Dalam perkembangannya, LPS per 31 Desember 2008 juga kembali menutup kebutuhan likuiditas Bank Century dengan menyuntik dana segar sebesar Rp 2,201 triliun.</p>
<p>Lebih lanjut, pada bulan Februari 2009, cash money terus disuntik sebesar Rp 1,55 triliun dan Rp 630</p>
<p>miliar. Dengan demikian total keseluruhan dana yang disuntikkan LPS ke Bank Centuy adalah Rp 6,7 triliun, sebuah jumlah yang fantastis dan rekor bagi pemerintah.</p>
<p>Persoalan muncul ketika ada yang mempertanyakan bagaimanakah nasib duit rakyat sebesar Rp 6,7 triliun? Mengapa dana sebesar itu dengan mudah diberikan oleh pemerintah? Atas pertimbangan apakah BI merekomendasi untuk melakukan bail-out (dana talangan) kepada institusi bodong seperti Bank Century?</p>
<p>Tidakkah BI belajar banyak dari kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLIBI) yang telah merugikan negara mencapai Rp 600 triliun yang hingga kini bahkan sampai 20 tahun mendatang rakyat harus membayarnya dengan bunga dan pokok sebesar Rp 60 triliun melalui APBN? Di manakah tanggung jawab BI sebagai badan pengawas perbankan nasional?</p>
<p>Kini, setelah masalah Bank Century menjadi bahan diskusi publik, pemerintah harus tetap terbuka. Menkeu dan Gubernur BI harus bertanggung jawab atas &#8216;tragedi&#8217; ekonomi jilid dua yang menimpa bangsa ini. Pengelolaan ekonomi dan aset republik sudah saatnya</p>
<p>dilakukan dengan jujur dan berkeadilan. Kita telah bosan disuguhi dengan teatrikal dan drama palsu pengelolaan ekonomi dan aset bangsa. Negara tidak boleh mempermainkan rasa keadilan kepada rakyatnya.</p>
<p>Andai dana Rp 6,7 triliun disuntik untuk program public services seperti kesehatan dan pendidikan, sungguh begitu banyak</p>
<p>rakyat yang bersyukur, karena tertolong kebaikan hati pemerintah. Kini, langkah strategis yang harus dilakukan oleh pemangku kepentingan dalam bidang ekonomi adalah segera bertobat atas perbuatannya dan meminta maaf secara terbuka kepada pewaris sah kedaulatan, rakyat Indonesia. Lebih dari itu, sikap jantan JK atas tragedi Bank Century patut diacungi jempol.</p>
<p>Syahrul Salam</p>
<p>Staff Pengajar FISIP UPN Veteran Jakarta</p>
<p>syahrul.salam@yahoo.co.id<br />
sumber: <a rel="nofollow" href="http://www.inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/09/02/149908/skandal-bank-century-dan-teatrikal-palsu-negara/" target="_blank">http://www.inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/09/02/149908/skandal-bank-century-dan-teatrikal-palsu-negara/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wawankardiyanto.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wawankardiyanto.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wawankardiyanto.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wawankardiyanto.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wawankardiyanto.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wawankardiyanto.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wawankardiyanto.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wawankardiyanto.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wawankardiyanto.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wawankardiyanto.wordpress.com/227/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=227&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/11/03/tuntaskan-scandal-bank-century-plus-indonesia-bebas-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a481e2f560b8cfabef1498a8e5ea71b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wawankardiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/11/images1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IKHLAS  (Tafsir tematik hasanah Qur’an dan Hadist)</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/31/222/</link>
		<comments>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/31/222/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 22:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam rahmatan lil alamin]]></category>
		<category><![CDATA[cinta kasih]]></category>
		<category><![CDATA[hadist]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[rela]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir tematik]]></category>
		<category><![CDATA[tulus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[IKHLAS
Tafsir tematik hasanah Qur’an dan Hadist
Alqur’an berbicara tema ikhlas hanya terdapat dalam 10 ayat sebagaimana disebut di bawah ini:
2:139. Katakanlah: &#8220;Apakah kamu memperdebatkan dengan Kami tentang Allah, Padahal Dia adalah Tuhan Kami dan Tuhan kamu; bagi Kami amalan Kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya Kami mengikhlaskan hati,
4:125. Dan siapakah yang lebih baik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=222&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong><img class="alignright size-full wp-image-223" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images7.jpg?w=142&#038;h=142" alt="images" width="142" height="142" />IKHLAS</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Tafsir tematik hasanah Qur’an dan Hadist</strong></p>
<p>Alqur’an berbicara tema ikhlas hanya terdapat dalam 10 ayat sebagaimana disebut di bawah ini:</p>
<p>2:139. Katakanlah: &#8220;Apakah kamu memperdebatkan dengan Kami tentang Allah, Padahal Dia adalah Tuhan Kami dan Tuhan kamu; bagi Kami amalan Kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya Kami mengikhlaskan hati,</p>
<p>4:125. Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.</p>
<p>4:146. Kecuali orang-orang yang taubat dan Mengadakan perbaikan<strong>[369]</strong></p>
<p>dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.</p>
<p><strong><em>[369]</em></strong><em> Mengadakan perbaikan berarti berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan.</em></p>
<p>5:85. Maka Allah memberi mereka pahala terhadap Perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. dan Itulah Balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).</p>
<p>7:29. Katakanlah: &#8220;Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan&#8221;. dan (katakanlah): &#8220;Luruskanlah muka (diri)mu<strong>[533]</strong> di Setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)&#8221;.</p>
<p><strong><em>[533]</em></strong><em> Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah.</em></p>
<p>9:91. Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka Berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,</p>
<p>10:22. Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): &#8220;Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan Kami dari bahaya ini, pastilah Kami akan Termasuk orang-orang yang bersyukur&#8221;.</p>
<p>10:105. Dan (aku telah diperintah): &#8220;Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang musyrik.</p>
<p>22:31. Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.</p>
<p>34:46. Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, Yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras<strong>[1244].</strong></p>
<p><em>[1244] Berdua-dua atau sendiri-sendiri Maksudnya ialah bahwa dalam menghadap kepada Allah, kemudian merenungkan Keadaan Muhammad s.a.w. itu Sebaiknya dilakukan dalam Keadaan suasana tenang dan ini tidak dapat dilakukan dalam Keadaan beramai-ramai.</em></p>
<p>Kesepuluh ayat-ayat Alqur’an bertemakan ikhlas di atas pada dasarnya bernada hampir sama dalam sebuah pesan keikhlasan beribadah hanya pada dan untuk Allah SWT semata. Selebihnya akan dicoba membahas tema ikhlas itu secara mendalam sebagaimana berikut.</p>
<p><span id="more-222"></span></p>
<p><strong>A.  Pendahuluan</strong></p>
<p><em>“Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR. Al-Bukhari: 1).</em></p>
<p>Berkata Abdurrahman bin Mahdi, “Kalau seandainya aku menulis sebuah kitab yang terdiri atas bab-bab maka aku akan menjadikan hadits Umar bin Al-Khattab yaitu hadits Al A’maalu bin Niyyaat di setiap bab” (Jami’ul Ulum 1/8).</p>
<p>Imam Asy-Syafi’i berkata, “Hadits ini adalah sepertiga ilmu” (Jami’ul ‘Ulum 1/9).</p>
<p>Imam Ahmad berkata, “Pokok-pokok Islam ada tiga hadits, hadits Umar rodiallahu’anhu, ”Hanya saja amal-amal itu berdasarkan niatnya”, hadits ‘Aisyah rodiallahu’anha, Barangsiapa yang berbuat perkara-perkara yang baru dalam agama ini yang bukan dari agama maka ia tertolak” dan hadits Nu’man bin Basyir rodiallahu’anhu ”Yang halal jelas dan yang haram jelas”. (Jami’ul ‘Ulum 1/9).</p>
<p>Sesungguhnya pembahasan tentang ikhlas adalah pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif (lurus), hal ini dikarenakan tauhid adalah inti dan poros dari agama dan Allah tidaklah menerima kecuali yang murni diserahkan untukNya sebagaimana firman Allah, <em>“Hanyalah bagi Allah agama yang murni”. (QS. Az-Zumar : 3).</em></p>
<p>Maka perkara apa saja yang merupakan perkara agama Allah jika hanya diserahkan kepada Allah maka Allah akan menerimanya, adapun jika diserahkan kepada Allah dan juga diserahkan kepada selain Allah (siapapun juga ia) maka Allah tidak akan menerimanya, karena Allah tidak menerima amalan yang diserikatkan, Dia hanyalah menerima amalan agama yang <em>kholis</em> (murni) untukNya. Allah akan menolak dan mengembalikan amalan tersebut kepada pelakunya bahkan Allah memerintahkannya untuk mengambil pahala (ganjaran) amalannya tersebut kepada yang dia syarikatkan, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya:</p>
<p><em>Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untukku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, hadits shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dari kesyirikannya”).</em></p>
<p>Berkata Syaikh Sholeh Ali Syaikh, <em>“Lafal ‘amalan’ di sini adalah nakiroh dalam konteks kalimat syart maka memberi faedah keumuman sehingga mencakup seluruh jenis amalan kebaikan baik amalan badan, amalan harta. Maupun amalan yang mengandung amalan badan dan amalan harta (seperti haji dan jihad)”. (At-Tamhid hal. 401).</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>B.  Definisi ikhlas menurut etimologi (menurut peletakan bahasa)</strong></p>
<p>Ikhlas menurut bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya. Dikatakan bahwa “madu itu murni” jika sama sekali tidak tercampur dengan campuran dari luar, dan dikatakan “harta ini adalah murni untukmu” maksudnya adalah tidak ada seorangpun yang bersyarikat bersamamu dalam memiliki harta ini. Hal ini sebagaimana firman Allah tentang wanita yang menghadiahkan dirinya untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,</p>
<p><em>Dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. (QS. Al Ahzaab: 50).</em></p>
<p><em>Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS. An Nahl: 66).</em></p>
<p><em>Maka tatkala mereka berputus asa daripada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: “Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya”. (QS. Yusuf: 80).</em> Yaitu para saudara Yusuf menyendiri untuk saling berbicara diantara mereka tanpa ada orang lain yang menyertai pembicaraan mereka.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>C.   Definisi ikhlas menurut istilah syar’i (secara terminologi)</strong></p>
<p>Syaikh Abdul Malik menjelaskan, Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan ikhlas namun hakikat dari definisi-definisi mereka adalah sama. Di antara mereka ada yang mendefinisikan bahwa ikhlas adalah <em>“menjadikan tujuan hanyalah untuk Allah tatkala beribadah”</em>, yaitu jika engkau sedang beribadah maka hatimu dan wajahmu engkau arahkan kepada Allah bukan kepada manusia. Ada yang mengatakan juga bahwa ikhlas adalah <em>“membersihkan amalan dari komentar manusia”</em>, yaitu jika engkau sedang melakukan suatu amalan tertentu maka engkau membersihkan dirimu dari memperhatikan manusia untuk mengetahui apakah perkataan (komentar) mereka tentang perbuatanmu itu. Cukuplah Allah saja yang memperhatikan amalan kebajikanmu itu bahwasanya engkau ikhlas dalam amalanmu itu untukNya. Dan inilah yang seharusnya yang diperhatikan oleh setiap muslim, hendaknya ia tidak menjadikan perhatiannya kepada perkataan manusia sehingga aktivitasnya tergantung dengan komentar manusia, namun hendaknya ia menjadikan perhatiannya kepada Robb manusia, karena yang jadi patokan adalah keridhoan Allah kepadamu (meskipun manusia tidak meridhoimu).</p>
<p>Ada juga mengatakan bahwa ikhlas adalah <em>“samanya amalan-amalan seorang hamba antara yang nampak dengan yang ada di batin”</em>, adapun sebaliknya riya’ (lawan kata ikhlas) yaitu dzohir (amalan yang nampak) dari seorang hamba lebih baik daripada batinnya dan ikhlas yang benar (dan ini derajat yang lebih tinggi dari ikhlas yang pertama) yaitu batin seseorang lebih baik daripada dzohirnya, yaitu engkau menampakkan sikap baik dihadapan manusia adalah karena kebaikan hatimu, maka sebagaimana engkau menghiasi amalan dzohirmu dihadapan manusia maka hendaknya engkaupun menghiasi hatimu dihadapan Robbmu.</p>
<p>Ada juga yang mengatakan bahwa ikhlas adalah, <em>“melupakan pandangan manusia dengan selalu memandang kepada Allah”</em>, yaitu engkau lupa bahwasanya orang-orang memperhatikanmu karena engkau selalu memandang kepada Allah, yaitu seakan-akan engkau melihat Allah yaitu sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tentang ihsan <em>“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya dan jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Ia melihatmu”</em>. Barangsiapa yang berhias dihadapan manusia dengan apa yang tidak ia miliki (dzohirnya tidak sesuai dengan batinnya) maka ia jatuh dari pandangan Allah, dan barangsiapa yang jatuh dari pandangan Allah maka apalagi yang bermanfaat baginya? Oleh karena itu hendaknya setiap orang takut jangan sampai ia jatuh dari pandangan Allah karena jika engkau jatuh dari pandangan Allah maka Allah tidak akan perduli denganmu dimanakah engkau akan binasa, jika Allah meninggalkan engkau dan menjadikan engkau bersandar kepada dirimu sendiri atau kepada makhluk maka berarti engkau telah bersandar kepada sesuatu yang lemah, dan terlepas darimu pertolongan Allah, dan tentunya balasan Allah pada hari akhirat lebih keras dan lebih pedih. Definisi-definisi ini sebagaimana juga yang disampaikan oleh Ahmad Farid dalam kitabnya “Tazkiyatun Nufus” hal. 13).</p>
<p>Berkata Syaikh Abdul Malik, <em>“Ikhlas itu bukan hanya terbatas pada urusan amalan-amalan ibadah bahkan ia juga berkaitan dengan dakwah kepada Allah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saja (tetap) diperintahkan oleh Allah untuk ikhlas dalam dakwahnya”.</em></p>
<p><em>Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108).</em></p>
<p><em>Yaitu dakwah hanyalah kepada Allah bukan kepada yang lainnya, dan dakwah yang membuahkan keberhasilan adalah dakwah yang dibangun karena untuk mencari wajah Allah. Aku memperingatkan kalian jangan sampai ada diantara kita dan kalian orang-orang yang senang jika dikatakan bahwa kampung mereka adalah kampung sunnah, senang jika masjid-masjid mereka disebut dengan masjid-masjid ahlus sunnah, atau masjid mereka adalah masjid yang pertama yang menghidupkan sunnah ini dan sunnah itu, atau masjid pertama yang menghadirkan para masyayikh salafiyyin dalam rangka mengalahkan selain mereka, namun terkadang mereka tidak sadar bahwa amalan mereka hancur dan rusak padahal mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya. Dan ini adalah musibah yang sangat menyedihkan yaitu syaitan menggelincirkan seseorang sedikit-demi sedikit hingga terjatuh ke dalam jurang sedang ia menyangka bahwa ia sedang berada pada keadaan yang sebaik-baiknya. Betapa banyak masjid yang aku lihat yang Allah menghancurkan amalannya padahal dulu jemaahnya dzohirnya berada di atas sunnah karena disebabkan rusaknya batin mereka, dan sebab berlomba-lombanya mereka untuk dikatakan bahwa jemaah masjid adalah yang pertama kali berada di atas sunnah, hendaknya kalian berhati-hati…” </em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>D<em>.  Syuhroh</em> (Popularitas)</strong></p>
<p>Ketenaran (popularitas) memang mahal harganya. Betapa banyak orang yang rela mengorbankan banyak harta benda hanya karena untuk memperoleh ketenaran. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para penyanyi, ataupun para bintang film. Mereka selalu berusaha tampil beda agar bisa menarik perhatian umat dunia. Bahkan ada yang rela untuk melakukan hal-hal yang aneh dan yang diharamkan oleh Allah hanya untuk memperoleh popularitas (sebagaimana penulis membaca pengakuan seorang wanita yang rela untuk berfoto setengah telanjang -bukan setengah lagi, tapi 90%, karena hanya tersisa beberapa utas benang atau secarik kain yang menutupi tubuhnya, <strong>“awas jangan dibayangkan!!”</strong>-, padalah dia hanya dibayar sangat rendah. Dia mengaku bahwasanya semua itu agar dia menjadi tenar. Na’udzu billahi min dzalik), yang <em>toh</em> setelah perjuangan dan pengorbanannya tersebut dia belum tentu tersohor. Kalaupun terkenal, toh belum tentu bertahan lama. Namun bagaimanapun popularitas merupakan sesuatu impian yang didambakan oleh banyak manusia (kafir maupun muslim).</p>
<p>Sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini. Hampir seluruh keanehan-keanehan yang dilakukan oleh manusia sesungguhnya dikarenakan cinta popularitas. Kita lihat ada orang yang mengecet rambutnya berwarna-warni, ada yang kepalanya setengah gundul dan setengahnya rambutnya panjang hingga bahunya dan dicat hijau (sebagaimana yang pernah dilihat oleh Syaikh Abdur Rozaq), ada yang rambutnya cuma ditengah saja panjang adapun sisanya gundul (sebagaimana penulis pernah lihat seorang dari tanah air yang model cukurannya seperti itu padahal dia lagi umroh), ada yang dipotong seperti warna macan tutul (botak gundul, botak gundul), ada yang tengahnya gundul dan kanan kiri kepalanya ada rambutnya, ada yang seluruh kepalanya gundul namun tersisia satu pelintiran yang panjang sekali, dan model-model yang lainnya yang banyak sekali dan aneh-aneh. Ini, padahal baru masalah rambut, belum masalah telinga, hiasan leher, apalagi model pakaian. Yang semua ini hanyalah dilakukan demi ketenaran. <strong>Demi Allah</strong>, seandainya salah mereka itu tinggal di hutan yang tidak ada manusianya sama sekali kecuali dia sendiri, dan dia hanya berteman binatang dan pepohonan, demi Allah dia tidak akan melakukan hal-hal aneh yang telah dia lakukan, karena tidak ada manusia yang memperhatikannya. Kalau dia tetap aneh juga maka dia akan terkenal diantara para hewan. Popularitas merupakan kenikmatan dunia yang mahal harganya.</p>
<p>Penyakit cinta ketenaran ternyata tidak hanya menimpa orang awam saja yang tidak mengetahui perkara-perkara agama, namun juga menjangkiti para ahli ibadah dan para penuntut ilmu syar’i. Walaupun memang bentuknya berbeda, namun hakekatnya sama adalah cinta popularitas. Ahli ibadah juga pingin kesungguhannya dalam beribadah diketahui oleh para ahli ibadah yang lain, ahli ilmu pun ingin orang lain tahu bahwasanya dia adalah seorang yang pandai, sehingga akhirnya martabatnya tinggi dihadapan manusia. Penyakit inilah yang dalam kamus agama disebut penyakit riya’ (pingin dilihat orang) dan sum’ah (pingin didengar orang).</p>
<p>Manusia begitu bersemangat untuk menutupi kejelekan-kejelekan mereka, mereka tutup sebisa mungkin, kejelekan sekecil apapun, dibungkus rapat jangan sampai ketahuan. Hal ini dikarenakan mereka menginginkan mendapatkan kehormatan dimata manusia. Dengan terungkapnya kejelekan yang ada pada mereka maka akan turun kedudukan mereka di mata manusia. Seandainya mereka juga menutupi kebaikan-kebaikan mereka, -sekecil apapun kebaikan itu, jangan sampai ada yang tahu, siapapun orangnya (saudaranya, sahabat karibnya, guru-gurunya, anak-anaknya, bahkan istrinya) tidak ada yang mengetahui kebaikannya- , tentunya mereka akan mencapai martabat mukhlisin (orang-orang yang ikhlas). Mereka berusaha sekuat mungkin agar yang hanya mengetahui kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan hanyalah Allah. Karena mereka hanya mengharapkan kedudukan di sisi Allah. Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar <em>“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.”</em> (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni , “Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh Dimasyq (22/68), dan sanadnya sohih”. Lihat Sittu Duror hal. 45).</p>
<p>Dalam riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no 6500 beliau berkata, <em>“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”.</em></p>
<p>Berkata Syaikh Abdul Malik, <em>“Namun mengapa kita tidak melaksanakan wasiat Abu Hazim ini?? Kenapa??, hal ini menunjukan bahwa keikhlasan belum sampai ke dalam hati kita sebagaimana yang dikehendaki Allah”</em> (Dari ceramah beliau yang berjuduk ikhlas).</p>
<p>Oleh karena itu <strong>banyak para imam salaf yang benci ketenaran</strong>. Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk menjaga keihlasan mereka, dan karena mereka khawatir hati mereka terfitnah tatkala mendengar pujian manusia.</p>
<p>Berkata Hammad bin Zaid: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub (As-Sikhtyani), maka diapun membawaku ke jalan-jalan cabang (selain jalan umum yang sering dilewati manusia-pen), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan cabang tersebut ?! (ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati orang banyak) karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan, “Ini Ayyub” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni: “Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (7/249), dan Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/232), dan sanadnya shahih.” (Sittu Duror hal 46)).</p>
<p>Berkata Imam Ahmad: <em>“Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran”.</em> (As-Siyar 11/210).</p>
<p>Tatkala sampai berita kepada Imam Ahmad bahwasanya manusia mendoakannya dia berkata: “Aku berharap semoga hal ini bukanlah istidroj”. (As-Siyar 11/211).</p>
<p>Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau: “Aku mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya”. (As-Siyar 11/211).</p>
<p>Pernah Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya (yang bernama Abu Bakar) tatkala sampai kepadanya kabar bahwa manusia memujinya: “Wahai Abu Bakar, jika seseorang mengetahui (aib-aib) dirinya maka tidak bermanfaat baginya pujian manusia”. (As-Siyar 11/211).</p>
<p>Berkata Hammad, “Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih jauh, maka akupun perkata padanya, “Jalan yang ini yang lebih dekat”, maka Ayyub menjawab: ”Saya menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian manusia-pen)”. Dan Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab salamnya lebih dari kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub berkata: ”Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini !, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini!.” Berkata Syaikh Abdul Malik: ”Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d (7/248) dan Al-Fasawi (2/239), dan sanadnya shahih”. (Sittu Duror hal 47).</p>
<p>Berkata Abu Zur’ah Yahya bin Abi ‘Amr, “Ad-Dlohhak bin Qois keluar bersama manusia untuk sholat istisqo (sholat untuk minta hujan), namun hujan tak kunjung datang, dan mereka tidak melihat adanya awan. Maka beliau berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?” (Dalam riwayat yang lain: Maka tidak seorangpun yang menjawabnya, kemudian dia berkata: ”Di mana Yazid bin Al-Aswad?, Aku tegaskan padanya jika dia mendengar perkataanku ini hendaknya dia berdiri”), maka berkata Yazid :”Saya di sini!”, berkata Ad-Dlohhak: ”Berdirilah!, mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan bagi kami!”. Maka Yazid pun berdiri dan menundukan kepalanya diantara dua bahunya, dan menyingsingkan lengan banjunya lalu berdoa: ”Ya Allah, sesungguhnya para hambaMu memintaku untuk berdoa kepadaMu”. Lalu tidaklah dia berdoa kecuali tiga kali kecuali langsung turunlah hujan yang deras sekali, hingga hampir saja mereka tenggelam karenanya. Kemudian dia berkata: ”Ya Allah, sesungguhnya hal ini telah membuatku menjadi tersohor, maka istirahatkanlah aku dari ketenaran ini”, dan tidak berselang lama yaitu seminggu kemudian diapun meninggal.” Lihat takhrij kisah ini secara terperinci dalam buku Sittu Duror karya Syaikh Abdul Malik Romadloni hal. 47.</p>
<p>Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana Yazid Al-Aswad merasa tidak tentram dengan ketenarannya bahkan dia meminta kepada Allah agar mencabut nyawanya agar terhindar dari ketenarannya. Ketenaran di mata Yazid adalah sebuah penyakit yang berbahaya, yang dia harus menghindarinya walaupun dengan meninggalkan dunia ini. <strong>Allahu Akbar.. !</strong> inilah akhlak salaf (Berkata Guru kami Syaikh Abdul Qoyyum, “Adapun orang-orang yang memerintahkan para pengikutnya atau rela para pengikutnya mencium tangannya lalu ia berkata bahwa ia adalah wali Allah maka ia adalah dajjal”). Namun banyak orang yang terbalik, mereka malah menjadikan ketenaran merupakan kenikmatan yang sungguh nikmat sehingga mereka berusaha untuk meraihnya dengan berbagai macam cara.</p>
<p>Dari Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata: ”Ali bin Husain memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan dia berkata, ”Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah”. Ini merupakan hadits yang marfu’ dari Nabi, yang diriwayatkan dari banyak sahabat, seperti Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu “Abbas, Ibnu Ma’ud, Ummu Salamah, Abu Umamah, Mu’awiyah bin Haidah, dan Anas bin Malik. Berkata Syaikh Al-Albani: ”Kesimpulannya hadits ini dengan jalannya yang banyak serta syawahidnya adalah hadits yang shahih, tidak diragukan lagi. Bahkan termasuk hadits mutawatir menurut sebagian ahli hadits muta’akhirin” (As-Shohihah 4/539, hadits no. 1908).</p>
<p>Dan dari ‘Amr bin Tsabit berkata, ”Tatkala Ali bin Husain meninggal mereka memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka bertanya: ”Apa ini”, lalu dijawab: ”Beliau selalu memikul berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di Madinah”.</p>
<p>Berkata Ibnu ‘Aisyah: ”Ayahku berkata kepadaku: ”Saya mendengar penduduk Madinah berkata: ”Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain” Lihat ketiga atsar tersebut dalam Sifatus Sofwah (2/96), Aina Nahnu hal. 9.</p>
<p>Lihatlah bagaimana Ali bin Husain menyembunyikan amalannya hingga penduduk Madinah tidak ada yang tahu, mereka baru tahu tatkala beliau meninggal karena sedekah yang biasanya mereka terima di malam hari berhenti, dan mereka juga menemukan tanda hitam di pundak beliau.</p>
<p>Seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari <em>”Bagaimana sholat malam engkau”</em>, maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata, <em>“Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku sholat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia”</em> (Dinukil dari kitab Az- Zuhud, Imam Ahmad).</p>
<p>Tidak seorangpun diantara kita yang meragukan akan kesungguhan para sahabat dalam beribadah. Namun walaupun demikian, mereka tidaklah ujub, atau memamerkan amalan mereka kapada manusia, jauh sekali dengan kita. Adapun sebagian kita (atau sebagian besar, atau seluruhnya (kecuali yang dirahmati oleh Allah), <strong>Allahu Al-Musta’an</strong>, sudah amalannya sedikit, namun diceritakan ke mana-mana (Bahkan kalau bisa orang sedunia mengetahuinya). Ada yang berkata, <em>”Dakwah saya di sana…, di sini…”</em>, ada juga yang berkata,”Yang menghadiri majelis saya jumlahnya sekian dan sekian…” (padahal kalau dihitung belum tentu sebanyak yang disebutkan, atau memang benar yang hadir majelisnya banyak tetapi tidak selalu. Terkadang yang hadir dalam sebagian majelisnya cuma sedikit, namun tidak dia ceritakan, atau yang hadir banyak tapi pada ngantuk semua, juga tidak dia ceritakan. Pokoknya dia ingin gambarkan pada manusia bahwa dia adalah <strong>da’i favorit</strong>), ada yang berkata, “Saya sudah baca kitab ini, kitab itu.. hal ini sebagaimana termuat dalam kitab ini atau kitab itu…”(padahal belum tentu satu kitabpun dia baca dari awal hingga akhir, atau bahkan belum tentu dia baca sama sekali secara langsung kitab itu. Namun dia ingin gambarkan pada manusia bahwa mutola’ahnya banyak, agar mereka tahu bahwa dia adalah orang yang berilmu dan gemar membaca). Yang mendorong ini semua adalah karena keinginan mendapat penghargaan dan penghormatan dari manusia.</p>
<p>Lihatlah Tamim Ad-Dari tidak membuka pintu yang bisa mengantarkannya terjatuh dalam riya, sehingga dia tidak mau menjawab orang yang bertanya tentang ibadahnya. Namun sebaliknya, sebagian kaum muslimin sekarang justru menjadikan kesempatan pertanyaan seperti itu untuk bisa menceritakan seluruh ibadahnya, bahkan menanti-nanti untuk ditanya tentang ibadahnya, atau dakwahnya, atau perkara yang lainnya.</p>
<p>Ayyub As-Sikhtiyani sholat sepanjang malam, dan jika menjelang fajar maka dia kembali untuk berbaring di tempat tidurnya. Dan jika telah terbit fajar maka diapun mengangkat suaranya seakan-akan dia baru saja bangun pada saat itu. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/8).</p>
<p>Berkata Muhammad bin A’yun, ”Aku bersama Abdullah bin Mubarok dalam peperangan di negeri Rum. Tatkala kami selesai sholat isya’ Ibnul Mubarok pun merebahkan kepalanya untuk menampakkan padaku bahwa dia sudah tertidur. Maka akupun –bersama tombakku yang ada ditanganku- menggenggam tombakku dan meletakkan kepalaku diatas tombak tersebut, seakan-akan aku juga sudah tertidur. Maka Ibnul Mubarok menyangka bahwa aku sudah tertidur, maka diapun bangun diam-diam agar tidak ada sorangpun dari pasukan yang mendengarnya lalu sholat malam hingga terbit fajar. Dan tatkala telah terbit fajar maka diapun datang untuk membagunkan aku karena dia menyangka aku tidur, seraya berkata “Ya Muhammad bangunlah!”, Akupun berkata: ”Sesungguhnya aku tidak tidur”. Tatkala Ibnul Mubarok mendengar hal ini dan mengetahui bahwa aku telah melihat sholat malamnya maka semenjak itu aku tidak pernah melihatnya lagi berbicara denganku. Dan tidak pernah juga ramah padaku pada setiap peperangannya. Seakan-akan dia tidak suka tatkala mengetahui bahwa aku mengetahui sholat malamnya itu, dan hal itu selalu nampak di wajahnya hingga beliau wafat. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menymbunyikan kebaikan-kebaikannya daripada Ibnul Mubarok” (Al-Jarh wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim 1/266).</p>
<p>Wahai saudaraku, ketahuilah… sesungguhnya ikhlas adalah sesuatu yang sangat berat, penuh perjuangan untuk bisa meraihnya. Pintu-pintu yang bisa dimasuki syaitan untuk bisa merusak keikhlasan kita terlalu banyak. Tatkala kita sedang beramal maka syaitanpun berusaha untuk bisa menjadikan kita riya’, kalau tidak bisa menjadikan kita riya’ di permulaan amal, maka dia akan berusaha agar kita riya’ di pertengahan amal. Kalau tidak mampu lagi maka di akhir amalan kita. Oleh karena itu kita dapati para salaf dahulu memngecek niat mereka ditengah amalan mereka, apakah masih tetap ikhlas atau sudah berubah?. Diriwayatkan dari Sualaiman bin Dawud Al-Hasyimi: ”Terkadang saya menyampaikan sebuah hadits dan niat saya ikhlas, (namun) tatkala saya sampaikan sebagian hadits tersebut berubahlah niat saya, ternyata satu hadits saja membutuhkan banyak niat” Disebutkan oleh Al-Khotib Al-Bagdadi dalam Tarikh beliau (9/31), Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (11/412), dan Ad-Dazahabi dalam Siyar (10/625), lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal 83, tahqiq Al-Arnauth).</p>
<p>Lihatlah bagaimana hati-hatinya salaf dalam menjaga niat mereka, untuk bisa menyampaikan satu hadits saja (yang mungkin hanya beberapa buah kata) dia memperhatikan niatnya berulang-ulang. Bagaimana dengan kita sekarang? Bukan cuma berpuluh-puluh kata yang kita lontarkan, bahkan beribu-ribu kata (tatkala mengisi pengajian, atau memberi pendapat atau nasehat tatkala diminta, atau yang lainnya…) pernahkah kita mengecek niat kita disela-sela pembicaraan kita??. Terkadang seseorang di awal sedang mengisi pengajian, dia mendapati niatnya ikhlas. Namun tatkala di tengah pengajian, disaat dia memandang bagaimana para pendengarnya terkagum-kagum dengan kefasihannya melontarkan dalil disaat itulah syaitan berperan aktif untuk merubah niatnya. Waspadalah wahai para saudaraku… <strong>sesungguhnya hanya sedikit yang selamat dari tipu daya syaitan</strong>.</p>
<p>Sungguh benarlah perkataan Sufyan Ats-Tsauri, ”Saya tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih berat daripada niat, karena niat itu berbolak-balik (berubah-ubah)” (Hilyatul Auliya (7/ hal 5 dan 62), lihat Jami’ul ‘Ulul wal Hikam hal 70, tahqiq Al-Arnauth).</p>
<p>Kalau seseorang telah selamat dari tipu daya syaitan hingga selesai amalnya, ingatlah…syaitan tidak putus asa. Dia mulai menggelitik hati orang tersebut dan merayu orang tersebut untuk menceritakan amalan solehnya pada manusia, dan syaitan menipunya dengan berkata, ”Ini bukanlah riya…, supaya kamu bisa dicontohi manusia…”. Akhirnya terjebaklah orang tersebut dan diapun mengungkapkan kebaikan-kebaikannya dihadapan orang, maka bisa jadi diapun menceritakan kabaikan-kebaikannya pada manusia karena riya’, maka ini merupakan kecelakaan baginya, atau kalau tidak maka minimal pahalanya berkurang. Karena pahala amalan yang <em>sirr </em>(disembunyikan) lebih baik daripada amalan yang diketahui orang lain.</p>
<p>Allah berfirman, yang artinya:</p>
<p><em>“Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Baqoroh: 271).</em></p>
<p>Berkata Ibnu Kasir dalam Tafsirnya, ”Asalnya isror (amalan secara tersembunyi tanpa diketahui orang lain) adalah lebih afdol dengan dalil ayat ini dan hadits dalam shohihain (Bukhori dan Muslim) dari Abu Huroiroh, beliau berkata: “Berkata Rasulullah : <em>”Tujuh golongan yang berada dibawah naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah, Imam yang adil, dan seorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya”</em> Diriwayatkan oleh Al-Bukhori (1423) dan Muslim (2377). Berkata Imam Nawawi: ”Berkata para Ulama bahwanya penyebutan tangan kanan dan kiri menunjukan kesungguhan dan sangat dismbunyikannya serta tidak diketuhinya sedekah. Perumpamaan dengan kedua tangan tersebut karena dekatnya tangan kanan dengan tangan kiri, dan tangan kanan selalu menyertai tangan kiri. Dan maknanya adalah seandainya tangan kiri itu seorang laki-laki yang terjaga maka dia tidak akan mengetahui apa yang diinfak oleh tangan kanan karena saking disembunyikannya.” (Al-Minhaj 7/122), hal ini juga sebagaimana penjelasan Ibnu Hajr (Al-Fath 2/191).</p>
<p>Rosulullah bersabda: <em>”Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung kalau Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi. Maka para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk Mu yang lebih kuat dari gunung?” Allah berkata, “Ada yaitu besi”. Lalu mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhlukMu yang lebih kuat dari besi?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu api.”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk Mu yang lebih kuat dari pada api?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu angin” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada angin?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya lalu dia sembunyikan agar tidak diketahui tangan kanannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahamad dalam Musnadnya 3/124 dari hadits Anas bin Malik. Berkata Ibnu Hajar, ”Dari hadits Anas dengan sanad yang hasan marfu’” (Al-Fath 2/191).</em></p>
<p>Sungguh benar orang yang berkata, “Jangan heran kalau engkau melihat seorang yang bisa jalan di atas air, karena syaitan juga bisa berjalan di atas air. Janganlah heran kalau engkau melihat seorang yang berjalan terbang diudara, karena syaitan juga bisa terbang di udara. Tapi heranlah engkau jika engkau melihat seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya namun tangan kirinya tidak mengetahuinya, karena syaitan tidak bersedekah (apalagi dengan ikhlas) (Untaian kalimat ini, penulis tidak mengetahui siapa yang mengucapkannya. Namun penulis pernah mendengarnya dari seorang petugas penjaga mushola dikapal laut, tatkala menyampaikan nasehat pada awak penumpang kapal. Mungkin saja dialah yang mengucapkan perkataan ini pertama kali. Namun bagaimanapun perkataan ini benar maknanya jika ditinjau dari kacamata syar’i, Wallahu A’lam).</p>
<p>Ingat perkataan Ibnul Qoyyim, “Tidaklah akan berkumpul keikhlasan dalam hati bersama rasa senang untuk dipuji dan disanjung dan keinginan untuk memperoleh apa yang ada pada manusia kecuali sebagaimana terkumpulnya air dan api…” (Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, hal 423). <strong>Wahai Dzat yang membolak-balikan hati-hati (manusia) tetapkanlah hatiku di atas agamaMu.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<h2><strong>E.  Hukum menyembunyikan amal</strong></h2>
<p>Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan menyembunyikan amalan kebajikan (karena hal ini lebih menjauhkan dari riya) itu hanya khusus bagi amalan-amalan mustahab bukan amalan-amalan yang wajib. Berkata Ibnu Hajar: ”At-Thobari dan yang lainnya telah menukil ijma’ bahwa sedekah yang wajib secara terang-terangan lebih afdhol daripada secara tersembunyi. Adapun sedekah yang mustahab maka sebaliknya.” (Al-Fath 3/365). Sebagian mereka juga mengecualikan orang-orang yang merupakan teladan bagi masyarakat, maka justru lebih afdhol bagi mereka untuk beramal terang-terangan agar bisa diikuti dengan syarat mereka aman dari riya’, dan hal ini tidaklah mungkin kecuali jika iman dan keyakinan mereka yang kuat.</p>
<p>Imam Al-Iz bin Abdus Salam telah menjelaskan hukum menyembunyikan amalan kebajikan secara terperinci sebagai berikut. Beliau berkata, “Keta’atan (pada Allah) ada tiga:</p>
<ol>
<li>Yang pertama, adalah amalan yang disyariatkan secara dengan dinampakan seperti adzan, iqomat, bertakbir, membaca Quran dalam sholat secara jahr, khutbah-kutbah, amar ma’ruf nahi mungkar, mendirikan sholat jumat dan sholat secara berjamaah, merayakan hari-hari ‘ied, jihad, mengunjungi orang-orang yang sakit, mengantar jenazah, maka hal-hal seperti ini tidak mungkin disembunyikan. Jika pelaku amalan-amalan tersebut takut riya, maka hendaknya dia berusaha bersungguh-sungguh untuk menolaknya hingga dia bisa ikhlas kemudian dia bisa melaksanakannya dengan ikhlas, sehingga dengan demikian dia akan mendapatkan pahala amalannya dan juga pahala karena kesungguhannya menolak riya, karena amalan-amalan ini maslahatnya juga untuk orang lain.</li>
<li>Yang kedua, amalan yang jika diamalkan secara tersembunyi lebih afdhol dari pada jika dinampakkan. Contohnya seperti membaca qiro’ah secara perlahan tatkala sholat (yaitu sholat yang tidak disyari’atkan untuk menjahrkan qiro’ah), dan berdzikir dalam sholat secara perlahan. Maka dengan perlahan lebih baik daripada jika dijahrkan.</li>
<li>Yang ketiga, amalan yang terkadang disembunyikan dan terkadang dinampakkan seperti sedekah. Jika dia kawatir tertimpa riya’ atau dia tahu bahwasanya biasanya kalau dia nampakan amalannya dia akan riya’, maka amalan (sedekah) tersebut disembunyikan lebih baik daripada jika dinampakkan.</li>
</ol>
<p>Adapun orang yang aman dari riya’ maka ada dua keadaannya:</p>
<ol>
<li>Yang pertama, dia bukanlah termasuk orang yang diikuti, maka lebih baik dia menyembunyikan sedekahnya, karena bisa jadi dia tertimpa riya’ tatkala menampakkan sedekahnya.</li>
<li>Yang kedua, dia merupakan orang yang dicontohi, maka dia menampakan sedekahnya lebih baik karena hal itu membantu fakir miskin dan dia akan diikuti. Maka dia telah memberi manfaat kepada fakir miskin dengan sedekahnya dan dia juga menyebabkan orang-orang kaya bersedekah pada fakir miskin karena mencontohi dia, dan dia juga telah memberi manfaat pada orang-orang kaya tersebut karena mengikuti dia beramal soleh.” Qowa’idul Ahkam 1/125 (Sebagaimana dinukil oleh Sulaiman Al-Asyqor dal kitabnya Al-Ikhlash hal 128-129).</li>
</ol>
<p>Tentunya kita lebih mengetahui diri kita, kita termasuk orang yang aman dari riya atau tidak.</p>
<h3><strong>F.   Mengobati penyakit cinta ketenaran</strong></h3>
<p>Berkata Abdullah bin Mas’ud, “Seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orangpun yang berjalan di belakangku, dan kalian pasti akan melemparkan tanah di kepalaku, aku sungguh berangan-angan agar Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil dengan Abdullah bin Rowtsah”. (Al-Mustadrok 3/357 no. 5382).</p>
<p>Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, ((“Untaian kalimat ini adalah madrasah (pelajaran), dan hal ini tidak diragukan lagi karena tersohornya seseorang mungkin terjadi jika orang tersebut memiliki kelebihan diantara manusia, bahkan bisa jadi orang-orang mengagungkannya, bisa jadi orang-orang memujinya, bisa jadi mereka mengikutinya berjalan di belakangnya. Seseorang jika semakin bertambah ma’rifatnya kepada Allah maka ia akan sadar dan mengetahui bahwa dosa-dosanya banyak, dan banyak, dan sangat banyak. Oleh karena tidaklah suatu hal yang mengherankan jika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepada Abu Bakar –padahal ia adalah orang yang terbaik dari umat ini dari para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam &#8211; yang selalu membenarkan (apa yang dikabarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam-pen), yang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah berkata tentangnya, “Jika ditimbang iman Abu Bakar dibanding dengan iman umat maka akan lebih berat iman Abu Bakar”, namun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkannya untuk berdo’a di akhir sholatnya, “Robku, sesungguhnya aku telah banyak mendzolimi diriku dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali engkau maka ampunilah aku dengan pengampunanMu”. Yang mewasiatkan adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan yang diwasiatkan adalah Abu Bakar As-Shiddiq. Semakin bertambah ma’rifat seorang hamba kepada Robnya maka ia akan takut kepada Allah, takut kalau ada yang mengikutinya dari belakang, khawatir ia diagungkan diantara manusia, khawatir diangkat-angkat diantara manusia, karena ia mengetahui hak-hak Allah sehingga dia mengetahui bahwa ia tidak akan mungkin menunaikan hak Allah, ia selalu kurang dalam bersyukur kepada Allah, dan ini merupakan salah satu bentuk dosa.</p>
<p>Diantara manusia ada yang merupakan qori’ Al-Qur’an dan tersohor karena keindahan suaranya, keindahan bacaannya, maka orang-orangpun berkumpul di sekitarnya. Diantara manusia ada yang alim, tersohor dengan ilmunya, dengan fatwa-fatwanya, dengan kesholehannya, kewaro’annya, maka orang-orangpun berkumpul di sekelilingnya.</p>
<p>Diantara mereka ada yang menjadi da’i yang terkenal dengan pengorbanannya dan perjuangannya dalam berdakwah maka orang-orang pun berkumpul di sekelilingnya karena Allah telah memberi petunjuk kepada mereka dengan perantaranya. Demikian juga ada yang terkenal dengan sikapnya yang selalu menunaikan amanah, ada yang tersohor dengan sikapnya yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan demikianlah… Posisi terkenalnya seseorang merupakan posisi yang sangat mudah menggelincirkan seseorang, oleh karena itu Ibnu Mas’ud mewasiatkan kepada dirinya sendiri dengan menjelaskan keadaan dirinya (yang penuh dengan dosa), dan menjelaskan apa yang wajib bagi setiap orang yang memiliki pengikut…</p>
<p>Hendaknya setiap orang yang tersohor (dengan kebaikan) atau termasuk orang yang terpandang untuk selalu merendahkan dirinya diantara manusia dan menampakkan hal itu, bukan malah untuk semakin naik derajatnya di hadapan manusia namun agar semakin terangkat derajatnya di hadapan Allah, dan ini semua kembali kepada keikhlasan, karena diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia namun agar tersohor dan ini adalah termasuk (tipuan) syaitan. Dan diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia dan Allah mengetahui hatinya bahwasanya ia benar dengan sikapnya itu, ia takut pertemuan dengan Allah, ia takut hari di mana dibalas apa-apa yang terdapat dalam dada-dada, hari di mana nampak apa yang ada disimpan di hati-hati, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah dan mereka tidak bisa menyembunyikan pembicaraan mereka di hadapan Allah.</p>
<p>Ini adalah pelajaran yang berharga bagi setiap yang dipanuti dan yang mengikuti. Adapun pengikut maka hendaknya ia tahu bahwa orang yang diikutinya itu tidak boleh diagungkan, namun hanyalah diambil faedah darinya berupa syari’at Allah atau faedah yang diambil oleh masyarakat, karena yang diagungkan hanyalah Allah kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Adapun manusia yang lain maka jika mereka baik maka bagi mereka rasa cinta pada diri kita. Dan hendaknya orang yang tersohor untuk selalu takut, rendah, dan mengingat dosa-dosanya, mengingat bahwa ia akan berdiri di hadapan Allah, ingat bahwasanya ia bukanlah orang yang berhak diikuti oleh dua orang di belakangnya.</p>
<p>Oleh karena itu tatkala Abu Bakar dipuji di hadapan manusia maka ia berkutbah setelah itu dan riwayat ini shahih sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad dan yang lainnya ia berkata: <em>“Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka persangkakan dan ampunkanlah apa-apa yang mereka tidak ketahui”</em>, ia mengucapkan doa ini dengan keras untuk mengingatkan manusia bahwasanya ia memiliki dosa sehingga mereka tidak berlebih-lebihan kepadanya. Apakah hal ini sebagaimana yang kita lihat pada kenyataan dimana orang yang diagungkan semakin menjadi-jadi agar diagungkan dirinya??, orang yang mengagungkan juga semakin mengagungkan orang yang diikutinya?? Ini bukanlah jalan para sahabat radhiallahu ‘anhum, Umar terkadang ujub dengan dirinya -dan dia adalah seorang khalifah, orang kedua yang dikabarkan dengan masuk surga setelah Abu Bakar-, maka ia pun memikul suatu barang di tengah pasar untuk merendahkan dirinya hingga ia tidak merasa dirinya besar.</p>
<p>Diantara kesalahan-kesalahan adalah sifat ujub (takjub dengan diri sendiri), yaitu seseorang memandang dirinya waw (hebat). Ada diantara salafus shalih yang jika hendak menyampaikan suatu (mau’idzoh) dan jika ia melihat orang-orang berkumpul maka iapun meninggalkan majelis tersebut, kenapa?, karena keselamatan jiwanya lebih utama dibandingkan keselamatan jiwa orang lain, karena ia melihat ramainya orang yang telah berkumpul dan ia menyadari bahwa dirinya mulai merasakan bahwa dirinya senang karena kehadiran mereka, yang pada diam memperhatikannya, dan memperhatikannya, maka iapun mengobati dirinya dengan meninggalkan mereka maka merekapun membicarakannya akibat hal tersebut, Namun yang paling penting adalah keselamatan jiwa dan hatinya dihadapan Allah. Dan keselamatan hatinya lebih utama dibandingkan keselamatan hati orang lain…”)). (Dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh yang berjudul Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud).</p>
<p><strong> </strong></p>
<h4><strong>G.  Riya itu samar</strong></h4>
<p>Sungguh benar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya riya itu samar sehingga terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah melakukan yang sebaik-baiknya. Dikisahkan bahwasanya ada seseorang yang selalu sholat berjama’ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga sholat di saf yang kedua, ia pun merasa malu kepada jama’ah yang lain yang melihatnya sholat di shaf yang kedua. Maka tatkala itu ia sadar bahwasanya selama ini senangnya hatinya, tenangnya hatinya tatkala sholat di shaf yang pertama adalah karena pandangan manusia. (Tazkiyatun Nufus hal 15).</p>
<p>Berkata Abu ‘Abdillah Al-Anthoki, “Fudhail bin ‘Iyadh bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri lalu mereka berdua saling mengingat (Allah) maka luluhlah hati Sufyan atau ia menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail, “Wahai Abu ‘Ali sesungguhnya aku sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini rahmat dan berkah bagi kita”, lalu Fudhail berkata kepadanya, “Namun aku, wahai Abu Abdillah, takut jangan sampai majelis kita ini adalah suatu mejelis yang mencelakakan kita “, Sufyan berkata, “Kenapa wahai Abu Ali?”, Fudhail berkata, “Bukankah engkau telah memilih perkataanmu yang terbaik lalu engkau menyampaikannya kepadaku, dan akupun telah memilih perkataanku yang terbaik lalu aku sampaikan kepadamu, berarti engkau telah berhias untuk aku dan aku pun telah berhias untukmu”, lalu Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada tangisannya yang pertama dan berkata, “Engkau telah menghidupkan aku semoga Allah menghidupkanmu”. (Tarikh Ad-Dimasyq 48/404).</p>
<p>Perhatikanlah wahai saudaraku… sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beruntung yang memperhatikan gerak-gerik hatinya, yang selalu memperhatikan niatnya. Terlalu banyak orang yang lalai dari hal ini kecuali yang diberi taufik oleh Allah. Orang-orang yang lalai akan memandang kebaikan-kebaikan mereka pada hari kiamat menjadi kejelekan-kejelekan, dan mereka itulah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya.</p>
<p><em>“Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az Zumar: 48).</em></p>
<p><em>“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfy: 104). </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">H.  Maroji’:</span></strong></p>
<p>AlQur’anul Karim dan terjemahan, Depag</p>
<p>Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, <em>Fathul Bari,</em> dar As-Salam, Riyadh, cetakan pertama Tahun 2000 masehi</p>
<p>Imam Nawawi, <em>Al-Minhaj syarh Sohih Muslim,</em> Dar Al-Ma’rifah</p>
<p>Ibnu Rojab, <em>Jami Al-‘Ulum wa Al-Hikam</em>, tahqiq Al-Arnauth</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Romadhoni, <em>Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar</em>, maktabah Al-Asholah</p>
<p>Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq Al-Banna, dar Ibnu Hazm, cetakan pertama</p>
<p>Ibnul Qoyyim, <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, tahqiq Syaikh Ali Hasan, Dar Ibnul Jauzi</p>
<p>Sulaiman Al-Asyqor, <em>Al-Ikhlash</em>, dar An-Nafais</p>
<p>Syaikh Al-Albani, <em>Silsilah Al-Ahadits As-Sohihah</em></p>
<p>Abdul Aziz bin Nasir Al-Jalil, <em>Aina Nahnu min Akhlak As-Salaf</em>, Dar Toibah</p>
<p>Syaikh Sholeh Alu Syaikh, <em>Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud</em>, transkrip dari ceramah</p>
<p>Ahmad Farid, <em>Tazkiyatun Nufus</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wawankardiyanto.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wawankardiyanto.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wawankardiyanto.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wawankardiyanto.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wawankardiyanto.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wawankardiyanto.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wawankardiyanto.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wawankardiyanto.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wawankardiyanto.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wawankardiyanto.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=222&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/31/222/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a481e2f560b8cfabef1498a8e5ea71b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wawankardiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ALAMAT WEB MUSLIM</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/29/alamat-web-muslim/</link>
		<comments>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/29/alamat-web-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 01:21:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[situs Islam]]></category>
		<category><![CDATA[situs muslim]]></category>
		<category><![CDATA[web muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[
ALAMAT WEB MUSLIM
UMUM
http://www.harunyahya.com/indo/index.php
http://www.tazkiaonline.com/
http://www.cybermuslim.net
http://www.forumlingkarpena.org/
http://www.usahamulia.net
http://www.mui.or.id
http://www.lintau.com/
http://www.surau.org/
http://www.portalinfaq.org
http://www.istecs.org
http://www.albarokah.or.id/
http://www.alhikmah.com/
http://www.imz.or.id/
http://www.dompetdhuafa.or.id/
http://www.boemi-islam.com/
http://www.dilibrary.net
http://www.klikjv.com/
http://www.liriknasyid.com
http://www.mer-c.org
http://www.kaffah.com
http://www.pkpu.or.id/
http://www.kotasantri.com
http://www.bapekis.or.id/
http://www.islamuda.com/
http://www.amanah.or.id/
http://www.ydsf.or.id/
http://www.ukhuwah.or.id
http://www.isnet.org
http://www.mualaf.com/
http://www.pesantrenvirtual.com/
http://www.sabili.co.id/
http://www.muslimblog.net
http://www.infopalestina.com/
http://www.indohalal.com
http://www.eramuslim.com
http://www.myquran.org
http://www.nasyid.com
http://www.ikadi.org
http://swaramuslim.net/
http://www.hidayatullah.com
http://www.alislam.or.id
http://www.gemainsani.co.id/
http://www.robbanipress.co.id/
http://www.muslimsources.com/
http://www.ummigroup.co.id/
http://www.ummigroup.co.id/annida/
http://www.radiotarbiyah.net/ar/modules/news/
http://www.qommunityradio.de/
http://www.kafemuslimah.com
http://www.ajangkita.com

LEMBAGA DAKWAH KAMPUS / MASJID KAMPUS / ORG INTRA KAMPUS MAHASISWA MUSLIM
http://www.hudzaifah.org
http://www.masjidits.com
http://www.masjidipb.com/
http://www2.gamais.itb.ac.id/
MAHASISWA / WARGA INDONESIA di LUAR NEGERI
http://www.indomuslim.net
http://www.kharisma.de
http://www.degromiest.nl
http://www.fahima.org
http://www.imsa.us/
http://imsa-sisters.imsa.us/
http://kpii.org/
http://akhwat.kpii.org
http://rydaviny.net
http://www.ppmr.org/
http://www.pmij.org
http://www.kibar.org.uk
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
http://www.majalahsaksi.com
ICMI
http://www.icmi.or.id/
KAMMI
http://www.kammi.or.id
http://www.kammi-jepang.net/
DAARUT TAUHIID
http://www.manajemenqolbu.com
http://www.cybermq.com/
http://www.dpu-online.com
PERSATUAN ISLAM
http://www.persis.or.id
AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH
http://www.alirsyad.or.id/
HIZBUT TAHRIR INDONESIA
http://www.al-islam.or.id
http://www.hizbut-tahrir.or.id
http://www.hayatulislam.net/
AL DAKWAH
http://www.aldakwah.org
AL SOFWAH
http://www.alsofwah.or.id
SALAFI
http://www.vbaitullah.or.id/
http://www.kajian.co.nr/
http://www.mediasalafy.com/
http://www.thullabul-ilmiy.or.id
http://www.hakekat.com/
http://fatwa-ulama.com/
http://www.assunnah.or.id/
http://www.muslim.or.id/
http://www.salafyoon.net/
http://www.salafindo.com/
http://www.jilbab.or.id/
http://www.almanhaj.or.id/
http://www.perpustakaan-islam.com/
http://asysyariah.com/
http://assunnah.mine.nu/
NAHDHATUL ULAMA
http://www.nu.or.id/
http://www.wahidinstitute.org/
http://www.gusmus.net
http://www.gusdur.net/
SIPILIS CS (sekularisme, pluralisme agama, dan liberalisme)
http://www.desantara.org/
http://www.islamemansipatoris.com/
http://www.lkis.or.id/
http://www.syarikat.org
http://www.rahima.or.id/
http://www.rifka-annisa.or.id/
http://islamlib.com/
SYI&#8217;AH
http://www.fatimah.org
http://www.muthahhari.or.id/
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=211&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="size-full wp-image-212 alignright" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images6.jpg?w=218&#038;h=218" alt="images" width="218" height="218" /></p>
<p>ALAMAT WEB MUSLIM</p>
<p>UMUM</p>
<p><a href="http://www.harunyahya.com/indo/index.php" target="_blank">http://www.harunyahya.com/indo/index.php</a><br />
<a href="http://www.tazkiaonline.com/" target="_blank">http://www.tazkiaonline.com/</a><br />
<a href="http://www.cybermuslim.net/" target="_blank">http://www.cybermuslim.net</a><br />
<a href="http://www.forumlingkarpena.org/" target="_blank">http://www.forumlingkarpena.org/</a><br />
<a href="http://www.usahamulia.net/" target="_blank">http://www.usahamulia.net</a><br />
<a href="http://www.mui.or.id/" target="_blank">http://www.mui.or.id</a><br />
<a href="http://www.lintau.com/" target="_blank">http://www.lintau.com/</a><br />
<a href="http://www.surau.org/" target="_blank">http://www.surau.org/</a><br />
<a href="http://www.portalinfaq.org/" target="_blank">http://www.portalinfaq.org</a><br />
<a href="http://www.istecs.org/" target="_blank">http://www.istecs.org</a><br />
<a href="http://www.albarokah.or.id/" target="_blank">http://www.albarokah.or.id/</a><br />
<a href="http://www.alhikmah.com/" target="_blank">http://www.alhikmah.com/</a><br />
<a href="http://www.imz.or.id/" target="_blank">http://www.imz.or.id/</a><br />
<a href="http://www.dompetdhuafa.or.id/" target="_blank">http://www.dompetdhuafa.or.id/</a><br />
<a href="http://www.boemi-islam.com/" target="_blank">http://www.boemi-islam.com/</a><br />
<a href="http://www.dilibrary.net/" target="_blank">http://www.dilibrary.net</a><br />
<a href="http://www.klikjv.com/" target="_blank">http://www.klikjv.com/</a><br />
<a href="http://www.liriknasyid.com/" target="_blank">http://www.liriknasyid.com</a><br />
<a href="http://www.mer-c.org/" target="_blank">http://www.mer-c.org</a><br />
<a href="http://www.kaffah.com/" target="_blank">http://www.kaffah.com</a><br />
<a href="http://www.pkpu.or.id/" target="_blank">http://www.pkpu.or.id/</a><br />
<a href="http://www.kotasantri.com/" target="_blank">http://www.kotasantri.com</a><br />
<a href="http://www.bapekis.or.id/" target="_blank">http://www.bapekis.or.id/</a><br />
<a href="http://www.islamuda.com/" target="_blank">http://www.islamuda.com/</a><br />
<a href="http://www.amanah.or.id/" target="_blank">http://www.amanah.or.id/</a><br />
<a href="http://www.ydsf.or.id/" target="_blank">http://www.ydsf.or.id/</a><br />
<a href="http://www.ukhuwah.or.id/" target="_blank">http://www.ukhuwah.or.id</a><br />
<a href="http://www.isnet.org/" target="_blank">http://www.isnet.org</a><br />
<a href="http://www.mualaf.com/" target="_blank">http://www.mualaf.com/</a><br />
<a href="http://www.pesantrenvirtual.com/" target="_blank">http://www.pesantrenvirtual.com/</a><br />
<a href="http://www.sabili.co.id/" target="_blank">http://www.sabili.co.id/</a><br />
<a href="http://www.muslimblog.net/" target="_blank">http://www.muslimblog.net</a><br />
<a href="http://www.infopalestina.com/" target="_blank">http://www.infopalestina.com/</a><br />
<a href="http://www.indohalal.com/" target="_blank">http://www.indohalal.com</a><br />
<a href="http://www.eramuslim.com/" target="_blank">http://www.eramuslim.com</a><br />
<a href="http://www.myquran.org/" target="_blank">http://www.myquran.org</a><br />
<a href="http://www.nasyid.com/" target="_blank">http://www.nasyid.com</a><br />
<a href="http://www.ikadi.org/" target="_blank">http://www.ikadi.org</a><br />
<a href="http://swaramuslim.net/" target="_blank">http://swaramuslim.net/</a><br />
<a href="http://www.hidayatullah.com/" target="_blank">http://www.hidayatullah.com</a><br />
<a href="http://www.alislam.or.id/" target="_blank">http://www.alislam.or.id</a><br />
<a href="http://www.gemainsani.co.id/" target="_blank">http://www.gemainsani.co.id/</a><br />
<a href="http://www.robbanipress.co.id/" target="_blank">http://www.robbanipress.co.id/</a><br />
<a href="http://www.muslimsources.com/" target="_blank">http://www.muslimsources.com/</a><br />
<a href="http://www.ummigroup.co.id/" target="_blank">http://www.ummigroup.co.id/</a><br />
<a href="http://www.ummigroup.co.id/annida/" target="_blank">http://www.ummigroup.co.id/annida/</a><br />
<a href="http://www.radiotarbiyah.net/ar/modules/news/" target="_blank">http://www.radiotarbiyah.net/ar/modules/news/</a><br />
<a href="http://www.qommunityradio.de/" target="_blank">http://www.qommunityradio.de/</a><br />
<a href="http://www.kafemuslimah.com/" target="_blank">http://www.kafemuslimah.com</a><br />
<a href="http://www.ajangkita.com/" target="_blank">http://www.ajangkita.com</a><br />
<span id="more-211"></span></p>
<p>LEMBAGA DAKWAH KAMPUS / MASJID KAMPUS / ORG INTRA KAMPUS MAHASISWA MUSLIM</p>
<p><a href="http://www.hudzaifah.org/" target="_blank">http://www.hudzaifah.org</a><br />
<a href="http://www.masjidits.com/" target="_blank">http://www.masjidits.com</a><br />
<a href="http://www.masjidipb.com/" target="_blank">http://www.masjidipb.com/</a><br />
<a href="http://www2.gamais.itb.ac.id/" target="_blank">http://www2.gamais.itb.ac.id/</a></p>
<p>MAHASISWA / WARGA INDONESIA di LUAR NEGERI</p>
<p><a href="http://www.indomuslim.net/" target="_blank">http://www.indomuslim.net</a><br />
<a href="http://www.kharisma.de/" target="_blank">http://www.kharisma.de</a><br />
<a href="http://www.degromiest.nl/" target="_blank">http://www.degromiest.nl</a><br />
<a href="http://www.fahima.org/" target="_blank">http://www.fahima.org</a><br />
<a href="http://www.imsa.us/" target="_blank">http://www.imsa.us/</a><br />
<a href="http://imsa-sisters.imsa.us/" target="_blank">http://imsa-sisters.imsa.us/</a><br />
<a href="http://kpii.org/" target="_blank">http://kpii.org/</a><br />
<a href="http://akhwat.kpii.org/" target="_blank">http://akhwat.kpii.org</a><br />
<a href="http://rydaviny.net/" target="_blank">http://rydaviny.net</a><br />
<a href="http://www.ppmr.org/" target="_blank">http://www.ppmr.org/</a><br />
<a href="http://www.pmij.org/" target="_blank">http://www.pmij.org</a><br />
<a href="http://www.kibar.org.uk/" target="_blank">http://www.kibar.org.uk</a></p>
<p>PARTAI KEADILAN SEJAHTERA</p>
<p><a href="http://www.majalahsaksi.com/" target="_blank">http://www.majalahsaksi.com</a></p>
<p>ICMI</p>
<p><a href="http://www.icmi.or.id/" target="_blank">http://www.icmi.or.id/</a></p>
<p>KAMMI</p>
<p><a href="http://www.kammi.or.id/" target="_blank">http://www.kammi.or.id</a><br />
<a href="http://www.kammi-jepang.net/" target="_blank">http://www.kammi-jepang.net/</a></p>
<p>DAARUT TAUHIID</p>
<p><a href="http://www.manajemenqolbu.com/" target="_blank">http://www.manajemenqolbu.com</a><br />
<a href="http://www.cybermq.com/" target="_blank">http://www.cybermq.com/</a><br />
<a href="http://www.dpu-online.com/" target="_blank">http://www.dpu-online.com</a></p>
<p>PERSATUAN ISLAM</p>
<p><a href="http://www.persis.or.id/" target="_blank">http://www.persis.or.id</a></p>
<p>AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH</p>
<p><a href="http://www.alirsyad.or.id/" target="_blank">http://www.alirsyad.or.id/</a></p>
<p>HIZBUT TAHRIR INDONESIA</p>
<p><a href="http://www.al-islam.or.id/" target="_blank">http://www.al-islam.or.id</a><br />
<a href="http://www.hizbut-tahrir.or.id/" target="_blank">http://www.hizbut-tahrir.or.id</a><br />
<a href="http://www.hayatulislam.net/" target="_blank">http://www.hayatulislam.net/</a></p>
<p>AL DAKWAH</p>
<p><a href="http://www.aldakwah.org/" target="_blank">http://www.aldakwah.org</a></p>
<p>AL SOFWAH</p>
<p><a href="http://www.alsofwah.or.id/" target="_blank">http://www.alsofwah.or.id</a></p>
<p>SALAFI</p>
<p><a href="http://www.vbaitullah.or.id/" target="_blank">http://www.vbaitullah.or.id/</a><br />
<a href="http://www.kajian.co.nr/" target="_blank">http://www.kajian.co.nr/</a><br />
<a href="http://www.mediasalafy.com/" target="_blank">http://www.mediasalafy.com/</a><br />
<a href="http://www.thullabul-ilmiy.or.id/" target="_blank">http://www.thullabul-ilmiy.or.id</a><br />
<a href="http://www.hakekat.com/" target="_blank">http://www.hakekat.com/</a><br />
<a href="http://fatwa-ulama.com/" target="_blank">http://fatwa-ulama.com/</a><br />
<a href="http://www.assunnah.or.id/" target="_blank">http://www.assunnah.or.id/</a><br />
<a href="http://www.muslim.or.id/" target="_blank">http://www.muslim.or.id/</a><br />
<a href="http://www.salafyoon.net/" target="_blank">http://www.salafyoon.net/</a><br />
<a href="http://www.salafindo.com/" target="_blank">http://www.salafindo.com/</a><br />
<a href="http://www.jilbab.or.id/" target="_blank">http://www.jilbab.or.id/</a><br />
<a href="http://www.almanhaj.or.id/" target="_blank">http://www.almanhaj.or.id/</a><br />
<a href="http://www.perpustakaan-islam.com/" target="_blank">http://www.perpustakaan-islam.com/</a><br />
<a href="http://asysyariah.com/" target="_blank">http://asysyariah.com/</a><br />
<a href="http://assunnah.mine.nu/" target="_blank">http://assunnah.mine.nu/</a></p>
<p>NAHDHATUL ULAMA</p>
<p><a href="http://www.nu.or.id/" target="_blank">http://www.nu.or.id/</a><br />
<a href="http://www.wahidinstitute.org/" target="_blank">http://www.wahidinstitute.org/</a><br />
<a href="http://www.gusmus.net/" target="_blank">http://www.gusmus.net</a><br />
<a href="http://www.gusdur.net/" target="_blank">http://www.gusdur.net/</a></p>
<p>SIPILIS CS (sekularisme, pluralisme agama, dan liberalisme)</p>
<p><a href="http://www.desantara.org/" target="_blank">http://www.desantara.org/</a><br />
<a href="http://www.islamemansipatoris.com/" target="_blank">http://www.islamemansipatoris.com/</a><br />
<a href="http://www.lkis.or.id/" target="_blank">http://www.lkis.or.id/</a><br />
<a href="http://www.syarikat.org/" target="_blank">http://www.syarikat.org</a><br />
<a href="http://www.rahima.or.id/" target="_blank">http://www.rahima.or.id/</a><br />
<a href="http://www.rifka-annisa.or.id/" target="_blank">http://www.rifka-annisa.or.id/</a><br />
<a href="http://islamlib.com/" target="_blank">http://islamlib.com/</a></p>
<p>SYI&#8217;AH</p>
<p><a href="http://www.fatimah.org/" target="_blank">http://www.fatimah.org</a><br />
<a href="http://www.muthahhari.or.id/" target="_blank">http://www.muthahhari.or.id/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wawankardiyanto.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wawankardiyanto.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wawankardiyanto.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wawankardiyanto.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wawankardiyanto.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wawankardiyanto.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wawankardiyanto.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wawankardiyanto.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wawankardiyanto.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wawankardiyanto.wordpress.com/211/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=211&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/29/alamat-web-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a481e2f560b8cfabef1498a8e5ea71b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wawankardiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN PLURALIS DAN ISLAM</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/24/pendidikan-pluralis-dan-islam/</link>
		<comments>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/24/pendidikan-pluralis-dan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 08:24:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam rahmatan lil alamin]]></category>
		<category><![CDATA[inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[pluralitas]]></category>
		<category><![CDATA[rahmatan lil alamin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[PENDIDIKAN PLURALIS DAN ISLAM (Menuju Pendidikan Agama Islam Berbasis Pluralitas)

Latar Belakang
Banyak para ‘ahli dan pemuka agama’ telah berusaha dengan segala cara demi terciptanya hubungan yang mesra dan harmonis diantara umat beragama, di negeri Indonesia yang terkenal sangat pluralistik ini. Melalui tulisan-tulisan baik buku, majalah, jurnal bahkan melalui seminar dan mimbar-mimbar ‘khutbah’—mereka senantiasa menyarankan akan arti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=196&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-197" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images4.jpg?w=178&#038;h=134" alt="images" width="178" height="134" />PENDIDIKAN PLURALIS</strong><strong> DAN ISLAM</strong> (Menuju Pendidikan Agama Islam Berbasis Pluralitas)</p>
<p align="center">
<p>Latar Belakang</p>
<p>Banyak para ‘ahli dan pemuka agama’ telah berusaha dengan segala cara demi terciptanya hubungan yang mesra dan harmonis diantara umat beragama, di negeri Indonesia yang terkenal sangat pluralistik ini. Melalui tulisan-tulisan baik buku, majalah, jurnal bahkan melalui seminar dan mimbar-mimbar ‘khutbah’—mereka senantiasa menyarankan akan arti pentingnya kerjasama dan dialog antar umat beragama. Meskipun  nampaknya, saran-saran mereka belum memiliki ‘efek’ yang begitu menggembirakan.</p>
<p>Seringnya konflik dan pertikaian yang menggunakan ‘baju agama’, merebaknya aksi-aksi teroris, pembakaran dan pengrusakan sarana dan tempat-tempat ibadah di negara kita, masih saling curiga mencurigai antara umat Islam dan Kristen serta kepada agama-agama lainya, cukup membuktikan kegagalan para penganjur ‘perdamaian’ tersebut. Meskipun begitu, ‘doktrin’ perdamaian dan persahabatan ini harus senantiasa kita teruskan, kemudian kita coba kembangkan dan dakwahkan, melalui strategi-strategi baru yang lebih efektif dan relevan, kepada saudara-saudara kita, teman-teman dan peserta didik kita kapan pun dan dimana pun kita berada.</p>
<p>Untuk memperoleh keberhasilan bagi terealisasinya tujuan mulia yaitu perdamaian dan persaudaraan abadi di antara orang-orang yang pada realitasnya memang memiliki agama dan iman berbeda, perlulah kiranya adanya keberanian mengajak mereka  melakukan perubahan-perubahan di bidang pendidikan —terutama sekali melalui kurikulumnya yang berbasis keanekaragaman (pluralistas). Sebab, melalui kurikulum seperti ini, memungkinkan untuk bisa  ‘membongkar’ teologi agama masing-masing yang selama ini cenderung ditampilkan secara eklusif dan dogmatis. Sebuah teologi yang biasanya hanya mengklaim bahwa hanya agamanya yang bisa membangun kesejahteraan duniawi dan mengantar manusia dalam surga Tuhan. Pintu dan kamar surga itu pun hanya satu yang tidak bisa dibuka dan dimasuki kecuali dengan agama yang dipeluknya.</p>
<p>Padahal berteologi semacam itu, harus kita akui, sebagai sesuatu yang sangat menghawatirkan  dan dapat mengganggu keharmonisan masyarakat agama-agama dalam era pluralistik sekarang. Suatu era dimana seluruh masyarakat dengan segala unsurnya dituntut untuk dapat saling tergantung dan menaggung nasib secara bersama-sama demi terciptanya perdamaian abadi. Disinilah letak ‘tantangan’ bagi agama (termasuk Islam) untuk kembali mendefenisikan dirinya di tengah agama-agama lain. Atau dengan meminjam bahasanya John Lyden, seorang ahli agama-agama, adalah “<em>what should one think about religions other than one’s own</em>? Apa yang harus dipikirkan oleh seorang muslim terhadap non-Muslim. Apakah masih sebagai seorang musuh atau sebagai seorang sahabat. Tentu saja masih adanya anggapan satu agama dengan yang lain sebagai musuh, harus dibuang jauh-jauh. Bukankah pada hakikatnya kita semua adalah sebagai seorang ‘saudara’ dan ‘sahabat’ dalam menghampiri yang mutlak? Bahkan, Islam melalui Al-Qur’an dan Hadistnya juga mengajarkan sikap-sikap toleran seperti ini bukan?</p>
<p><span id="more-196"></span></p>
<p>Untuk bisa memperoleh pemahaman yang sejuk dan bisa menganggap orang lain sebagai ‘partner’ dalam menuju Tuhan, antara Islam dan non-Muslim di samping harus menampilkan teologi yang inklusif dan ramah, mereka juga harus memasuki dialog antaragama dengan mencoba memahami cara baru yang mendalam mengenai bagaimana Tuhan mempunyai jalan ‘penyelamatan’. Dalam konteks ini, tentu saja pengajaran agama Islam yang diajarkan di sekolah-sekolah harus memuat kurikulum berbasis keanekaragaman. Pendidikan agama Islam yang diberikan kepada siswa tidak menciptakan suatu pemahaman yang tunggal, melainkan kurikulum pendidikan yang dapat menunjang proses siswa menjadi manusia yang demokratis, pluralis dan menekankan penghayatan hidup serta refleksi untuk menjadi manusia yang utuh. Kurikulumnya mestilah mencakup subjek seperti: toleransi, Aqidah Inklusif, Fiqih Muqarran dan perbandingan agama serta tema-tema tentang perbedaan ethno-kultural dan agama: bahaya diskriminasi: penyelesaian konflik dan mediasi: HAM; demokrasi dan pluralitas; kemanusiaan universal dan subjek-subjek lain yang relevan. Inilah sebuah kurikulum,  yang mampu menghantarkan peserta didik untuk melakukan dialog antaragama dan mampu memasuki persoalan-persoalan teologis dan melibatkan iman. Karena dialog yang sejati mustahil dilakukan tanpa memasuki persoalan-persoalan teologis dan melibatkan iman. Sehingga pada akhirnya setiap umat Islam akan mampu melakukan apa yang disebut John S. Dunne dengan “melintas” (“<em>passing over</em>”), melintas dari satu budaya kepada budaya lain, dari satu cara hidup kepada cara hidup lain, dari satu agama kepada agama lain. Ini diikuti oleh proses yang sama dan berlawanan yang kita sebut “kembali” (“<em>coming back</em>”), kembali dengan wawasan baru kepada budaya sendiri, cara hidup sendiri, agama sendiri.</p>
<p>Perlunya memperbaharui dan mengembangkan kurikulum PAI yang berbasis keanekaragaman tersebut dengan suatu pertimbangan kurikulum dan metode merupakan elemen penting dalam proses belajar mengajar. Berhasil dan tidaknya suatu tujuan pendidikan tergantung kurikulum yang dipersiapkan dan metode yang digunakannya. Tidak relevannya kurikulum dan metode yang dikembangkan di suatu sekolah dengan realitas kehidupan yang dialami oleh siswa, menyebabkan siswa teraliniasi dari lingkungannya alias tidak bisa peka terhadap perkembangan yang terjadi disekitarnya. Hal ini berarti, dalam konteks globalisasi, sekolah tersebut telah “gagal” untuk mengantarkan peserta didiknya untuk menjadi “anak” yang cerdas, tanggap dan dapat bersaing dipasaran bebas.</p>
<p>Selain itu, pentingnya mereformasi kurikulum PAI dengan menampilkan wajah Islam toleran dapat dijelaskan dari sudut pandang filsafat perenialisme, esensialisme dan progresifisme. Dalam pandangan perenialisme kurikulum adalah &#8220;<em>construct</em>&#8221; yang dibangun untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan atau dikembangkan. Sementara dalam prespektif filsafat progresivisme, posisi kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa depan di mana kehidupan masa lalu, masa sekarang, dan berbagai rencana pengembangan dan pembangunan bangsa dijadikan dasar untuk mengembangkan kehidupan masa depan. Dari sinilah sangat memungkinkan untuk mengajarkan prinsip –prinsip ajaran Islam yang humanis, demokratis dan berkeadilan kepada peserta didik. Sebuah prinsip-prinsip ajaran Islam yang sangat relevan untuk memasuki masa depan dunia yang ditandai dengan adanya keanekaragaman budaya dan agama.<br />
<strong>Pluralisme dan Pluralitas dalam Kritik Umat Islam </strong></p>
<p>Istilah Pluralisme (agama) sebenarnya mengandung 2 (dua) makna sekaligus, Pertama, deskripsi realitas bahwa di sana ada keanekaragaman agama. Kedua, perspektif atau pendirian filosofis tertentu menyikapi realitas keanekaragaman agama yang ada. Pluralisme modern memang dimulai dari kalangan Kristen yang melepaskan pandangan bahwa di luar Kristus tak ada keselamatan. Fatwa ini baru diumumkan setelah Konsili Vatikan ke II tahun 1965. Sikap ini memerlukan pembenaran ilmiah yang rasional. Karena itulah maka dikembangkan teori pluralisme agama yang dilakukan oleh teolog-teolog, seperti John Hick, Hans Kung dan Leonard Swidler, untuk menyebut tiga tokoh nyang terkemuka. Pandangan pluralisme ternyata sudah lama ditemukan oleh para sufi, seperti al Hallaj, Ibn al Arabi dan Jalaluddin Rumi. Belakangan di zaman modern, teori pluralisme dalam Islam juga dikembangkan oleh pemikir-pemikir Muslim kontemporer, seperti F. Schuon, Sayed Hossen Nasr, Hasan Askari dan Abdulaziz Sachedina.</p>
<p>Menurut Josh McDowell definisi pluralisme bisa dimaknai menjadi dua macam; Pertama, pluralisme tradisional (<em>Social Pluralism</em>) yang kini disebut <em>negative tolerance</em>. Pluralisme ini didefinisikan sebagai <em>respecting others beliefs and practices without sharing them</em> (menghormati keimanan dan praktik ibadah pihak lain tanpa ikut serta (<em>sharing</em>) bersama mereka). Kedua, pluralisme baru (<em>Religious Pluralism</em>) disebut dengan <em>positive tolerance</em> yang menyatakan bahwa <em>“every single individual’s beliefs, values, lifestyle, and truth claims are equal</em>” (setiap keimanan, nilai, gaya hidup dan klaim kebenaran dari setiap individu, adalah sama (equal).  (http : // www. ananswer. org/mac/ answering pluralism. html, diakses 11/06/05).</p>
<p>Dari pengertian pluralisme agama McDowell di atas, menurut M. Shiddiq Al-Jawi seorang alumnus dari pondok pesantren Al Azhar dalam artikelnya di Informatika, 10 Januari 2006, pluralisme jelas bukan sekedar fakta, tapi sudah menyangkut opini, yaitu suatu sikap atau pandangan filosofis tertentu dalam menilai fakta. Pendirian filosofis itu nampak dari penilaian, bahwa semua keimanan, nilai, gaya hidup dan klaim kebenaran, adalah sama/setara (equal). Maka dari itu, adalah suatu penyesatan atau disinformasi yang disengaja, kalau dikatakan bahwa pluralisme adalah hukum Tuhan atau <em>sunnatullah</em>. Benar, bahwa adanya keanekaragaman realitas, itu sunnatullah. Tapi perspektif atau pendirian filosofis tertentu menyikapi realitas plural itu, jelas bukan sunnatullah yang bersifat universal, melainkan suatu pendapat yang unique dan mengandung nilai atau pandangan hidup tertentu (<em>value-bound</em>).</p>
<p>Sebagai jalan keluar dan upaya klarifikasi, sebaiknya digunakan dua istilah, yaitu pluralitas, yang menunjuk pada fakta adanya kemajemukan, dan pluralisme, yang menunjuk pada opini atau perspektif tertentu dalam memandang realitas plural yang ada.</p>
<p>Terlepas dari itu, wacana pluralisme agama yang marak dewasa ini memang patut dikritisi secara cermat. Sebab di samping ada kerancuan pengertian seperti  dijelaskan di atas (dalam pluralisme itu terkandung deskripsi fakta dan pendirian filosofis sekaligus), juga ada beberapa hal lain yang patut untuk dikritisi. Setidaknya ada 4 (empat) poin kritik terhadap pluralisme agama menurut M. Shiddiq Al-Jawi:</p>
<p><em>Pertama</em>, aspek normatif. Secara normatif, yaitu dari kacamata Aqidah Islamiyah, pluralisme agama bertentangan secara total dengan Aqidah Islamiyah. Sebab pluralisme agama menyatakan bahwa semua agama adalah benar. Jadi, Islam benar, Kristen benar, Yahudi benar, dan semua agama apa pun juga adalah sama-sama benar. Ini menurut Pluralisme. Adapun menurut Islam, hanya Islam yang benar (QS 3:19), agama selain Islam adalah tidak benar dan tidak diterima oleh Allah SWT (QS 3:85).</p>
<p>Biasanya para penganjur pluralisme berdalil dengan QS 2:62 dan QS 5:69. Dalam QS 2:62 Allah berfirman (artinya) :</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang Yahudi, Nashrani, dan Shabiin, barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala dari Tuhan mereka dan tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (QS Al-Baqarah : 62)</em></p>
<p>Ayat itu oleh kaum pluralis-inklusif, dipahami sebagai pembenaran agama selain Islam, yaitu Yahudi, Kristen, dan Shabiin. Jadi, Islam, Yahudi, Kristen, Shabiin sama-sama benarnya.</p>
<p>Pemahaman seperti itu salah, karena dua alasan. Pertama, pemahaman itu mengabaikan ayat-ayat lain yang menjelaskan kekafiran golongan Yahudi dan Nasrani, misalnya ayat dalam QS Al-Bayyinah atau QS 5:72-75. Jadi, pemahaman kaum pluralis itu didasarkan pada metode penafsiran yang mengucilkan satu ayat, lalu ayat itu dipenjara dalam satu kotak sempit (bernama pluralisme), sementara ayat-ayat lain diabaikan begitu saja. Kedua, orang Yahudi, Kristen, dan Shabiin yang selamat, maksudnya adalah mereka yang beriman dan menjalankan amal saleh secara benar sebelum datangnya Muhammad SAW. Bukan setelah diutusnya Muhammad SAW (orang Kristen dan Yahudi sekarang). Sababun Nuzul ayat ini sebagaimana diriwayatkan Al-Wahidi dan As-Suyuthi, adalah adanya pertanyaan dari sahabat bernama Salman Al-Farisi RA kepada Nabi SAW tentang nasib kawan-kawannya dulu (Kristen) sebelum dia masuk Islam. Nabi menjawab, “Mereka di neraka.” Lalu turunlah ayat di atas yang menerangkan nasib baik mereka kelak di Hari Kiamat (Lihat kitab <em>Lubabun Nuqul</em>, As Suyuthi, dan <em>Asbabun Nuzul</em>, Al-Wahidi)</p>
<p><em>Kedua</em>, aspek orisinalitas. Asal-usul paham pluralisme bukanlah dari umat Islam, tapi dari orang-orang Barat, yang mengalami trauma konflik dan perang antara Katolik dan Protestan, juga Ortodok. Misalnya pada 1527, di Paris terjadi peristiwa yang disebut <em>The St Bartholomeus Day‘s Massacre</em>. Pada suatu malam di tahun itu, sebanyak 10.000 jiwa orang Protestan dibantai oleh orang Katolik. Peristiwa mengerikan semacam inlah yang lalu mengilhami revisi teologi Katolik dalam Konsili Vatikan II (1962-1965). Semula diyakini bahwa <em>extra ecclesiam nulla salus (outside the church no salvation), </em>tak ada keselamatan di luar gereja. Lalu diubah, bahwa kebenaran dan keselamatan itu bisa saja ada di luar gereja (di luar  agama Katolik/Protestan). Jadi, paham pluralisme agama ini tidak memiliki akar sosio historis yang genuine dalam sejarah dan tradisi Islam, tapi diimpor dari setting sosio historis kaum Kristen di Eropa dan AS.</p>
<p><em>Ketiga</em>, aspek inkonsistensi gereja. Andaikata hasil Konsili Vatikan II diamalkan secara konsisten, tentunya gereja harus menganggap agama Islam juga benar, tidak hanya agama Kristen saja yang benar. Tapi, fakta menunjukkan bahwa gereja tidak konsisten. Buktinya, gereja terus saja melakukan kristenisasi yang menurut mereka guna menyelamatkan domba-domba yang sesat (baca: umat Islam) yang belum pernah mendengar kabar gembira dari Tuhan Yesus. Kalau agama Islam benar, mengapa kritenisasi terus saja berlangsung? Ini artinya, pihak Kristen sendiri tidak konsisten dalam menjalankan keputusan Konsili Vatikan II tersebut.</p>
<p><em>Keempat</em>, aspek politis. Secara politis, wacana pluralisme agama dilancarkan di tengah dominasi kapitalisme yang Kristen, atas Dunia Islam. Maka dari itu, arah atau sasaran pluralisme patut dicurigai dan dipertanyakan, kalau pluralisme tujuannya adalah untuk menumbuhkan hidup berdampingan secara damai (<em>co-existence peacefull</em>), toleransi, dan hormat menghormati antar umat beragama. Menurut Amnesti Internasional, AS adalah pelanggar HAM terbesar di dunia. Sejak Maret 2003 ketika AS menginvasi Irak, sudah 100.000 jiwa umat Islam yang dibunuh oleh AS. Jadi, pertanyaannya, mengapa bukan AS yang menjadi sasaran penyebaran paham pluralisme? Mengapa umat Islam yang justru dipaksa bertoleransi terhadap arogansi AS? Bukankah AS yang sangat intoleran kepada bangsa dan umat lain, khususnya umat Islam? Bukankah tentara AS di Guantonamo (Kuba) yang membuang Al Qur‘an ke dalam WC? Mengapa umat Islam yang justru dipaksa ramah, tersenyum, dan toleran kepada AS, padahal justru umat Islamlah yang menjadi korban hegemoni AS yang biadab, kejam, brutal, sadis, dan tak berperikemanusiaan?</p>
<p>Dari keempat kritiknya terhadap pluralisme di atas, M. Shiddiq Al-Jawi berpendapat kiranya dapat dipetik suatu kesimpulan yang berharga, bahwa ide pluralisme agama wajib ditolak. Sebab ide tersebut bertentangan secara normatif dengan Aqidah Islam, tidak orisinal alias palsu karena tumbuh dalam setting sosio historis Barat, diimplementasikan secara inkonsisten, dan membahayakan umat Islam secara politis, karena akan membius umat agar tidak sadar telah diinjak-injak oleh hegemoni AS. Tujuan akhir dari konsep pluralisme agama sangat mudah dibaca, yaitu agar umat Islam hancur Aqidahnya, sehingga hegemoni kapitalisme yang kafir atas Dunia Islam semakin paripurna dan total. Karena Barat sangat memahami, bahwa Aqidah Islam adalah rahasia atau kunci vitalitas dan kebangkitan umat Islam. Maka kalau tidak segera dihancurkan, umat Islam akan bisa menjadi potensi ancaman serius untuk hegemoni Barat di masa datang. Maka sebelum umat Islam bangkit, Aqidah Islam dalam dada mereka harus dihancurkan dan dimusnahkan, agar umat Islam takluk dan tunduk patuh sepenuh-penuhnya kepada kaum penjajah kafir. Itulah tujuan sebenarnya dari wacana pluralisme agama ini, tidak ada yang lain.</p>
<p>Memang nafas kecurigaan besar yang tergambarkan dari empat refleksi M. Shiddiq Al-Jawi dalam menyikapi paham pluralisme agama tersebut dalam satu sisi dapat dibenarkan dan dipahami, tetapi dalam sisi yang lain ada “ketidakbenaran” yang mesti kita cermati yaitu sikap phobia berlebihan terhadap segala hal yang berbau Barat yang sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan. Memang kita umat Islam perlu waspada terhadap perang peradaban (<em>gazwul fikri</em>) yang sangat luar biasa dalam abad 21 ini, terlebih-lebih terhadap wacana perkembangan teori-teori dan konsep-konsep sosial. Tetapi kewaspadaan yang berlebihan hanya akan menghancurkan kita sendiri sebab hal itu akan memunculkan sikap pembelaan yang menutup diri (<em>eklusifisme</em>) sempit yang sudah bukan jamannya itu kita lakukan. Kewaspadaan yang baik perlu diimbangi dengan kewaskitaan yang baik pula. Waspada yang waskita adalah rumus dalam mengkritisi perang peradaban saat ini.</p>
<p>Bagi penulis ada beberapa kritik terhadap Pluralisme yang lebih baik dilakukan terhadapnya, Nasir Dimyati misalnya dari versi Syiah dalam artikelnya yang berjudul <em>Pluralisme Agama</em> tertanggal 24 April 2007 di http//islamalternatif.com/t_blank, secara panjang lebar mengkritisi fenomena pluralisme. John Hick –orang pertama yang mencetuskan atau yang menuangkan pluralisme—dalam bukunya berusaha memberi argumen atas teori ini, yaitu sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Dengan bersandar pada pemisahan antara nomena dan fenomena (antara kenyataan apa adanya dan kenyataan yang muncul di benak manusia) dan pada anggapan bahwa sesungguhnya inti semua agama adalah pengaruhnya dalam merubah kehidupan manusia, maka agama tidak lebih hanya sebuah ekspresi psikologis manusia yang dituangkan dalam penafsiran.</li>
</ol>
<p>Berangkat dari tidak terbatasnya kebenaran mutlak atau puncak kenyataan, maka segala macam gambaran dalam agama tentang kenyataan itu sampai batas-batas tertentu bisa dibenarkan. Hal ini bisa dianalogikan dengan cerita gajah dan beberapa orang buta. Mereka, ketika disuruh menceritakan bentuk gajah, akan memberi jawaban yang berbeda-beda.</p>
<p>Ada yang menyatakan bahwa gajah seperti pohon besar (karena ia hanya menyentuh kaki gajah), ada yang mengatakan bahwa gajah seperti kipas tebal dan lebar (karena ia memegang kuping gajah), dan lain-lain. Pada hakikatnya kata-kata yang digunakan untuk menceritakan ekspresi seseorang akan kenyataan adalah metafora belaka yang cepat mengubah kehidupan manusia, begitu pula halnya agama.</p>
<ol>
<li>Karena Tuhan Maha baik dan merindukan hamba-Nya, konsekuensinya adalah Dia harus menunjukkan hamba-Nya kepada jalan yang benar sehingga mencapai keselamatan. Oleh karena itu, tidak bisa dikatakan bahwa kebenaran hanya satu atau dua dan yang lain dalah kesesatan sementara disaat yang sama diyakini adanya kebaikan, dan petunjuk Tuhan yang tidak terbatas.</li>
<li>Variasi dalam memahami teks suci agama terjadi karena dua hal: kebisuan teks agama –seperti alam natural yang pada hakikatnya adalah sesuatu yang samar dan dapat diartikan dengan beberapa macam makna- dan pengaruh asumsi-asumsi pribadi dalam menafsirkan teks agama. Oleh karena itu, semua penafsiran itu menggambarkan kebenaran dalam teks tersebut. Akibatnya, tidak ada satu penafsiran pun yang dapat mengaku dirinya telah menggambarkan semua kebenaran dalam teks tersebut karena hal ini bertentangan dengan samarnya semua teks.</li>
</ol>
<p>Berbeda dengan pluralisme sebagai ideology yang ditolak oleh Islam, konsep pluralitas lebih diterima, dalam Alquran sendiri, pluralitas adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis hukum Allah atau <em>Sunnah Allah</em>, dan bahwa hanya Allah yang tahu dan dapat menjelaskan, di hari akhir nanti, mengapa manusia berbeda satu dari yang lain, dan mengapa jalan manusia berbeda-beda dalam beragama. Dalam al-Qura’an disebutkan, yang artinya: “Untuk masing-masing dari kamu (umat manusia) telah kami tetapkan Hukum (Syari’ah) dan jalan hidup (minhaj). Jika Tuhan menghendaki, maka tentulah ia jadikan kamu sekalian umat yang tunggal (monolitk). Namun Ia jadikan kamu sekalian berkenaan dengan hal-hal yang telah dikarunia-Nya kepada kamu. Maka berlombalah kamu sekalian untuk berbagai kebajikan. Kepada Allah-lah tempat kalian semua kembali; maka Ia akan menjelaskan kepadamu sekalian tentang perkara yang pernah kamu perselisihkan” (QS 5: 48).</p>
<p>Dalam kaitannya yang langsung dengan prinsip inilah Allah, di dalam Alquran, menegur keras Nabi Muhammad SAW ketika ia menunjukkan keinginan dan kesediaan yang menggebu untuk memaksa manusia menerima dan mengikuti ajaran yang disampaikanya, sebagai berikut: “Jika Tuhanmu menghendaki, maka tentunya manusia yang ada di muka bumi ini akan beriman. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia, di luar kesediaan mereka sendiri? (QS 10: 99).</p>
<p>Demikianlah beberapa prinsip dasar Alqur’an yang berkaitan dengan masalah pluralisme, pluralitas dan toleransi. Paling tidak, dalan dataran konseptual, Alquran telah memberi resep atau arahan-arahan yang sangat diperlukan bagi manusia Muslim untuk memecahkan masalah kemanusiaan universal, yaitu realitas pluralitas keberagamaan manusia dan menuntut supaya bersikap toleransi terhadap kenyataan tersebut demi tercapainya perdamaian di muka bumi. Karena Islam menilai bahwa syarat untuk membuat keharmonisan adalah pengakuan terhadap komponen-komponen yang secara alamiah berbeda.</p>
<p>Melihat peran pentingnya sikap pluralitas dan toleran untuk bisa mengakui dan menghormati  “perbedaan” dan sikap seperti ini ternyata memiliki landasan teologis dari Al-Qur’an maka, konsep pluralitas seperti ini sangat penting untuk ditekankan pada peserta didik melalui pendidikan agama, sebab persoalan teologi ini sampai sekarang masih menimbulkan kebingungan di antara agama-agama. Konsep teologi yang dapat diakui oleh umat Islam dalam hubungannya dengan pluralitas adalah teologi inklusifisme bukan teologi pluralisme. Teologi inklusif ini setidaknya masih mengedepankan sikap-sikap toleran, saling menghormati, pengakuan pluralitas dengan tidak mencampuradukkan dan melebur keyakinan agama masing-masing seperti yang diwajibkan dalam teologi pluralisme.</p>
<p>Demi tujuan itu, maka pendidikan sebenarnya masih dianggap sebagai instrumen penting. Sebab, “pendidikan” sampai sekarang masih diyakini mempunyai peran besar dalam membentuk karakter individu-individu yang dididiknya, dan mampu menjadi “guiding light” bagi generasi muda penerus bangsa. Dalam konteks inilah, pendidikan agama sebagai media penyadaran umat perlu membangun teologi inklusif dan pluralis, demi harmonisasi agama-agama (yang telah menjadi kebutuhan masyarakat agama sekarang).</p>
<p>Hal tersebut dengan suatu pertimbangan, bahwa salah satu peran dan fungsi pendidikan agama diantaranya adalah untuk meningkatkan keberagamaan peserta didik dengan keyakinan agama sendiri, dan memberikan kemungkinan keterbukaan untuk mempelajari dan mempermasalahkan agama lain sebatas untuk menumbuhkan sikap toleransi (Sealy, 1986: 43-44). Ini artinya, pendidikan agama pada prinsipnya, juga ikut andil dan memainkan peranan yang sangat besar dalam menumbuh-kembangkan sikap-sikap inklusif dalam diri siswa.</p>
<p>Apalagi, kalau mencermati pernyatan yang telah disampaikan oleh Alex R. Rodger (1982: 61) bahwa “pendidikan agama merupakan bagian integral dari pendidikan pada umumnya dan berfungsi untuk membantu perkembangan pengertian yang dibutuhkan bagi orang-orang yang berbeda iman, sekaligus juga untuk memperkuat ortodoksi keimanan bagi mereka”. Artinya pendidikan agama adalah sebagai wahana untuk mengekplorasi sifat dasar keyakinan agama di dalam proses pendidikan dan secara khusus mempertanyakan adanya bagian dari pendidikan keimanan dalam masyarakat. pendidikan agama dengan begitu, seharusnya mampu merefleksikan persoalan pluralitas, dengan mentransmisikan nilai-nilai yang dapat menumbuhkan sikap toleran, terbuka dan kebebasan dalam diri generasi muda.</p>
<p>Organisasi sekolah dan atmosfirnya harus mampu mewujudkan jalan menuju kehidupan secara personal dan sosial. Sekolah harus dapat mempraktekkan sesuatu yang telah diajarkanya. Dengan demikian, lingkungan sekolah tersebut dapat dijadikan percontohan oleh murid-murid untuk <em>learning by doing</em>. Di dalam sekolah, peserta didik seharusnya dapat mempelajari adanya kurikulum-kurikulum umum di dalam kelas-kelas heterogen. Hal ini diperlukan guna mendorong adanya persamaan ideal, membangun perasaan persamaan, dan memastikan adanya input dari peserta didik yang memiliki latar belakang berbeda.</p>
<p>Adanya serentetan kerusuhan-kerusuhan yang berbau SARA di Indonesia, menunjukkan bahwa secara kolektif kita sebenarnya tidak mau belajar tentang bagaimana hidup secara bersama secara rukun. Bahkan, dapat dikatakan, agen-agen sosialisasi utama seperti keluarga dan lembaga pendidikan, tampaknya penanaman sikap toleransi-inklusif belum optimal diajarkan untuk hidup bersama dalam masyarakat plural. Di sinilah letak pentingnya pengoptimalan pengajaran teologi inklusif yang plural melalui pendidikan agama. Sehingga, masyarakat Indonesia akan mampu membuka visi pada cakrawala yang semakin luas, mampu melintas batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama. Inilah pendidikan akan nilai-nilai dasar kemanusiaan untuk perdamaian, kemerdekaan, dan solidaritas.</p>
<p>Melalui pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam berbasis kemajemukan dengan mempertimbangkan pengembangan komponen-komponen, bahan, metode, peserta didik, media, lingkungan, dan sumber belajar Maksud dan tujuan pendidikan pluralis, dengan begitu akan dapat dijadikan sebagai jawaban atau solusi alternatif bagi keinginan untuk merespon persoalan-persoalan di atas. Sebab dalam pendidikannya, pemahaman Islam yang hendak dikembangkan oleh pendidikan berbasis pluralis adalah pemahaman dan pemikiran yang bersifat inklusif.</p>
<p>Melalui sistem pendidikannya, sebuah pendidikan yang berbasis pluralis akan berusaha memelihara dan berupaya menumbuhkan pemahaman yang inklusif pada peserta didik. Dengan  suatu orientasi untuk memberikan penyadaran terhadap para peserta didiknya akan pentingnya saling menghargai, menghormati dan bekerja sama dengan agama-agama lain.</p>
<h3>Prinsip-Prinsip Pluralitas dalam Islam</h3>
<p>1. Pluralitas dalam Islam</p>
<p>Dalam Islam berteologi secara inklusif dengan menampilkan wajah agama secara santun dan ramah sangat dianjurkan. Islam bahkan memerintahkan umat Islam untuk dapat berinteraksi terutama dengan agama Kristen dan Yahudi dan dapat menggali nilai-nilai keagamaan melalui diskusi dan debat intelektual/teologis secara bersama-sama dan dengan cara yang sebaik-baiknya (QS al-Ankabut/29: 46), tentu saja tanpa harus menimbulkan <em>prejudice</em> atau kecurigaan di antara mereka.</p>
<p>Karena menurut al-Qur’an sendiri, sebagai sumber normatif bagi suatu teologi inklusif. Karena bagi kaum muslimin, tidak ada teks lain yang menempati posisi otoritas mutlak dan tak terbantahkan selain Alqur’an. Maka, Alqur’an merupakan kunci untuk menemukan dan memahami konsep persaudaraan Islam-terhadap agama lain&#8212;pluralitas  adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis hukum Allah atau <em>Sunnah Allah</em>, sebagaimana firman Allah SWT: “ <em>Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui  Lagi Maha Mengenal</em>” (Al Hujurat 49: 13).</p>
<p>Kalau kita membaca dari ayat tersebut, secara kritis dan penuh keterbukaan, pastilah kita akan menemukan suatu kesimpulan bahwa Allah SWT sendiri sebenarnya secara tegas telah menyatakan bahwa ada kemajemukan di muka bumi ini. Perbedaan  laki-laki dan perempuan, perbedaan suku bangsa; ada orang Indonesia, Jerman, Amerika, orang Jawa, Sunda atau bule, adalah realitas pluralitas yang harus dipandang secara positif dan optimis. Perbedaan itu, harus diterima sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin atas dasar kenyataan itu. Bahkan kita disuruh untuk menjadikan pluralitas tersebut, sebagai instrumen untuk menggapai kemuliaan di sisi Allah SWT, dengan jalan mengadakan interaksi sosial antara individu, baik dalam konteks pribadi atau bangsa.</p>
<p>Kenapa kita diperintah untuk saling mengenal dan berbuat baik sama orang lain, meskipun berbeda agama, suku dan kulit dan dilarang untuk memperolok-olok satu sama lain? Jawabannya adalah bahwa hanya Allah yang tahu dan dapat menjelaskan, di hari akhir nanti, mengapa manusia berbeda satu dari yang lain, dan mengapa jalan manusia berbeda-beda dalam beragama: “<em>Untuk masing-masing dari kamu (umat manusia) telah kami tetapkan Hukum (Syari’ah) dan jalan hidup (minhaj). Jika Tuhan menghendaki, maka tentulah ia jadikan kamu sekalian umat yang tunggal (monolitk). Namun Ia jadikan kamu sekalian berkenaan dengan hal-hal yang telah dikarunia-Nya kepada kamu. Maka berlombalah kamu sekalian untuk</em> berbagai kebajikan. <em>Kepada Allah-lah tempat kalian semua kembali; maka Ia akan menjelaskan kepadamu sekalian tentang perkara yang pernah kamu perselisihkan”</em> (Q.S. Al Maaidah: 48).</p>
<p>Bahkan konsep unity in diversity, dalam Islam telah diakui keabsahanya dalam kehidupan ini. Untuk mendukung pernyataan ini, kita dapat melacak kebenaranya dalam perjalanan sejarah yang telah ditunjukkan oleh al-Qur’an, bahwa Islam telah memberi karaketer positif kepada komunitas non-Muslim, Ini bisa dilihat, misalnya, dari berbagai istilah eufemisme, mulai dari <em>ahl al-kitab, shabih bi ah al-kitab, din Ibrahim</em> sampai <em>dinan hanifan</em>. Dan secara spesifik, Islam malahan mengilustrasikan karakter para pemuka agama Kristen sebagai manusia dengan sifat rendah hati (<em>la yastakbirun</em>)  serta pemeluk agama Nasrani sebagai kelompok dengan jalinan emosional <em>(aqrabahum mawaddatan</em>) terdekat dengan komunitas Muslim (Q.S. Al Maidah: 82).</p>
<p>Dalam kaitannya yang langsung dengan prinsip untuk dapat menghargai agama lain dan dapat menjalin persahabatan dan perdamaian dengan ‘mereka’ inilah Allah, di dalam al-Qur’an, menegur keras Nabi Muhammad SAW ketika ia menunjukkan keinginan dan kesediaan yang menggebu untuk memaksa manusia menerima dan mengikuti ajaran yang disampaikanya, sebagai berikut: “<em>Jika Tuhanmu menghendaki, maka tentunya manusia yang ada di muka bumi ini akan beriman. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia, di luar kesediaan mereka sendiri?</em> (Q.S. Yunus: 99).</p>
<p>Dari ayat tersebut tergambar dengan jelas bahwa persoalan kemerdekaan beragama dan keyakinan menjadi “tanggungjawab” Allah SWT, di mana kita semua dituntut toleran terhadap orang yang tidak satu dengan keyakinan kita. Bahkan nabi sendiri dilarang untuk memaksa orang kafir untuk masuk Islam. Maka dengan begitu, tidaklah dibenarkan “kita” menunjukkan sikap kekerasan, paksaan, menteror dan menakut-nakuti orang lain dalam beragama.</p>
<p>Apalagi kalau kita mau memahami secara benar, bahwa pada dasarnya menurut al-Qur’an, pokok pangkal kebenaran universal Yang Tunggal itu ialah paham Ketuhanan Yang Maha Esa, atau <em>tauhid.</em> Tugas para Rasul adalah menyampaikan ajaran tentang <em>tauhid</em> ini, serta ajaran tentang keharusan manusia tunduk dan patuh hanya kepada-Nya saja (Q. S. al-Ambiya’: 92) dan justru berdasarkan paham <em>tauhid</em> inilah, al-Qur’an mengajarkan paham kemajemukan keagamaan. Dalam pandangan teologi Islam, sikap ini menurut Budy Munawar Rahman (2001: 15), dapat ditafsirkan sebagai suatu harapan kepada semua agama yang ada; bahwa semua agama itu pada mulanya menganut prinsip yang sama, dan persis karena alasan inilah al-Qur’an mengajak kepada titik pertemuan (<em>kalimatun sawa’</em>): “<em>Katakanlah olehmu (Muhammad): Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan (kalimatun sawa’) antara kami dan kamu: yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya kepada apapun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai “tuhan-tuhan” selain Allah</em>” (Q.S. al-Maidah: 64).</p>
<p>Implikasi dari <em>kalimatun sawa’</em> ini menurut Alqur’an adalah: siapapun dapat memperoleh “keselamatan” asalkan dia beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, dan berbuat baik”. Jadi, dalam prespektif ini, al-Qur’an tidak mengingkari keberadaan pengalaman transendensi agama, semisal Kristen bukan? Islam malah mengetahui dan bahkan mengakui daya <em>penyelamatan </em>kaum lain (termasuk Kristen) itu dalam hubungannya dengan lingkup monoteisme yang lebih luas: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang Yahudi, Kristen, dan Shabiin, barang siapa dari mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan mengerjakan amal baik, maka mereka akan dapat ganjaran dari Tuhan mereka; dan tidak ada ketakutan dan tidak ada duka cita atas mereka” (Q.S 2: 62).</p>
<p>Hal itu sejalan dengan ajaran bahwa monoteisme merupakan dogma yang diutamakan dalam Islam. Monoteisme, yakni percaya kepada Tuhan yang Maha Esa, dipandang jalan untuk keselamatan manusia. Dalam al-Qur’an ayat 48 dan 116 surah al-Nisa’ menerangkan  bahwa Allah tidak mengampuni dosa orang yang mempersekutukan Tuhan tetapi mengampuni dosa selainnya bagi barang siapa yang dikehendaki Allah. Kedua ayat ini mengandung arti bahwa dosa dapat diampuni Tuhan kecuali dosa syirik atau politeis. Inilah satu-satunya dosa yang tak dapat diampuni Tuhan.</p>
<p>Alqur’an, dengan demikian, sebagaimana ditegaskan oleh Abdulaziz Sachedina dalam bukunya <em>The Islamic Roots of Democratic Pluralism</em> (2002: 59), adalah jelas memandang dirinya sebagai mata rantai kritis dalam pengalaman pewahyuan umat manusia—satu jalan universal yang dimaksudkan untuk semua makhluk. Secara khusus, Islam juga memiliki etos biblikal dan Kristen, dan Islam memiliki sikap yang luar biasa inklusif terhadap Ahli Kitab, yang dengan merekalah Islam terhubungkan melalui manusia pertama di muka bumi.</p>
<p>2.  Islam Memerintahkan Untuk Bersikap ‘Toleran’ Kepada Agama lain</p>
<p>Sedangkan secara umum, pandangan Islam terhadap agama lain (Ahli Kitab—pen) sangat positif dan sangat kontruktif. Hal ini dapat dilihat dari nilai dan ajarannya yang memberikan peluang dan mendorong kepada umat Islam untuk dapat melakukan interaksi sosial, kerja sama dengan mereka. Tentang hal ini, Farid Asaeck (2000: 206-207)), telah menunjukkan bukti-bukti sebagai berikut; <em>Pertama</em>, Ahli  Kitab, sebagai penerima wahyu, diakui sebagai bagian dari komunitas. Ditujukan kepada semua nabi, al-Qur’an mengatakan: “<em>Dan sungguh inilah umatmu, umat yang satu</em>” (QS al-Mu’miunun: 52). Sehingga konsep Islam tentang para pengikut Kitab Suci atau Ahli Kitab yaitu konsep yang memberikan pengakuan tertentu kepada para penganut agama lain, yang memiliki Kitab Suci dengan memberikan kebebasan menjalankan ajaran agamanya masing-masing.</p>
<p><em>Kedua</em>, dalam dua bidang sosial terpenting, makanan dan perkawinan, sikap murah hati al-Qur’an terlihat jelas, bahwa makanan “orang-orang yang diberi Alkitab” dinyatakan sebagai sah (halal) bagi kaum muslim dan makanan kaum muslim sah bagi mereka (QS al-Maidah: 5). Demikian juga, pria muslim diperkenankan mengawini “wanita suci dari Ahli Kitab” (QS al-Maidah: 5). Jika kaum Muslim diperkenankan hidup berdampingan dengan golongan lain dalam hubungan yang seintim hubungan perkawinan, ini menunjukkan secara eksplisit bahwa permusuhan tidak dianggap sebagai norma dalam hubungan Muslim-kaum lain.</p>
<p><em>Ketiga</em>, dalam bidang hukum agama, norma-norma dan peraturan kaum Yahudi dan Nasrani diakui (QS al-Maidah: 47) dan bahkan dikuatkan oleh Nabi ketika beliau diseru untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka (QS al-Maidah: 42-43). <em>Keempat, </em>kesucian kehidupan religius penganut agama wahyu lainya ditegaskan oleh fakta bahwa izin pertama yang pernah diberikan bagi perjuangan bersenjata dimaksudkan untuk menjamin terpeliharanya kesucian ini, “Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagai manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja dan sinagog-sinagog orang Yahudi, dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak di sebut nama Allah” (QS al-Hajj: 40).</p>
<p>Perintah Islam agar umatnya bersikap toleran, bukan hanya pada agama Yahudi dan Kristen, tetapi juga kepada agama-agama lain. Ayat 256 surat al-Baqarah mengatakan bahwa tidak ada paksaan dalam soal agama karena jalan lurus dan benar telah dapat dibedakan dengan jelas dari jalan salah dan sesat. Terserahlan kepada manusia memilih jalan yang dikehendakinya. Telah dijelaskan mana jalan benar yang akan membawa kepada kesengsaraan. Manusia merdeka memilih jalan yang dikehendakinya. Kemerdekaan ini diperkuat oleh ayat 6 surah al-Kafirun yang mengatakan: <em>Bagimulah agamamu dan bagiku agamaku</em>.</p>
<p>Demikianlah beberapa prinsip dasar al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah pluralitas dan anjuran untuk dapat menunjukkan sikap saling menghormati, ramah dan bersahabat dengan agama lain. Dengan begitu, jauh-jauh hari, al-Qur’an sesungguhnya telah mensinyalir akan munculnya bentuk “<em>truth claim</em>” (Abdullah, 1999: 68). Baik itu dalam wilayah intern umat beragama maupun wilayah antar-umat beragama. Kedua-duanya, sama-sama tidak <em>favourable</em> dan tidak kondusif bagi upaya membangun tata pergaulan masyarakat pluralistik yang sehat.</p>
<p>Oleh al-Qur’an, kecendrungan manusia untuk mengantongi “<em>truth claim</em>” yang potensial untuk ekplosif dan destruktif itu, kemudian dinetralisir dalam bentuk anjuran untuk selalu waspada terhadap bahaya ektrimitas dalam berbagai bentuknya. Dan manusia Muslim sendiri dituntut untuk senantiasa merendahkan hati dan bersedia dengan “kebenaran” (<em>al-haq</em>) dan kesabaran (<em>al-Shabar</em>) dalam setiap langkah dalam perjalanan hidupnya (surat al-Ashr: 1-3).</p>
<p>Paling tidak, dalam dataran konseptual, al-Qur’an telah memberi resep atau arahan-arahan yang sangat diperlukan bagi manusia Muslim untuk memecahkan masalah kemanusiaan universal, yaitu realitas pluralitas keberagamaan manusia dan menuntut supaya bersikap toleransi terhadap kenyataan tersebut demi tercapainya perdamaian di muka bumi. Karena Islam menilai bahwa syarat untuk membuat keharmonisan adalah pengakuan terhadap komponen-komponen yang secara alamiah berbeda.</p>
<p>Dengan begitu, dapat pula dikatakan konsepsi pluralitas dalam Islam sudah terbawa pada misi awal agama ini diturunkan, yakni membawa kasih terhadap seluruh alam tanpa batas-batas atau benturan-benturan dimensi apapun. Semua orang yang mengaku Islam haruslah menunjukkan sikap saling “mengasihi” kepada sesama manusia. Karena seseorang bisa disebut sebagai seorang muslim, menurut kanjeng nabi adalah <em>Al-Muslimu man salima Al-muslimuna min lisanihi wa yadihi</em>. Maksudnya adalah seorang muslim yang senantiasa menebarkan sikap damai dan rasa aman dihati masyarakatnya, Islam rahmatan lil alamin.</p>
<h3>Pendidikan berbasis Pluralitas</h3>
<p>Berangkat dari kesadaran adanya fenomena bahwa “satu Tuhan, banyak agama” merupakan fakta dan realitas yang dihadapi manusia sekarang. Maka, manusia sekarang harus didorong menuju kesadaran bahwa pluralitas memang sungguh-sungguh fitrah kehidupan manusia.</p>
<p>Mendorong setiap orang untuk dapat menghargai “keanekaragaman” adalah sangat penting segera dilakukan, terutama sekali di negara Indonesia yang pluralistik ini. Dampak krisis multi-dimensional yang melandanya, menyebabkan bangsa Indonesia menghadapi berbagai problem sosial. Salah satu problem besar dimana peran agama menjadi sangat dipertanyakan adalah konflik etnis, kultur dan religius, atau yang lebih dikenal dengan SARA.</p>
<p>Kegagalan agama dalam memainkan perannya sebagai problem solver bagi persoalan SARA erat kaitanya dengan pengajaran agama secara eklusif. Maka, agar bisa keluar dari kemelut yang mendera bangsa Indonesia terkait persoalan SARA, adalah sudah saatnya bagi bangsa Indonesia untuk memunculkan wajah pendidikan agama yang inklusif, pluralis dan humanis.</p>
<p>Pada tataran teologis, dalam pendidikan agama perlu mengubah paradigma teologis yang pasif, tektualis, dan eklusif.  Menuju teologi yang saling menghormati, saling mengakui eksistensi, berfikir dan bersikap positif, serta saling memperkaya iman. Hal ini dengan tujuan untuk membangun interaksi umat beragama dan antarumat beragama yang tidak hanya berkoeksistensi secara harmonis dan damai, tetapi juga bersedia aktif dan pro-aktif kemanusiaan.</p>
<p>Sebenarnya masyarakat Indonesia telah lama akrab dengan diktum Bhinneka Tunggal Ika. Namun sayangnya, konsep ini telah mengalami pemelintiran makna dan bias interpretasi, terutama sepanjang pemerintahan Orde Baru. Kebijakan sosial-politik saat itu cenderung uniformistik, sehingga tampaknya budaya milik kelompok dominanlah yang diajarkan dan disalurkan oleh sekolah dari satu generasi kepada generasi lainya.</p>
<p>Sekolah pada saat itu juga ditengarai hanya merefleksikan dan menggemakan stereotip dan prasangka antarkelompok yang sudah terbentuk dan beredar dalam masyarakat, tidak berusaha menetralisisir dan menghilangkanya. Bahkan, ada indikasi bahwa sekolah ikut mengembangkan prasangka dan mengeskalasi ketegangan antarkelompok melalui perundang-undangan yang mengkotak-kotakkan penyampaiaan pendidikan agama, isi kurikulum yang etnosentris, dan dinamika relasi sosial antarsekolah yang segregatif (Khisbiyah, 2000: 156-157). Bukan tak mungkin segregasi sekolah berdasarkan kepemelukan agama juga ikut memeperuncing prasangka dan proses demonisasi antara satu kelompok dengan kelompok lainya, baik secara langsung maupun atau tidak langsung .</p>
<p>Padahal, menurut S. Hamid Hasan, “keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan aspirasi politik, dan kemampuan ekonomi adalah suatu realita masyarakat dan bangsa Indonesia. Namun demikian, keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan aspirasi politik yang seharusnya menjadi faktor yang diperhitungkan dalam penentuan filsafat, teori, visi, pengembangan dokumen, sosialisasi kurikulum, dan pelaksanaan kurikulum, nampaknya belum dijadikan sebagai faktor yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan di negara kita” (Hasan, 2000: 511). Maka, akibatnya, wajar manakala terjadi kegagalan dalam pendidikannya (termasuk pendidikan agama), terutama sekali dalam menumbuhkan sikap-sikap untuk menghargai adanya perbedaan dalam masyarakat.</p>
<p>Selain itu, Kautsar Azhari Noer (2001) menyebutkan, paling tidak ada empat faktor penyebab kegagalan pendidikan agama dalam menumbuhkan sikap pluralis. Pertama, penekananya pada proses transfer ilmu agama ketimbang pada proses transformasi nilai-nilai keagamaan dan moral kepada anak didik; kedua, sikap bahwa pendidikan agama tidak lebih dari sekedar sebagai “hiasan kurikulum” belaka, atau sebagai “pelengkap” yang dipandang sebelah mata; ketiga, kurangnya penekanan pada penanaman nilai-nilai moral yang mendukung kerukunan antaragama, seperti cinta, kasih sayang, persahabatan, suka menolong, suka damai dan toleransi; dan keempat, kurangnya perhatian untuk perhatikan untuk mempelajari agama-agama lain (Noer dalam Sumartana, 2001: 239-240).</p>
<p>Melihat realitas tersebut, bahkan ditambah dengan adanya banyak konflik, kekerasan, dan bahkan kekejaman yang dijalankan atas nama agama, sebagaimana tersebut di atas, seharusnyalah yang menjadi tujuan refleksi atas pendidikan agama adalah mampu melakukan transformasi kehidupan beragama itu sendiri dengan melihat sisi ilahi  dan sosial-budayanya. pendidikan agama harus mampu menanamkan cara hidup yang lebih baik dan santun kepada peserta didik. Sehingga sikap-sikap seperti saling menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman agama dan budaya dapat tercapai di tengah-tengah masyarakat plural.</p>
<p>Dengan menyadari bahwa masyarakat kita terdiri dari banyak suku dan beberapa agama, jadi sangat pluralis. Maka, pencarian bentuk pendidikan alternatif mutlak diperlukan. Yaitu suatu bentuk pendidikan yang berusaha menjaga kebudayaan suatu masyarakat dan memindahkanya kepada generasi berikutnya, menumbuhkan akan tata nilai, memupuk persahabatan antara siswa yang beraneka ragam suku, ras, dan agama, mengembangkan sikap saling memahami, serta mengerjakan keterbukaan dan dialog. Bentuk pendidikan seperti inilah yang banyak ditawarkan oleh “banyak ahli” dalam rangka mengantisipasi konflik keagamaan dan menuju perdamaian abadi, yang kemudian terkenal dengan sebutan “pendidikan pluralis”.</p>
<p>Apakah sebenarnya pendidikan pluralis itu? Kalau kita melacak referensi tentang pendidikan pluralis, banyak sekali literatur mengenai pendidikan tersebut atau sering dikenal orang dengan sebutan “pendidikan multikultural”. Namun literatur-literatur tersebut menunjukkan adanya keragaman dalam pengertian istilah. Sleeter (dalam Burnet, 1991: 1) mengartikan pendidikan multikultural sebagai <em>any set of proces by which schools work with rather than against oppressed group</em>.  Banks, dalam bukunya <em>Multicultural education: historical development, dimension, and practice</em> (1993) menyatakan bahwa meskipun tidak ada konsensus tentang itu ia berkesimpulan bahwa di antara banyak pengertian tersebut maka yang dominan adalah pengertian pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk <em>people of color</em>.</p>
<p>Lebih jelasnya, menariklah kalau kita memperhatikan suatu defenisi tentang  pendidikan pluralis yang disampaikan Frans Magnez Suseno (dalam Suara Pembaharuan, 23 September, 2000), yaitu suatu pendidikan yang mengandaikan kita untuk membuka visi pada cakrawala yang semakin luas, mampu melintas batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama kita sehingga kita mampu melihat “kemanusiaan” sebagai sebuah keluarga yang memiliki baik perbedaan maupun kesamaan cita-cita. Inilah pendidikan akan nilai-nilai dasar kemanusiaan untuk perdamaian, kemerdekaan, dan solidaritas.</p>
<p>Senada dengan itu, Ainurrofiq Dawam menjelaskan defenisi pendidikan multikultural sebagai proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas  dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi  keragaman budaya etnis, suku, dan aliran (agama). Pengertian pendidikan multikultural yang demikian, tentu mempunyai implikasi yang sangat luas dalam pendidikan. Karena pendidikan itu sendiri secara umum dipahami sebagai proses tanpa akhir atau proses sepanjang hayat. Dengan demikian , pendidikan multikultural menghendaki penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya terhadap harkat dan martabat manusia darimana pun dia datangnya dan berbudaya apa pun dia. Harapanya, sekilas adalah terciptanya kedamaian yang sejati, keamanan yang tidak dihantui kecemasan, kesejahteraan  yang tidak dihantui manipulasi, dan kebahagiaan yang terlepas dari jaring-jaring manipulasi rekayasa sosial.</p>
<p>Muhammad Ali (dalam Kompas, 26 April 2002) menyebut pendidikan yang berorientasi pada proses penyadaran yang berwawasan pluralis secara agama sekaligus berwawasan multikultural, seperti itu, dengan sebutan “pendidikan pluralis multikultural”. Menurutnya,  pendidikan semacam itu harus dilihat sebagai bagian dari upaya komprehensif mencegah dan menaggulangi konflik etnis agama, radikalisme agama, separatisme, dan integrasi bangsa, sedangkan nilai dasar dari konsep pendidikan ini adalah toleransi.</p>
<p>Memperhatikan beberapa defenisi tentang pendidikan pluralis tersebut di atas, secara sederhana dapatlah pendidikan pluralis didefenisikan sebagai pendidikan untuk/tentang keragaman keagamaan dan kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan. pendidikan disini, dituntut untuk dapat merespon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok.</p>
<h3>Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Kemajemukan</h3>
<p>Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang   dinamis dan sarat perkembangan, karena itu perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan. Pemikiran ini mengandung konsekuensi bahwa penyempurnaan atau perbaikan kurikulum pendidikan agama Islam adalah untuk mengantisipasi kebutuhan dan tantangan masa depan dengan diselaraskan terhadap perkembangan kebutuhan dunia usaha atau industri, perkembangan dunia kerja, serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Konsep yang sekarang banyak diwacanakan oleh banyak ahli adalah kurikulum pendidikan berbasis pluralitas.</p>
<p>Sebagaimana disebut di atas, bahwa konsep pendidikan pluralitas adalah pendidikan yang berorientasi pada realitas persoalan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dan umat manusia secara keseluruhan.  pendidikan pluralitas digagas dengan semangat  besar “untuk memberikan sebuah model pendidikan  yang mampu menjawab tantangan masyarakat pasca modernisme”.</p>
<p>Melihat realitas tersebut, maka disinilah letak pentingnya menggagas pendidikan Islam berbasis pluralitas dengan  menonjolkan beberapa karakter sebagai berikut; <em>pertama </em>pendidikan Islam harus mempunyai karakter sebagai lembaga pendidikan umum yang bercirikan Islam. Artinya, di samping menonjolkan pendidikannya dengan penguasaan atas ilmu pengetahuan, namun karakter keagamaan juga menjadi bagian integral dan harus dikuasai serta menjadi bagian dari kehidupan siswa sehari-hari. Tentunya, ini masih menjadi pertanyaan, apakah sistem pendidikan seperti ini betul-betul mampu membongkar sakralitas ilmu-ilmu keagamaan dan dikhotomi keilmuan antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu keagamaan.</p>
<p><em>Kedua ; </em>pendidikan Islam juga harus mempunyai karakter sebagai pendidikan yang berbasis pada pluralitas. Artinya, bahwa pendidikan yang diberikan kepada siswa tidak menciptakan suatu pemahaman yang tunggal, termasuk di dalamnya juga pemahaman tentang realitas keberagamaan.  Kesadaran pluralitas merupakan suatu keniscayaan yang harus disadari oleh setiap peserta didik. Tentunya, kesadaran tersebut tidak lahir begitu saja, namun mengalami proses yang sangat panjang, sebagai realitas pemahaman yang komprehenship dalam melihat  suatu fenomena.</p>
<p><em>Ketiga</em>; pendidikan Islam harus mempunyai karakter sebagai lembaga pendidikan yang menghidupkan sistem demokrasi dalam pendidikan. Sistem pendidikan yang memberikan keluasaan pada siswa untuk mengekspresikan  pendapatnya secara bertanggung jawab.  Sekolah memfasilitasi adanya “mimbar bebas”, dengan meberikan kesempatan kepada semua civitas untuk berbicara atau mengkritik tentang apa saja, asal bertanggung jawab. Tentunya, sistem demokrasi ini akan memberikan pendidikan pada siswa tentang realitas sosial yang mempunyai pandangan dan pendapat yang berbeda. Di sisi yang lain, akan membudayakan “reasoning” bagi civitas di lembaga pendidikan Islam.</p>
<p>Perlunya membentuk pendidikan Islam berbasis pluralitas tersebut, sekali lagi merupakan suatu inisiasi yang lahir dari realitas sejarah pendidikan khususnya di Indonesia yang dianggap gagal dalam membangun citra kemanusiaan. Dimana umumnya, pendidikan umum hanya mencetak orang-orang yang pinter namun tidak mempunyai integritas keilmuan dan akhlaq ilmuan. Ini yang kemudian melahirkan para koruptor yang justru menjadi penyakit dan menyengsarakan bangsa ini. Di satu sisi, pendidikan agama yang ada hanya menciptakan ahli agama yang cara berpikirnya parsial dan sempit. Akhirnya,  semakin banyak orang pinter ilmu agama semakin kuat pertentangan dan konflik dalam kehidupan. Inilah sistem pendidikan yang gagal dalam menciptakan citra kemanusiaan.</p>
<p>Untuk merealisasikan cita-cita pendidikan yang mencerdaskan seperti tersebut, lembaga pendidikan Islam perlu menerapkan sistem pengajaran yang berorientasi pada penanaman kesadaran pluralitas dalam kehidupan. Adapun beberapa program pendidikan yang sangat strategis dalam menumbuhkan kesadaran pluralitas adalah:  pendidikan sekolah harus membekali para mahasiswa atau peserta didik dengan kerangka (<em>frame work</em>) yang memungkinkannya menyusun dan memahami pengetahuan yang diperoleh dari lingkunganya (UNESCO, 1981).</p>
<p>Karena masyarakat kita majemuk, maka kurikulum PAI yang ideal adalah kurikulum yang dapat menunjang proses siswa menjadi manusia yang demokratis, pluralis dan menekankan penghayatan hidup serta refleksi untuk menjadi manusia yang  utuh, yaitu generasi muda yang tidak hanya pandai tetapi juga bermoral dan etis, dapat hidup dalam suasana demokratis satu dengan lain, dan menghormati hak orang lain.</p>
<p>Selain itu, perlu kiranya memperhatikan kurikulum sebagai proses. Ada empat hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengembangkan kurikulum sebagai proses ini, yaitu; (1) posisi siswa sebagai subjek dalam belajar, (2) cara belajar siswa yang ditentukan oleh latar belakang budayanya, (3) lingkungan budaya mayoritas masyarakat dan pribadi siswa adalah <em>entry behaviour </em>kultur siswa, (4) lingkungan budaya siswa adalah sumber belajar (Hamid, <em>op cit</em>: 522). Dalam konteks deskriptif ini, kurikulum pendidikan mestilah mencakup subjek seperti: toleransi, tema-tema tentang perbedaan ethno-kultural dan agama: bahaya diskriminasi: penyelesaian konflik dan mediasi: HAM; demokrasi dan pluralitas; kemanusiaan universal dan subjek-subjek lain yang relevan.</p>
<p>Bentuk kurikulum dalam pendidikan agama Islam hendaknya tidak lagi ditujukan pada siswa secara individu menurut agama yang dianutnya, melainkan secara kolektif dan berdasarkan kepentingan bersama. Bila selama ini setiap siswa memperoleh pelajaran agama sesuai dengan agamanya, maka diusulkan agar lebih baik bila setiap siswa SLTP-PT memperoleh materi agama yang sama, yaitu berisi tentang sejarah pertumbuhan semua agama yang berkembang di Indonesia. Sedangkan untuk SD diganti dengan pendidikan budi pekerti yang lebih menanamkan nilai-nilai moral kemanusiaan dan kebaikan secara universal. Dengan materi seperti itu, di samping siswa dapat menentukan agamanya sendiri (bukan berdasarkan keturunan), juga dapat belajar memahami pluralitas berdasarkan kritisnya, mengajarkan keterbukaan, toleran, dan tidak eklusif, tapi inklusif (Darmaningtyas, 1999: 165).</p>
<p>Amin Abdullah (2001: 13-16) menyarankan “perlunya rekontruksi pendidikan sosial-keagamaan untuk memperteguh dimensi kontrak sosial-keagamaan dalam pendidikan agama”. Dalam hal ini, kalau selama ini praktek di lapangan, pendidikan agama Islam masih menekankan sisi keselamatan yang dimiliki dan didambakan oleh orang lain di luar diri dan kelompoknya sendiri—jadi materi pendidikan agama lebih berfokus dan sibuk mengurusi urusan untuk kalangan sendiri (i<em>ndividual </em>atau <em>private affairs</em>). Maka, pendidikan agama Islam perlu direkontruksi kembali, agar lebih menekankan proses edukasi sosial, tidak semata-mata individual dan untuk memperkenalkan konsep <em>social-contract</em>. Sehingga pada diri peserta didik tertanam suatu keyakinan, bahwa kita semua sejak semula memang berbeda-beda dalam banyak hal, lebih-lebih dalam bidang akidah, iman, credo, tetapi demi untuk menjaga keharmonisan, keselamatan, dan kepentingan kehidupan bersama, mau tidak mau, kita harus rela untuk menjalin kerjasama (cooperation) dalam bentuk kontrak sosial antar sesama kelompok warga masyarakat.</p>
<p>Pendek kata, agar maksud dan tujuan pendidikan agama Islam berbasis pluralitas dapat tercapai, kurikulumnya harus didesain sedemikian rupa dan <em>favourable</em> untuk semua  tingkatan dan jenjang pendidikan. Namun demikain, pada level sekolah dasar dan menengah adalah paling penting, sebab pada tingkatan ini, sikap dan perilaku peserta didik masih siap dibentuk. Dan perlu diketahui, suatu kurikulum tidak dapat diimplementasikan tanpa adanya keterlibatan, pembuatan dan kerjasama secara langsung antara para pembuat kurikulum, penulis <em>text book</em> dan guru.</p>
<p>Langkah-langkah yang perlu diperhatikan oleh pembuat kurikulum, penulis <em>text</em> <em>book</em> dan guru  untuk mengembangkan kurikulum PAI berbasis pluralitas di Indonesia, adalah sebagai berikut; <em>Pertama</em>, mengubah filosofi kurikulum dari yang berlaku seragam seperti saat ini kepada filosofi yang lebih sesuai dengan tujuan, misi, dan fungsi setiap jenjang pendidikan dan unit pendidikan. Untuk tingkat dasar, filosofi konservatif seperti esensialisme dan perenialisme haruslah dapat diubah ke filosofi yang lebih menekankan pendidikan sebagai upaya mengembangkan kemampuan kemanusiaan peserta didik baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat bangsa, dan dunia. Filosofi kurikulum yang progresif seperti humanisme, progresifme, dan rekontruksi sosial dapat dijadikan landasan pengembangan kurikulum.</p>
<p><em>Kedua</em>, teori kurikulum tentang konten (<em>curriculum content</em>) haruslah berubah dari teori yang mengartikan konten sebagai aspek substantif yang berisikan fakta, teori, generalisasi kepada pengertian yang mencakup pula nilai, moral, prosedur, dan ketrampilan yang harus dimiliki generasi muda.</p>
<p><em>Ketiga</em>, teori belajar yang digunakan dalam kurikulum masa depan yang memperhatikan keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan politik tidak boleh lagi hanya mendasarkan diri pada teori psikologi belajar yang bersifat individualistik dan menempatkan siswa dalam suatu kondisi <em>value free</em>, tetapi harus pula didasarkan pada teori belajar yang menempatkan siswa sebagai makhluk sosial, budaya, politik, dan hidup sebagai anggota aktif masyarakat, bangsa, dan dunia.</p>
<p><em>Keempat</em>, proses belajar yang dikembangkan untuk siswa haruslah pula berdasarkan proses yang memiliki tingkat <em>isomorphism</em> yang tinggi dengan kenyataan sosial. Artinya, proses belajar yang mengandalkan siswa belajar individualistis harus ditinggalkan dan diganti dengan cara belajar berkelompok dan bersaing secara kelompok dalam suatu situasi positif. Dengan cara demikian maka perbedaan antar-individu dapat dikembangkan sebagai suatu kekuatan kelompok dan siswa terbiasa hidup dengan berbagai keragaman budaya, sosial, intelektualitas, ekonomi, dan aspirasi politik.</p>
<p><em>Kelima, </em>evaluasi yang digunakan haruslah meliputi keseluruhan aspek kemampuan dan kepribadian peserta didik, sesuai dengan tujuan dan konten yang dikembangkan. Alat evaluasi yang digunakan haruslah beragam sesuai dengan sifat tujuan dan informasi yang ingin dikumpulkan. Penggunaan alternatif assesment (portfolio, catatan, observasi, wawancara) dapat digunakan.</p>
<p>Di samping perlunya memperhatikan langkah-langkah itu, untuk menuju sebuah PAI yang menghargai pluralitas, sebenarnya selain aspek kurikulum yang harus didesain, sebagaimana telah penulis uraikan, aspek pendekatan dan pengajaran. Pola-pola lama dalam pendekatan atau pengajaran agama harus segera dirubah dengan model baru yang lebih mengalir dan komunikatif. Aspek perbedaan harus menjadi titik tekan dari setiap pendidik. Pendidik harus sadar betul bahwa masing-masing peserta didik merupakan “manusia yang unik” (<em>human uniqe</em>), karena itu tidak boleh ada penyeragaman-peyeragaman. Dalam prespektif ini,  pendidikan agama Islam yang memberikan materi kajian perbandingan agama dan nilai-nilai prinsip Islam seperti; toleransi, keadilan, kebebasan dan demokrasi—untuk memperoleh suatu pemahaman di antara orang-orang yang berbeda iman itu—adalah sebuah keniscayaan.</p>
<h3>Menampilkan Islam Toleran Melalui Kurikulum</h3>
<p>Mengembangkan sikap pluralis pada peserta didik di era sekarang ini, adalah mutlak segera “dilakukan” oleh seluruh pendidikan agama di Indonesia demi kedamaian sejati. pendidikan agama Islam perlu segera menampilkan ajaran-ajaran Islam  yang toleran melalui kurikulum pendidikanya dengan tujuan dan menitikberatkan pada pemahaman dan upaya untuk bisa hidup dalam konteks perbedaan agama dan budaya, baik secara individual maupun secara kolompok dan tidak terjebak pada primordialisme dan eklusifisme kelompok agama dan budaya yang sempit. Sehingga sikap-sikap plural itu akan dapat ditumbuhkembangkan dalam diri generasi muda kita melalui dimensi-dimensi pendidikan agama dengan memperhatikan hal-hal seperti berikut:</p>
<p>Pendidikan agama seperti fiqih, tafsir tidak harus bersifat linier, namun menggunakan pendekatan <em>muqaron</em>. Ini menjadi sangat penting, karena anak tidak hanya dibekali pengetahuan atau pemahaman tentang ketentuan hukum dalam fiqih atau makna ayat yang tunggal, namun  juga diberikan pandangan yang berbeda. Tentunya, bukan sekedar mengetahui yang berbeda, namun juga diberikan pengetahuan tentang mengapa bisa berbeda.</p>
<p>Untuk mengembangkan kecerdasan sosial, siswa juga harus diberikan pendidikan lintas agama. Hal ini dapat dilakukan dengan program dialog antar agama yang perlu diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Islam . Sebagai contoh, dialog tentang “puasa” yang bisa menghadirkan para bikhsu atau agamawan dari agama lain. Program ini menjadi sangat strategis, khususnya untuk memberikan pemahaman kepada siswa bahwa ternyata puasa itu juga menjadi ajaran saudara-saudara kita yang beragama Budha. Dengan dialog seperti ini, peserta didik diharapkan akan mempunyai pemahaman khususnya dalam menilai keyakinan saudara-saudara kita yang berbeda agama. karena memang pada kenyataanya “Di Luar Islampun Ada Keselamatan”.</p>
<p>Untuk memahami realitas perbedaan dalam beragama, lembaga-lembaga pendidikan Islam bukan hanya sekedar menyelenggarakan dialog antar agama, namun juga menyelenggarakan program <em>road show</em> lintas agama. Program <em>road show</em> lintas agama ini adalah program nyata untuk menanamkan kepedulian dan solidaritas terhadap komunitas agama lain. Hal ini dengan cara mengirimkan siswa-siswa untuk ikut kerja bhakti membersihkan gereja, wihara ataupun tempat suci lainnya. Kesadaran pluralitas bukan sekedar hanya memahami keberbedaan, namun juga harus ditunjukkan dengan sikap konkrit bahwa diantara kita sekalipun berbeda keyakinan, namun saudara dan saling membantu antar sesama.</p>
<p>Untuk menanamkan kesadaran spiritual, pendidikan Islam perlu menyelenggarakan program seperti <em>spiritual work camp</em> (SWC), hal ini bisa dilakukan dengan cara mengirimkan siswa untuk ikut dalam sebuah keluarga selama beberapa hari, termasuk kemungkinan ikut pada keluarga yang berbeda agama. Siswa harus melebur dalam keluarga tersebut. Ia juga harus melakukan aktifitas sebagaimana aktifitas keseharian dari keluarga tersebut. Jika keluarga tersebut petani, maka ia harus pula membantu keluarga tersebut bertani dan sebagainya. Ini adalah suatu program yang sangat strategis untuk meningkatkan kepekaan serta solidaritas sosial. Pelajaran penting lainnya, adalah siswa dapat belajar bagaimana memahami kehidupan yang beragam. Dengan demikian, siswa akan mempunyai kesadaran dan kepekaan untuk menghargai dan menghormati orang lain.</p>
<p>Pada bulan Ramadhan, adalah bulan yang sangat strategis untuk menumbuhkan kepekaaan sosial pada anak didik. Dengan menyelenggarakan “<em>program sahur on the road”</em>, misalnya. Karena dengan program ini, dapat dirancang  sahur bersama antara siswa dengan anak-anak jalanan. Program ini juga memberikan manfaat langsung kepada siswa untuk menumbuhkan sikap kepekaan sosial, terutama pada orang-orang di sekitarnya yang kurang mampu.</p>
<p>Selain beberapa hal di atas, perlu kiranya mengajarkan materi Aqidah Inklusif. Sebagaimana telah banyak diketahui umat Islam, aqidah berasal dari bahasa Arab yang berarti “kepercayaan”, maksudnya ialah hal-hal yang diyakini oleh orang-orang beragama. Dalam Islam, aqidah selalu berhubungan dengan iman. Aqidah adalah ajaran sentral dalam Islam dan menjadi inti risalah Islam melalui Muhammad. Tegaknya aktivitas keislaman dalam hidup dan kehidupan seseorang itulah yang dapat menerangkan bahwa orang itu memiliki akidah. Masalahnya karena iman itu bersegi teoritis dan ideal yang hanya dapat diketahui dengan bukti lahiriah dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, terkadang menimbulkan “problem” tersendiri ketika harus berhadapan dengan “keimanan” dari orang yang beragama lain. Apalagi persoalan iman ini, juga merupakan inti bagi semua agama, jadi bukan hanya milik Islam saja. Maka, tak heran jika kemudian muncul persoalan <em>truth claim</em> dan <em>salvation claim</em> diantara agama-agama, yang sering berakhir dengan konflik antar agama.</p>
<p>Untuk mengatasi persoalan seperti itu, pendidikan agama Islam melalui ajaran aqidahnya, perlu menekankan pentingnya “persaudaraan” umat beragama. Pelajaran aqidah, bukan sekedar menuntut pada setiap peserta didik untuk menghapal sejumlah materi yang berkaitan denganya, seperti iman kepada Allah swt, nabi Muhamad saw, dll. Tetapi sekaligus, menekankan arti pentingya penghayatan keimanan tadi dalam kehidupan sehari-hari. Intinya, aqidah harus berbuntut dengan amal perbuatan yang baik atau <em>akhlak al-Karimah</em> pada peserta didik. Memiliki akhlak yang baik pada Tuhan, alam dan sesama umat manusia.</p>
<p>Pendidikan Islam harus sadar, bahwa kerusuhan-kerusuhan bernuasan SARA seperti yang sering terjadi di Indonesia ini adalah akibat ekspresi keberagamaan yang salah dalam masyarakat kita, seperti ekspresi keberagamaan yang masih bersifat ekslusif dan monolitik serta fanatisme untuk memonopoli kebenaran secara keliru. Celakanya, ekspresi keagamaan seperti itu merupakan hasil dari “pendidikan agama”. pendidikan agama dipandang masih banyak memproduk manusia yang memandang golongan lain (tidak seakidah) sebagai musuh. Maka di sinilah perlunya menampilkan pendidikan agama yang fokusnya adalah bukan semata kemampuan ritual dan keyakinan tauhid, melainkan juga akhlak sosial dan kemanusiaan.</p>
<p>Pendidikan agama, merupakan sarana yang sangat efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai atau aqidah inklusif pada peserta didik. Perbedaan agama di antara peserta didik bukanlah menjadi penghalang untuk bisa bergaul dan bersosialisasi diri. Justru pendidikan agama dengan peserta didik berbeda agama, dapat dijadikan sarana untuk menggali dan menemukan nilai-nilai keagamaan pada agamanya masing-masing sekaligus dapat mengenal tradisi agama orang lain.</p>
<p>Target kurikulum Agama  Islam harus berorientasi pada akhlak. Bahkan dalam pengajaran akidahnya, kalau perlu semua peserta didik disuruh merasakan jadi orang yang beragama lain atau atheis sekalipun. Tujuanya adalah bukan untuk “konfersi”, melainkan dalam rangka agar mereka mempertahankan iman. Sebab, akidah itu harus dipahami sendiri, bukan dengan cara taklid, taklid tidak dibenarkan dalam persoalan akidah. Selain itu, pada masalah-masalah syari’ah. Dalam persoalan syariah, sering umat Islam juga berbeda pendapat dan bertengkar. Maka dalam hal ini pendidikan Islam perlu . memberikan pelajaran “fiqih muqarran”untuk memberikan penjelasan adanya perbedaan pendapat dalam Islam dan semua pendapat itu sama-sama memiliki argumen, dan wajib bagi kita untuk menghormati. Sekolah tidak menentukan salah satu mazhab yang harus diikuti oleh peseta didik, pilihan mazhab terserah kepada mereka masing-masing.</p>
<p>Melalui suasana pendidikan seperti itu, tentu saja akan terbangun suasana saling menenami dalam kehidupan beragama secara dewasa, tidak ada perbedaan yang berarti diantara “perbedaan”manusia yang pada realitasnya memang berbeda. Tidak dikenal superior ataupun inferior, serta memungkinkan terbentuknya suasana dialog yang memungkinkan untuk membuka wawasan spritualitas baru tentang keagamaan dan keimanan masing-masing.</p>
<p>Pendidikan Islam harus memandang “iman”, yang dimiliki oleh setiap pemeluk agama, bersifat dialogis artinya iman itu bisa didialogkan antara Tuhan dan manusia dan antara sesama manusia. Iman merupakan pengalaman kemanusiaan ketika berintim dengan-Nya (dengan begitu, bahwa yang menghayati dan menyakini iman itu adalah manusia, dan bukanya Tuhan), dan pada tingkat tertentu iman itu bisa didialogkan oleh manusia, antar sesama manusia dan dengan menggunakan bahasa manusia.</p>
<p>Tujuan untuk menumbuhkan saling menghormati kepada semua manusia yang memiliki iman berbeda atau mazhab berbeda dalam beragama, salah satunya bisa diajarkan lewat pendidikan akidah yang inklusif. Dalam pembelajaranya, tentu saja memberikan perbandingan dengan akidah yang dimiliki oleh agama lain (perbandingan agama). Meminjam bahasanya Alex Roger (1982: 61-62), pendidikan akidah seperti itu mensyaratkan adanya <em>fairly and sensitively</em> dan bersikap terbuka (<em>open minded</em>). Tentu saja, pengajaran agama seperti itu, sekaligus menuntut untuk bersikap “objektif” sekaligus “subjektif”.  Objektif, maksudnya sadar bahwa membicarakan banyak iman secara fair itu tanpa harus meminta pertanyaan mengenai benar atau validnya suatu agama. Subjektif berarti sadar bahwa pengajaran seperti itu sifatnya hanyalah untuk mengantarkan setiap peserta didik memahami dan merasakan sejauh mana keimana tentang suatu agama itu dapat dirasakan oleh orang yang mempercayainya.</p>
<p>Melalui pengajaran akidah inklusif seperti itu, tentu saja bukan untuk membuat suatu kesamaan pandangan, apalagi keseragaman, karena hal itu adalah sesuatu yang absurd dan agak mengkhianati tradisi suatu agama. yang dicari adalah mendapatkan titik-titik pertemuan yang dimungkinkan secara teologis oleh masing-masing agama. setiap agama mempunyai sisi ideal secara filosofis dan teologis, dan inilah yang dibanggakan penganut suatu agama, serta yang akan menjadikan mereka tetap bertahan, jika mereka mencari dasar rasional atas keimanan mereka. Akan tetapi, agama juga mempunyai sisi real, yaitu suatu agama menyejarah dengan keagungan atau kesalahan-kesalahan yang biasa dinilai dari sudut pandang sebagai sesuatu yang memalukan. Oleh karena itu, suatu dialog dalam perbandingan agama harus selalu mengandalkan kerendahan hati untuk membandingkan konsep-konsep ideal yang dimiliki agama lain yang hendak dibandingkan, dan realitas agama—baik yang agung atau yang memalukan—dengan realitas agama lain yang agung atau memalukan itu dengan demikian, akan dapat terhindar dari suatu penilai stndar ganda dalam melihat agama lain.</p>
<h3>Catatan</h3>
<p>Kalau tujuan akhir pendidikan adalah perubahan perilaku dan sikap serta kualitas seseorang, maka pengajaran harus berlangsung sedemikian rupa sehingga tidak sekedar memberi informasi atau pengetahuan melainkan harus menyentuh hati, sehingga akan mendorongnya dapat mengambil keputusan untuk berubah. Pendidikan agama Islam, dengan demikian, di samping bertujuan untuk memperteguh keyakinan pada agamanya, juga harus diorientasikan untuk menanamkan empati, simpati dan solidaritas terhadap sesama. Maka, dalam hal ini, semua materi buku-buku yang diajarkannya tentunya harus menyentuh tentang  isu pluralitas. Dari sinilah kemudian kita akan mengerti urgensinya untuk menyusun bentuk kurikulum pendidikan  agama berbasis pluralistas agama.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Afifi, al-Hadi, Muhammad, (1964), <em>al-Tarbiyah wa al-Taghoyyur al-Tsaqafi</em>, Kairo: Maktabah Angelo al-Mishriyyah.</p>
<p>Allen, Dougles, 1978, <em>Structure and Creativity in Religion</em>. The Houge the Netherlands: Mountan Publisher.</p>
<p>Arkoun, Mohammed, 2001, <em>Islam Kontemporer: menuju Dialog antar agama</em>, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Abdullah, Amin, M., (1999), <em>Studi Agama: Normativitas atau Historisitas</em>, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Azra, Azyumardi, 1998, <em>Esai-esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisme Menuju Milenium Baru</em>, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.</p>
<p>Barnadib, Imam, 1994<em>, Filsafat Pendidikan: Sistem dan Metode</em>, Yogyakarta, Andi Ofset.</p>
<p>Basri, Ghazali <em>at al,</em> (1991), <em>An Integrated Education System In A Multifaith and Multi-Cultural Country</em>, Malaysia: Muslim Yuth Movement Malaysia.</p>
<p>Basuki, Singgih, A., (1999<em>), “Kesatuan dan Keragaman Agama Dalam Pandangan Hazrat Inayat Khan</em>”, dalam Jurnal Penelitian Agama, Nomor 21, TH. VIII Januari-April, h. 151.</p>
<p>Beck, Clive, (1990), <em>Better Schools: A Value Perspective</em>, Britain: The Falmer Press, Taylor and Francis ICC.</p>
<p>Bogdan, Robert, C. and Biklen, Knoop, Sari, <em>Qualitative Research for Education, an Introduction to Theory and Methode</em>, Boston: Allyn and Bacon, 1993: 2</p>
<p>Bulac, Ali, 1998, “<em>The Medina Document</em>”, dalam Charles Kurzman (eds.), Liberal Islam, New York: Oxford University Press.</p>
<p>Darmaningtyas, (1999), <em>Pendidikan Pada Dan Setelah Krisis</em>, Yogyakarta: 1999.</p>
<p>Dawam, Ainurrofiq,  2003, <em>Emoh Sekolah</em>, Yogyakarta: Inspeal Ahimsa Karya Press.</p>
<p>Dewey, John, 1916, <em>Democracy and Education</em>, New York: Macmillan.</p>
<p>Durkheim, E., 1961, <em>Moral Education,</em> New York: The Free Press.</p>
<p>Effendy, Bachtiar, 2001, <em>Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan</em>, Yogyakarta: Galang Press.</p>
<p>Engineer, Ali, Asghar, 2001, <em>On Developing Theology of Peace In Islam, Islam and Modernity</em>. Oktober.</p>
<p>Esack, Farid, 2000, <em>Qur’an, Liberation, and Pluralism</em>, Diterjemahkan oleh: Watung A. Budiman, Bandung: Mizan.</p>
<p>Faruqi, Isma’il dan al-Faruqi, Lamnya, Lois, 1986, <em>The Cultural Atlas of Islam</em>, New York: Macmillan Publishing Company.</p>
<p>Hasan, Hamid, S., (2000<em>), “Pendekatan Multikultural Untuk Penyempurnaan Kurikulum Nasional”,</em> dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Edisi Bulan Januari-November, h. 510-524.</p>
<p>Hick, John, <em>Philosophy of Religion</em>, New Delhi: Prentice Hall, 1963.</p>
<p>Hidayat, Komaruddin, 1998, <em>Tragedi Raja Midas</em>, Jakarta: Paramadina.</p>
<p>Khisbiyah, Yayah <em>at al</em>., (2000), “<em>Mencari Pendidikan Yang Menghargai Pluralisme</em>” dalam Membangun Masa Depan Anak-anak Kita, Yogyakarta: Kanisius.</p>
<p>Mouw, Richard J and Griffon, Sander, 1993, <em>Pluralism and Horizon</em>, Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company.</p>
<p>Mulkhan, Munir, Abdul, (2002), <em>Nalar Spritual Pendidikan</em>, Yogyakarta: Tiara Wacana.</p>
<p>Nasr, Hossein, Sayyed, (1980), <em>Living Sufism</em>, London: Unwin Paperback.</p>
<p>Rachman, Munawar, , Budi, (2001), <em>Islam Pluralis</em>, Jakarta: Paramadina.</p>
<p>Rahmat, Jalaluddin, 1997, <em>Islam Inklusif</em>, Bandung: Mizan.</p>
<p>Rodger, Alex R., 1982, <em>Educational and Faith in Open Society</em>, Britain: The Handel Press.</p>
<p>Sealy, John, (1985), <em>Religious Education Philosophical Perspective</em>, London: George Allen &amp; Unwin.</p>
<p>Shihab, Alwi, <em>Islam Inklusif</em>, Bandung: Mizan.</p>
<p>Siradj, Aqiel, Said, (1999), <em>Islam Kebangsaan: Fiqih Demokratik Kaum Santri</em>, Jakarta: Pustaka Ciganjur.</p>
<p>Smith, W. C. <em>Toward Theology: Faith and the Comparative History of Religion</em>, London&amp;Basingstoke: The Macmillan Press, 1981.</p>
<p>Sumartana at al., (2001), <em>Pluralisme, Konflik, dan Pendidikan Agama di Indonesia</em>, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Tilar, H. A. R., 2000, <em>Paradigma Baru Pendidikan Nasional</em>, Jakarta: Rineka Cipta.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wawankardiyanto.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wawankardiyanto.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wawankardiyanto.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wawankardiyanto.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wawankardiyanto.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wawankardiyanto.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wawankardiyanto.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wawankardiyanto.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wawankardiyanto.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wawankardiyanto.wordpress.com/196/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=196&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/24/pendidikan-pluralis-dan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a481e2f560b8cfabef1498a8e5ea71b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wawankardiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BUSYEEET&#8230;!! 32 Planet Baru ditemukan..</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/20/busyeeet-32-planet-baru-ditemukan/</link>
		<comments>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/20/busyeeet-32-planet-baru-ditemukan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 03:30:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[NEWS]]></category>
		<category><![CDATA[32 planet baru]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Astronom-astronom Eropa mengumumkan telah menemukan 32 planet baru yang mengorbit sejumlah bintang di luar sistem tata surya kita dan menyatakan, Senin (19/10), hasil temuan itu menunjukkan bahwa 40 persen atau lebih dari bintang seperti Matahari memiliki planet-planet semacam itu.
Planet-planet itu memiliki ukuran mulai dari sekitar lima kali Bumi hingga lima kali Yupiter, kata mereka. Sejumlah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=192&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-193" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images3.jpg?w=218&#038;h=170" alt="images" width="218" height="170" />Astronom-astronom Eropa mengumumkan telah menemukan 32 planet baru yang mengorbit sejumlah bintang di luar sistem tata surya kita dan menyatakan, Senin (19/10), hasil temuan itu menunjukkan bahwa 40 persen atau lebih dari bintang seperti Matahari memiliki planet-planet semacam itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Planet-planet itu memiliki ukuran mulai dari sekitar lima kali Bumi hingga lima kali Yupiter, kata mereka. Sejumlah planet lain juga telah ditemukan dan para astronom itu berjanji akan mengumumkan hal itu akhir tahun ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“Penemuan terakhir itu membuat jumlah planet yang ditemukan di luar sistem tata surya kita menjadi sekitar 400,” kata Stephane Udry, dari Observatorium Jenewa di Swiss.</p>
<p style="text-align:justify;">“Alam sepertinya tidak kosong. Jika ada ruang untuk planet, maka akan ada planet di sana,” kata Udry kepada wartawan dalam penjelasan Internet dari pertemuan astronom di Porto, Portugal.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lebih dari 40 persen bintang seperti Matahari memiliki planet-planet dengan massa rendah,” tambahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tim astronom itu menggunakan spektrograf HARPS (Pencari Planet Kecepatan Cahaya Akurasi Tinggi) yang dipasang pada teleskop 3,6 meter Observatorium Selatan Eropa (ESO) di La Silla, Chile.</p>
<p style="text-align:justify;">Spektrograf itu tidak menggambarkan planet-planet tersebut secara langsung, namun ilmuwan bisa menghitung ukuran dan massanya dengan mendeteksi perubahan kecil pada getaran bintang yang ditimbulkan oleh tarikan gravitasi kecil planet.</p>
<p style="text-align:justify;">Para astronom ingin menemukan planet-planet seperti Bumi karena ini merupakan tempat yang paling memungkinkan untuk menopang kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">HARPS telah menemukan 75 planet yang mengitari 30 bintang yang berbeda. Tim ESO tidak memberikan penjelasan terinci mengenai bintang-bintang apa yang diorbit oleh ke-32 planet baru itu.</p>
<p>Sumber : <em>http://sains.kompas.com/read/xml/2009/10/20/07535083/Wow….Ditemukan.32.Planet.Baru</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wawankardiyanto.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wawankardiyanto.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wawankardiyanto.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wawankardiyanto.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wawankardiyanto.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wawankardiyanto.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wawankardiyanto.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wawankardiyanto.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wawankardiyanto.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wawankardiyanto.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=192&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/20/busyeeet-32-planet-baru-ditemukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a481e2f560b8cfabef1498a8e5ea71b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wawankardiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MANUSIA MAKHLUK SEMPURNA</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/07/manusia-dan-alam-semesta-2/</link>
		<comments>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/07/manusia-dan-alam-semesta-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 09:59:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam rahmatan lil alamin]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[alam semesta]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[embrio. zigot]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat manusia]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[janin]]></category>
		<category><![CDATA[kejadian alam semesta]]></category>
		<category><![CDATA[kejadian manusia]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[ovum]]></category>
		<category><![CDATA[qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[rasionalitas]]></category>
		<category><![CDATA[reproduksi manusia]]></category>
		<category><![CDATA[sel telur]]></category>
		<category><![CDATA[sperma]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[MANUSIA MAKHLUK SEMPURNA

A. Manusia dari Beberapa Sudut Pandang
1. Manusia dalam Pandangan Filsafat
Siapakah manusia? Dari mana asalnya? Di mana kedudukan dan fungsi manusia? Lalu apa tujuan manusia? Beberapa pertanyaan itu tidak akan usang dipertanyakan sepanjang jaman apabila membahas topik manusia.
Dalam ilmu mantiq (logika) manusia disebut sebagai Al-Insanu hayawanun nathiq (manusia adalah binatang yang berfikir). Nathiq sama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=166&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>MANUSIA MAKHLUK SEMPURNA<br />
</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-190" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images14.jpeg?w=178&#038;h=119" alt="images" width="178" height="119" />A. Manusia dari Beberapa Sudut Pandang</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">1. Manusia dalam Pandangan Filsafat</span></p>
<p>Siapakah manusia? Dari mana asalnya? Di mana kedudukan dan fungsi manusia? Lalu apa tujuan manusia? Beberapa pertanyaan itu tidak akan usang dipertanyakan sepanjang jaman apabila membahas topik manusia.</p>
<p>Dalam ilmu mantiq (logika) manusia disebut sebagai <em>Al-Insanu hayawanun nathiq</em> (manusia adalah binatang yang berfikir). Nathiq sama dengan berkata-kata dan mengeluarkan pendapatnya berdasarkan pikirannya. Sebagai binatang yang berpikir manusia berbeda dengan hewan. Walau pada dasarnya fungsi tubuh dan fisiologis manusia tidak berbeda dengan Hewan, namun hewan lebih mengandalkan fungsi-fungsi kebinatangannya, yaitu naluri, pola-pola tingkah laku yang khas, yang pada gilirannya fungsi kebinatangan juga ditentukan oleh struktur susunan syaraf bawaan. Semakin tinggi tingkat perkembangan binatang, semakin fleksibel pola-pola tindakannya dan semakin kurang lengkap penyesuaian struktural yang harus dilakukan pada saat lahirnya.</p>
<p>Pada primata yang lebih tinggi (bangsa monyet) bahkan dapat ditemukan intelegensi yaitu penggunaan pikiran guna mencapai tujuan yang diinginkan sehingga memungkinkan binatang untuk melampaui pola-pola kelakuan yang telah digariskan secara naluri. Namun setinggi-tingginya perkembangan binatang, elemen-elemen dasar eksistensinya yang tertentu masih tetap sama.</p>
<p>Manusia menyadari bahwa dirinya sangat berbeda dari binatang apa pun. Tetapi memahami siapa sebenarnya manusia itu bukan persoalan yang mudah. Ini terbukti dari pembahasan manusia tentang dirinya sendiri yang telah berlangsung demikian lama. Barangkali sejak manusia diberi kemampuan berpikir secara sistematik, pertanyaan tentang siapakah dirinya itu mulai timbul. Namun informasi secara tertulis tentang hal ini baru terlacak pada masa Para pemikir kuno Romawi yang konon dimulai dari Thales (abad 6 SM).</p>
<p>Beberapa ahli filsafat berbeda pemikiran dalam mendefinisikan manusia. Manusia adalah makhluk yang <em>concerned</em> (menaruh minat yang besar) terhadap hal-hal yang berhubungan dengannya, sehingga tidak ada henti-hentinya selalu bertanya dan berpikir. Sehingga oleh Beerling (Guru Besar Filsafat) menyebutkannya sebagai &#8220;tukang bertanya&#8221; atau Sartre (filosof eksistensi Perancis) menyebutkan bahwa manusia adalah sifatnya bertanya. Demikian juga Sokrates (470-399 SM) mengajak manusia untuk memperhatikan diri sendiri agar sadar akan dirinya dengan kata hikmahnya yang terkenal &#8220;<em>Gnothi Seantho</em>&#8221; yang artinya kenalilah dirimu.</p>
<p>Rene Descartes (1596-1650) mengatakan &#8220;Cogito Ergo Sum&#8221; (saya berfikir sebab itu saya ada). Di samping itu Aristoteles (384-322 SM), seorang filosof besar Yunani mengemukakan bahwa manusia adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal-pikirannya. Juga manusia adalah hewan yang berpolitik (<em>zoonpoliticon, political animal</em>), hewan yang membangun masyarakat di atas famili-famili menjadi pengelompokkan yang impersonal dari pada kampung dan negara. Manusia berpolitik karena ia mempunyai bahasa yang memungkinkan ia berkomunikasi dengan yang lain. Dan didalam masyarakat manusia mengenal adanya keadilan dan tata tertib yang harus dipatuhi. Ini berbeda dengan binatang yang tidak pernah berusaha memikirkan suatu cita keadilan.</p>
<p><span id="more-166"></span></p>
<p>Filosof terkenal dan termasyhur Islam Ibnu Sina atau Avvicena &#8211;begitu orang barat mengenalnya&#8211; (980–1037), menyebutkan adanya tujuh kesanggupan manusia, yaitu: (l) makan, (2) tumbuh, (3) berkembang biak, (4) pengamatan hal-hal yang istimewa, (5) pergerakan dibawah kekuasaan, (6) ketahuan dari hal-hal yang urnum dan (7) kehendak memilih yang bebas. Tumbuh-tumbuhan memiliki kesanggupan 1, 2, dan 3. Hewan mempunyai kesanggupan 1, 2, 3, 4, dan 5. Sedangkan manusia mempunyai kesanggupan 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Yang dimaksud dengan ketahuan pada angka 6 ialah segala yang kita ketahui, berbeda dengan pengetahuan.</p>
<p>Sedangkan As-Syaikh Musthafa al-Maraghi ketika menafsirkan makna hidayah dalam surat <em>al-Fatihah</em> menerangkan bahwa ada lima macam dan tingkatan hidayah yang dianugerahkan Allah s.w.t. kepada manusia, yaitu: 1. <em>Hidayahal-Ilham gharizahatau</em> (insting). 2.  <em>Hidayah al-Hawasy</em>, (indra). 3.   <em>Hidayah al- &#8216;Aql</em>, (akal budi). 4.   <em>Hidayah al-Adyan</em>, (agama). 5.   <em>Hidayah at-Taufik</em>. <em>Hidayah al- &#8216;Aql</em> (ke 3) lebih tinggi tingkatannya dari hidayah terdahulu (insting dan indra yang dianugerahkan Tuhan kepada hewan). Dan pada hidayah <em>aql</em> pula yang membedakan antara manusia dan binatang. Di samping itu, di atas akal budi terdapat hidayah agama dan <em>hidayah at-taufiq</em>.</p>
<p>Sehubungan dengan tingkat-tingkat eksistensi atau tingkat-tingkat keberadaan makhluk di alam semesta, E.P. Schumacher seorang ekonom dan filosof membagi menjadi beberapa tingkatan: a) Tingkat eksistensi (keberadaan) benda mati yang tersusun dari pelikan (mineral), seperti batu, tanah dan lain-lain. b) Tingkat eksistensi tumbuh-tumbuhan yang tersusun dari unsure pelikan dan unsur hidup. Unsur pelikan adalah bagian yang kelihatan dan unsur hidup adalah ghaib. c) Tingkat eksistensi hewan yang tersusun dari unsur pelikan, unsur hidup dan unsur kesadaran. Unsur kesadaran ini yang hewan beraksi kapan dia mau makan, minum, berteduh, tidur, mengelak dari bahaya, membela diri atau menyerang bila perlu. d) Tingkat eksistensi tertinggi di dalam alam semesta fisika adalah manusia yang tersusun dari unsur pelikan, unsur hidup, kesadaran dan sadar diri. Unsur sadar diri inilah yang menjadikan manusia mempunyai rasa malu; punya konsep aku, engkau dan dia; punya konsep dimensi waktu: kemaren, kini dan esok; punya konsep harga diri, adab dan sopan santun. Jadi unsur sadar dirilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, menurut E.F. Schumacher.</p>
<p>Dari uraian singkat di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Manusia adalah jenis hewan juga.</li>
<li>Manusia mempunyai perbedaan tertentu dibanding dengan hewan lainnya.</li>
<li>Ditinjau dari segi jasmaniah, perbedaan antara manusia dengan hewan adalah gradual, tidak fundamental.</li>
<li>Ditinjau dari segi rohaniyah, perbedaan antara manusia dengan hewan adalah prinsipil, asasi.</li>
<li>Keistimewaan ruhaniyah manusia dibandingkan dengan hewan terlihat dalam kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir, berpolitik, mempunyai kebebasan/kemerdekaan, memiliki sadar diri, mempunyai norma, tukang bertanya atau tegasnya manusia adalah makhluk berbudaya.</li>
</ol>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">2.   Manusia dalam Pandangan Ilmu Pengetahuan<img class="alignleft size-full wp-image-172" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images1.jpg?w=123&#038;h=136" alt="images" width="123" height="136" /></span></em></p>
<p>Para ahli pikir berbeda pendapat dalam mendefinisikan manusia. Perbedaan tersebut sebenarnya disebabkan oleh kenyataan kekuatan dan peran multidimensional yang dimainkan manusia. Sedangkan kecenderungan para ahli pikir hanya meninjau dari sisi yang menjadi titik pusat perhatiannya dan mengabaikan sisi yang lainnya. Perkembangan ilmu pengetahuan yang bergerak dari zaman ke zaman juga senantiasa memperkaya wawasan mereka tentang manusia. Pada zaman modern pendefinisian manusia banyak dilakukan oleh mereka yang menekuni bidang psikologi.</p>
<p>Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo volens (manusia berkeinginan). Menurut aliran ini manusia adalah makhluk yang memiliki perilaku hasil interaksi antara komponen biologis (id), psikologis (ego) dan sosial (superego), Di dalam diri manusia terdapat unsur animal (hewani), rasional (akali), dan moral (nilai).</p>
<p>Para penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai homo mechanicus (manusia mesin). Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (aliran yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subyektif) dan psikoanalisis (aliran yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis perilaku yang tampak saja, yang diukur, dilukiskan dan diramalkan. Menurut aliran ini segala tingkah laku manusia terbentuk sebagai hasil proses pembelajaran terhadap lingkungannya, tidak disebabkan aspek rasional dan emosionalnya.</p>
<p>Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai home sapiens (manusia berpikir). Menurut aliran ini manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungan, tetapi sebagai makhluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya, makhluk yang selalu berpikir. Penganut teori kognitif mengecam pendapat yang cenderung menganggap pikiran itu tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi peristiwa. Padahal berpikir, memutuskan, menyatakan, memahami dan sebagainya adalah fakta kehidupan manusia.</p>
<p>Para penganut teori humanisme menyebut manusia sebagai homo ludens (manusia bermain). Aliran ini mengecam teori psikoanalisis dan behaviorisme karena keduanya dianggap tidak menghormati manusia sebagai manusia. Keduanya tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan menentukan seperti cinta, kreatifitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi. Menurut humanisme manusia berperilaku untuk mempertahankan, meningkatkan, dan mengaktualisasikan diri.</p>
<p>Dari beberapa teori tersebut yang paling popular dan kontroversial adalah teori descendensi (keturunan) atau teori evolusi. Teori evolusi berpangkal dari teori Lamarck, seorang ahli biologi termashur dari Perancis. Pada Lamarck (1774-1829) teori ini baru bersifat spekulatif atau pemikiran. Charles Darwinlah (1809-1882), seorang ahli biologi Inggris, yang menyempurnakan dan menjadikannya ilmiah dengan memberikan dasar data-data. Teori ini beranggap bahwa tiap jenis tumbuhan dan hewan berasal dari jenis yang paling rendah, yakni yang awal sekali adalah amuba atau makhluk bersel satu. Jenis yang paling tinggi atau akhir sekali adalah manusia.</p>
<p>Jadi kalau manusia terjadi dari hasil evolusi hayat, tentu ia berasal dari jenis <img class="alignright size-full wp-image-173" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images2.jpg?w=182&#038;h=219" alt="images" width="182" height="219" />yang lebih rendah, yaitu binatang. Demikianlah manusia menurut teori evolusi merupakan hasil dari evolusi hewan sederhana sampai kepada hewan tingkat tinggi (bangsa antropoide) dan akhirnya manusia.</p>
<p>Memang, asal usul manusia dan keberadaannya di alam semesta menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang menarik. Kapankah manusia pertama kali hadir di muka bumi ini? Makhluk apakah yang menjadi nenek moyang manusia dan bagaimana proses penurunan dan perubahan-perubahannya? Berlandaskan adanya persamaaan bentuk morfologis dan fisiologis (dan alasan yang bersifat ideologis) pada abad ke-19 tumbuh suatu pemahaman tentang asal usul manusia yang dikaitkan dengan primata. Primata (bangsa kera) adalah model puncak perkembangan evolusi hewan.</p>
<p>Berdasarkan kecenderungan mempertahankan pendapat memang ada semacam upaya terselubung untuk &#8220;mempertua&#8221; usia kehadiran manusia oleh kelompok &#8220;Darwinisme&#8221;. Hal ini menyebabkan pengambilan kesimpulan yang serampangan dan mengaburkan fakta. Ramapithecus yang berusia 15 juta tahun dan Oreopithecus yang berusia 12 juta tahun dianggap, sebagai manusia tertua. Pengamatan yang teliti menunjukkan bahwa kedua spesies tersebut lebih layak disebut kera daripada manusia.</p>
<p>Upaya menghubungkan Ramapithecus dan Oreopithecus dengan mata rantai kehadiran manusia banyak ditentang para ahli. Bangsa kera (primata) dianggap memiliki perbedaan yang sangat mendasar dengan manusia meskipun Australopithecus memiliki volume tengkoraknya yang hampir sama dengan simpanse dan gorila. Kedua jenis kera terakhir yang hidup hingga zaman kini tidak memiliki kecerdasan yang mencerminkan kebudayaan manusiawi sebagaimana Australopithecus.</p>
<p>Memang teori evolusi pada hewan dianggap cukup kuat. Bentuk-bentuk kehidupan bersel banyak hampir dapat dipastikan merupakan perkembangan dari bentuk-bentuk sel tunggal. Cenophores yang memiliki dasar-dasar bagi organ-organ dan sel-sel yang telah mendapatkan fungsi- fungsi urat syaraf telah terbentuk kira-kira kurang dari satu milyar tahun yang lalu. Hewan-hewan tak bertulang belakang mungkin telah muncul 500 atau 600 juta tahun yang lalu bersama dengan bangsa kerang-kerangan, cacing gelang dan serangga pertama. Hewan-hewan bertulang belakang datang sesudahnya sekitar 450 juta tahun yang lalu dan begitu pula ikan-ikan tertentu yang terus berkembang setelah itu.</p>
<p>Hewan-hewan bumi bertulang belakang (amfibi dan reptil muncul sekitar 350 juta tahun yang lalu. Setelah mereka muncul pula hewan menyusui (180 juta tahun yang lalu) dan burung (13-1 juta tahun yang lalu). Tetapi bentuk-bentuk kehidupan itu tidak hanya muncul, tetapi juga menghilang, kadang-kadang dalam jumlah yang sangat besar. Bangsa reptil memberikan suatu contoh bagus menyangkut fenomena ini. Setelah berkuasa selama 200 juta tahun, mereka mengalami kejatuhan, sehingga sekarang kita hanya memiliki sedikit sisa untuk menjelaskan kehidupan reptil lebih dari 60 atau 70 juta tahun yang lalu. Tempat mereka telah diambil alih oleh hewan menyusui. Dan bangsa primata dianggap menjadi puncak bagi evolusi di dunia hewan.</p>
<p>Kesenjangan bukti-bukti ilmiah telah melemahkan hipotesis bahwa manusia adalah perkembangan lebih lanjut dari keluarga primata. Jika pun pada suatu hari mungkin ditemukan bukti formal yang menghubungkan manusia dengan nenek moyang hewan maka hal itu adalah sebuah lompatan luar biasa pada pertambahan informasi genetik. Hanya dengan lompatan tersebut terbentuk suatu keturunan dengan ciri-ciri manusiawi yang mengandung kemungkinan-kemungkinan evolusi menuju bentuk homo sapiens.</p>
<p>Tetapi sesungguhnya sebuah argumen ke arah yang berlawanan dapat diajukan tanpa ada sangkalan sekecil apa pun dari bukti-bukti i1miah yang telah diperoleh. Argumen tersebut menyatakan bahwa penciptaan spesies manusia terjadi secara terpisah dari keturunan yang telah ada sebelumnya. Selanjutnya spesies tersebut menjalani transformasi-transformasi seperti yang tergambar dari model Manusia purba Australopithecus sampai dengan homo sapiens seperti berikut:</p>
<ol>
<li>Makhluk yang paling tua yang bentuknya mirip atau hampir menyamai manusia, disebut Australopithecus. Fosilnya diperkirakan berumur 500 &#8211; 600 ribu tahun.</li>
<li>Pithecanthropus Erectus, manusia kera berdiri tegak, yang fosilnya berumur sekitar 400 ribu tahun.</li>
<li>Homo Neonderthalensis, manusia Neanderthal yang fosilnya berumur kira-kira 100 ribu tahun.</li>
<li>Homo Sapiens atau manusia budiwan, fosilnya ditemukan kira-kira 35.000 tahun yang lalu. Manusia yang sekarang ini diperkirakan masuk dalam golongan ini.</li>
</ol>
<p>Melihat teori evolusi yang demikian, tentu muncul dugaan bahwa di masa yang akan datang akan lahir jenis baru yang berbeda sama sekali dengan jenis manusia sekarang. Tetapi dugaan ini dinafikan oleh kelompok finalisma dari kalangan evolusionis juga yang beranggapan bahwa jenis manusia sekarang telah terhenti dengan alasan pada fase ini telah berhenti pertumbuhan volume otak pada manusia sekarang. Menurut mereka penambahan volume dan penyempurnaan otak ada hubungannya dengan perkembangan kecerdasan. Misalnya Australopithecus memiliki volume otak 450 cm . Dalam evolusi 400 &#8211; 500 ribu tahun terjadi pertambahan 1.000 cm dan pada Homo Neanderthaledsis mencapai volume otak 1.450 cm3. Dan sampai di sini volume otak bertahan tetap, tidak bertambah lagi sampai dengan manusia modern kini. Dengan terhentinya evolusi organ yang amat penting (otak) dalam diri manusia, maka terhenti pula evolusi pada jenis manusia.</p>
<p>Tujuan evolusi—menurut kaum finalisma—adalah untuk mewujudkan manusia atau pada manusialah akhir proses evolusi. Namun demikian teori evolusi—sebagai teori ilmu— seperti teori-teori lainnya tidaklah mengandung kebenaran yang mutlak. Kebenaran teori ilmu tergantung pada data-data tempat ia berpijak. Jika ditemukari data baru atau diperbaikinya data lama, suatu teori dapat jatuh dan digantikan oleh teori baru.</p>
<p>Demikian pula yang terjadi pada teori evolusi ini. Walaupun telah dibela oleh kaum finalisma, namun tidak lepas pula dari kelemahan-kelemahan, diantaranya adalah justru teori terhentinya evolusi otak semenjak Homo Neanderthalensis sampai dengan Homo Sapiens. Terhentinya evolusi ini berlawanan dengan teori evolusi itu sendiri. Kelemahan yang lebih nampak dan banyak diperdebatkan adalah tentang &#8220;<em>mising link</em>&#8220;, yaitu putusnya hubungan atau tidak ditemukannya jenis antara dari bangsa hewan (hewan terpuncak dari jenis primata [bangsa kera] yaitu, Ramapithecus yang berusia 15 juta tahun dan Oreopithecus berusia 12 juta tahun) kepada jenis manusia (dari Australipithecus 4 juta – 600.000 tahun hingga Homo sapiens 35.000 – 40.000 tahun).</p>
<p>Di sisi lain, perkembangan mutakhir dari hasil ilmu pengetahuan dalam membahas topik tentang manusia di abad 19 ini adalah dapat dipastikannya asal-usul terjadinya proses kejadian manusia (reproduksi) secara biologis oleh ilmu embriologi dan kedokteran modern.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-175" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images.jpeg?w=160&#038;h=128" alt="images" width="160" height="128" />Proses reproduksi manusia dapat kita temui dalam cabang ilmu Biologi yaitu ilmu embriologi dan kedokteran. Ilmu embriologi adalah ilmu yang masih sangat muda, perkembangannya yang amat menyolok terutama setelah diketemukannya miskroskop sekitar tahun 1677. Namun minat terhadap kejadian-kejadian dan perkembangan-perkembangan yang berhubungan dengan embrio sudah lama ada, lebih dari dua ribu tahun yang lalu, lewat Aristoteles. la mengamati perkembangan sebuah embrio ayam; akan tetapi tanpa miskroskop ia hanya dapat mengambil kesimpulan yang amat dangkal ditinjau pada masa sekarang. la mengatakan bahwa embrio manusia terbentuk bila cairan sel mani dicampur dengan darah menstruasi. Pada hakekatnya pertimbangannya itu tepat, tetapi ia keliru dalam satu hal; ia mengira bahwa hanya pihak wanita yang menentukan zat embrio sedang pihak pria hanya merangsang pertumbuhannya.</p>
<p>Lima ratus tahun kemudian, dalam abad kedua sesudah masehi, seorang <img class="alignright size-full wp-image-182" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images7.jpeg?w=147&#038;h=147" alt="images" width="147" height="147" />dokter Yunani bernama Galen memberi interpretasi lain—yang pada hakekatnya tidak betul— , tetapi toh dipertahankan lebih dari 15 abad. Galen mengembangkan teori yang terkenal dengan nama; &#8220;emboitement&#8221; yang kurang lebih berarti &#8220;dibangun di dalam&#8221; atau &#8220;pengotakan&#8221;. Gambaran teori pengotakan ini adalah demikian; dalam kotak cairan sel kelamin ibu yaitu sel telur, terdapat embrio utuh (sudah berbentuk manusia) tetapi amat kecil sekali; dan kotak cairan sel kelamin ayah mengakibatkan kotak itu membuka diri dan pertumbuhannya dimungkinkan. Menurut teori ini, setiap bayi seharusnya sudah mengandung seorang bayi lagi yang sudah di bentuk sebelumnya, sebagaimana kotak-kotak Tionghoa disusun, yang satu termasuk ke dalam yang lain.</p>
<p>Pada tahun 1677, setelah diketemukannya miskroskop, Anton Van Leeuwenhoek, seorang sarjana ilmu alam berkebangsaan Belanda, untuk pertama kalinya dapat melihat sebuah sperma atau sel kelamin pri<img class="alignleft size-full wp-image-180" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images5.jpeg?w=153&#038;h=125" alt="images" width="153" height="125" />a yang hidup, yaitu setetes cairan mani. Dan seorang dokter muda Regnier de Graafjuga orang Belanda, telah mengamat-amati dan melukiskan &#8220;sesuatu yang meletus sebagai gelembung air&#8221;, waktu ia membuka alat kelamin kelinci betina. Sesuatu itu adalah gugus-gugus sel, tempat terjadinya embrio. Akan tetapi baik de Graaf maupun van Leeuwenhoek tidak dapat memahami apa yang mereka lihat, mereka belum dapat membayangkan bahwa suatu ciptaan berbentuk dapat berkembang dari suatu yang tak berbentuk. Temuan mereka itu untuk sementara belum terpecahkan, sebab pada waktu itu kebanyakan sarjana biologi masih menganut teori emboitement atau teori pengotakan.</p>
<p>Penemuan-penemuan   tersebut di atas mengakibatkan sarjana biologi terpecah menjadi dua golongan,yaitu &#8220;kaum ovulis&#8221; dan &#8220;kaum homunkulis&#8221;. Hal itu terjadi hampir selama dua abad, dari abad 17 hingga abad 18. Padahal keduanya masih menganut teori pengotakan. Kaum ovulis masih tetap memegang pandangan teori pengotakannya Galen. Kaum homunkulis mengatakan lain: &#8220;Manusia dibentuk lebih dulu dalam kepala sperma tidak dalam sel telur&#8221;. Untuk mengilustrasikan pendapat itu, mereka membuat gambar yang memperlihatkan sebuah homunkulus, yaitu manusia sangat kecil yang dengan kepala tertunduk dan kaki bersila persis cocok untuk dimasukkan dalam kepala sperma itu. Mereka mengira homunkulus ini dibesarkan di dalam rahim, dan tumbuh di sana seperti dalam peti pengeraman. Baru pada tahun 1759 lewat Kaspar  Friedrich Wolf seorang sarjana anatomi, dengan memakai miskroskopnya ia menyelidiki embrio ayam. la menyimpulkan penyelidikannya itu dalam desertasinya yang berjudul &#8220;Teori Generationis&#8221; (teori tentang mengadakan keturunan). Ia berhasil secara serentak menghapus teori emboitement maupun teori kaum ovulis/ovist dan homunkulis. Teori tadi digantinya dengan dua konsep baru yang tepat, <em>pertama</em>, sebuah tubuh dibangun dan butir-butir sel, dan yang kedua,   kedua   pihak   orangtua menyumbangkan bagian yang sama banyak bagi anak keturunannya. la menduga hal ini, walaupun waktu itu sel telur binatang menyusui belum ditemukan.</p>
<p>Lebih dari lima puluh tahun kemudian van Boer dapat melihatnya diujung pisau laboratoriumnya. la melihat sel telur yang belum matang dari indung telur seekor anjing. Oleh karena itu pada abad ke 19 minat terhadap embriologi diperbaharui dan diperkuat lagi.</p>
<p>Pada abad inilah baru dapat disadari perkembangan embrio secara jelas. Kita adalah generasi yang mengetahui dengan jelas bagaimana kelangsungan perkembangan manusia dari satu sel menjadi seorang individu, yang sebelumnya sudah hidup dan bereaksi terhadap alam sekitarnya. Kita pulalah generasi yang mengenal kejadian-kejadian mulai dari jam-jam dan hari-hari pertama. Sel telur yang matang pada manusia sedang meninggalkan indung telur dilihat untuk pertama kali pada tahun 1930, Mengenai sel-sel orangtua, yaitu terjadinya persenyawaan sperma dan sel telur baru dapat diamati tahun 1944, yaitu empat belas tahun kemudian. Kejadian-kejadian dalam enam hari pertama dalam kandungan diketahui pada tahun 1950-an. Akhirnya dalam tahun 1960-an kita mulai membongkar rahasia susunan dalam sel yang begitu komplek dan yang menurunkan sifat-sifat turun-temurun kita.</p>
<p>Akhirnya konsep reproduksi pada hari ini telah dapat kita ketahui secara jelas sebagai berikut:</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-179" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images4.jpeg?w=135&#038;h=80" alt="images" width="135" height="80" />Reproduksi manusia terjadi melalui proses-proses yang umum bagi binatang menyusui. Pada permulaannya terjadi pembuahan (<em>fecondantion</em>) dalam saluran telur (<em>tuba fallopii</em>). Yang menyebabkan pembuahan adalah sperma laki-laki (<em>mani</em>). Dari air mani atau sperma yang mengandung berjuta-juta spermatozoa, satu sel benih sudah cukup untuk terjadinya pembuahan dengan sel telur (<em>ovum</em>) dari pihak wanita. Telur yang telah dibuahi akan menetap pada suatu titik tertentu dalam rahim wanita. Telur ini turun sampai ke rahim dan menetap di sana berpegangan dengan selaput lendir dan lengan otot sesudah tersusunnya plasenta. Telur itu akan berkembang dalam rahim menjadi embrio.</p>
<p>Pertama-tama akan terlihat oleh mata biasa, embrio itu terlihat sebagai sepotong daging, lalu akan  timbul  tulang-tulang  sehingga berbentuk manusia. Dan  akan   dilengkapi dengan perlengkapan lainnya, seperti otot,  sistem syaraf,  sistem sirkulasi, pembuluh-pembuluh dan lain sebagainya sampai lahir sosok jabang bayi yang sempurna selama kurang lebih 9 bulan.  Itulah reproduksi manusia yang telah diperoleh oleh akal fikiran manusia dengan ilmu embriologinya serta dilengkapi dengan peralatan yang serba canggih di abad mutakhir saat ini.<img class="alignright size-full wp-image-181" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images6.jpeg?w=173&#038;h=131" alt="images" width="173" height="131" /></p>
<p>Telah diketahui bersama bahwa manusia terdiri dari badan (jasmani) dan Ruh (ruhani). Dipandang dari segi jasmaniah, pada dasarnya tidak ada perbedaan antara manusia dengan binatang. Tetapi jika diperhatikan secara seksama akan ditemukan perbedaan-perbedaan yang mendasar antara keduanya. Di antara perbedaan-perbedaannya adalah, pada manusia untuk melaksanakan tindakan dan perbuatan memerlukan pendidikan atau latihan terlebih dahulu, sedangkan pada binatang semua dilakukan atas dasar naluri. Manusia juga memiliki perasaan rohaniah, seperti suka, duka, dan sebagainya dan juga memiliki kehidupan batin yang nampak pada kesadaran akan diri dan lingkungannya. Dan yang paling penting adalah tumbuh kemampuan berpikir sehingga manusia dapat mempelajari bahasa yang dengannya dapat menyalurkan apa yang ada dalam dirinya (pikiran, perasaan, pengalaman, keinginan) untuk menjalin hubungan di antara anggota masyarakat. Kesemuanya ini tidak dimiliki oleh binatang.</p>
<p>Ilmu pengetahuan juga mengakui bahwa dalam diri manusia ada jiwa. Yang menjadi masalah adalah apakah jiwa itu substansi yang berdiri sendiri ataukah ia hanya merupakan fungsi atau aktifitas jasad dengan organ-organnya. Masalah ini tentu tidak dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan, tetapi dibahas oleh filsafat. Terdapat perbedaan pendapat mengenai jiwa dalam dua cabang filsafat metafisika, yaitu materialisme (serba zat) dan spiritualisme (serba roh). Materialisme beranggapan bahwa hakekat kenyataan yang serba ragam dan serba rupa adalah zat atau materi. Sedangkan spiritualisme beranggapan bahwa hakekat kenyataan adalah roh atau jiwa; Materi bersifat nyata, bentuknya tidak dapat disentuh oleh panca indra.</p>
<p>Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa menurut ilmu pengetahuan manusia terdiri dari jasad material yang tidak banyak bedanya dengan jasad binatang. Perbedaan yang menonjol hanya nampak pada besar kecilnya volume otak. Tetapi dari segi batiniah terdapat perbedaan yang besar sekali. Manusia memiliki jiwa yang memungkinkan otak berfikir. Memiliki qalbu yang menjadi sumber penghayatan rohaniyah yang dengannya manusia dapat membentuk tata kehidupan sosial yang penuh dengan norma dan aturan.</p>
<p><strong><img class="size-full wp-image-183 alignleft" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images8.jpeg?w=151&#038;h=151" alt="images" width="151" height="151" />B.  Manusia dalam Pandangan Islam</strong></p>
<p>Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah Tuhan Pencipta Alam Semesta. Walaupun telah berusaha memahami dirinya selama beribu-ribu tahun, namun gambaran yang pasti dan meyakinkan tak mampu mereka peroleh hanya dengan mengandalkan daya nalarnya yang subyektif. Oleh karena itu mereka memerlukan pengetahuan dari pihak lain yang dapat memandang dirinya secara lebih utuh. Allah Sang Pencipta Alam telah menurunkan Kitab Suci Alquran yang di antara ayat-ayat-Nya adalah gambaran-gambaran konkret tentang manusia. Penyebutan nama manusia dalam Alquran tidak hanya satu macam. Berbagai istilah digunakan untuk menunjukkan berbagai aspek kehidupan manusia, di antaranya:</p>
<p>-         Dari aspek historis penciptaan manusia disebut dengan Bani Adam (Q.S. Al-A’raaf, 7:31).</p>
<p>-         Dari aspek biologis manusia disebut dengan <em>basyar</em> yang mencerminkan sifat-sifat fisik-kimia-biologisnya (Q.S. Al-Mukminun, 23: 33).</p>
<p>-         Dari aspek kecerdasan manusia disebut dengan <em>insan</em> yakni makhluk terbaik yang diberi akal sehingga mampu menyerap pengetahuan (Q.S. Ar-Rahmaan, 55: 3-4).</p>
<p>-         Dari aspek sosiologisnya disebut <em>annas</em> yang menunjukkan sifatnya yang berkelompok sesame jenisnya (Q.S. Al-Baqarah, 2: 21).</p>
<p>-         Dan dari aspek posisinya disebut <em>‘abdun</em> (hamba) yang menunjukkan kedudukannya sebagai hamba Allah yang harus tunduk dan patuh kepadanya-Nya (Q.S. Saba’, 34:9).</p>
<p>Selain dari beberapa istilah tersebut di atas ajaran Islam dalam Alquran juga mengemukakan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang sempurna dan termulia dari makhluk-makhluk yang lain.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1.   Manusia Makluk Terbaik dan Termulia</strong></p>
<p>Dalam model penciptaan, Allah menciptakan manusia melalui dua proses, yaitu penciptaan langsung (penciptaan Adam) dan penciptaan tidak langsung (proses reproduksi manusia).</p>
<p><strong><em><img class="alignleft size-full wp-image-178" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images3.jpeg?w=129&#038;h=129" alt="images" width="129" height="129" />Dalam model penciptaan Adam</em></strong> Allah menciptakan manusia dari unsur-unsur tanah yang dibentuk dan air, lalu ditiupkan ruh Allah secara langsung sehingga terciptalah Nabi Adam sebagai manusia pertama. Beberapa unsur tanah yang disebut dalam Alquran adalah seperti berikut:</p>
<p>1)      <em>Tiin</em>, yaitu tanah lempung:</p>
<p align="right">الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن طِينٍ</p>
<p><em>(Tuhan) memulai penciptaan manusia dari tanah lempung</em>. (Q.S. As-Sajadah, 32:7)</p>
<p>Dalam ayat ini, Alquran menyebut kata <em>badaa</em> yang berarti memulai. Ini menunjukkan adanya awal suatu penciptaan dari tiin. Hal ini jelas bermakna tahap yang lain akan segera mengikuti.</p>
<p>2)      <em>Turaab</em>, yaitu tanah gemuk sebagaimana disebut dalam ayat:</p>
<p align="right">قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ</p>
<p align="right">ثُمَّ مِن نُّطْفَة ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلاً</p>
<p><em>Kawanmu (yang mukmin) berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada Tuhan Yang Menciptakan kamu dari tanah (</em>turaab<em>), kemudian dari setetes air mani lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?”</em> (Q.S. Al-Kahfi, 18:37)</p>
<p>3)      <em>Tiinul laazib</em>, yaitu tanah lempung yang pekat (tanah liat):</p>
<p align="right">فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقاً أَم مَّنْ خَلَقْنَا إِنَّا خَلَقْنَاهُم مِّن طِينٍ لَّازِبٍ</p>
<p><em>Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): “Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari tanah liat (tiinul laazib).</em> (Q.S. As-Saffaat, 37: 11)</p>
<p>4)      <em>Salsalun</em>, yaitu lempung yang dikatakan kalfakhkhar (seperti tembikar). Citra di ayat ini menunjukkan bahwa manusia “dimodelkan”.</p>
<p>5)      <em>Salsalun min hamain masnuun</em> (lempung dari Lumpur yang dicetak/diberi bentuk):</p>
<p align="right">وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ</p>
<p><em>Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk</em>. (Q.S. Al-Hijr, 15: 26)</p>
<p>6)      <em>Sulaalatin min tiin</em>, yaitu dari sari pati tanah. Sulaalat berarti sesuatu yang disarikan dari sesuatu yang lain:</p>
<p align="right">وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ</p>
<p align="right">ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ</p>
<p align="right">ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ</p>
<p align="right">أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ<em> </em></p>
<p><em>Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati <img class="alignright size-full wp-image-184" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images9.jpeg?w=188&#038;h=120" alt="images" width="188" height="120" />(berasal) dari tanah (sulaalatin min tiin). Kemudian Kami jadikan saripati air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. </em>(Q.S. Al-Mukminun, 23: 12-14)</p>
<p>7)      Air yang dianggap sebagai unsur penting asal usul seluruh kehidupan:</p>
<p align="right">وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاء بَشَراً فَجَعَلَهُ نَسَباً وَصِهْراً وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيراً</p>
<p><em>Dan Dia (Allah) pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia (Allah) jadikan manusia itu punya keturunan dan musaharah adalah Tuhanmu Mahakuasa</em>. (Q.S. Al-Furqaan, 25: 54)</p>
<p>8)      Peniupan Ruh (ciptaan) Allah:</p>
<p align="right">فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُ سَاجِدِينَ</p>
<p><em>Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud</em>. (Q.S. Al-Hijr, 15: 29)</p>
<p align="right">ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ</p>
<p><em>Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan) Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur</em>. (Q.S. As-Sajdah, 32: 9)</p>
<p>Demikian model penciptaan langsung nabi Adam yang difirmankan Allah dalam Alquran. Manusia menurut Islam berbeda sama sekali dengan makhluk-makhluk lain, manusia adalah makhluk yang paling terbaik dan sempurna dihadapan Allah. Manusia di samping mempunyai jasad, nyawa, nafsu naluri, dan insting, manusia dilengkapi dengan Ruh Allah (ruhani).</p>
<p>Adanya unsur ruhani ini bukan berarti bahwa manusia adalah sebuah organisme yang mempunyai dua unsure jasmani dan ruhani yang masing-masing mempunyai fungsi dan berjalan sendiri-sendiri secara terpisah, melainkan keduanya adalah merupakan satu kesatuan yang terpadu, berjalan berkelindan, tak terpisahkan, berfungsi penuh dan bersama-sama.</p>
<p>Karena kelebihannya itulah manusia memperoleh predikat sebagai makhluk terbaik dan termulia, baik bentuk kejadiannya maupun kedudukannya di alam semesta ini.</p>
<p align="right">لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ</p>
<p><em>Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya</em>. (Q.S. At-Tin, 95: 4)</p>
<p align="right">وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً</p>
<p><em>Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka ke daratan dan lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan</em>. (Q.S. Al-Isra, 17: 70)</p>
<p><strong><em><img class="alignleft size-full wp-image-185" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images10.jpeg?w=111&#038;h=108" alt="images" width="111" height="108" />Dalam model penciptaan proses reproduksi manusia</em></strong> isi ayat-ayat Alquran telah membuka mata pakar dunia di bidang ilmu kedokteran dan embriologi. Mereka terpana akan kesuaian ilmu ilmiah modern yang telah dihasilkan dengan riset-riset mahal dengan wahyu Alquran yang notabene telah ada sejak tahun 500 M yang lalu.  Hal ini telah membuktikan kebenaran wahyu Alquran dan agama Islam sebagai pedoman hidup manusia.</p>
<p align="right">يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ فِي أَيِّ صُورَةٍ مَّا شَاء رَكَّبَكَ</p>
<p><em>&#8220;Hai manusia apakah yang telah memperdaya kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuhmu) seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu</em>.&#8221; (Q.S. Al- Infithar, 82: 6-8)</p>
<p>Proses terjadinya manusia merupakan fenomena yang baru saja diketahui setelah diketemukannya alat-alat modern yang serba canggih diperbagai segi. Para pakar sains di bidang kedokteran terkejut tatkala mereka menemukan teori-teori proses terjadinya manusia di dalam Alquran yang sangat sesuai dengan hasil yang mereka peroleh setelah melakukan penyelidikan berabad-abad lamanya hingga saat ini.</p>
<p>Lalu apa yang sebenarnya dapat dijelaskan oleh Alquran mengenai proses kejadian manusia?</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Proses Kejadian dalam Kandungan</span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p align="right">كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتاً فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ</p>
<p align="right">ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ</p>
<p><em>&#8220;Mengapa kamu kafir terhadap Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu.&#8221;</em>(Q.S. Al Baqarah 2: 28)</p>
<p>Di manakah kita, ketika kita belum ada, seperti kata ayat Quran di atas? Kalau menurut ilmu yang telah kita dapat, kita pada waktu itu masih berupa unsur-unsur zat asli  di dalam tanah (zat-zat anorganis), sedangkan roh kita masih berada di tangan Allah.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-177" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images2.jpeg?w=156&#038;h=156" alt="images" width="156" height="156" />Unsur-unsur zat asli yang terdapat di dalam tanah akan diserap, baik itu oleh hewan maupun tumbuhan, dan tak terkecuali akan sampai juga kepada manusia, termasuk ayah dan ibu kita. Dalam tubuh ayah, zat-zat tersebut akan terbentuk menjadi sperma, sedang pada ibu akan terwujud ovum (sel telur). Dari kedua benda (sperma dan ovum) inilah nanti akan terwujud sosok manusia yang menakjubkan di dalam rahim ibu.</p>
<p align="right">خُلِقَ مِن مَّاء دَافِق</p>
<p align="right">يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ</p>
<p>&#8220;Maka hendaklah manusia memperhatikan dan apa ia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara bagian seksuil daripada lelaki dan perempuan.&#8221;(Q.S. Ath Thariq, 86: 6-7)</p>
<p align="right">أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَى</p>
<p><em>&#8220;Bukankah ia dahulu berupa setetes mani yang ditumpahkan.&#8221;</em></p>
<p>(Q.S. Al Qiyamah, 75: 37)</p>
<p>Mani atau sperma yang terbentuk di dalam tubuh setelah terjadinya persenyawaan antara zat-zat yang terbawa dari makanan dengan unsur-unsur lain di dalam tubuh inilah yang merupakan salah satu bahan terpenting bagi terwujudnya sosok manusia.</p>
<p>Sebelum membicarakan lebih jauh reproduksi manusia di dalam Alquran, kita perlu mengetahui dulu bagaimana proses reproduksi manusia menurut ide-ide ilmu embriologi modern yang telah diperoleh (lihat bab diatas)</p>
<p>Alquran menarik perhatian para ahli mengenai soal-soal reproduksi yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:</p>
<p>a. Setetes cairan yang menyebabkan pembuahan (facondation).</p>
<p>b. Watak dari zat cair yang membuahi.</p>
<p>c. Menetapnya telur yang sudah dibuahi dalam rahim.</p>
<p>d. Perkembangan embrio di dalam rahim.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Setetes cairan yang menyebabkan pembuahan</span>.</p>
<p>Alquran mengetengahkan soal ini sebelas kali dalam berbagai surah. Marilah coba kita perhatikan ayat-ayat ini;</p>
<p align="right">خَلَقَ الإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ</p>
<p><em>&#8220;Dia telah menciptakan manusia dari nutfah, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.&#8221;</em>(Q.S. An Nahl, 16: 4)</p>
<p>Kata nutfah dalam ayat ini berasal dari akar kata yang artinya &#8220;mengalir&#8221;. Kata ini dipakai untuk menunjukkan air yang ingin tetap dalam wadahnya, sehingga sesudah wadah itu dikosongkan. Jadi kata tersebut menunjukkan setetes kecil yang dalam hal ini berarti setetes air sperma (mani), karena dalam ayat lain diterangkan bahwa setetes itu adalah setetes sperma.</p>
<p align="right">أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَى</p>
<p><em>&#8220;Bukankah ia dahulu dari setetes mani (sperma) yang ditumpahkan.&#8221;</em></p>
<p>(Q.S. Al Qiyamah, 75:37)</p>
<p>Dalam ayat lain setetes itu ditempatkan dalam tempat yang tetap atau kokoh yang dinamai rahim.</p>
<p align="right">ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ</p>
<p><em>&#8220;Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (sperma) (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)</em>.&#8221; (Q.S. Al Mu&#8217;minun, 23:13)</p>
<p>Inilah ayat-ayat Quran yang menunjukkan ide tentang setitik cairan yang diperlukan untuk pembuahan, hal ini sesuai tepat dengan sains yang telah kita ketahui sekarang.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Watak dari zat cair yang membuahi</span></p>
<p>Alquran menunjukkan cairan yang memungkinkan terjadinya pembuahan dengan watak-watak atau sifat yang perlu dicermati,</p>
<p>- Sperma (seperti yang baru dibicarakan)</p>
<p>- Cairan yang terpancar (Q.S. Ath Thariq, 86:6)</p>
<p>- Cairan yang hina (Q.S. Al Mursalaat, 77: 20)</p>
<p>- Cairan yang bercampur/amsyaj (Q.S. Al Insan, 76:2)</p>
<p>Watak cairan yang terakhir perlu digaris bawahi, karena mengandung suatu hal yang menakjubkan yang perlu kita ketahui dan mengerti.</p>
<p align="right">إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعاً بَصِيراً</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes nutfah yang bercampur.., </em>(QS Al Insan, 76:2)</p>
<p>Banyak ahli tafsir seperti Hamidullah dan juga ahli-ahli tafsir kuno yang mereka itu belum memiliki ide sedikit pun tentang fisiologi pembuahan, mereka mengira bahwa kata &#8220;campuran&#8221; itu hanya menunjukkan bertemunya unsur lelaki dan wanita.</p>
<p>Tetapi ahli tafsir modern seperti penulis Muntakhab yang diterbitkan Majelis Tinggi soal-soal Islam di Kairo mengoreksi cara para ahli tafsir kuno dan menerangkan bahwa setetes sperma itu banyak mengandung unsur-unsur. Suatu keterangan yang sangat tepat, walaupun mereka tidak memberikan perinciannya. Apakah unsur-unsur sperma yang bermacam-macam itu? Cairan sperma mengandung unsur-unsur yang bermacam-macam yang berasal dari kelenjar-kelenjar sbb;</p>
<p>-         Tetis, buah pelir yang mengeluarkan <em>spermatozoa</em> yaitu sel panjang berekor dan berenang dalam cairan <em>serolife</em>.</p>
<p>-         Kantong-kantong benih (<em>besicules seminutes</em>). Organ ini merupakan tempat menyimpan spermatozoa, juga mengeluarkan cairan, tapi tak bersifat membuahi.</p>
<p>-         Prostat, mengeluarkan cairan yang memberikan sifat krem serta bau khusus kepada sperma.</p>
<p>-         Kelenjar Cooper/mery, mengeluarkan cairan yang lekat.</p>
<p>-         Kelenjar letre, yang mengeluarkan semacam lendir.</p>
<p>Inilah unsur-unsur campuran yang dimaksud dalam Alquran.</p>
<p>Betapa menakjubkan, Alquran memberikan hal-hal yang harus diketahui dengan alat-alat modern pada saat ini, yang tidak mungkin diketahui orang-orang pada waktu Alquran diturunkan 15 abad silam. Ini membuktikan bahwa Tuhan yang menguasai jagat inilah yang menurunkan kitabNya kepada manusia sebagai petunjuk dan bukti akan kebenaran yang Mutlak.</p>
<p>Satu lagi para sarjana yang mencoba mempelajari Alquran dibuat kagum dan dengan tulus mereka menyatakan beriman Islam, yaitu bunyi suatu ayat dalam Q.S. As Sajadah, 32: 8;</p>
<p align="right">ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاء مَّهِينٍ</p>
<p><em>&#8220;Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.”</em></p>
<p>Yang dimaksud saripati di ayat ini adalah suatu bahan yang dikeluarkan atau keluar dari bahan yang lain dan merupakan bagian yang terbaik (terpilih) daripada bahan itu (<em>sperma</em>). Yang lebih jelasnya adalah; yang menyebabkan terjadinya pembuahan (sehingga tercipta manusia) pada sel telur (<em>ovum</em>) pada pihak wanita, adalah satu bagian yang berupa sebuah sel panjang yang besarnya kurang lebih 1/10.000 mm. Satu dari beberapa juta sel yang serupa di dalam setetes sperma yang dihasilkan seorang lelaki.</p>
<p>Sejumlah yang sangat besar tetap di jalan dan tidak sampai ke trayek yang menuntun dari kelamin wanita sampai ke sel telur di dalam rongga rahim (uterus dan trompe).</p>
<p>Bagaimana kita tidak terpukau oleh persesuaian antara teks Alquran dengan ilmu pengetahuan ilmiah yang kita miliki sekarang ini (abad modern)!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Menetapnya telur yang sudah dibuahi dalam rahim</span></p>
<p>Telur yang telah dibuahi dalam &#8220;trompe&#8221; turun bersarang di dalam rongga rahim (cavum uteri). Inilah yang dinamakan &#8220;bersarangnya telur&#8221;. Quran menamakan uterus tempat telur dibuahkan itu rahim (kata jamaknya <em>arham</em>).</p>
<p align="right">وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاء إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى</p>
<p><em>&#8220;Dan kami tetapkan dalam rahim apa yang kami hendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.&#8221;</em> (Q.S. Al Hajj, 22: 5)</p>
<p>Menetapnya telur dalam rahim terjadi karena tumbuhnya jonjot (villi), yakni perpanjangan telur yang akan mengisap dari dinding rahim zat yang perlu bagi membesamya telur, seperti akar tumbuh-tumbuhan yang masuk dalam tanah. Pertumbuhan semacam ini mengokohkan telur di dalam rahim. Pengetahuan hal ini baru diperoleh manusia pada jaman modem saat ini.</p>
<p>Pelekatan ini disebutkan dalam Alquran 5 kali, salah satunya ada dalam     Q.S.<img class="alignright size-full wp-image-176" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images1.jpeg?w=147&#038;h=173" alt="images" width="147" height="173" /> Al Alaq, 96: 2,</p>
<p align="right">خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ</p>
<p><em>&#8220;Yang menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat.”</em></p>
<p>&#8220;Sesuatu yang melekat&#8221; adalah terjemahan kata bahasa arab &#8216;alaq. Ini adalah arti yang pokok. Arti lainnya adalah gumpalan darah yang sering disebutkan dalam terjemahan Alquran. Ini adalah suatu kekeliruan yang harus kita koreksi. Manusia tidak pernah melewati tahap gumpalan darah. Ada lagi terjemahan &#8216;alaq yaitu lekatan (<em>adherence</em>) yang juga merupakan kata yang tidak tepat. Arti pokok yaitu &#8220;suatu yang melekat&#8221; sesuai sekali dengan temuan sains modern. Secara lebih jelasnya adalah sebagai berikut;</p>
<p>Setelah pembuahan antara sperma dengan ovum, kedua sel tersebut akan membelah dari 1,2,4,8,16 dan seterusnya secara cepat sekali. Enam atau  tujuh hari setelah pembuahan sel yang banyak menyerupai gelembung kecambah ini menetap dan bersarang pada dinding dalam uterus, yang rupanya seperti bunga karang atau selapis karet busa. Kejadian yang sangat penting ini disebut &#8220;nidasi&#8221; atau implantasi, maksudnya penyarangan atau penanaman. Selama proses nidasi ini, beberapa pembuluh yang sangat halus dalam jaringan sel sang ibu dibuka. Sisa jaringan yang rusak dan tetes darah kecil yang keluar merupakan makanan untuk sel-sel yang sedang berkembang. Sel-sel ini mengisap makanan dengan cara sama seperti tumbuh-tumbuhan mengisap makanan dari tanah lembab.</p>
<p>Memang, &#8220;alaq atau sesuatu yang melekat ini akan dengan segera mengeluarkan semacam jaringan akar-akar yang halus sekali, yang disebut &#8220;villi&#8221;. Guna akar-akar ini selain untuk menerima zat makanan, juga supaya &#8216;alaq ini dapat mengikatkan diri dengan kokoh di dalam rahim. Di dalam dinding-dinding inilah &#8216;alaq akan berkembang mengalami metamorfbrse yang amat dasyat. Tak lama lagi &#8216;alaq ini makin lama makin berkembang dan besar. Dan berubah setiap jam menjadi apa yang jelas-jelas sebagai makhluk manusia yang mempunyai kepala, tubuh, tangan, kaki, jari-jari, mata, telingan dan hidung.</p>
<p>Ide tentang sesuatu yang melekat (&#8216;alaq), disebutkan di beberapa ayat yang lainnya. Misalnya sebagai berikut;</p>
<p align="right">ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً</p>
<p><em>&#8220;Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (sesuatu yang melekat).&#8221;</em>(Q.S. Al Mu&#8217;minun 23:14)</p>
<p align="right">هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ</p>
<p><em>&#8220;Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari &#8217;sesuatu yang melekat&#8217;. &#8220;</em>(Q.S. Al Mu&#8217;min 40:67)</p>
<p align="right">أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَى</p>
<p align="right">ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى</p>
<p><em>&#8220;Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). Kemudian mani itu menjadi &#8217;sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempumakannya.&#8221;</em>(Q.S. al Qiyaamah 75: 37-38)</p>
<p>Persesuaian ini sungguh menambah iman kepada Allah dan kitab-Nya yang diturunkan kepada Muhammad.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><img class="alignleft size-full wp-image-186" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images11.jpeg?w=129&#038;h=100" alt="images" width="129" height="100" />Perkembangan embrio dalam rahim</span>.</p>
<p>Semua hal yang telah disebutkan oleh Alquran di atas telah diketahui oleh manusia saat ini, dan tidak mengandung sedikitpun hal-hal yang dapat dikritik oleh sains. Sekarang kita mulai membicarakan mengenai tahap-tahap perkembangan embrio di dalam rahim.</p>
<p>Setelah kata &#8220;sesuatu yang melekat&#8221; (&#8216;alaq) yang telah kita lihat kebenarannya, Alquran menyatakan bahwa embrio melalui tahap; secuil daging (seperti daging yang dikunyah), kemudian nampaklah tulang yang diselubungi oleh daging (diterangkan dengan kata lain berarti daging segar).</p>
<p align="right">ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ</p>
<p align="right">أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ<em> </em></p>
<p><em>&#8220;Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu Kami jadikan sesuatu yang melekat itu secuil daging dan secuil daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.&#8221;</em>(Q.S. Al Mu&#8217;minun 23:14)</p>
<p>Daging (seperti yang dikunyah) adalah terjemahan kata bahasa arab <img class="alignright size-full wp-image-189" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images13.jpeg?w=140&#038;h=200" alt="images" width="140" height="200" />&#8220;<em>mudlghah</em>&#8220;, daging (seperti daging segar) adalah terjemahan kata &#8220;<em>lahm</em>&#8220;. Perbedaannya perlu digarisbawahi, embrio pada permulaannya merupakan benda yang nampak kepada mata biasa, dalam tahap tertentu daripada perkembangan sebagai daging yang dikunyah. Sistem tulang berkembang pada benda tersebut di dalamnya, yang dinamakan &#8220;<em>mesenbyme</em>&#8220;. Tulang yang sudah terbentuk dibungkus dengan otot-otot, inilah yang dimaksud kata &#8220;<em>lahm</em>&#8220;.</p>
<p>Dalam perkembangan embrio, ada beberapa bagian yang muncul yang tidak seimbang proporsinya dengan yang akan menjadi manusia nanti, sedang bagian-bagian lain tetap seimbang. Bukankah arti bahasa arab &#8220;<em>mukhallaq</em>&#8221; adalah dibentuk dengan proporsi seimbang?, yang dipakai dalam ayat 5 surat Al Maaidah disebutkan untuk menunjukkan fenomena ini?</p>
<p>Alquran juga menyebutkan munculnya panca indera dan hati (perasaan, afidah)</p>
<p align="right">ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ</p>
<p align="right">وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ</p>
<p><em>&#8220;Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati.” </em>(Q.S. As-Sajadah 32: 9)</p>
<p>Terbentuknya seks juga disebutkan dalam Quran surah Faathir ayat 11 dan surah Al Qiyamah 39 juga surah An Najm 45-46 sebagai berikut;</p>
<p align="right">وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنثَى</p>
<p align="right">مِن نُّطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى</p>
<p><em>&#8220;Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari mani yang dipancarkan.&#8221;</em>(Q.S. An Najm 53: 45-46)</p>
<p><strong>2.  Ruh dan nafs<img class="alignright size-full wp-image-187" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images12.jpeg?w=194&#038;h=121" alt="images" width="194" height="121" /></strong></p>
<p>Ruh adalah salah satu komponen penting yang menentukan ciri kemanusiaan manusia. Setelah proses-proses fisik berlangsung dalam penciptaan manusia, pemasukan ruh menjadi unsur penentu yang membedakan manusia dengan dunia hewan. Sebagaimana banyak dari aspek fisik manusia yang hakikatnya belum diketahui manusia, ruh merupakan misteri besar yang dihadapi manusia.</p>
<p align="right">إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِن طِينٍ</p>
<p align="right">فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ</p>
<p><em>&#8220;(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempumakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah. kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”</em> (Q.S. Saad, 38:71-72)</p>
<p align="right">وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي</p>
<p align="right">وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً</p>
<p><em>&#8220;Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: &#8220;Ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”</em> (Q.S. Al-Israa, 17:85)</p>
<p>Ruh adalah getaran ilahiah yaitu getaran sinyal ketuhanan sebagaimana rahmat, nikmat, dan hikmah yang kesemuanya sering terasakan sentuhannya, tetapi sukar dipahami hakikatnya. Sentuhan getaran rohaniah itulah yang menyebabkan manusia dapat mencerna nilai-nilai belas kasih, kejujuran, kebenaran, keadilan dan sebagainya.</p>
<p>Istilah nafs banyak tersebar dalam Alquran. Meski termasuk dalam wilayah abstrak yang sukar dipahami, istilah nafs memiliki pengertian yang sangat terkait dengan aspek fisik manusia. Gejolak nafs dapat dirasakan menyebar ke seluruh bagian tubuh manusia karena tubuh manusia merupakan kumpulan dari bermilyar-milyar sel hidup yang saling berhubungan. Nafs bekerja sesuai dengan bekerjanya sistem biologis manusia.</p>
<p align="right">اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى</p>
<p align="right">إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ</p>
<p><em>“Allah memegangjiwa (nafs) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia, tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.”</em> (Q.S. Az-Zumar, 39:42)</p>
<p>Hubungan antara nafs dan fisik manusia demikian erat meski sukar untuk diketahui dengan pasti bagaimana hubungan itu berjalan. Dua hal yang berbeda, mental dan fisik, dapat menjalin interrelasi sebab akibat. Kesedihan dapat menyebabkan mata mengeluarkan cairan, kesengsaraan membuat badan kurus. Dikenal pula istilah psikosomatik, yaitu penyakit-penyakit fisik yang disebabkan oleh masalah kejiwaan.</p>
<p>Perpisahan antara nafs dan fisik disebut maut dan ini adalah peristiwa yang paling misterius dalam kehidupaan manusia sebelum ia menjumpai peristiwa-peristiwa lainnya di dunia yang lain pula.</p>
<p align="right">&#8230;وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلآئِكَةُ بَاسِطُواْ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُواْ أَنفُسَكُمُ&#8230;</p>
<p><em>“&#8230; alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang zalim, (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata): Keluarkanlah nafs-mu&#8230;”</em> (Q.S. Al-An&#8217;aam, 6:93)</p>
<p align="right">كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ</p>
<p><em>“Tiap-tiap nafs akan merasakan mati.&#8221;</em> (Q.S. Ali Imran, 3:185)</p>
<p><strong>3.  Fitrah manusia: Hanif dan potensi akal, qalb dan nafsu</strong></p>
<p>Kata fithrah (fitrah) merupakan derivasi dari kata fatara, artinya ciptaan, suci, dan seimbang. Louis Ma&#8217;ruf dalam kamus Al-Munjid (1980:120) menyebutkan bahwa fitrah adalah sifat yang ada pada setiap yang ada pada awal penciptaannya, sifat alami manusia, agama, sunnah.</p>
<p>Menurut imam Al-Maraghi (1974: 200) fitrah adalah kondisi di mana Allah menciptakan manusia yang menghadapkan dirinya kepada kebenaran dan kesiapan untuk menggunakan pikirannya.</p>
<p>Dengan demikian arti fitrah dari segi bahasa dapat diartikan sebagai kondisi awal suatu ciptaan atau kondisi awal manusia yang memiliki potensi untuk mengetahui dan cenderung kepada kebenaran (hanif). Fitrah dalam arti hanif ini sejalan dengan isyarat Alquran:</p>
<p align="right">فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ</p>
<p><em>&#8220;Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.&#8221;</em> (Q.S. Ar-Ruum, 30: 30)</p>
<p>Fitrah dalam arti penciptaan tidak hanya dikaitkan dengan arti penciptaan fisik, melainkan juga dalam arti rohaniah, yaitu sifat-sifat dasar manusia yang baik. Karena itu fitrah disebutkan dalam konotasi nilai. Lahirnya fitrah sebagai nilai dasar kebaikan manusia itu dapat dirujukkan kepada ayat:</p>
<p align="right">وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ</p>
<p><em>“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”</em> (Q.S. Al-A&#8217;raaf, 7: 172)</p>
<p>Ayat di atas merupakan penjelasan dari fitrah yang berarti hanif (kecenderungan kepada kebaikan) yang dimiliki manusia karena terjadinya proses persaksian sebelum digelar ke muka bumi. Persaksian ini merupakan proses fitrah manusia yang selalu memiliki kebutuhan terhadap agama (institusi yang menjelaskan tentang Tuhan), karena itu dalam pandangan ini manusia dianggap sebagai makhluk religius. Ayat di atas juga menjadi dasar bahwa manusia memiliki potensi baik sejak awal kelahirannya. la bukan makhluk amoral, tetapi memiliki potensi moral. Juga bukan makhluk yang kosong seperti kertas putih sebagaimana yang dianut para pengikut teori tabula rasa.</p>
<p>Fitrah dalam arti potensi, yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia tersebut dapat dikelompokkan kepada dua hal, yaitu potensi fisik dan potensi rohaniah.</p>
<p>Potensi fisik manusia telah dijelaskan pada bagian yang lalu, sedangkan potensi rohaniah adalah akal, qalb dan nafsu. Akal dalam pengertian bahasa Indonesia berarti pikiran, atau rasio. Harun Nasution (1986) menyebut akal dalam arti asalnya (bahasa Arab), yaitu menahan, dan orang &#8216;aqil di zaman jahiliah yang dikenal dengan darah panasnya adalah orang yang dapat menahan amarahnya dan oleh karenanya dapat mengambil sikap dan tindakan yang berisi kebijaksanaan dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. Senada dengan itu akal dalam Alquran diartikan dengan kebijaksanaan (<em>wisdom</em>), intelegensia (<em>intelligent</em>) dan pengertian (<em>understanding</em>). Dengan demikian di dalam Alquran akal diletakkan bukan hanya pada ranah rasio tetapi juga rasa, bahkan lebih jauh dari itu jika akal diartikan dengan hilunah atau bijaksana.</p>
<p>Al-qalb berasal dari kata qalaba yang berarti berubah, berpindah atau berbalik dan menurut Ibn Sayyidah (Ibn Manzur: 179) berarti hati. Musa Asyari (1992) menyebutkan arti al-qalb dengan dua pengertian, yang pertama pengertian kasar atau fisik, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulat panjang, terletak di dada sebelah kiri, yang sering disebut jantung. Sedangkan arti yang kedua adalah pengertian yang halus yang bersifat ketuhanan dan rohaniah yaitu hakikat manusia yang dapat menangkap segala pengertian, berpengetahuan dan arif.</p>
<p>Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa akal digunakan manusia dalam rangka memikirkan alam sedangkan mengingat Tuhan adalah kegiatan yang berpusat pada qalbu. Keduanya merupakan kesatuan daya rohani untuk dapat memahami kebenaran sehingga manusia dapat memasuki suatu kesadaran tertinggi yang bersatu dengan kebenaran Ilahi.</p>
<p>Adapun nafsu (bahasa Arab: <em>al-hawa</em>, dalam bahasa Indonesia sering disehat hawa nafsu) adalah suatu kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginannya. Dorongan-dorongan ini sering disebut dengan dorongan primitif, karena sifatnya yang bebas tanpa mengenal baik dan buruk. Oleh karena itu nafsu sering disebut sebagai dorongan kehendak bebas. Dengan nafsu manusia dapat bergerak dinamis dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Kecenderungan nafsu yang bebas tersebut jika tidak terkendali dapat menyebabkan manusia memasuki kondisi yang membahayakan dirinya. Untuk mengendalikan nafsu manusia menggunakan akalnya sehingga dorongan-dorongan tersebut dapat menjadi kekuatan positif yang menggerakkan manusia ke arah tujuan yang jelas dan baik. Agar manusia dapat bergerak ke arah yang jelas, maka agama berperan untuk menunjukkan jalan yang akan harus ditempuhnya. Nafsu yang terkendali oleh akal dan berada padajalur yang ditunjukkan agama inilah yang disebut an-nafs al-mutmainnah yang diungkapkan Alquran :</p>
<p align="right">يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ</p>
<p align="right">ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً</p>
<p align="right">فَادْخُلِي فِي عِبَادِي</p>
<p align="right">وَادْخُلِي جَنَّتِي</p>
<p><em>“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.”</em> (Q.S. Al-Fajr, 89:27-30)</p>
<p>Dengan demikian manusia ideal adalah manusia yang mampu menjaga fitrah (hanif)-nya dan mampu mengelola dan memadukan potensi akal, qalbu, dan nafsunya secara harmonis.</p>
<p><strong>4.   Manusia Mempunyai Hak Pilih dan Kebebasan</strong></p>
<p>Pada setiap ciptaan-Nya, Allah telah menentukan qadamya. Qadar sendiri berarti &#8220;memberikan ukuran/keterhinggaan/ketetapan). Arti ini dapat diketahui dari ayat-ayat berikut ini:</p>
<p align="right">الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً</p>
<p><em>“&#8230;</em>yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, <strong><em>dan Dia menetapkan  ukuran-ukurannya  dengan  serapi-rapinya</em></strong><em>.”</em> (Q.S. al-Furqan, 25: 2)</p>
<p align="right">وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ</p>
<p><em>“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”</em> (Q.S. Yasin, 36: 38)</p>
<p align="right">وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتاً كَذَلِكَ تُخْرَجُونَ</p>
<p><em>“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati,&#8230;&#8221;</em> [Q.S. az-Zukhruf, 43: 11)</p>
<p align="right">إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”</em> (Q.S. al-Qamar, 54: 49)</p>
<p align="right">قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً</p>
<p><em>“...  Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”</em> (Q.S. ath-Thalaq, 65: 3)</p>
<p align="right">وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْراً وَأَعْظَمَ أَجْرا...</p>
<p><em>“... Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu, memperoleh (balasannya) di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya,...”</em> [Q.S. al-Muzamil 73: 20].</p>
<p align="right">وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ عِندَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلاَّ بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ</p>
<p><em>“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.”</em> (Q.S. al-Hijr 15: 21)</p>
<p>Ide yang terkandung dalam doktrin qadar ini adalah bahwa Allah saja yang tak terhingga secara mutlak, sedang segala sesuatu selain Allah sebagai ciptaanNya memiliki &#8220;ukuran/keterhinggaan&#8221; atau memilih kapasitas yang terbatas. Menurut al-Qur&#8217;an, setiap Allah menciptakan sesuatu hal (<em>khalq</em>), Allah memberikan sifat-sitat, potensi-potensi dan hukum-hukum tingkah laku (amr, &#8220;perintah&#8221; atau hidayah &#8220;petunjuk&#8221;) tertentu kepadanya, sehingga ia menuruti sebuah pola tertentu dan menjadi sebuah laktor didalam &#8220;kosmos&#8221;.</p>
<p>Oleh karena itu segala sesuatu di dalam alam semesta ini bertingkah laku sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditentukan padanya secara otomatis mentaati &#8220;perintah&#8221; Allah-maka keseluruhan alam semesta ini adalah muslim atau tunduk kepada kehendak Allah.</p>
<p>Manusia adalah satu-satunya kekecualian didalam hukum universal ini karena diantara scmuanya, manusialah satu-satunya ciptaan Allah yang diberi kebebasan untuk mentaati atau mengingkari perintah Allah.</p>
<p>Sebagaimana ciptaan yang lain, pada manusia juga telah ditetapkan sifat-sifat, potensi-potensi dan hukum-hukum tingkah laku, yaitu bahwa manusia diciptakan telah dilengkapi dengan perbekalan-perbekalan yang berupa kodrat, pembawaan jiwa (watak) dan perlengkapan-perlengkapan lainnya. Semua ini dapat diarahkan pemakaiannya kearah yang baik maupun ke arah yang buruk. Jadi tidak semata-mata untuk kebaikan atau untuk keburukan saja. Walaupun sebagian orang lebih kuat iradah kebaikannya dan sebagian lain lebih kuat iradah kejahatannya. Semua itu hanya Allah yang tahu ukurannya secara pasti, sebagaimana firman Allah:</p>
<p align="right">وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا# فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا# قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا# وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا#</p>
<p><em>“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan. Sesungguh-nya beruntunglah orang yang mensucikanjiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” </em>(Q.S. asy-Syams, 91: 7-10)</p>
<p>Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah menjadikan manusia dengan sempurna lagi berimbangan dan mengisinya dengan kodrat-kodrat (sarana) yang dapat menerima kebaikan atau kejahatan.</p>
<p>Di samping itu Allah juga telah membekali manusia dengan akal yang dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan juga Allah memberikan kepada manusia tenaga dan kemampuan untuk membenarkan yang haq dan menyalahkan yang bathil, sanggup mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang buruk.</p>
<p>Tidak hanya itu saja, Allah masih mengutus para rasul untuk mewujudkan jalan-jalan kebenaran dan memberikan bimbingan. Allah juga telah merumuskan dalil-dalil (pokok-pokok pedoman) tentang kebenaran dengan diturunkan kitab suci (al-Qur&#8217;an) kepada manusia.</p>
<p>Dengan demikian manusia dipandang mukhtar dalam segala perbuatannya, dengan ikhtiar yang hakiki, bukan majazi, karena ia menyukai perbuatan itu dan mempunyai pengaruh dalam meninggalkan perbuatan.</p>
<p>Melihat kelengkapan perbekalan yang diberikan Allah kepada manusia, maka manusia harus mengerahkan kodrat dan kemampuannya untuk memilih jalan kebenaran atau jalan sesat. Sebagaimana firman Allah:</p>
<p align="right">وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ</p>
<p><em>“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”</em> (Q.S. al-Balad, 90: 10)</p>
<p align="right">إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِراً وَإِمَّا كَفُوراً</p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”</em> (Q.S. al-Insan, 76: 3)</p>
<p>Dengan demikian segala hasil dan akibat dari perbuatan manusia adalah karena ulah manusia sendiri, sebagaimana firman Allah:</p>
<p align="right">كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ</p>
<p><em>“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”</em> (Q.S. al-Muddatstsir, 74: 38)</p>
<p align="right">مَنْ عَمِلَ صَالِحاً فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاء فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ</p>
<p><em>“Barang siapa mengerjakan amal sholeh maka (pahalanya) untuk dirinva sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba(Nya).”</em> (Q.S. Fushshilat, 41: 46)</p>
<p align="right">إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”</em> (Q.S. ar-Ra&#8217;du, 13: 11)</p>
<p>Makna yang senada dapat dilihat pada beberapa ayat berikut ini:</p>
<p align="right">وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ..</p>
<p><em>“Dan katakanlah, Kebenaran itu datangnya dan Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin, (kafir) biarlah ia kafir,&#8230;”</em> (Q.S. al-Kahfi, 18: 29)</p>
<p align="right">لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ</p>
<p><em>“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesangggupannya. la mendapat pahala (dari kebajikan) yang ia usahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya&#8230;”</em> (Q.S. al-Baqarah, 2: 286)</p>
<p align="right">فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</p>
<p>“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. as-Sajadah, 32: 17)</p>
<p align="right">وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ</p>
<p>“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.S. asy-Syuura, 42: 30)</p>
<p align="right">ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ</p>
<p>“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merusakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).”       (Q.S. ar-Rum, 30: 41)</p>
<p align="right">وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى</p>
<p>“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Q.S. an-Najm, 53: 39)</p>
<p>Keterangan di atas menunjukkan bahwa Allah memberikan kebebasnya kepada manusia untuk menggunakan potensi-potensi yang telah diberikan Allah kepada manusia. Dengan demikian perbuatan manusia adalah hasil dari kehendak dan kemampuan manusia sendiri, yaitu kehendak dan kemampuan yang telah diberikan Allah kepada manusia.                     ,</p>
<p>Dengan potensi dan kemampuan diatas, manusia dibebani taklif, yaitu untuk berbuat baik dan meninggalkan yang buruk; menunaikan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan.</p>
<p>Sebagai konsekwensinya, manusia diminta untuk memperianggungjawabkan atas segala penggunaan potensi-potensi dan kemampuan yang telah diberikan Allah padanya untuk melakukan kebaikan atau keburukan. Jika ia menggunakan potensi-potensi dan kemampuan itu untuk kebaikan, maka Allah akan membalas dengan kebaikan danjika ia menggunakannya untuk melakukan keburukan, maka Allah akan membalas dengan keburukan pula. Demikian itulah keadilan Allah kepada hamba Nya.</p>
<p>Akhimya dapat diketahui bahwa dengan dibekali potensi-potensi, kemampuan dan akal; diberi petunjuk tentang kebaikan dan kejahatan (dengan diutusnya rasul dan diturunkannya kitab suci); dibebani kewajiban dan dimintai tanggung-jawab, maka manusia diberi kebebasan berkehendak/ikhtiar untuk menentukan apa yang dikerjakan sebatas kemampuan yang telah diberikan oleh Allah. Dengan demi-ldan manusia bukanlah makhluk yang terpaksa.</p>
<p>Namun demikian kehendak dan kemampuan manusia bukanlah kehendak dan kemampuan yang bebas tanpa batas. Melainkan semua itu dibatasi oleh sunnatullah, yaitu ketetapan Allah yang telah diberikan Allah kepada makhluk Nya.</p>
<p><strong>5.   Peran Ganda Manusia: Hamba dan Khalifah</strong></p>
<p>Allah menciptakan manusia tidak sekadar untuk permainan, tetapi untuk melaksanakan tugas yang berat (Q.S. al-Mu&#8217;minun, 23: 115) menunaikan amanah yang manusia memang telah bersedia untuk menerimanya (Q.S. al-Ahzab, 33: 72), yaitu melaksanakan fungsinya sebagai khalifah dimuka bumi dan misinya untuk menciptakan kemakmuran di muka bumi. Fungsi sebagi khalifah ditunjukkan oleh ayat:</p>
<p align="right">وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ</p>
<p align="right">إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ</p>
<p><em>“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: &#8216;Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi&#8217;. Mereka berkata: &#8216;Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?&#8221; Tuhan berfirman, &#8216;Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”</em> (Q.S. al-Baqarah, 2: 30)</p>
<p align="right">وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلاَئِفَ الأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ</p>
<p><em>“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa (khalifah) di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sehagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksanya dan sesungguhnya Dia M aha Pengampun lagi Maha Penyayang.” </em>(Q.S. al-An&#8217;am, 6: 165)</p>
<p>Misi manusia adalah membuat kemakmuran di muka bumi dengan jalan menegakkan sebuah tata sosial yang bermoral untuk terwujudnya masyarakat yang beradab, adil dan makmur untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Hal ini bisa ditelusuri dalam firman Allah:</p>
<p align="right">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ</p>
<p><em>“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”</em> (Q.S. al-Anbiya&#8217;, 21: 107)</p>
<p>Di samping kewajiban untuk menunaikan amanah sebagai khalifah, maka kewajiban yang lain yang langsung kepada Allah adalah &#8220;Ibadah&#8221;. Allah bahkan telah menegaskan bahwa manusia diciptakan memang untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana firman Allah sebagai berikut:</p>
<p align="right">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ</p>
<p><em>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah KU.”</em> (Q.S. adz-Dzariyat, 51: 56)</p>
<p>Oleh karena itu manusia hams mengabdikan diri sepenuhnya untuk menghambakan diri semata-mata karena Allah.</p>
<p align="right">قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</p>
<p><em>“Katakanlah: ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”</em> (Q.S. al-An&#8217;am, 6: 162)</p>
<p>Jadi sebenamya seluruh aktivitas manusia adalah mempunyai nilai ibadah apabila dilakukan dalam rangka penunaian amanah sebagai khalifah untuk menuju tercapainya cita-cita agama Islam.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wawankardiyanto.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wawankardiyanto.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wawankardiyanto.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wawankardiyanto.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wawankardiyanto.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wawankardiyanto.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wawankardiyanto.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wawankardiyanto.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wawankardiyanto.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wawankardiyanto.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=166&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/07/manusia-dan-alam-semesta-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a481e2f560b8cfabef1498a8e5ea71b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wawankardiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images14.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images7.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images5.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images4.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images6.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images8.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images3.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images9.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images10.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images2.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images1.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images11.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images13.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/10/images12.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DIJUAL BUKU: Dialog Cinta Allah, Antara Sahabat Beda Agama</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/09/13/dijual-buku-dialog-cinta-allah-antara-sahabat-beda-agama/</link>
		<comments>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/09/13/dijual-buku-dialog-cinta-allah-antara-sahabat-beda-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 07:52:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bukuku dijual kpd umum]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[dialog agama]]></category>
		<category><![CDATA[jual buku]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[
Awan Lembayung wrote:

 
Salam sejahtera, smoga Tuhan slalu memberkahimu,
 
Melati, maaf ya aku ngganggu kamu lagi,
Met, beribadah menyambut hari besarmu Natal dan Tahun Baru 2004. Dan kuucapkan selamat Natal dan Tahun Baru 2004 buatmu, smoga Allah slalu memberkahimu.
 
Setelah sedikit bertukar-pikiran mengenai agama kemarin, aku mungkin telah cukup memahami keberagamaan kamu yang begitu tulus berusaha [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=160&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-full wp-image-161" title="melati" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/09/melati.jpg?w=500&#038;h=342" alt="melati" width="500" height="342" /></p>
<p><tt><strong>Awan Lembayung wrote:<br />
</strong></tt></p>
<p><tt> </tt></p>
<p><tt>Salam sejahtera, smoga Tuhan slalu memberkahimu,</tt></p>
<p><tt> </tt></p>
<p><tt>Melati, maaf ya aku ngganggu kamu lagi,</tt></p>
<p><tt>Met, beribadah menyambut hari besarmu Natal dan Tahun Baru 2004. Dan kuucapkan selamat Natal dan Tahun Baru 2004 buatmu, smoga Allah slalu memberkahimu.</tt></p>
<p><tt> </tt></p>
<p><tt>Setelah sedikit bertukar-pikiran mengenai agama kemarin, aku mungkin telah cukup memahami keberagamaan kamu yang begitu tulus berusaha mendekati Tuhan dengan kasih dan cinta. </tt></p>
<p><tt> </tt></p>
<p><tt>Keberagamaan/ibadah/pengalaman religi kamu telah sedemikian kuat, sehingga aku sedikit ragu/tak sampai hati mengusik keimanan yang sedemikian kuat itu. Aku sangat menyukai dan benar-benar hormat kepada orang-orang yang sholeh. Kamu smoga termasuk golongan wanita yang sholeh. Allah pasti akan membalas dengan keselamatan dan kebahagiaan kepada mereka kelak.</tt></p>
<p><tt> </tt></p>
<p><tt>Kepada orang-orang yang sholeh, baik itu beragama Kristen, Katholik, Islam, Hindu, Budha, Khonghucu, Santho, Yahudi, Kejawen, aliran dinamisme maupun animisme, dll di segenap penjuru bumi dan di dalam ruang waktu kapan pun, smoga mereka mendapat curahan kebahagiaan dan keselamatan Tuhan di hari akhir kelak. Sebab, mereka semua secara tulus telah berusaha beribadah dan menggapai wajah Tuhan dengan mengharap kasih, cinta, dan ridho-Nya. Apakah orang-orang yang begitu tulus dan sholeh tersebut tidak terselamatkan, gara-gara klaim setiap agama yang mengaku bahwa golongan mereka sendirilah yang terselamatkan? Apakah Allah yang katanya Maha Adil dan Maha Kasih akan bertindak demikian, menghukum orang-orang yang sedemikian tulus mengharapkan Kasih dan sayang-Nya? </tt></p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230; berlanjut. (hanya sebagian surat 1)</p>
<p><tt><strong><span style="text-decoration:underline;">Jawaban Melati:</span></strong></tt></p>
<p><tt> </tt></p>
<p><tt>Salam sejahtera dalam kasih Tuhan.</tt></p>
<p><tt> </tt></p>
<p><tt>Thanks buat emailmu, kebetulan pas buka email trus baca.</tt></p>
<p><tt> </tt></p>
<p><tt>Thanks pula sudah tahu mengenai keyakinan saya. Dan saya sangat menghargai pula orang2 yang mau menghargai orang lain.</tt></p>
<p><tt> </tt></p>
<p><tt>Tapi maaf kalau kamu punya niatan untuk mengusik keimanan saya, saya cuma mau katakan satu hal: berhati-hatilah. Saya bukannya takut menghadapi siapapun tetapi itu karena saya SUDAH dan BENAR2 tidak suka ada orang lain “mengusik”  keimanan saya lagi. Bahkan meskipun itu bapak saya sendiri. Sekali lagi maaf. Sekeras apapun kamu mau membengkokkan jalan saya dengan tujuan apapun, saya TIDAK SUKA dan TIDAK MAU. Semuanya sudah cukup untuk saya ketahui.</tt></p>
<p><tt> </tt></p>
<p><tt>Saya TIDAK PERNAH mengatakan dan menyatakan agama lain salah atau keyakinan sayalah yang benar, yang benar adalah bahwa tiap orang sudah memilih jalan keselamatannya sendiri2 dengan konsep keselamatannya sendiri2 pula!!! DEMIKIAN PULA SAYA! Kenapa saya tidak lagi memberikan peluang karena saya sudah TENANG dan YAKIN dg jalan saya. Saya tidak peduli orang lain mau mengatakan saya: KAFIR, BODOH, NDAK PUNYA OTAK, PRIMITIF, TERTUTUP, SAKLEK, dan lain sebagainya OH PUJI TUHAN!!! </tt></p>
<p><tt> </tt></p>
<p><tt>Bagi kami keselamatan itu adalah karunia dari Allah semata, dan bukan hanya karena orang terus2an berbuat baik maka mereka selamat dan pasti masuk SurgaNya Allah. Apakah kita bisa menyatakan seseorang yang selalu memberikan sedekah dengan sebanyak2nya maka dia PASTI masuk Surga? Bisa membangun rumah ibadah PASTI MASUK SURGA? MESAKKE TENAN WONG CILIK, mas. Nggo mangan wae susah opo meneh arep mbangun rumahe dewe. Padahal Allah itu MAHA BAIK dan ADIL, orang sejahat apapun, sebelum dia meninggal, mau menerima keselamatan yang dari Tuhan, dia pasti masuk Surga. Itu sudah terbukti!!! Kalau istilahmu dulu adalah diPENAKKE. Berbuat baik harus dijadikan KEBUTUHAN, dan</tt></p>
<p><tt>BUKAN KEWAJIBAN!!! Dengan demikian bisa dengan tulus hati berbuat baik tanpa mengharap imbalan apapun, karena Tuhan menilai HATI dan bukan menilai yang KETOK DI MATA manusia. </tt></p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. belanjut (jawaban surat 1)</p>
<p>Dialog tersebut adalah nukilan dari buku saya yang rencananya akan saya terbitkan.</p>
<p>Judul  : Dialog Cinta Allah, Antara Sahabat Beda Agama, 36 hal. th. 2009. Penulis Wawan Kardiyanto.</p>
<p>Skarang saya tawarkan buku itu kepada yang berminat membelinya/melelang dalam bentuk file Pdf.  via Online.</p>
<p>Yang berminat membeli/infaq/sedekah/lelang/dana jihad, minimal Rp. 50.000,-  tranfer dana ke :</p>
<p>(rek.   521.02228.22,   an.   Wawan   Kardiyanto,   Bank   Muamalat   Indonesia   Cab.   SOLO).</p>
<p>Yang sudah tranfer dana silahkan email saya di sini ato ke ppuira@gmail.com, ato ke wawan_kardiyanto@yahoo.com, dengan bukti tranferannya dilampirkan beserta alamat email anda.</p>
<p>Selanjutnya segera akan saya kirim file buku ke alamat email anda.</p>
<p>trims, Wassalamu&#8217;alikum wrwb.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wawankardiyanto.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wawankardiyanto.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wawankardiyanto.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wawankardiyanto.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wawankardiyanto.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wawankardiyanto.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wawankardiyanto.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wawankardiyanto.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wawankardiyanto.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wawankardiyanto.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=160&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/09/13/dijual-buku-dialog-cinta-allah-antara-sahabat-beda-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a481e2f560b8cfabef1498a8e5ea71b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wawankardiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/09/melati.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">melati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>OBSESIKU, buat ormas yg lebih baik dari Muh dan NU..</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/09/05/obsesiku-buat-ormas-yg-lebih-baik-dari-muh-dan-nu/</link>
		<comments>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/09/05/obsesiku-buat-ormas-yg-lebih-baik-dari-muh-dan-nu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 08:10:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>
		<category><![CDATA[donasi]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[hibah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam rahmatan ll alamin]]></category>
		<category><![CDATA[muhammadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[nahdatul ulama]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[btw, siapa yg mo mbantu mengelola publikasi PPU-IRA obsesi saya, yg tlah sy buat ruangnya dgn fasilitas facebook di ruang sbb:
A. di Facebook:
1. grup : klik http://www.facebook.com/group.php?gid=66648649108
2. page : klik http://www.facebook.com/pages/MJ9-solo/PUSAT-PERSAUDARAAN-UMAT-Islam-Rahmatan-lil-Alamin-PPU-IRA/91675949769
3. cause : http://apps.facebook.com/causes/338929?m=3124eff7
silahkan email sy&#8230; and syukron.
B. di Web percobaan
1. http://ppuisra.cmsindo.com/ untuk web medianya
2.http://www.pupira.byethost17.com/ untuk web utamanya.
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=157&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>btw, siapa yg mo mbantu mengelola publikasi PPU-IRA obsesi saya, yg tlah sy buat ruangnya dgn fasilitas facebook di ruang sbb:</p>
<p>A. di Facebook:<br />
1. grup : klik http://www.facebook.com/group.php?gid=66648649108<br />
2. page : klik http://www.facebook.com/pages/MJ9-solo/PUSAT-PERSAUDARAAN-UMAT-Islam-Rahmatan-lil-Alamin-PPU-IRA/91675949769<br />
3. cause : http://apps.facebook.com/causes/338929?m=3124eff7<br />
silahkan email sy&#8230; and syukron.</p>
<p>B. di Web percobaan</p>
<p>1. http://ppuisra.cmsindo.com/ untuk web medianya</p>
<p>2.http://www.pupira.byethost17.com/ untuk web utamanya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wawankardiyanto.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wawankardiyanto.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wawankardiyanto.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wawankardiyanto.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wawankardiyanto.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wawankardiyanto.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wawankardiyanto.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wawankardiyanto.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wawankardiyanto.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wawankardiyanto.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=157&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/09/05/obsesiku-buat-ormas-yg-lebih-baik-dari-muh-dan-nu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a481e2f560b8cfabef1498a8e5ea71b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wawankardiyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGUMUMAN 1 RAMADHAN dari MUHAMMADIYAH</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/08/20/pengumuman-1-ramadhan-dari-muhammadiyah/</link>
		<comments>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/08/20/pengumuman-1-ramadhan-dari-muhammadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 02:30:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[NEWS]]></category>
		<category><![CDATA[2009]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[PENGUMUMAN 1 RaMADHaN
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;

Maklumat Nomor: 06/MLM/I.0/E/2009
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kamis (23/07/2009) melalui Maklumat Nomor: 06/MLM/I.0/E/2009 mengumumkan penetapan tanggal 1 Ramadhan 1430 H berterpatan dengan hari Sabtu, tanggal 22 Agustus 2009.
Seperti dirilis dalam situs resmi Muhammadiyah, penentuan tersebut sesuai hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Di dalam maklumat tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=149&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>PENGUMUMAN 1 RaMADHaN<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
<img class="alignleft size-full wp-image-150" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/08/images.jpeg?w=102&#038;h=135" alt="images" width="102" height="135" /><br />
Maklumat Nomor: 06/MLM/I.0/E/2009<br />
Pimpinan Pusat Muhammadiyah</p>
<p>Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kamis (23/07/2009) melalui Maklumat Nomor: 06/MLM/I.0/E/2009 mengumumkan penetapan tanggal 1 Ramadhan 1430 H berterpatan dengan hari Sabtu, tanggal 22 Agustus 2009.</p>
<p>Seperti dirilis dalam situs resmi Muhammadiyah, penentuan tersebut sesuai hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.</p>
<p>Di dalam maklumat tersebut dinyatakan bahwa ijtimak menjelang Ramadhan 1430 H terjadi pada hari Kamis tanggal 20 Agustus 2009 M pukul 17:02:48 WIB. Data astronomis yang menjadi dasar penentuan tersebut adalah tinggi hilal pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta (f = -07° 48¢ dan l = 110° 21¢ BT) = -01° 10¢ 20² (hilal belum wujud) dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam Hilal di bawah ufuk.</p>
<p>Dalam maklumat tersebut, PP Muhammadiyah juga menyertakan Tausiyah Ramadhan yang salah satunya mengingatkan agar bulan Ramadhan ini dijadikan momentum untuk mempertautkan kembali hati yang mungkin selama pemilihan legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden telah terjadi perbedaan pendapat dan pilihan sehingga menimbulkan keretakan hati.</p>
<p>Selain penetapan 1 Ramadhan, maklumat tersebut juga memuat penetapan 1 Syawwal 1430 H yang jatuh pada hari Ahad tanggal 20 September 2009 dan &#8216;Idul Adha (10 Dzulhijjah 1430 H) jatuh pada hari Jum&#8217;at tanggal 27 November 2009 M.</p>
<p>http://www.facebook.com/home.php?#/event.php?eid=119880754188</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wawankardiyanto.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wawankardiyanto.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wawankardiyanto.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wawankardiyanto.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wawankardiyanto.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wawankardiyanto.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wawankardiyanto.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wawankardiyanto.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wawankardiyanto.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wawankardiyanto.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=149&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/08/20/pengumuman-1-ramadhan-dari-muhammadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a481e2f560b8cfabef1498a8e5ea71b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wawankardiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/08/images.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SINERGIKAN HATI DAN DAYA PIKIR KITA</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/07/28/sinergikan-hati-dan-daya-pikir-kita/</link>
		<comments>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/07/28/sinergikan-hati-dan-daya-pikir-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 02:12:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam rahmatan lil alamin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[SINERGIKAN HATI DAN DAYA PIKIR KITA
&#8220;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kami tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.&#8221; (QS. 17:36)
 

Allah adalah Kreator dan Operator Agung kita. Namun apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh manfaat dari &#8220;pengetahuan tentang Allah&#8221; yang disingkapkan dalam ayat-ayatNya? Antara lain, kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=144&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>SINERGIKAN HATI DAN DAYA PIKIR KITA</strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span>&#8220;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kami tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.&#8221; (QS. 17:36)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72.5pt;text-align:justify;text-indent:27pt;"><strong><em><!--[if !supportEmptyParas]--> </em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25pt;text-align:justify;text-indent:27pt;"><img class="alignleft size-full wp-image-147" title="images" src="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/07/images.jpg?w=120&#038;h=110" alt="images" width="120" height="110" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25pt;text-align:justify;text-indent:27pt;">Allah adalah Kreator dan Operator Agung kita. Namun apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh manfaat dari &#8220;pengetahuan tentang Allah&#8221; yang disingkapkan dalam ayat-ayatNya? Antara lain, kita harus “cenderungkan hati kita pada daya pikir”, memiliki hasrat sepenuh hati untuk memperoleh dan mempertunjukkan sifat ini. Untuk itu, kita harus bermunajab kepada Allah, sebagaimana Allah berfirman dalam Qur&#8217;an 16:78, <em>&#8220;Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati, agar kamu bersyukur&#8221;.</em> Ayat itu rnemberitahukan kepada kita bahwasanya pengetahuan adalah modal penting untuk mengetahui semua pertanyaan hakekat kehidupan (pasca kelahiran), yakni apa, mengapa, bagaimana, siapa, di mana, ke mana, tujuan hidup kita. Allah berfirman, <em>&#8220;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya,&#8221;</em><span> </span>(QS. 17:36)<span> </span>Apa<span> </span>gerangan pengetahuan, hikmat, dan daya pikir?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><em>Pengetahuan</em> adalah pengenalan akan fakta-fakta yang diperoleh melalui pengalaman, pengamatan, atau pelajaran. Hikmat adalah kesanggupan untuk menerapkan pengetahuan dengan cara efektif dan benar. <em>&#8220;Allah mengangkat derajat orang yang percaya dan orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat.</em> &#8220;(QS. 58:11) Daya pikir adalah &#8220;ketajaman dalam membuat penilaian&#8221;. Ini adalah &#8220;kesanggupan atau<span> </span>kemampuan pikiran yang dapat membedakan satu hal dengan hal yang lain&#8221;. <em>(Webster&#8217;s Universal Dictionary)</em> Jika kita mencenderungkan hati kepada daya pikir, Allah akan menghadirkan hikmat kebenaran Islam kepada orang-orang yang mau mengunakan daya pikirnya tersebut. Namun, bagaimana daya pikir dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <span id="more-144"></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><strong>DAYA PIKIR DAN TUTUR KATA </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">Daya pikir membantu kita menyadari bahwa ada &#8220;waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara&#8221;. Sifat ini juga membuat kita berhati-hati akan apa yang kita katakan. Untuk itu setiap orang muslim harus memelihara lidahnya dari segala kata, terkecuali yang baik, kalau kira-kira sama baiknya di antara diam dan bicara, maka lebih baik diam, sebab adakalanya bicara yang baik itu juga melantur kepada bicara yang tidak baik. Abu Hurairah r.a., berkata: Bersabda Nabi<span> </span>s.a.w. : <em>&#8216;Siapa yang percaya kepada Allah dan hari kemudian, hendaknya berkata baik atau diam.&#8221;</em> (hadist Buchary, Muslim) Orang yang tidak berakal budi memandang hina sesamanya sendiri, tetapi orang yang berdaya pengamatan luas adalah orang yang tetap diam. Orang yang berjalan ke sana kemari sebagai pemfitnah menyingkapkan pembicaraan yang bersifat gunjingan, tetapi orang yang mempunyai semangat setia menutupi perkara. &#8221; Ya, seorang pria atau seorang wanita yang menghina orang lain &#8220;tidak berakal budi&#8221;. Menurut leksikograf Wilhelm Gensenius, orang seperti itu &#8220;tidak memiliki pengertian&#8221;. Ia tidak memiliki kemampuan menilai yang baik, dan digunakan istilah &#8220;budi&#8221; memperlihatkan bahwa sifat-sifat positif dari manusia batiniahnya kurang. Jika seseorang yang mengaku muslim memperkembangkan obrolannya sampai ke taraf memfitnah atau mencerca, maka diibaratkan lebih kejam daripada pembunuhan, pepatah mengatakan lidah lebih tajam dari sebilah pedang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">Berbeda dengan orang-orang yang &#8220;tidak berakal budi&#8221;, orang-orang berdaya pikir luas&#8221; berdiam diri bila hal itu tidak pantas dilakukan. Mereka tidak menghianati apa yang orang<span> </span>lain percayakan kepadanya. &#8220;Tepatilah janji, sesungguhnya janji itu akan ditanyakan dan<span> </span>dimintai tanggungjawabnya.&#8221; (QS. 17:34) Karena mengetahui bahwa tutur kata yang tidak dikendalikan dapat mengakibatkan kerugian, orang-orang yang berdaya pikir<span> </span>&#8220;mempunyai semangat setia&#8221;. Mereka loyal kepada rekan-rekan seiman dan tidak membocorkan perkara-perkara gunjingan yang dapat membahayakan rekan-rekan mereka. Jika orang-orang muslim yang berdaya pengamatan menerima keterangan<span> </span>apapun yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak jelas terhadap rekan maupun<span> </span>sahabatnya, mereka akan mendiamkan dan merahasiakan. Berkenaan dengan hal itu, apa yang dilakukan orang-orang Muslim yang setia dan berdaya pikir sehubungan dengan keterangan yang bersifat gunjingan? Janganlah kita menjadi orang-orang munafik, yaitu; Abu Hurairah r.a., berkata: Rasulullah bersabda: &#8220;Tanda orang munafik itu ada tiga; jika bicara ia dusta, jika berjanji mengingkari, dan jika dipercaya berhianat.&#8221; (Buchary, Muslim)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><strong><!--[if !supportEmptyParas]--> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><strong>DAYA PIKIR DAN TINGKAH LAKU </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">Islam membantu kita menggunakan daya pikir dan menghindari tingkah laku yang tidak pantas. Tingkah laku yang tidak pantas adalah tingkah laku yang selalu mengikuti hawa nafsu yang buruk. Sesunguhnya manusia itu cenderung mengikuti nafsu buruknya. Allah berfirman,&#8221; <em>&#8230;karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku&#8221;(QS. 12:53).</em> Orang-orang yang menuruti hawa nafsu cenderung bertingkah laku bebas tanpa batas. Padahal Allah melarang sifat melampaui batas, <em>&#8220;Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana </em><span> </span><em>diperintahkan kepadamu &#8230; dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia melihat apa yang kamu kerjakan.</em> &#8220;(QS. 11:112)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">Bagi orang bebal, menuruti nafsu dan bertingkah laku bebas adalah seperti permainan, tetapi<span> </span>hikmat adalah bagi orang-orang yang berdaya pikir. <em>&#8220;Maka kecelakaan yang besarlah</em> <em>di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan,</em> <em>(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam</em> <em>kebatilan, pada hari mereka didorong ke neraka jahanam dengan sekuat-kuatnya.</em> &#8220;(QS. 52:11-13) Orang-orang yang menganggap menuruti nafsu dan bertingkah laku bebas &#8220;seperti permainan&#8221; sebenarnya buta dan salah haluannya, mereka mengabaikan Allah sebagai pribadi yang kepada-Nya semua harus memberikan pertanggungjawaban. &#8216;Orang-orang bebal&#8217; semacam itu menyimpang penalarannya sampai-sampai menganggap bahwa Allah tidak melihat perbuatan salah mereka. Melalui tindakan, mereka sebenamya mengatakan, &#8220;Tidak ada Allah.&#8221; (QS. 2:55) Karena tidak dibimbing oleh prinsip-prmsip ilahi, mereka kekurangan daya pikir dan tidak dapat menghakimi perkara-perkara dengan tepat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">&#8220;Orang yang berdaya pikir&#8221; menyadari bahwa tingkah laku bebas yang menuruti hawa nafsu bukanlah &#8220;permainan&#8221; ataupun perlombaan. la mengetahui bahwa itu mengecewakan Allah dan dapat merusak hubungan kita dengan-Nya. Tingkah laku semacam itu bodoh karena hal itu menjatuhkan harga diri, menghancurkan perkawinan, merusak pikiran maupun tubuh, dan membawa kerugian secara rohani. Oleh karena itu, marilah kita mencenderungkan hati kita pada daya pikir dan menghindari segala macam tingkah laku bebas atau perbuatan amoral apa pun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><strong>DAYA PIKIR DAN EMOSI</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">Mencenderungkan hati kita kepada daya pikir juga membantu kita mengendalikan emosi.Orang yang sabar besar pengertiannya, <em>&#8220;Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan </em><span> </span><em>melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.&#8221;(QS. 4l:35)</em> Tetapi siapa<span> </span>cepat marah memperbesar kebodohan. Salah satu alasan mengapa seseorang yang berdaya pikir berjuang menghindari kemarahan yang tidak terkendali adalah karena marah memiliki pengaruh yang merugikan atas diri kita secara jasmani. Ini dapat menaikan tekanan darah dan menyebabkan sesak nafas. Para dokter menyebut kemarahan dan kemurkaan sebagai emosi-emosi yang memperburuk atau yang menyebabkan penyakit-penyakit seperti asma, penyakit kulit, problem pencernaan, dan stroke.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">Kita menggunakan daya pikir dan bersikap sabar tidak sekedar untuk menghindari problem kesehatan. Ketidaksabaran dapat membawa kepada tindakan bodoh yang akan kita sesali. Daya pikir membuat kita memikirkan apa yang dapat diakibatkan oleh tutur kata yang tidak terkendali atau tingkah laku yang gegabah dan dengan demikian kita terhindar dari &#8220;membesarkan kebodohan&#8221; karena melakukan sesuatu yang tidak bijaksana. Daya pikir khususnya membantu kita menyadari bahwa kemurkaan dapat merusak proses berpikir kita, sehingga kita tidak dapat menggunakan kemampuan menilai yang sehat. Ini akan merusak kesanggupan kita untuk melakukan kehendak Ilahi dan hidup selaras dengan prinsip-prinsip Allah yang Maha Adil dan Maha Benar. Ya, mengalah kepada kemarahan yang tak terkendali dapat merusak rohani kita. Sesungguhnya ledakan kemarahan digolongkan di antara pekerjaan-pekerjaan setan yang akan mengakibatkan kita menjauhi Allah Yang Maha Penyayang. Maka, sebagai orang-orang muslim yang berdaya pikir, marilah kita &#8220;cepat mendengar, lambat berbicara dan lambat murka.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">Jika kita menjadi marah, daya pikir dapat menunjukkan bahwa kita hendaknya tetap tenang dan sabar agar terhindar dari konflik. Islam mengajarkan &#8220;Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin.&#8221; Daya pikir dan kasih persaudaraan akan membantu kita melihat perlunya mengendalikan dorongan untuk menceletuk dengan kata-kata yang menyakitkan. Jika suatu ledakan amarah telah terjadi, kasih sayang dan kerendahan hati akan menggerakkan kita untuk meminta maaf dan berdamai. Namun, misalkan seseorang telah menyakiti hati kita, maka hendaklah kita berbicara kepadanya secara pribadi dengan lemah lembut dan rendah hati dan dengan tujuan utama untuk memajukan perdamaian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><strong><!--[if !supportEmptyParas]--> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><strong>DAYA PIKIR DAN KELUARGA</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">Anggota-anggota keluarga perlu memperhatikan hikmat dan daya pikir, sebab sifat-sifat ini akan membina suatu rumah tangga yang <em>sakinah mawadah wa rahmah.</em><span> </span>Hikmat dari daya pikir diumpamakan seperti bahan-bahan bangunan bagi kehidupan<span> </span>keluarga<span> </span>yang<span> </span>berhasil.<span> </span>Daya pikir membantu orang tua muslim untuk menimba perasaan dan kekhawatiran anak-anak mereka. Seseorang yang berdaya pikir sanggup untuk berkomunikasi, untuk mendengarkan dan mendapatkan pemahaman akan perasaan dan pikiran teman hidupnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">Tak diragukan lagi, hikmat dan daya pikir perlu bagi kehidupan keluarga yang bahagia. Misalkan perempuan yang bijak mendirikan (membangun) rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri. Seorang wanita yang menikah yang bijaksana dan berdaya pikir serta memiliki ketundukan yang patut kepada suaminya akan turut bekerja keras demi kebaikan rumah tangganya dan dengan demikian turut membangun keluarganya. Salah satu sikap yang akan &#8220;membangun rumahnya&#8221; antara lain bahwa ia selalu mengatakan hal-hal positif tentang suaminya dan dengan demikian meningkatkan respek orang lain kepada sang suami. Dan seorang<span> </span>istri yang berdaya pikir dan cakap serta memiliki<span> </span>rasa takut yang penuh hormat kepada Allah memenangkan pujian bagi dirinya sendiri. Demikian pula bagi seorang suami, ia harus bertanggungjawab penuh akan kebahagiaan dan keabadian rumah tangga baik secara lahir maupun batin. Kasih sayang yang dibangun berlandaskan daya pikir oleh kedua orang suami-istri akan dapat membantu komunikasi keduanya, sehingga mereka dapat lebih saling memahami satu sama<span> </span>lain. Hal ini tentu akan menciptakan kelanggengan sebuah keluarga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">Allah berfirman dalam ayat-Nya: <em>&#8220;Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian</em> <em>kamu lebih banyak dari pada sebahagian yang</em> <em>lain. (karena) Bagi orang laki-laki ada bahagian yang mereka usahakan, dan bagi para wanita</em> <em>(pun) ada bahagian dari apa yang mereka</em> <em>usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah MahaMengetahui segala sesuatu&#8221;</em> (QS. 4:32)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><strong>DAYA PIKIR DAN HALUAN HIDUP</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">&#8220;Daya pikir dapat membantu langkah kaki kita dalam mengambil, memahami dan mengatur haluan hidup yang nantinya akan mengatur segala urusan kita. Daya piker yang dilandasi hati nurani tentu dapat membimbing kita kepada jalan yang lurus <em>(shirathalmustaqiim),</em> yaitu jalan orang-orang yang telah dianugerahi &#8220;nikmat&#8221; oleh Allah dan bukan jalan orang-orang yang dimurkai Allah dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat (QS. 1:5). Siapakah orang-orang yang telah diberi &#8220;nikmat&#8221; oleh Allah itu?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">Orang-orang yang telah diberi &#8220;nikmat&#8221; oleh Allah adalah mereka yang bertaqwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang telah dianugerahkan oleh Allah, dan mereka yang beriman kepada kitab (Alqur&#8217;an) yang telah<span> </span>diturunkan kepada nabi Muhammad dan beriman kepada kitab-kitab yang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad, serta mereka<span> </span>yakin akan adanya (kehidupan) akherat (QS. 2:3).<span> </span>Setelah mengetahui apa itu jalan yang lurus, terus bagaimana agar kita dapat melewatinya dengan aman dan tidak berbelok-belok? (a). Bagaimana daya pikir mcmilih haluan hidup kita? (b).<span> </span>Apa itu jalan lurus? (c). Jalan siapakah <em>shirathalmustaqiim</em> <em>itu? </em>Di dalam diri kita sebenamya terdapat &#8220;fitrah&#8221; (ciri dasar manusia) yang selalu mengajak kepada kebaikan (&#8220;hanif&#8221;). Tetapi di dalam diri kita juga terdapat &#8220;nafsu&#8221; yang selalu cenderung mengajak ke jalan yang jahat. Keberadaan manusia yang demikian, -maksudnya mempunyai kecenderungan akan kebaikan dan kejahatan, bukankah Allah telah berfirman, <em>&#8220;Dan Kami telah menunjukkan kepadanya (manusia) dua buah jalan (jalan kebajikan dan jalan kejahatan),&#8221;</em> (QS. 90:10)- menuntut kita berlaku hati-hati dalam memelihara haluan hidup. Apa yang harus kita perhatikan? Ke mana kita akan melangkah? Di sinilah arti penting daya pikir di samping hati nurani. Oleh sebab itu, Alqur&#8217;an mengingatkan; <em>&#8220;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang</em> <em>kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.</em> <em>Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan</em> <em>hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung</em> <em>jawabannya.&#8221; (17:36)</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">&#8220;Selanjutnya, daya pikir dan hati nurani apabila<span> </span>mengikuti<span> </span>apa-apa yang<span> </span>telah diketahuinya bahwa haluan hidup yang dilaluinya itu benar, maka itulah kepercayaan.<span> </span>Manusia membutuhkan kepercayaan sebagaimana ia membutuhkan makanan. Kepercayaan ini harus diyakini kebenarannya, sehingga diperlukan kepastian, tidak mungkin keraguan.<span> </span>Inilah yang disebut kepercayaan kepada kebenaran yang mutlak. Dan tidak ada suatu kebenaran yang mutlak kecuali kebenaran Tuhan. Karena manusia menjadikan kebenaran mutlak (Tuhan) itu sebagai tujuan hidupnya, maka ia harus mengabdi, tunduk dan pasrah. Dan keadaan tunduk dan pasrah itu disebut Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">Oleh karena itu daya pikir menuntun kita kepada haluan hidup yang benar itu adalah Islam (tunduk dan pasrah kepada Tuhan).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;">Dan Allah berfirman: <em>&#8220;Sesungguhnya agama (haluan hidup yang diridloi) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Alkitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, dan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya,&#8221;</em> (QS. 3:19).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><em>&#8220;Barang siapa mencari haluan hidup selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (haluan hidup itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi.&#8221;</em> (QS. 3:85)<span> </span><em>&#8220;Pada hari ini telah Kusempumakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Aku ridloi bagimu Islam sebagai agamamu&#8221;</em> (QS. 5:3)<!--[endif]--></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wawankardiyanto.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wawankardiyanto.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wawankardiyanto.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wawankardiyanto.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wawankardiyanto.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wawankardiyanto.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wawankardiyanto.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wawankardiyanto.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wawankardiyanto.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wawankardiyanto.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wawankardiyanto.wordpress.com&blog=2161200&post=144&subd=wawankardiyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/07/28/sinergikan-hati-dan-daya-pikir-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a481e2f560b8cfabef1498a8e5ea71b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wawankardiyanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wawankardiyanto.files.wordpress.com/2009/07/images.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>