Worldview Islam sebagai Framework Filsafat Islam Hakekat, Idealisme dan Realitas

Worldview Islam

sebagai Framework Filsafat Islam

Hakekat, Idealisme dan Realitas

diracik oleh: wawan k

Pendahuluan

Islam adalah nama agama yang lahir dari sebab turunnya wahyu ilahi kepada Nabi Muhammad saw, yang kemudian difahami dan disebarkan oleh akal dan intuisi manusia. Islam kemudian berkembang menjadi sebuah peradaban baru dengan struktur konseptualnya yang kokoh dan universal. Perkembangan Islam keluar dari jazirah Arab merentasi berbagai suku bangsa di dunia dengan tanpa mengalami perubahan pada prinsip-prinsip dasarnya adalah diantara bukti bahwa Islam adalah agama untuk seluruh ummat manusia.

Prinsip-prinsip dasar Islam yang telah turun sempurna itulah sebenarnya yang menjadi titik tolak perkembangan peradaban Islam dikemudian hari. Artinya Islam yang turun membekali manusia seperangkat ritus peribadatan untuk beribadah kepadanya dan pada saat yang sama juga mengajarkan pandangan-pandangan (view) fundamental tentang Tuhan, kehidupan, manusia, alam semesta, iman, ilmu, amal, akhlak dan lain sebagainya. Dengan bekal seperti itu Islam kemudian merupakan agama (din) dan sekaligus peradaban (madaniyyah) yang memiliki bangunan konsep (conceptual structure) yang disebut pandangan hidup (worldview).

Pandangan hidup (worldview) memiliki peran sebagai cara pandang terhadap segala sesuatu dan secara epistemologis dapat berfungsi sebagai framework dalam mengkaji segala sesuatu. Dalam kaitannya dengan poin yang terakhir, makalah ini akan mengupas pandangan hidup Islam (worldview Islam) sebagai sebuah konsep dan framework Filsafat Islam. Hal ini penting dilakukan sebab Filsafat Islam telah dipahami dengan menggunakan pandangan hidup dan framework Barat seperti yang telah dilakukan oleh orientalis [1] ataupun Islamolog-Islamolog yang memiliki cara pandang sendiri terhadap Islam.

Sebelumnya perlu digaris bawahi bahwa makna filsafat Islam kini –menurut Hamid Fahmi Zakarsyi[2], tidak dapat lagi difahami sebagai filsafat Muslim peripatetik yang mengadopsi aliran Aristotelian-neo-platoisme. Sebab istilah filsafat itu sendiri dari sejak zaman kuno, pertengahan dan modern telah mengalami perubahan makna dari konsepsi rasionalis, kritis dan akhirnya konsepsi positifis. Kini filsafat dalam Islam dapat difahami dari konsep-konsep dalam pandangan hidup Islam yang diproyeksikan oleh al-Qur’an. Konsep-konsep semisal dalam al-Qur’an tentang alam semesta, manusia, penciptaan, ilmu, etika, kebahagiaan dsb. adalah konsep-konsep asas bagi spekulasi filosofis dalam memahami realitas dan kebenaran. Oleh sebab itu terma yang sesuai dengan itu adalah hikmah.[3] Jika konsep-konsep asasi dalam filsafat Islam berasal dari al-Qur’an maka asal usul filsafat harus ditelusuri dari dalam pandangan hidup Islam. Dan oleh sebab itu kajian filsafat Islam memiliki frameworknya sendiri. Namun, karena filsafat Islam tidak dikaji dari pandangan hidup Islam, maka framework yang dihasilkan tidak sejalan dengan makna filsafat Islam sendiri. Dalam sebuah buku filsafat Islam Henry Corbin menyatakan:

“Filsafat Arab adalah dimulai dari al-Kindi, [orang bisa saja menambahkan : melalui penterjemahan karya-karya Yunani] mencapai puncaknya dengan al-Farabi dan Ibn Sina, mengalami serangan yang mengejutkan dari kritik al-Ghazzali dan melakukan upaya heroik untuk bangkit kembali lagi dengan [lahirnya] Ibn Rushd.” [4]

Framework seperti ini sangat umum dikalangan para orientalis dan banyak diikuti oleh cendekiawan Muslim dan menjadi kurikulum di perguruan tinggi Islam. [5] Dalam buku-buku pedoman Kurikulum Perguruan Tinggi Islam Indonesai pengkajian filsafat berangkat dari asumsi bahwa filsafat Islam adalah filsafat peripatetik dan filosof Muslim pertama adalah al-Kindi. Framework ini jelas mereduksi filsafat Islam hanya sebatas filsafat Muslim Aristotelianisme.

Lanjut membaca

images

HIDUP DI DUNIA ADALAH SEBUAH PERMAINAN DAN LAHAN UJIAN MANUSIA

HIDUP DI DUNIA ADALAH SEBUAH PERMAINAN DAN LAHAN UJIAN MANUSIA

Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Qur’an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (QS. 17:60)

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (QS.39:49)

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS. 47:36)

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. 57:20)

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.49:13)

Lanjut membaca

URIP KUWI MUNG MAMPIR NGOMBE..

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (QS. 70:4)

Ayat ini menyatakan kecepatan malaikat naik menghadap Allah adalah 1: 50.000 tahun bila dibandingkan manusia. Artinya ayat ini jg bisa berarti usia malaikat-pun perbandingannya dengan manusia adalah 1: 50.000th.

dengan demikian ayat itu menyatakan bahwa apabila usia bumi kita saat ini adalah 5 milyar tahun maka bagi malaikat, bumi baru berusia 100.000 hari atau 274 tahun. Atau, alam semesta yg telah berumur 12 milyar tahun itu-pun bagi malaikat masih baru berusia 240.000 hari atau 657 tahun.

Singkat kata perumpamaan jawa “urip kuwi mung mampir ngombe” (hidup manusia itu singkatnya seperti minum seteguk air) adalah benar adanya.

Subhanallah….

IKHLAS (Tafsir tematik hasanah Qur’an dan Hadist)

imagesIKHLAS

Tafsir tematik hasanah Qur’an dan Hadist

Alqur’an berbicara tema ikhlas hanya terdapat dalam 10 ayat sebagaimana disebut di bawah ini:

2:139. Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan Kami tentang Allah, Padahal Dia adalah Tuhan Kami dan Tuhan kamu; bagi Kami amalan Kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya Kami mengikhlaskan hati,

4:125. Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

4:146. Kecuali orang-orang yang taubat dan Mengadakan perbaikan[369]

dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.

[369] Mengadakan perbaikan berarti berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

5:85. Maka Allah memberi mereka pahala terhadap Perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. dan Itulah Balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).

7:29. Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu[533] di Setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)”.

[533] Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah.

9:91. Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka Berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

10:22. Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan Kami dari bahaya ini, pastilah Kami akan Termasuk orang-orang yang bersyukur”.

10:105. Dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang musyrik.

22:31. Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.

34:46. Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, Yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras[1244].

[1244] Berdua-dua atau sendiri-sendiri Maksudnya ialah bahwa dalam menghadap kepada Allah, kemudian merenungkan Keadaan Muhammad s.a.w. itu Sebaiknya dilakukan dalam Keadaan suasana tenang dan ini tidak dapat dilakukan dalam Keadaan beramai-ramai.

Kesepuluh ayat-ayat Alqur’an bertemakan ikhlas di atas pada dasarnya bernada hampir sama dalam sebuah pesan keikhlasan beribadah hanya pada dan untuk Allah SWT semata. Selebihnya akan dicoba membahas tema ikhlas itu secara mendalam sebagaimana berikut.

Lanjut membaca

PENDIDIKAN PLURALIS DAN ISLAM

imagesPENDIDIKAN PLURALIS DAN ISLAM (Menuju Pendidikan Agama Islam Berbasis Pluralitas)

Latar Belakang

Banyak para ‘ahli dan pemuka agama’ telah berusaha dengan segala cara demi terciptanya hubungan yang mesra dan harmonis diantara umat beragama, di negeri Indonesia yang terkenal sangat pluralistik ini. Melalui tulisan-tulisan baik buku, majalah, jurnal bahkan melalui seminar dan mimbar-mimbar ‘khutbah’—mereka senantiasa menyarankan akan arti pentingnya kerjasama dan dialog antar umat beragama. Meskipun  nampaknya, saran-saran mereka belum memiliki ‘efek’ yang begitu menggembirakan.

Seringnya konflik dan pertikaian yang menggunakan ‘baju agama’, merebaknya aksi-aksi teroris, pembakaran dan pengrusakan sarana dan tempat-tempat ibadah di negara kita, masih saling curiga mencurigai antara umat Islam dan Kristen serta kepada agama-agama lainya, cukup membuktikan kegagalan para penganjur ‘perdamaian’ tersebut. Meskipun begitu, ‘doktrin’ perdamaian dan persahabatan ini harus senantiasa kita teruskan, kemudian kita coba kembangkan dan dakwahkan, melalui strategi-strategi baru yang lebih efektif dan relevan, kepada saudara-saudara kita, teman-teman dan peserta didik kita kapan pun dan dimana pun kita berada.

Untuk memperoleh keberhasilan bagi terealisasinya tujuan mulia yaitu perdamaian dan persaudaraan abadi di antara orang-orang yang pada realitasnya memang memiliki agama dan iman berbeda, perlulah kiranya adanya keberanian mengajak mereka  melakukan perubahan-perubahan di bidang pendidikan —terutama sekali melalui kurikulumnya yang berbasis keanekaragaman (pluralistas). Sebab, melalui kurikulum seperti ini, memungkinkan untuk bisa  ‘membongkar’ teologi agama masing-masing yang selama ini cenderung ditampilkan secara eklusif dan dogmatis. Sebuah teologi yang biasanya hanya mengklaim bahwa hanya agamanya yang bisa membangun kesejahteraan duniawi dan mengantar manusia dalam surga Tuhan. Pintu dan kamar surga itu pun hanya satu yang tidak bisa dibuka dan dimasuki kecuali dengan agama yang dipeluknya.

Padahal berteologi semacam itu, harus kita akui, sebagai sesuatu yang sangat menghawatirkan  dan dapat mengganggu keharmonisan masyarakat agama-agama dalam era pluralistik sekarang. Suatu era dimana seluruh masyarakat dengan segala unsurnya dituntut untuk dapat saling tergantung dan menaggung nasib secara bersama-sama demi terciptanya perdamaian abadi. Disinilah letak ‘tantangan’ bagi agama (termasuk Islam) untuk kembali mendefenisikan dirinya di tengah agama-agama lain. Atau dengan meminjam bahasanya John Lyden, seorang ahli agama-agama, adalah “what should one think about religions other than one’s own? Apa yang harus dipikirkan oleh seorang muslim terhadap non-Muslim. Apakah masih sebagai seorang musuh atau sebagai seorang sahabat. Tentu saja masih adanya anggapan satu agama dengan yang lain sebagai musuh, harus dibuang jauh-jauh. Bukankah pada hakikatnya kita semua adalah sebagai seorang ‘saudara’ dan ‘sahabat’ dalam menghampiri yang mutlak? Bahkan, Islam melalui Al-Qur’an dan Hadistnya juga mengajarkan sikap-sikap toleran seperti ini bukan?

Lanjut membaca

images

MANUSIA MAKHLUK SEMPURNA

MANUSIA MAKHLUK SEMPURNA

imagesA. Manusia dari Beberapa Sudut Pandang

1. Manusia dalam Pandangan Filsafat

Siapakah manusia? Dari mana asalnya? Di mana kedudukan dan fungsi manusia? Lalu apa tujuan manusia? Beberapa pertanyaan itu tidak akan usang dipertanyakan sepanjang jaman apabila membahas topik manusia.

Dalam ilmu mantiq (logika) manusia disebut sebagai Al-Insanu hayawanun nathiq (manusia adalah binatang yang berfikir). Nathiq sama dengan berkata-kata dan mengeluarkan pendapatnya berdasarkan pikirannya. Sebagai binatang yang berpikir manusia berbeda dengan hewan. Walau pada dasarnya fungsi tubuh dan fisiologis manusia tidak berbeda dengan Hewan, namun hewan lebih mengandalkan fungsi-fungsi kebinatangannya, yaitu naluri, pola-pola tingkah laku yang khas, yang pada gilirannya fungsi kebinatangan juga ditentukan oleh struktur susunan syaraf bawaan. Semakin tinggi tingkat perkembangan binatang, semakin fleksibel pola-pola tindakannya dan semakin kurang lengkap penyesuaian struktural yang harus dilakukan pada saat lahirnya.

Pada primata yang lebih tinggi (bangsa monyet) bahkan dapat ditemukan intelegensi yaitu penggunaan pikiran guna mencapai tujuan yang diinginkan sehingga memungkinkan binatang untuk melampaui pola-pola kelakuan yang telah digariskan secara naluri. Namun setinggi-tingginya perkembangan binatang, elemen-elemen dasar eksistensinya yang tertentu masih tetap sama.

Manusia menyadari bahwa dirinya sangat berbeda dari binatang apa pun. Tetapi memahami siapa sebenarnya manusia itu bukan persoalan yang mudah. Ini terbukti dari pembahasan manusia tentang dirinya sendiri yang telah berlangsung demikian lama. Barangkali sejak manusia diberi kemampuan berpikir secara sistematik, pertanyaan tentang siapakah dirinya itu mulai timbul. Namun informasi secara tertulis tentang hal ini baru terlacak pada masa Para pemikir kuno Romawi yang konon dimulai dari Thales (abad 6 SM).

Beberapa ahli filsafat berbeda pemikiran dalam mendefinisikan manusia. Manusia adalah makhluk yang concerned (menaruh minat yang besar) terhadap hal-hal yang berhubungan dengannya, sehingga tidak ada henti-hentinya selalu bertanya dan berpikir. Sehingga oleh Beerling (Guru Besar Filsafat) menyebutkannya sebagai “tukang bertanya” atau Sartre (filosof eksistensi Perancis) menyebutkan bahwa manusia adalah sifatnya bertanya. Demikian juga Sokrates (470-399 SM) mengajak manusia untuk memperhatikan diri sendiri agar sadar akan dirinya dengan kata hikmahnya yang terkenal “Gnothi Seantho” yang artinya kenalilah dirimu.

Rene Descartes (1596-1650) mengatakan “Cogito Ergo Sum” (saya berfikir sebab itu saya ada). Di samping itu Aristoteles (384-322 SM), seorang filosof besar Yunani mengemukakan bahwa manusia adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal-pikirannya. Juga manusia adalah hewan yang berpolitik (zoonpoliticon, political animal), hewan yang membangun masyarakat di atas famili-famili menjadi pengelompokkan yang impersonal dari pada kampung dan negara. Manusia berpolitik karena ia mempunyai bahasa yang memungkinkan ia berkomunikasi dengan yang lain. Dan didalam masyarakat manusia mengenal adanya keadilan dan tata tertib yang harus dipatuhi. Ini berbeda dengan binatang yang tidak pernah berusaha memikirkan suatu cita keadilan.

Lanjut membaca

SINERGIKAN HATI DAN DAYA PIKIR KITA

SINERGIKAN HATI DAN DAYA PIKIR KITA

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kami tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. 17:36)

images

Allah adalah Kreator dan Operator Agung kita. Namun apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh manfaat dari “pengetahuan tentang Allah” yang disingkapkan dalam ayat-ayatNya? Antara lain, kita harus “cenderungkan hati kita pada daya pikir”, memiliki hasrat sepenuh hati untuk memperoleh dan mempertunjukkan sifat ini. Untuk itu, kita harus bermunajab kepada Allah, sebagaimana Allah berfirman dalam Qur’an 16:78, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. Ayat itu rnemberitahukan kepada kita bahwasanya pengetahuan adalah modal penting untuk mengetahui semua pertanyaan hakekat kehidupan (pasca kelahiran), yakni apa, mengapa, bagaimana, siapa, di mana, ke mana, tujuan hidup kita. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya,” (QS. 17:36) Apa gerangan pengetahuan, hikmat, dan daya pikir?

Pengetahuan adalah pengenalan akan fakta-fakta yang diperoleh melalui pengalaman, pengamatan, atau pelajaran. Hikmat adalah kesanggupan untuk menerapkan pengetahuan dengan cara efektif dan benar. “Allah mengangkat derajat orang yang percaya dan orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. “(QS. 58:11) Daya pikir adalah “ketajaman dalam membuat penilaian”. Ini adalah “kesanggupan atau kemampuan pikiran yang dapat membedakan satu hal dengan hal yang lain”. (Webster’s Universal Dictionary) Jika kita mencenderungkan hati kepada daya pikir, Allah akan menghadirkan hikmat kebenaran Islam kepada orang-orang yang mau mengunakan daya pikirnya tersebut. Namun, bagaimana daya pikir dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan?

Lanjut membaca

ARAHKAN DAYA PIKIR MENCARI KEBENARAN

ARAHKAN DAYA PIKIR MENCARI KEBENARAN
Essay oleh Wawan Kardiyanto

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanimagesya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (17:36)

Kebanyakan orang tidak pernah menggunakan daya pikirnya, sekali pun untuk merenungkan dan mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri. Siapa aku sebenarnya? Sebenarnya kenapa aku hidup? Apa tujuan hidup sebenarnya? Dan bagaimana aku hidup yang benar? Pertanyaan-pertanyaan itu cukup “sederhana”. Karena “sederhananya” orang menjadi lupa dan sering kelihatan tolol dan lucu tatkala membicarakannya. Dan kadang kita merasa malu untuk menjawabnya. Sebab, ternyata persoalan yang muncul dari pertanyaan “sederhana” itu lebih dalam dan rumit daripada jawaban yang diharapkan. Jawaban rumit tersebut berlaku juga untuk pertanyaan, Sudahkah aku memeluk agama yang benar? Sebenarnya agama mana yang benar itu? Apakah semua agama itu sama?

Lanjut membaca

Umat Muslim dapat Menikmati Persaudaraan yang Universal

Umat Muslim dapat Menikmati Persaudaraan
yang Universal

Oleh: Wawan Kardiyanto

Abad 21, saat ini, perkembangan peradaban sedemikian kompleknya. Kemajuan demi kemajuan datang laksana Bah. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan melahirkan peradaban modern yang dipacu oleh industrialisasi dan informasi-telekomunikasi. Sayangnya, bersamaan dengan perkembangan peradaban yang sedemikian rupa hubungan antar manusia menjadi terlupakan. Manusia lupa kasih sayang, persahabatan, persaudaraan, bahkan mungkin lupa akan kebijaksanaan. Keadaan yang demikian telah mendatangkan suatu wabah kesepian dalam selusin aktifitas kesibukan manusia modern.
Khususnya di kota besar situasi itu sangat terasa, seorang penduduk kota modern mungkin berhubungan lebih satu minggu dibandingkan dengan orang-orang yang dijumpai seorang penduduk desa di daerah pelosok dalam satu tahun atau bahkan seumur hidupnya! Tapi, hubungan antar manusia dijaman sekarang seringkali dangkal. Banyak orang yang berkecimpung total dalam kesibukan bisnisnya. Sehingga mereka lupa waktu, keluarga dan sanak saudara. Sebaliknya banyak pula yang terlibat total dalam pergaulan dan upaya untuk selalu terus-menerus bersenang-senang. Akan tetapi kita harus akui bahwa bersuka-ria secara hampa dengan teman-teman yang buruk adalah suatu kerugian di mata orang-orang yang beriman kepada Allah. Belum tentu mereka yang bersuka-ria itu berbahagia. Pada kenyataannya perbuatan mereka itu adalah untuk menghilangkan kesepian. Lanjut membaca