images

AGAMA MANA yang BENAR…?


AGAMA MANA yang BENAR…?

CUPLIKAN BUKU Dialog Cinta Allah, Antara Sahabat Beda Agama

 

Tanya Melati:

Oh ya, Allah tidak butuh agama, mas, kalau Tuhan butuh agama; nabi Abraham, Musa dll sebelum Yesus trus masuk kemana? Tidak disebutkan dalam Taurat, Injil, ataupun Alquran Abraham, Musa, dan semua nabi sebelum Yesus, bahwa mereka punya nama agama. TIDAK ADA!!! Abraham masuk Surga karena dia percaya Allah sehingga dia disebut sebagai bapa bagi orang percaya. Kristen/Katolik ada setelah adanya Kristus Yesus, Islam ada karena adanya nabi Muhammad. Apakah Allah

akan menunjukkan AGAMA MANA yang BENAR pada akhir jaman nanti? Ini yang harus dipertanyakan. Sejak dunia dan segala isinya serta manusia dijadikan sampai

sekarang belum mencapai akhir jaman lho mas, dan diingat belum ada agama pada waktu Adam diciptakan, agama sudah dipeta-petakan setelah Kristus ada dan nabi Muhammad ada. Bagi kami, Agama Kristen ataupun Katolik sama sekali tidak memberikan keselamatan, TETAPI KRISTUS YESUS-lah SATU2nya JALAN yang memberikan keselamatan kekal!!!

 

 

Jawaban Awan Lembayung:

 

Lalu, apa nama agama Allah itu?

Memang sejak Adam hingga Isa Almasih Allah belum menyebut nama agama Allah di dalam kitabNya. Sebab, agama Allah itu belum genap dan masih akan digenapi hingga nabi terakhir, yaitu Muhammad. Dan dalam Alqur’an sebagai penutup kitab-kitab Allah, dinyatakan bahwa nama Agama Allah itu adalah Islam. Bukankah arti Islam adalah selamat, damai, dan pasrah dalam mengharap keridhoanNYA. Bukankah arti Islam ini cocok dan sesuai dengan ajaran dan inti dasar dari kebaktian kepada Allah seperti di atas? Islam bukanlah hanya ajaran Muhammad saja. Islam adalah ajaran dan agama seluruh Nabi dan Rasul Allah. Adam mengajarkan Islam dan demikian pula, Musa, Ibrahim, maupun Isa.

“Allah telah mensyari’atkan kepadamu tentang urusan agama sebagaimana telah diwajibkan kepada Nabi Nuh, dan apa yang kami wahyukan kepada engkau, dan apa yang kami wajibkan kepada Ibrahim dan Musa dan kepada Nabi Isa, yaitu hendaklah kamu tegakkan agama dengan benar dan janganlah kamu bercerai berai pada-Nya.” (QS. asy-Syuura 42: 13)

 

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin) Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada nabi Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk dan patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah 2: 136)

Dengan demikian semua agama yang dibawa Nabi dan Rasul sebelum Muhammad adalah Islam. Ayat-ayat lain yang membukti hal ini adalah: Nabi Nuh adalah Islam (Yunus: 71-72), Ibrahim, Ya’cub, Isma’il, Ishaq adalah Islam (Al Baqarah: 130-133, Ali Imron: 67, Al Haj: 78) Musa adalah Islam (Yunus: 84) Yusuf adalah Islam (Yusuf: 101) Sulaiman adalah Islam (An Nami: 29-38, 44) Isa dan sahabatnya adalah Islam (Ali ‘Imron: 52).

Dan ayat yang melegalkan nama agama Allah adalah Islam adalah sbb:

“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah agama Islam”. (QS. Ali lmran, 3:19)

 

“Barang siapa yang mencari agama selain Islam, tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Dan dia di akherat termasuk orang yang sangat rugi.” (QS. Ali Imran 3: 85)

“Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhoi Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maidah 5: 3)

Coba bandingkan arti nama nama agama di bawah ini:

  1. Kristen = pengikut Kristus
  2. Protestan = agama protes
  3. Katolik = universal
  4. Budha = pengikut Budha
  5. Taois = pengikut Tao tse thing
  6. Kong Hu Cu = pengikut Khong Fu tse
  7. Islam = Pasrah, damai, bahagia, tenang dan ikhlas dalam mencintai Tuhan

23 comments on “AGAMA MANA yang BENAR…?

  1. Dear Wawan,

    Dingin….., eh bukan…., Sejuk.
    Sejuk kan ga dingin, juga ga panas…. he…he….
    Ada hal yang “cakep” yaitu ga adanya justifikasi yang subyektif, paling tidak menurut aku, ga tahu menurut orang lain.

    Kalo orang nanya saya, “agamamu opo to, mas?”
    aku menjawab, “aku ga punya agama.”
    Ada orang yang menanggapinya serius, sampai bicara dan menasehati aku “orang hidup itu ya, bla…bla……..”
    Paling aku ya nyengir aja.

    ====
    Pentingkah orang “memiliki” agama?
    Menurut aku ga penting.

    Kalau “memeluk” agama?
    Menurutku juga ga penting.

    Trus agama ga penting?
    O… Agama sangat penting.

    Lho kok?!
    Iya, agama itu sangat penting. Orang bukan hanya “beragama” yang artinya memiliki atau memeluk.(Inilah bahasa Indonesia?!!?!?!??!?!?!?!?)
    Agama itu “tarekat”, jadi harus dijalankan dan dijalani.
    Dengan memahami hakekat agama sebagai kendaraan hidup ya harus dijalankan agar mencapai tujuan.
    Tujuannya di mana? ya di sini , ya sekarang ini.Tapi blom sampai
    lho kok wong tujuannnya saja sudah di sini, kok blom nyampe??!!
    Tujuan hidup itu “mati”, ini hukum alam, hukum alam dasarnya hanya sebab dan akibat. Seperti komputer, dasarnya hanya “on-off”, sandinya “1-0″.
    Dunia ini pernah dan sedang “hidup”, pasti akan “mati”.

    ====
    He..he…
    Ini renungan nakalku ….

    Have positive days.

  2. Dear Wawan,

    ================

    Dan ayat yang melegalkan nama agama Allah adalah Islam adalah sbb:

    “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah agama Islam”. (QS. Ali lmran, 3:19)

    “Barang siapa yang mencari agama selain Islam, tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Dan dia di akherat termasuk orang yang sangat rugi.” (QS. Ali Imran 3: 85)

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhoi Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maidah 5: 3)

    Coba bandingkan arti nama nama agama di bawah ini:

    1. Kristen = pengikut Kristus
    2. Protestan = agama protes
    3. Katolik = universal
    4. Budha = pengikut Budha
    5. Taois = pengikut Tao tse thing
    6. Kong Hu Cu = pengikut Khong Fu tse
    7. Islam = Pasrah, damai, bahagia, tenang dan ikhlas dalam mencintai Tuhan

    =============
    Dari sudut pandangku ayat itu ga ada masalah,

    Dari semua Buku Suci yang ada Al Quran paling mudah dicerna, paling mudah ditafsirkan dan dipahami.
    Dengan catatan selama orang itu memahamai “hakekat” dan tidak tekstual.
    Kadang kalau aku membaca Injil atau Bagavat Gita, untuk menangkap esensinya aku harus buka Al Quran,
    …memang ada sebagian orang menyoalkan perbedaan tekstual.

    =====
    Coba bandingkan arti nama nama agama di bawah ini:

    1. Kristen = pengikut Kristus
    2. Protestan = agama protes
    3. Katolik = universal
    4. Budha = pengikut Budha
    5. Taois = pengikut Tao tse thing
    6. Kong Hu Cu = pengikut Khong Fu tse
    7. Islam = Pasrah, damai, bahagia, tenang dan ikhlas dalam mencintai Tuhan
    ======
    Yang ini perlu aku kritisi, subyektifitas Mas Wawan masih terlalu simple, dan baru kulit. Terutama pada saat menyebut “tokoh” yang diikuti, memang mereka mengikuti “tokoh”,namun esensinya bukan pada “tokoh”nya tapi pada “pencapaian ‘enlightment’nya”.
    Pencapaian nya itulah yang diikuti, bukan sosok tokohnya. Maka pemahaman bukan pengkultusan tokoh.

    Have positive days

  3. memang perbandingan yanggg simpel dan subyektif. tapi karena simpelnya kita dapat dgn mudah memaknai mana nama yg mengandung pencapaian enlightment.. hehe…

    renungkan lebih jauh yg ini:

    Arti kata Islam bisa bermacam-macam bila diterjemahkan dari beberapa arti kata asalnya.

    Pertama, Islam dari kata asal aslama yang merupakan turunan (derivasi) dari kata assalmu, assalamu, assalamatu berarti bersih dan selamat dari kecacatan lahir batin. Dari asal kata ini dapat diartikan bahwa dalam Islam terkandung makna suci, bersih tanpa cacat atau sempuma.

    Kedua, kata Islam juga dapat diambil dari kata assilmu dan assalmu yang berarti perdamaian dan keamanan. Dari asal kata ini Islam mengandung makna perdamaian dan keselamatan, karena itu kalimat assalamu ‘alaikum merupakan tanda kecintaan seorang muslim kepada orang lain yang selalu menebarkan doa dan kedamaian kepada sesama.

    Ketiga, dari asal kata assalamu, assalmu dan assilmu Islam berarti menyerahkan diri, tunduk dan taat.
    Semua asal kata di atas berasal dari tiga huruf, yaitu: sin, lam dan mim (dibaca salima) yang artinya sejahtera, tidak tercela dan selamat.

    Dari beberapa pengertian kata di atas dapat disimpulkan bahwa Islam mengandung arti berserah diri, tunduk, patuh dan taat sepenuhnya kepada kehendak Allah. Kepatuhan dan ketundukkan kepada Allah itu melahirkan keselamatan dan kesejahteraan diri serta kedamaian kepada sesama manusia dan lingkungannya.

  4. Dear Wawan,

    Ha…ha…
    Good idea…Makasih buat infonya.

    Intinya apa yang diyakini pastilah yang terbaik, betul?
    Tapi apakah yang terbaik itu pasti diyakini ?
    Blom tentu…..subyektifitas?!…. ga masalah!

    Suatu ketika ketika aku mengajak orang untuk “positif” aku sendiri sering berpikir apa yang positif? trus bagaimana positif itu?
    Positif karena ada yang negatif.
    Jadi bohong kalo kita berpikir dan merasa positif kalo kita tidak pernah berpikir dan merasa negatif. Maka ‘enlightment’ terjadi ketika mampu mengelola yang negatif menjadi output yang positif.

    Agama yang “langsung” dari Allah hanya satu, yaitu Islam. Ini harus diakui,
    ===
    Dengan demikian semua agama yang dibawa Nabi dan Rasul sebelum Muhammad adalah Islam. Ayat-ayat lain yang membukti hal ini adalah: Nabi Nuh adalah Islam (Yunus: 71-72), Ibrahim, Ya’cub, Isma’il, Ishaq adalah Islam (Al Baqarah: 130-133, Ali Imron: 67, Al Haj: 78) Musa adalah Islam (Yunus: 84) Yusuf adalah Islam (Yusuf: 101) Sulaiman adalah Islam (An Nami: 29-38, 44) Isa dan sahabatnya adalah Islam (Ali ‘Imron: 52).
    ===

    Ini obyektif (sejarah pun menuliskan). Maka pemaknaan Islam adalah,

    ===
    “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah agama Islam”. (QS. Ali lmran, 3:19)
    ===

    lalu ,

    ===
    Dari beberapa pengertian kata di atas dapat disimpulkan bahwa Islam mengandung arti berserah diri, tunduk, patuh dan taat sepenuhnya kepada kehendak Allah. Kepatuhan dan ketundukkan kepada Allah itu melahirkan keselamatan dan kesejahteraan diri serta kedamaian kepada sesama manusia dan lingkungannya.
    ====

    Ini juga mengkritisi soal ‘enlightment’ tadi.

    ===
    Terutama pada saat menyebut “tokoh” yang diikuti, memang mereka mengikuti “tokoh”,namun esensinya bukan pada “tokoh”nya tapi pada “pencapaian ‘enlightment’nya”.
    ===

    Ada yang mencari lalu menemukan ‘enlightment’ , ada yang membawanya dari sejak dilahirkan. Yang dibawa sejak dilahirkan, itulah yang menurut aku sebagai “utusan”.
    Hanya bagaimana kita mempersepsikan.

    Nah….
    Kalau sudah memasuki ritual “rohani secara badan”, pemahamannya sudah beda lagi.
    Hal ini perlu hati-hati dibicarakan.
    Di sini kita harus pandai menyikapi “niat” dan “perilaku”.
    “niat” artinya tidak ada satu agamapun yang mengajarkan “kejahatan”
    “perilaku” artinya bisa saja dinilai “tidak baik”, walaupun niatnya baik, paling tidak untuk dirinya sendiri.

    Have positive days

  5. Dear Wawan,

    He……he….
    Trims,

    ‘enlightment’ = hidayah.

    Bentuknya patuh, taat, respek sepenuhnya dengan kesadaran pada hukum alam, hukum Allah,hukum sebab akibat.
    Memahami sepenuhnya Allah sebagai Causa Prima, Alpha Omega.

    Hidayah (‘enlightment’) seperti sinar matahari, udara, air…. setiap saat tersedia… setiap saat ada, tinggal kita sendiri ada ‘niat’ tidak untuk ‘menerima’ dalam bentuk syukur atas rahmat dan kerahimanNya.

    Have postive days

  6. waaah… kalau gini dah selesai pa diskusinya hehehe…

    sepertinya masih banyak yg mesti kita “baca”
    1. bacalah dengan menyebut nama Tuhan-MU
    2. Tuhan yg telah menciptakan-mu
    3. menciptakan-mu dari sesuatu yg melekat (alaq)
    4. Bacalah, Tuhan-mu-lah yg memberimu pengetahuan..
    5. di mana pengetahuan itu diperoleh dari “tulisan” (qolam)
    6. pengetahuan2 di mana dulu kamu tidak mengetahuinya..

    Hukum alam aku terusik untuk membahasnya:

    dalam khasanah Islam fenomena di hidup ini ada dua
    1. Hukum Alam yang tetap
    2. Hukum Alam yang relatif

    hukum alam yang tetap (dalil naqli), yang dimaksudkan adalah hukum2 alam secara ilmu2 kealaman: fisika, kimia, matematika yang terumuskan dalam postulat dan konstanta rumusan dan hitungan angka2…(kuantitatif). Tafsir tekstual (tafsir bi ma’tsur) kitab suci termasuk di ranah ini.

    hukum alam yang tidak tetap (dalil aqli), yang sering dimaksudkan di sini adalah hukum2 sosial yang relatif dan hukum2 agama yang diambil dari kitab suci dengan pisau bedah tafsir bi ra’yi (ijtihadi akal).

    kedua ranah dalil ini kedua2nya dapat kita bedah dengan AKAL (sinergi rasio dan hati)…

    topik lain yg perlu saya tanyakan:
    dalam nasrani sering saya temui pernyataan Tujuan akhir hidup adalah mati, begitu juga pernyataan mas Aloy sptnya sama. Mati adalah “akherat”, hidup dan kebenaran adalah saat ini. Pernyataan itu sering saya mengerti dengan menyatakan bahwa setelah mati tidak ada kehidupan kita lagi. Sehingga syurga dan neraka sebagai reward tidak menjadi masalah penting bahkan sering tidak dipercayai..

    sebenarnya konsep itu persisnya seperti apa mas? tanya boleh tho hehe…

  7. Dear Wawan,

    Simple…
    he…he…

    Alpha Omega.
    Awal dan Akhir,
    On dan Off,
    Positif dan Negatif,
    Yin dan Yang
    Kanan dan Kiri
    Atas dan Bawah
    Depan dan Belakang…
    Sebab dan Akibat…
    Mutlak dan Relatif.
    Persepsi.

    Saya tidak mau mengatasnamakan pemahaman ‘general’ sebagai katolik, tapi saya memasukinya melalui ‘tarekat’ kekatolikan saya untuk menyampaikan pendapat saya.

    Aku adalah aku
    tapi
    aku bukan Aku.

    Aku adalah tuhan,
    tapi
    Tuhan bukanlah Aku.

    Tuhan menciptakan dari Tiada menjadi Ada,
    Tuhan yang membuat segala sesuatu Ada.
    Tuhan yang membuat sesuatunya menjadi Tiada.

    Segala sesuatu berasal dari Tuhan.
    Kita tidak dapat membuat satu kesimpulan atau tafsir atau apalah … tanpa memahami keutuhan.
    ‘Universe’ (Alam Semesta) adalah sebuah keUTUHan.
    Jadi kita harus memahami seutuhnya untuk mengidentifikasikan, kemudian jadi kesimpulan atau tafsir.

    Kalau dalam Injil (Kejadian), Tuhan menciptakan manusia terakhir, setelah ‘universe’ (Alam Semesta) tercipta. Artinya Tuhan menjadikan manusia makhluk yang paling “disayangi”atau “dicintai”Nya . Semua kebutuhan manusia disediakan dulu, baru manusia diciptakan.
    Lalu ada kosekuensi kesimbangan. Konsekuensi keseimbangan ini biasanya disebut dengan kata ‘dosa’ dan ‘pahala’. Konsekuensi keseimbangan didasari dari sebab akibat.Dan ini ‘instan’, tidak perlu sampai ‘akherat’, hanya menyadari apa tidak?
    Tekstualnya berupa kisah Adam dan Hawa, Kain dan Abel, Nuh… dsb.
    Pada saat kita terikat dengan tekstualitas, kita akan picik, terbelenggu oleh teks nya bukan pemaknaannya, lebih picik lagi pada akhirnya memberhalakan Tuhan, karena seolah Tuhan adalah “Teks”, apa kata teks ditelan mentah-mentah.

    Kenapa mikirin ‘akherat’? pikirin aja kehidupan ini.
    Seperti kita mengendarai mobil saat malam hari, dari Yogja ke Semarang.
    Kita hanya melihat jalanan sejauh lampu mobil kita menerangi jalan, betul?
    Kita mempunyai tujuan Semarang, tapi saat menjalankan mobil, kita tidak melihat Semarang. Jadi ‘akherat’ ga penting. Semarang ga penting. Tapi bagaimana mengendarai mobil menuju Semarang yang penting. Jalankan mobil sesuai prosedur, patuhi rambu2 lalin, hargai pengguna jalan yang lain. Maka ga usah dipikirin (kan sudah pasti tujuannya), kita akan nyampe Semarang dengan selamat.

    Ilmu-ilmu lahir hanya ‘tool’ untuk lebih mudah memahami Hukum Alam, hukum sebab dan akibat. Bukan tool nya yang penting, maknanya yang lebih penting.
    Tidak salah memakai atau mengacu pada ‘tool’ tertentu, selama tidak ketergantungan hanya pada satu ‘tool’, ini butuh ‘hidayah’/enlightment.
    Karena dalam memakai ‘tool’ butuh pengelolaan, pengendalian.

    Syurga dan Neraka ga penting, yang penting hanya ‘Syurga’.
    Ada perkataan dari seorang sahabat,
    “Your internal design is what your external experience”.
    Design saya “syurga” dan tidak pernah mendesign “neraka”.
    Syurga adalah “happiness”… jadi saya mendesign “happiness”
    Saya tidak membutuhkan design “neraka”
    Seperti mau mendesign sebuah mesin, rumah, taman… kita membutuhkan “knowledge dan tool” Kita sudah mendapatkannya melalui religius dan laku spiritual.
    Ya…. tinggal dieksekusi untun menghasilkan design “syurga”.

    Have positive days…
    be positive…..

  8. Dear Wawan,
    Haa…ha…
    aku baru dapet ini.
    Gmna menurutmu ?

    =====
    Is Christianity the One True Religion?

    Yes, Christianity is the one true religion. That may sound awfully dogmatic and narrow-minded, but the simple truth is that Christianity is the only true religion. Jesus said that He alone was the way to the Father (John 14:6), that He alone revealed the Father (Matt. 11:27; Luke 10:22). Christians do not go around saying Christianity is the only way because they are arrogant, narrow-minded, stupid, and judgmental. They do so because they believe what Jesus said. They believe in Jesus, who claimed to be God (John 8:58; Exodus 3:14), who forgave sins (Mark 2:5; Luke 5:20; 7:48), and who rose from the dead (Luke 24:24-29; John 2:19f). Jesus said that He was the only way. Jesus is unique. He was either telling the truth, He was crazy, or He was a liar. But since everyone agrees that Jesus was a good man, how then could He be both good and crazy, or good and a liar? He had to be telling the truth. He is the only way.

    Christianity is not just a religion; it is a relationship with God. It is a trusting in Jesus and what He did on the cross (1 Cor. 15:1-4), not on what you can do for yourself (Ephesians 2:8-9).

    Buddha didn’t rise from the dead, nor did Confucius or Zoroaster. Muhammad didn’t fulfill detailed prophecy. Alexander the Great didn’t raise the dead or heal the sick. And though there is far less reliable information written about them, people believed in them.

    The scripture is right when it says in 1 Pet. 2:7-8, “This precious value, then, is for you who believe. But for those who disbelieve, ‘The stone which the builders rejected, this became the very corner stone,’ and, ‘A stone of stumbling and a rock of offense’; for they stumble because they are disobedient to the word, and to this doom they were also appointed.” (NASB).
    The Mathematical Odds of Jesus Fulfilling Prophecy

    “The following probabilities are taken from Peter Stoner in Science Speaks (Moody Press, 1963) to show that coincidence is ruled out by the science of probability. Stoner says that by using the modern science of probability in reference to eight prophecies, ‘we find that the chance that any man might have lived down to the present time and fulfilled all eight prophecies is 1 in 1017.” That would be 1 in 100,000,000,000,000,000. In order to help us comprehend this staggering probability, Stoner illustrates it by supposing that “we take 1017 silver dollars and lay them on the face of Texas. They will cover all of the state two feet deep. Now mark one of these silver dollars and stir the whole mass thoroughly, all over the state. Blindfold a man and tell him that he can travel as far as he wishes, but he must pick up one silver dollar and say that this is the right one. What chance would he have of getting the right one? Just the same chance that the prophets would have had of writing these eight prophecies and having them all come true in any one man.”

    Stoner considers 48 prophecies and says, “We find the chance that any one man fulfilled all 48 prophecies to be 1 in 10157, or 1 in 10,00,000,000,000,000,000,000,000,000, 000,000,000,000,000, 000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000, 000, 000,000,000,000,000,000,000, 000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000 000,000,000.” 1

    The estimated number of electrons in the universe is around 1079. It should be quite evident that Jesus did not fulfill the prophecies by accident. He was who He said He was: the only way (John 14:6).
    ====

    Have positive days

  9. hahaha…

    masih tidak ada kejutan… biasa2 saja, kayak dogma dan doktrin gereja spt biasa..

    Yesus itu seorang nabi, seperti nabi dan rasul lainnya,punya mukjizat dll.. simpel, ndak membingungkan.. pengikut2nya aja yg nambah2-in hehe… pengikutnya aja yg membuat agama dgn nama Kristen. Kristian = pengikut kristus hehe…

  10. Dear Wawan,

    Itulah persepsi.
    Masing-masing orang punya sudut pandang, bahkan keyakinan sendiri. Tidak ada yang mutlak. Pada saat kita harus ber”temu” dengan yang berbeda persepsi, yang penting adalah sikap kita menghadapi perbedaan persepsi.Untuk itu harus ada yang namanya “believe in positive ways”. Semakin seseorang memiliki “peta dunia”/pola pikir yang luas, maka semakin flekseble orang itu menyikapi perbedaan persepsi.

    Ilmu2 agama hanya sebagian kecil dari bagaimana kita menyikapi perbedaan persepsi. Walaupun kecil tapi “menyengat” apabila kurang arif dalam “perilaku”.
    Ilmu2 agama bukan pula satu-satunya dasar dalam mengelola kehidupan. Ingat, dengan adanya lebel agama berarti terjadi pengelompokan, pengelompokan ini hanya menampung sebagian kecil kesamaan persepsi.

    Maka,. buat aku doktrin dan dogma bukan hal yang “penting”, dan tidak akan menakut-nakuti untuk bersikap dan berperilaku dalam kehidupan. Tidak penting karena aku memahami tujuan doktrin dan dogma, tidak takut karena aku melihatnya secara utuh, tidak sepotong-sepotong.

    Kadang, orang mabuk mempelajari agama, karena “belive”/”faith”. Menempatkan kemampuan rasional (akal) yang terbatas untuk memahami keutuhan, padahal yang membuat mabuk kepayang adalah “believe”/”faith”(yang tidak rasional).Polemik terjadi dalam dirinya, mencari perbandingan, mencari kebenaran, mencari keputusan rasional… dan lain lain. Yang paling repot kalau sudah mencari “pembenaran rasional”.
    Tuhan / Allah tidak membutuhkan pembenaran rasional. “Proses” untuk memahaminya yang harus rasional. Kalau tidak memahami sesorang baru dalam ‘proses’ belum mendapatkan ‘goal’nya, yaitu “manunggaling kawula lan Gusti”. Manunggaling kawula lan Gusti tidak membutuhkan pembuktian rasional, tapi melalui proses yang rasional, yaitu kesadaran akan hukum sebab dan akibat (yang pasti) sebagai hasil keputusan dari hukum alam (yang pasti).Hukum alam berlaku sebagai HUKUM ALLAH, yang kita pelajari dalam semua BUKU SUCI.Yang di dalamnya secara esensial bukan mengenai salah dan benar, tapi lebih bagaimana yang sebaiknya untuk berperilaku.
    Sebab salah dan benar hanya membentuk persepsi tentang kesalahan dan kebenaran (padahal, masing-masing orang memiliki sudut pandang, bahkan keyakinan sendiri

    ==
    Memang sejak Adam hingga Isa Almasih Allah belum menyebut nama agama Allah di dalam kitabNya.
    ==

    Kalimat awal tadi adalah sebuah persepsi, dan ini membutuhkan kedewasaan (kearifan) untuk memahaminya.

    ===
    Pertama, Islam dari kata asal aslama ………….

    Kedua, kata Islam juga dapat diambil dari kata assilmu dan assalmu …….

    Ketiga, dari asal kata assalamu, assalmu dan assilmu Islam berarti menyerahkan diri, tunduk dan taat……..
    ===

    Penjelasan yang cukup menarik untuk pemahaman persepsi orang diluar Islam…

    ===
    Yesus itu seorang nabi, seperti nabi dan rasul lainnya,punya mukjizat dll.. simpel, ndak membingungkan.. pengikut2nya aja yg nambah2-in hehe… pengikutnya aja yg membuat agama dgn nama Kristen. Kristian = pengikut kristus hehe
    ===
    he…he…
    ada kepalsuan yang nampak dari kenakalan mas Wawan…

    No problem, selama kita bisa membedakan mana niat dan mana peri laku.

    Well,segitu dulu

    Have positive days

  11. aku sich udah paham itu semua…
    makanya aku tidak gampang mengatakan seseorang itu kafir, walaupun dia beragama apapun…

    dalam ranah eksoteris selalu aku ingin berdiskusi, sambil syiar… hehehe…

    kalau bicara yg substantif tidak ada bumbunya… hambar, karena kita sudah spakat dan satu persepsi hahahaha….

  12. Pertanyaan adalah:
    1. bagaimana seandainya jika saudara Wawan yang aktif di HMI dan pernah di Pemuda Muhammadiyah, sewaktu kecil dilahirkan dengan agama yang lain (bukan Islam)?
    2. Apakah selama ini kita menyadari, yang banyak terjadi selama ini, ketika mememluk agama berdasarkan keturunan? (karena awalnya doktrin orang tua yang dilakukan secara terus menerus, hingga terekam sekarang)
    3. Kenapa ketika mekmanai agama selalu dalam tataran kulit (agama formalitas dan cenderung syariat)? bukankah pemeluk agama yang lain (penganut aliran) juga akan melakukan penilaian yang sama terhadap agama lain jika pemahaman dalam tataran kulit?
    4. Benar kata kalr marx, agama tak lebih sebagai candu, yang terkadang menghilangkan akal sehat (hanya cari pembenar atas perbuatan yang dilakukan)…
    5. lantas bagaimana, apakah kita perlu tidak beragama (padahal tdk beragama juga bisa jadi sebuah agama juga)….yang penting perlu dilakukan adalah mencari esensi ketika beragama, untuk tidak saling meyalahkan, saling tolong menolong, membela yang lemah, melawan korupsi, mengingatkan penguasa yang lalim….bukannya malah saling salah menyalahkan/mengkafirkan antara agama satu dengan agama yang lain.

  13. pemikiran cerdas dari yang mengaku dirinya “sahabat”

    namun mengapa, pemikiran itu, lahir setelah adanya N. Adam yang dalam kisahnya adalah manusia pertama yang diciptakan Allah SWt (agama Islam), dan membawa ajaran yang digenapkan oleh Rasulullah SAW..dan diistilah kan dengan Islam sebagai agama (dien)

    dilihat dari informasi yang disampaikan sahabat, lebih masuk akal, dalam sebuah bulatan persepsi yang kecil (kalau tidak dikatakan sempit dan dangkal) diantara bulatan besar yang diciptakan Allah SWT…dan bulatan besar itu terbukti !!!
    jika dalam proses perbandingan bulatan persepsi kecil ini adalah sebuah “gangguan pada bulatan positive yang sebenarnya. atau dalam perumpamaan yang pernah RAsul SAW sampaikan, bahwa Islam adalah garis lurus diantara garis lurus lainnya, dan garis lurus lainnya adalah keluar jalur dari garis lurus asal dan selamat (arti dari Islam)
    sebagaimana kita tahu, bahwa seorang pendiri bisa menamakan organisasinya adalah organisasi yang dalam penamaan selanjutnya adalah lurus yang diikuti anggota awal dan kemudian diikuti anggota lanjutan.
    Dalam proses kehidupan organisasi nya, ada anggota lanjutan yang terdiri dari beberapa generasi berikutnya, memiliki pemikiran2 yang keluar dari organisasi, dengan menghindari istilah2 doktrin ORGANISASI lurus dan menggunakan istilah2 kebebasan, yang juga kadung belajar tentang prinsip2 dasar organisasi lurus itu dengan berbagai perbedaan pendapat yang bukan prinsip dan lain sebagainya. dan istilah ciptaan2 baru yang menjiplak istilah positif organisasi lurus itu dalam sebuah bulatan persepsi di dalam akal, hati, dan jasadnya. Namun berusaha untuk keluar dari prinsip2 dasar organisasi lurus itu Dan sebagaian nya lagi memang sudah dan membuktikan bahwa doktrin2 organisasi lurus itu mampu mengefektifkan kehidupan anggota organisasi itu, karena anggota yang loyal, taat, pasrah, dan berakal, tahu bahwa organisasi lurus itu memberikan makna hidup yang sebenarnya. Dan efektif, meskipun kepercayaan dan loyalitas itu lahir secara otomatis dari anggota2 sebelumnya.
    Anggota2 yang keluar dari prinsip dasar organisasi lurus ini, berusaha untuk tetap efektif hidupnya, dalam sebuah organisasi kecil yang berdaya guna baginya dan bagi beberapa anggota lainnya yang sepaham, dan mungkin jrang bergaul dengan anggota2 senior sebelumnya dalam maslaah dan kajian2 prinsip. Sehingga muncullah pembatasan diri dan pengecilan diri, sehingga merasakan begitu luasnya pemikiran tentang orgnisasi kecil itu bila dibandingkan dengan Organisasi besar itu (organisasi lurus itu ), dalam organisasi kecil itu. Dan karena merasa efektif dalam sebuah persepsi, maka dia menggunakan istilah2 yang dianggap posiitf secara universal, yang sudah digariskan oleh organisasi besar itu (organisasi lurus),dan dia gunakan dalam organisasi kecil itu. Dan tentu saja, dalam prosesnya sangat indah, dalam batasan punish and reward, baik dan buruk, pemimpin dan yang dipimpin, buku2 bacaan yang lahir setelah buku2 organisasi besar itu (baca organisasi lurus), dan berusaha menamakan organisasi lurus karena sudah kadung dianggap candu dan memiliki potensi mengekang kebebasan yang diusung oleh anggota organisasi kecil itu…

    Namun, yang jadi pertanyaan nya adalah karena terlalu kecil dan proses membesar nya hanya karena menggunakan istilah2 positif dari organisasi besar itu (baca organisasi lurus), maka kebahagiaannya hanyalah sebatas pada organisasi itu, setelah dan jika kematian organisasi itu terjadi, lalu apa lah artinya jika keefektifan hidup di organisasi kecil itu hanya sebatas dan terbatas, terjebak ke dalam istilah positif, dan menggunakan juga simbol2 layaknya organisasi lurus itu….akhirnya sama2 saja……….dan perbedaannya adalah
    Organisasi besar memberikan jaminan pensiun yang sangat membahagiakan setelah keluar dari organisasi besar itu …..dan organisasi kecil itu memberikan jaminan gaji kerja saja yang tinggi dan setelah keluar tidak ada jaminan apa pun…..dan setelah itu cerita2 penderitaan dan lain sebagainya akan lahir dan menatap anggota2 dari organisasi lurus itu, dengan wajah penyesalan yang amat mendalam. Karena sudah kadung mengganggap organisasi lurus itu adalah CANDU !!!
    dan ketauhilah juga bahwa si pendiri organisasi lurus itu, pasti akan mengganggap di luar organisasi lurus itu, adalah organisasi ILEGAL dan JIPLAKAN belaka, dan secara logika, pendiri berhak men cap dan melabelkan organisasi2 di luar nya yang mencatut organisasi lurus jilid dua (baca organisasi kecil) versi organisasi kecil itu adalah SESAT dari prinsip, doktrin, dan simbol2 organisasi lurus itu, suka atau tidak suka.

  14. Dear Wawan,

    Jujur, aku agak bingung membacanya. Tapi gini deh,
    Kurang lebih,….
    Orang banyak membicarakan ‘kebenaran’ sebuah agama. Yang ternyata hanya berbicara ‘pembenaran’ sebuah agama yang terbatas pada persepsinya. Agama bukanlah satu-satunya ‘kendaraan’ dalam kehidupan. Agama hanya sebuah cara untuk mengenal ‘dirinya’ dan mengenal Tuhan.Kalau sudah mengenal, bukan berarti ditinggalkan, perdalam dan jalankan sesuai dengan konteks lingkungan dan dirinya.
    Ada seorang ibu bercerita, untuk hidup bahagia, sudahkah mengenal ‘GusTi’ (Tuhan dalam bahasa Jawa)?
    Sudah? ‘GusTi’ = ‘baGusing aTi’ (Hati yang Baik).
    Tidak perlu bicara surga dan neraka, atau, pahala dan dosa, cukup dengan mengenal GusTi.
    Kalau mengenal GusTi melalui agama, ya jalankan dengan taat untuk mendapatkan Hati yang Baik.
    Menjalankan hukum agama (syariat) tanpa mendapatkan Hati yang Baik sama saja tidak mengenal GusTi (Tuhan). Hati yang Baik banyak persepsinya, persepsi itu adanya di logika atau akal, atau ‘mind’.
    Tidak akan ketemu kalau mencarinya dengan ‘mind’.
    Gunakan ‘soul’/ ‘jiwa’, maka Hati yang Baik akan ditemukan.
    ‘Soul’/’jiwa’ adanya ya di hati kita, jadi dengarkan apa kata ‘suara hati’/ hati nurani, tidak perlu menyertakan ‘mind’ untuk menemukan Hati yang Baik.
    Silakan mencobanya.

    Have positive days…

  15. kalimat dari sahabat ini sungguh menggugah suasana hati

    “Orang bukan hanya “beragama” yang artinya memiliki atau memeluk.
    Agama itu “tarekat”, jadi harus dijalankan dan dijalani.
    Dengan memahami hakekat agama sebagai kendaraan hidup ya harus dijalankan agar mencapai tujuan.”

    I agree with that.

    Nice.

  16. sinto edan@ hehehe….
    SAHABAT ini prinsip keyakinannya tdk begitu mas… beliau yg penting hatinya bersih “iman” kpd Gusti tanpa harus menjalankan syariat apalagi “tarekat” ….. dia yakin tidak perlu “laku” dalam meraih CINTA Tuhan…

  17. Tuhan telah mengutus beberapa orang nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad yang ke semuanya menyerukan bahwa Allah (Tuhan) itu Maha Esa. Ajaran tauhid (mengesakan Allah) ini adalah konsep dasar ajaran para nabi terdahulu. Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa tiap-tiap umat ada mempunyai rasul (nabi yang diutus). Berkemungkinan Sri Krisna dan Sidharta Gautama (Budha) adalah salah seorang nabi dan rasul yang pernah diutus Allah kepada umatnya masing-masing di India. Begitu juga dengan Kong Hu Cu dan Lao Tse berkemungkinan mereka merupakan salah seorang nabi dan rasul yang diutus Allah ke Tiongkok / Cina dahulu. Sebagaimana kita ketahui ajaran Hindu dan Kong Hu Cu pada mulanya adalah menyatakan Tuhan itu Maha Esa dan Sidharta Gautama juga hanya mengakui Tuhan itu esa dan melarang pengikutnya menyembah berhala.
    Tapi kenapa ajaran keesaan Allah itu kabur pada kitab suci agama Budha dan berbeda dengan ajaran nabi Muhammad? Salah satu penyebab adalah kitab suci agama Budha baru ditulis orang 200 tahun lebih setelah Sidharta Gautama meninggal dunia. Ajaran Budha yang asli tidak diketahui orang sampai sekarang karena Sidharta Gautama sendiri tidak pernah menyuruh tulis atau bukukan ajarannya pada muridnya secara langsung. Berbeda dengan wahyu yang diterima nabi Muhammad setiap wahyu yang diterimanya langsung beliau suruh sahabatnya untuk menghafalkan wahyu tersebut dan ditulis oleh para sahabat nabi.
    Kalau seandainya ada ajaran Budha yang asli maka Sidharta Gautama sendiri akan menyuruh umatnya untuk beriman kepada Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir karena ajaran nabi terdahulu khusus untuk bangsanya saja bukan untuk seluruh umat manusia di dunia dan terbatas waktunya hanya sampai kedatangan nabi Muhammad yang diutus Allah sebagai rahmat bagi semua alam.
    Kalau manusia tidak beriman kepada Nabi Muhammad apa risikonya?
    Nabi Muhammad bersabda :
    “Siapa saja di antara manusia yang telah mendengar seruan aku ini (maksudnya telah sampai berita agama Islam) sementara dia tidak mau masuk Islam maka orang tersebut pasti masuk api neraka.”
    Jadi semua manusia yang telah mengetahui adanya agama Islam sedangkan dia cuek-cuek saja tidak mau mempelajari dan mengetahui kebenaran Islam yang terdapat pada kitab suci Al-Qur’an serta tidak mau masuk Islam maka manusia tersebut pasti masuk api neraka di akhirat kelak.
    Kalau sudah di akhirat kita tidak bisa lagi ke dunia ini untuk bertobat. Nasi sudah jadi bubur. Sebelum nasi belum menjadi bubur seyogyanya kita beriman kepada nabi terakhir ini. Al-Qur’an juga mengatakan bahwa banyak orang yang masuk neraka yang minta dikembalikan ke dunia karena tidak tahan azab api neraka dengan maksud untuk beriman dan bertobat kepada Allah namun Allah jelas tidak mengabulkan permohonan mereka karena dunia sudah kiamat dan alam akhirat sudah terbentang sehingga mereka menyesal tidak beriman kepada Allah ketika hidup di dunia ini.
    Tuhan yang menciptakan kita pasti sama Tuhan orang Arab, India, Cina, Eropah dan lainnya pasti sama. Kenapa kita tidak mau mempelajari Al-Qur’an yang merupakan mukjizat atau bukti kerasulan Nabi Muhammad, SAW?

  18. Tuhan telah mengutus beberapa orang nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad yang ke semuanya menyerukan bahwa Allah (Tuhan) itu Maha Esa. Ajaran tauhid (mengesakan Allah) ini adalah konsep dasar ajaran para nabi terdahulu. Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa tiap-tiap umat ada mempunyai rasul (nabi yang diutus). Berkemungkinan Sri Krisna dan Sidharta Gautama (Budha) adalah salah seorang nabi dan rasul yang pernah diutus Allah kepada umatnya masing-masing di India. Begitu juga dengan Kong Hu Cu dan Lao Tse berkemungkinan pula mereka adalah salah seorang nabi atau rasul yang diutus Allah ke bangsa Tiongkok / Cina pada zaman dahulu. Sebagaimana kita ketahui ajaran Hindu dan Kong Hu Cu pada mulanya adalah mengesakan Tuhan dan Sidharta Gautama juga hanya mengakui Tuhan itu esa dan melarang pengikutnya menyembah berhala.
    Tapi kenapa ajaran keesaan Allah itu kabur pada kitab suci agama Budha dan berbeda dengan ajaran nabi Muhammad? Salah satu penyebab adalah kitab suci agama Budha baru ditulis orang 200 tahun lebih setelah Sidharta Gautama meninggal dunia. Ajaran Budha yang asli tidak diketahui orang sampai sekarang karena Sidharta Gautama sendiri tidak pernah menyuruh tulis atau bukukan ajarannya pada muridnya secara langsung. Berbeda dengan wahyu yang diterima nabi Muhammad setiap wahyu yang diterimanya langsung beliau suruh sahabatnya untuk menghafalkan wahyu tersebut dan ditulis oleh para sahabat nabi.
    Kitab-kitab suci selain kitab Al-Qur’an sudah tercemar dengan tulisan tangan manusia yang merubah isi kitab dan menyatakan bahwa ini dari Tuhan sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an pada Surat Al-Baqorah ayat 78-79 sbb. :
    “Dan setengah dari mereka adalah yang tidak kenal tulisan, tidak mereka ketahui akan al-Kitab, kecuali dongeng-dongeng, dan tidak ada mereka selain bersangka-­sangka.” (QS Al-Baqarah : 78)
    ” Maka celakalah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka, kemudian berkata: Alkitab ini adalah dari Allah, untuk dijual dengan murah. Maka celakalah bagi mereka disebabkan tulisan tangan mereka, karena perbuatan mereka.” (QS Al-Baqarah : 79)
    Contoh kalau seandainya ada ajaran Budha yang asli maka Sidharta Gautama sendiri akan menyuruh umatnya untuk beriman kepada Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir karena ajaran nabi terdahulu khusus untuk bangsanya saja bukan untuk seluruh umat manusia di dunia dan terbatas waktunya hanya sampai kedatangan nabi Muhammad yang diutus Allah sebagai rahmat bagi semua alam.
    Kalau manusia tidak beriman kepada Nabi Muhammad apa risikonya?
    Nabi Muhammad bersabda :
    “Siapa saja di antara manusia yang telah mendengar seruan aku ini (maksudnya telah sampai berita agama Islam) sementara dia tidak beriman kepadaku (tidak mau masuk Islam) maka orang tersebut pasti masuk api neraka.”
    Jadi semua manusia yang telah mengetahui adanya agama Islam sedangkan dia cuek-cuek saja tidak mau mempelajari dan mengetahui kebenaran Islam yang terdapat pada kitab suci Al-Qur’an serta tidak mau masuk Islam maka manusia tersebut pasti masuk api neraka di akhirat kelak.
    Kalau sudah di akhirat kita tidak bisa lagi ke dunia ini untuk bertobat. Nasi sudah jadi bubur. Sebelum nasi belum menjadi bubur seyogyanya kita beriman kepada nabi terakhir ini. Al-Qur’an juga mengatakan bahwa banyak orang yang masuk neraka yang minta dikembalikan ke dunia karena tidak tahan azab api neraka dengan maksud untuk beriman dan bertobat kepada Allah namun Allah jelas tidak mengabulkan permohonan mereka karena dunia sudah kiamat dan alam akhirat sudah terbentang sehingga mereka menyesal tidak beriman kepada Allah ketika hidup di dunia ini.
    Tuhan yang menciptakan kita pasti sama, Tuhan orang Arab, India, Cina, Eropah dan lainnya pasti sama. Kenapa kita tidak mau mempelajari Al-Qur’an yang merupakan mukjizat atau bukti kerasulan Nabi Muhammad, SAW? Dalam Al-Qur’an terdapat berbagai macam ilmu pengetahuan yang baru ditemukan manusia pada abad ke 16 sampai abad sekarang ini seperti ilmu reproduksi manusia, geologi, botani, zoologi, ilmu gizi, teori penciptaan alam semesta / teori Big Bang serta ilmu pengetahuan lainnya. Hal ini mustahil diketahui oleh orang Arab jahiliah tempat nabi Muhammad dilahirkan pada abad ke-6 masehi. Yang benarnya adalah Al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah Tuhan pencipta alam semesta ini yang Maha Tahu akan segala ilmu yang ada di alam ini dan Allah mengutus Nabi Muhammad untuk dipatuhi oleh semua umat manusia di dunia bukan untuk diingkari dan bukan pula untuk dimusuhi.

  19. BAGAIMANA MENILAI KEBENARAN SUATU AGAMA?

    Kepercayaan/keyakinan merupakan suatu konsep penggambaran/imajinasi yang didasarkan pada suatu kondisi tertentu. Kepercayaan dapat tumbuh dalam diri seseorang melalui kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi yang umumnya tidak dapat divalidasi kebenarannya. Kepercayaan juga dapat muncul akibat pengalaman metafisik pribadi sehingga memunculkan imajinasi dalam bentukbentuk tertentu atau karena ketidak mampuan akal pikiran menjawab fenomenafenomena alam sehingga muncullah penggambaran-penggambaran yang berada di luar rasionalitas alam pikiran. Kepercayaan mungkin sudah ada sejak awal sejarah manusia. Setiap kepercayaan memiliki karakteristik masing-masing sesuai dengan kondisi humaniora dan geografisnya. Masing-masing kepercayaan umumnya memiliki landasan dan budaya
    tersendiri dan tidak jarang saling bertentangan dengan kepercayaan yang lainnya.
    Di dunia saat ini ada ratusan bahkan mungkin ribuan agama dan kepercayaan.
    Beberapa agama dengan populasi
    pengikut yang besar antara lain
    agama Islam, Kristen, Hindu, dan
    Budha. Disamping itu juga terdapat
    banyak agama dengan pengikut
    relatif kecil ataupun agama-agama
    suku seperti agama Yahudi, Sinto,
    Sikh, Jaina, Kejawen dan
    sebagainya. Dari sekian banyak
    agama tersebut ternyata juga dapat
    dikelompokkan lagi. Meskipun
    mereka memiliki dasar ajaran dan
    sejarah yang sama, tetapi ternyata
    “keyakinan” yang muncul dalam
    diri pemeluknya dapat berbeda-beda sehingga memunculkan aliran-aliran yang
    bertentangan secara fundamental, meskipun masih dalam satu agama.
    Suatu permasalahan menjadi menarik dan rumit bilamana kebenaran kepercayaankepercayaan
    ini dibandingkan dan divonis benar salahnya. Meski kebenaran adalah
    relatif, bisakah kita mengklaim kebenaran suatu ajaran? Cukupkah kita percaya dan
    meyakini kebenaran itu berdasarkan dalil-dalil dari dalam kitab suci
    agama/kepercayaan bersangkutan?
    Dewasa ini muncul kepercayaan-kepercayaan baru di masyarakat, baik yang berupa
    aliran dari suatu ajaran agama, sinkritisme/penggabungan beberapa agama ataupun
    ajaran “baru” atas klaim pemimpin agamanya yang menyatakan diri sebagai penerima
    wahyu.
    Dengan adanya fenomena ini, dapatkan kita mengklaim ajaran-ajaran yang muncul
    tersebut adalah ajaran sesat yang harus dimusnahkan? Apakah hanya dengan dalil Al2
    Quran yang menyatakan Islam adalah agama terakhir dan Nabi Muhammad adalah
    nabi terakhir, kita bisa memvonis setiap ajaran baru yang muncul di masyarakat
    adalah sesat?
    Jika anda adalah seorang Muslim, tentu anda akan mengklaim seperti itu karena anda
    “percaya” pada Al-Quran. Tapi yang akan kita ungkap saat ini adalah bagaimana
    mengvalidasi kebenaran rasa “percaya” tersebut? Jika “percaya” ini divalidasi dengan
    sikap “kepercayaan” juga, apakah akan menghasilkan hasil yang logis?
    Agama memang terdiri dari ajaran-ajaran yang di luar nalar manusia, tetapi tentunya
    dalam setiap ajaran agama juga menguraikan hal-hal yang bisa diekspoitasi oleh
    pikiran manusia. Bukankah semua agama mengajarkan tentang bagaimana alam
    semesta, bumi, manusia dan seluruh mahluk hidup diciptakan? Bukankah hampir
    dalam semua ajaran agama terdapat hal-hal ilmiah yang disinggung? Nah, dengan
    demikian jika benar agama tersebut bersumber dari Tuhan yang maha mutlak,
    tentunya ajaran-ajaran yang bersifat “ilmiah” ini bisa kita validasi dengan ilmu
    pengetahuan modern saat ini yang memang sudah proven dan terbukti kebenarannya.
    Penemuan-penemuan arkeologi yang dapat mengungkap secara ilmiah sumber,
    penyebaran dan berkembangnya suatu ajaran agama juga bisa kita jadikan patokan
    penilaian.
    Buku Life After Life [kehidupan setelah kehidupan], karya Raymond Moody, MD.,
    yang menuliskan hasil interviewnya terhadap orang-orang yang berasal dari berbagai
    agama yang secara kedokteran telah dinyatakan wafat dan bangun kembali. Mereka
    mengalami pengalaman memasuki dunia lain dan balik kembali, yang secara statistik
    hasilnya adalah konsisten merupakan sebuah kajian ilmiah yang membenarkan
    adanya kehidupan diluar badan ini.
    Jadi, kebenaran suatu ajaran agama/kepercayaan dapat dinilai secara lebih mudah
    melalui dua cara, yaitu:
    1. Validasi ajaran-ajaran kitab suci dengan teori-teori ilmu pengetahuan modern
    saat ini; dan
    2. Menelusuri kebenaran sejarah sesuai dengan yang diungkapkan oleh kitab suci
    dan membandingkannya dengan penemuan-penemuan arkeologi.
    Pada bagian-bagian selanjutnya saya akan mencoba mengulas kebenaran kitab suci
    suatu agama dengan membeberkan ajaran-ajaran dan ayat-ayat dari kitab sucinya dan
    membandingkannya dengan bukti-bukti ilmiah yang ada

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s