<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: PERBANDINGAN BIBEL DAN QUR&#8217;AN menurut NON MUSLIM</title>
	<atom:link href="http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/06/20/perbandingan-bibel-dan-quran-menurut-non-muslim/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/06/20/perbandingan-bibel-dan-quran-menurut-non-muslim/</link>
	<description>every thing to knowing (BACALAH dengan menyebut Tuhanmu!)</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Dec 2009 05:23:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: jhipol</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/06/20/perbandingan-bibel-dan-quran-menurut-non-muslim/#comment-331</link>
		<dc:creator>jhipol</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 10:18:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=136#comment-331</guid>
		<description>&quot;PERBANDINGAN BIBEL DAN QUR’AN menurut NON MUSLIM&quot;
tema yg menarik....
tapi jadi meluas... sampe kesifat arogan dll... cba kembali ke tema.. biar ga simpang siur sobat semua.. saya malah jadi bingung komentar kok kaya judul baru ya...
&quot;MELURUSKAN&quot; klo blh pake contoh ada 2 tipe cara meluruskan
1. meluruskan barang yg lembek mungkin gampang tinggal di bentangkan saja mungkin udah lurus
2. meluruskan barang yg keras seperti besi yg bengkok, mukun itu harus pake tenaga ekstra, pake palu lah pake alat lah dll..
al hasil tujuan akhir lurus juga...

maap klo tulisan saya ngawur ya sobat semua...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;PERBANDINGAN BIBEL DAN QUR’AN menurut NON MUSLIM&#8221;<br />
tema yg menarik&#8230;.<br />
tapi jadi meluas&#8230; sampe kesifat arogan dll&#8230; cba kembali ke tema.. biar ga simpang siur sobat semua.. saya malah jadi bingung komentar kok kaya judul baru ya&#8230;<br />
&#8220;MELURUSKAN&#8221; klo blh pake contoh ada 2 tipe cara meluruskan<br />
1. meluruskan barang yg lembek mungkin gampang tinggal di bentangkan saja mungkin udah lurus<br />
2. meluruskan barang yg keras seperti besi yg bengkok, mukun itu harus pake tenaga ekstra, pake palu lah pake alat lah dll..<br />
al hasil tujuan akhir lurus juga&#8230;</p>
<p>maap klo tulisan saya ngawur ya sobat semua&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: film kiamat 2012</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/06/20/perbandingan-bibel-dan-quran-menurut-non-muslim/#comment-296</link>
		<dc:creator>film kiamat 2012</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 14:35:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=136#comment-296</guid>
		<description>Kiamat udah mau tiba... bertobatlah...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kiamat udah mau tiba&#8230; bertobatlah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sahabat</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/06/20/perbandingan-bibel-dan-quran-menurut-non-muslim/#comment-227</link>
		<dc:creator>Sahabat</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 10:38:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=136#comment-227</guid>
		<description>Dear Wawan,

Hee...He...
Subyektif kan rasionalitas....

Pada dasarnya aku setuju dan sepakat, dengan perjalanan diskusi kita. Aku menempatkan diri pd pijakan antitheory, teotri kebalikan, walaupun tetap sepakat, hanya THE WAY nya. Itu PRLURALIS, yang SEKULAR, dan cukup rasional sebagai HUMAN, HUMANIS. Tapi Tetap ada IMAN, 

Metodologinya kan udah jelas!
KALAU UDAH BEDA ya BEDA AJA. 
Kalau Wawan mengadakan PERBANDINGAN, KRITIK, atau MENAJAMKAN PERBEDAAN.
Ini bukan suatu hal yang MENDIDIK.
Kalau mau yang membangun, kaji dan gali, KESAMAANNYA dalam LAKU,
Bahwa berZINAH itu dosa! 
Muslimah berjilbab, kenapa?? lalu  bagaimana sikap Katolik dalam mengkritisi &quot;ETIKA&quot; (rasa/&quot;HATI&quot;) dengan busana. dll...dll... 
LEBIH RASIONAL kan ??!!

Yang Wawan kerjakan dengan PERBANDINGAN atau KRITIKAN terhadap Keimanan yang BUKAN Wawan imani,
Bukankah itu merupakan sebuah pekerjaan yang sia-sia, mengada-ada? 
Secara &quot;ISI&quot; aku ga masalah aku tahu Wawan cukup PROPOSIONAL. 
Aku mengkritisi &quot;Kenapa Wawan harus melakukan itu?&quot;
Aku pancing dengan &quot;protes&quot; dan kritik balik, 
Nah, di sini apa yang melatar belakangi Wawan jadi semakin kelihatan, 

Bagaimana &quot;SIKAP HATI&quot; Wawan memandang Non Muslim sebagai &quot;UMAT ALLAH NO. DUA, TIGA, EMPAT...dst&quot;
Bahwa MUSLIM adalah umat &quot;NOMER WAHID&quot;. Yang Non Muslim udah &quot;bengkok&quot; Begitu kan??

Berlindung dengan &quot;hati&quot; boleh saja dikatakan sebagai 
[itu adalah] spt orang awam/bodoh/tidak tahu apa2… apologik, fanatik/ortodok . 
Ga pa apa...
Tapi Wawan tentunya tahu kalau kemampuan &quot;hati&quot; / RASA jauh lebih &quot;CERDAS&quot; dibanding rasional?

IMAN adalah BAHASA HATI , BUKAN LOGIKA, 
PERCAYA  [dan  hanya menuhankan] AKAN ALLAH adalah BAHASA HATI, bukan BAHASA LOGIKA. 

Apa yang salah &quot;kalau hati dijadikan tembok tu menghadang kritikkan&quot;?? Karena ternyata HATI jauh lebih &quot;CERDAS&quot;??
BAHASA BUKU SUCI (apapun itu) adalah BAHASA ALLAH,
yang hanya bisa dipahami dengan HATI, LOGIKA hanya merespons saja tidak mampu memPROSES.

Wawan mencintai keluarga, kerja banting tulang, berkorban apapun demi keluarga, karena proses berpikir HATI
LOGIKA hanya merespons hasil dari pemikiran HATI, tidak ada &quot;bendahara&quot; dalam proses berpikir &quot;HATI&quot;. karena &quot;JUJUR&quot; dan Super CERDAS.

Buka ZONA IKHLAS, MESTAKUNG, NLP, QUANTUM IKHLAS, QUANTUM HIPNOSIS... dan yang ada kaitannya dengan &quot;SUBCONSIOUS&quot;. Jantung/heart (hati) memiliki frekuensi berpikir seperti halnya OTAK. 
Ini REAL,NYATA, SAINS, bukan ilmu yang bombastis.

Contoh simple &quot;NIAT&quot; dan &quot;INGIN&quot; makna dan artinya sama yang berarti &quot;hendak&quot; atau &quot;akan&quot;.
Tapi &quot;NIAT&quot; bersasal dari HATI,
Dan &quot;INGIN &quot; berasal dari &quot;RASIONAL&quot; 
Coba rasakan dan telusuri rasa &quot;NIAT&quot; dan &quot;INGIN&quot;.

&quot;saya berniat membantu&quot; 

dengan

&quot;saya ingin membantu&quot;

bisakah merasakan bedanya? mana kalimat yang punya arti lebih dalam?

Gitu dulu yo Wan,
Suk tak sambung maneh, aku arep njemput anakku kuliah &quot;gek ospek&quot; hari kedua. Brkt jam setengah papat isuk mau, mesaake aku omahe bekasi anakku nang semanggi (atmajaya)

Salam Damai dalam Allah Tuhan kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Wawan,</p>
<p>Hee&#8230;He&#8230;<br />
Subyektif kan rasionalitas&#8230;.</p>
<p>Pada dasarnya aku setuju dan sepakat, dengan perjalanan diskusi kita. Aku menempatkan diri pd pijakan antitheory, teotri kebalikan, walaupun tetap sepakat, hanya THE WAY nya. Itu PRLURALIS, yang SEKULAR, dan cukup rasional sebagai HUMAN, HUMANIS. Tapi Tetap ada IMAN, </p>
<p>Metodologinya kan udah jelas!<br />
KALAU UDAH BEDA ya BEDA AJA.<br />
Kalau Wawan mengadakan PERBANDINGAN, KRITIK, atau MENAJAMKAN PERBEDAAN.<br />
Ini bukan suatu hal yang MENDIDIK.<br />
Kalau mau yang membangun, kaji dan gali, KESAMAANNYA dalam LAKU,<br />
Bahwa berZINAH itu dosa!<br />
Muslimah berjilbab, kenapa?? lalu  bagaimana sikap Katolik dalam mengkritisi &#8220;ETIKA&#8221; (rasa/&#8221;HATI&#8221;) dengan busana. dll&#8230;dll&#8230;<br />
LEBIH RASIONAL kan ??!!</p>
<p>Yang Wawan kerjakan dengan PERBANDINGAN atau KRITIKAN terhadap Keimanan yang BUKAN Wawan imani,<br />
Bukankah itu merupakan sebuah pekerjaan yang sia-sia, mengada-ada?<br />
Secara &#8220;ISI&#8221; aku ga masalah aku tahu Wawan cukup PROPOSIONAL.<br />
Aku mengkritisi &#8220;Kenapa Wawan harus melakukan itu?&#8221;<br />
Aku pancing dengan &#8220;protes&#8221; dan kritik balik,<br />
Nah, di sini apa yang melatar belakangi Wawan jadi semakin kelihatan, </p>
<p>Bagaimana &#8220;SIKAP HATI&#8221; Wawan memandang Non Muslim sebagai &#8220;UMAT ALLAH NO. DUA, TIGA, EMPAT&#8230;dst&#8221;<br />
Bahwa MUSLIM adalah umat &#8220;NOMER WAHID&#8221;. Yang Non Muslim udah &#8220;bengkok&#8221; Begitu kan??</p>
<p>Berlindung dengan &#8220;hati&#8221; boleh saja dikatakan sebagai<br />
[itu adalah] spt orang awam/bodoh/tidak tahu apa2… apologik, fanatik/ortodok .<br />
Ga pa apa&#8230;<br />
Tapi Wawan tentunya tahu kalau kemampuan &#8220;hati&#8221; / RASA jauh lebih &#8220;CERDAS&#8221; dibanding rasional?</p>
<p>IMAN adalah BAHASA HATI , BUKAN LOGIKA,<br />
PERCAYA  [dan  hanya menuhankan] AKAN ALLAH adalah BAHASA HATI, bukan BAHASA LOGIKA. </p>
<p>Apa yang salah &#8220;kalau hati dijadikan tembok tu menghadang kritikkan&#8221;?? Karena ternyata HATI jauh lebih &#8220;CERDAS&#8221;??<br />
BAHASA BUKU SUCI (apapun itu) adalah BAHASA ALLAH,<br />
yang hanya bisa dipahami dengan HATI, LOGIKA hanya merespons saja tidak mampu memPROSES.</p>
<p>Wawan mencintai keluarga, kerja banting tulang, berkorban apapun demi keluarga, karena proses berpikir HATI<br />
LOGIKA hanya merespons hasil dari pemikiran HATI, tidak ada &#8220;bendahara&#8221; dalam proses berpikir &#8220;HATI&#8221;. karena &#8220;JUJUR&#8221; dan Super CERDAS.</p>
<p>Buka ZONA IKHLAS, MESTAKUNG, NLP, QUANTUM IKHLAS, QUANTUM HIPNOSIS&#8230; dan yang ada kaitannya dengan &#8220;SUBCONSIOUS&#8221;. Jantung/heart (hati) memiliki frekuensi berpikir seperti halnya OTAK.<br />
Ini REAL,NYATA, SAINS, bukan ilmu yang bombastis.</p>
<p>Contoh simple &#8220;NIAT&#8221; dan &#8220;INGIN&#8221; makna dan artinya sama yang berarti &#8220;hendak&#8221; atau &#8220;akan&#8221;.<br />
Tapi &#8220;NIAT&#8221; bersasal dari HATI,<br />
Dan &#8220;INGIN &#8221; berasal dari &#8220;RASIONAL&#8221;<br />
Coba rasakan dan telusuri rasa &#8220;NIAT&#8221; dan &#8220;INGIN&#8221;.</p>
<p>&#8220;saya berniat membantu&#8221; </p>
<p>dengan</p>
<p>&#8220;saya ingin membantu&#8221;</p>
<p>bisakah merasakan bedanya? mana kalimat yang punya arti lebih dalam?</p>
<p>Gitu dulu yo Wan,<br />
Suk tak sambung maneh, aku arep njemput anakku kuliah &#8220;gek ospek&#8221; hari kedua. Brkt jam setengah papat isuk mau, mesaake aku omahe bekasi anakku nang semanggi (atmajaya)</p>
<p>Salam Damai dalam Allah Tuhan kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: wawankardiyanto</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/06/20/perbandingan-bibel-dan-quran-menurut-non-muslim/#comment-224</link>
		<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 07:28:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=136#comment-224</guid>
		<description>Salam manis Allah,

hahaha....
hati selalu dijadikan tameng tuk sebuah kebenaran yg subyektif....???

memang sangat benar rasionalitas bukan segala-galanya... sy juga 100% setuju.

Buku Suci itu adalah obyek materi/wujud, kalau dari Tuhan beneran harus tidak boleh kalah telak dikritisi oleh rasionalitas.... Tuhan adalah Maha Benar....

dan kalau hati dijadikan tembok tu menghadang kritikkan, itu adalah spt orang awam/bodoh/tidak tahu apa2... apologik, fanatik/ortodok dll hehe...

oke dech,.... kalau boleh bertanya lg seperti apa tuh metode berpikir dengan hati ....??? jelaskan sedetailnya biar sy lebih mengerti hehehe...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam manis Allah,</p>
<p>hahaha&#8230;.<br />
hati selalu dijadikan tameng tuk sebuah kebenaran yg subyektif&#8230;.???</p>
<p>memang sangat benar rasionalitas bukan segala-galanya&#8230; sy juga 100% setuju.</p>
<p>Buku Suci itu adalah obyek materi/wujud, kalau dari Tuhan beneran harus tidak boleh kalah telak dikritisi oleh rasionalitas&#8230;. Tuhan adalah Maha Benar&#8230;.</p>
<p>dan kalau hati dijadikan tembok tu menghadang kritikkan, itu adalah spt orang awam/bodoh/tidak tahu apa2&#8230; apologik, fanatik/ortodok dll hehe&#8230;</p>
<p>oke dech,&#8230;. kalau boleh bertanya lg seperti apa tuh metode berpikir dengan hati &#8230;.??? jelaskan sedetailnya biar sy lebih mengerti hehehe&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sahabat</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/06/20/perbandingan-bibel-dan-quran-menurut-non-muslim/#comment-223</link>
		<dc:creator>Sahabat</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 01:33:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=136#comment-223</guid>
		<description>Dear Wawan,

He...he...
Namanya juga Pluralis, Sekuler, Humanis......

Generalisasi memang penting,
men&quot;generalisasi&quot; seseorang berdasarkan kehendaknya sendiri merupakan ketidak-berdayaan orang tersebut meng&quot;eksistensi&quot;kan atau memberadakan dirinya dalam pergaulan.
Biasanya orang seperti ini ingin tampil superior. 

Kalau aku setuju banget dan sependapat dengan tiga pertanyaan yang Wawan sampaikan, 

Tapi pertanyaannya buat Wawan yang jawab sendiri. 
(Walaupun Wawan bukan pluralis)

Itulah sebenarnya keadaan Wawan.
Wawan telah bercermin melalui pertanyaan itu.

Cobalah tengok ke dalam jiwa Wawan sendiri, melalui HATI bukan RASIONAL. 

Ada Clue :
Kita akan jadi KATAK kalau kita memakai rasional terus. Apalagi kalau itu menyangkut BAHASA TUHAN, BAHASA ILLAHI, yang sudah tertuang dalam BUKU SUCI, apapun BUKU SUCInya.

Untuk no. 4 :
RASIONAL untuk RASIONAL,
HATI untuk HATI
BAHASA TUHAN ( dalam BUKU SUCI) bukan untuk dirasionalkan apalagi dicari-cari kebenarannya (subyektif)

(HATI + RASIONAL) x LAKU = IMAN  

((HATI + RASIONAL) X LAKU ) + KUALITAS = IMAN  (juga)

pilihannya hanya 2 RUMUS HIDUP berIMAN.

Hablum minan nash Hablum minallah.

Yang menarik untuk disimak,
Semua orang yang &quot;sadar diri&quot; atau &quot;tahu diri&quot; tidak setuju dengan ledakan bom bunuh diri teroris.
Apalagi mengatas-namakan ISLAM, 
Aku  tetap &quot;membela keberadaan Islam&quot; dalam jiwa dan pikiranku.
Islam rahmatan lil alamin. That&#039;s it!
NO terrors,
NO Killings,
NO Provocations.

Tapi Karena LAKU yang tidak pakai HATI sebagai prosesor jiwa, ya begitu itu. &quot;Hablum minallah.&quot; yang kebablasan karena IMANnya KERDIL.

Metodologi yang Wawan gunakan untuk berdialog lintas agama dengan menyajikan &quot;superioritas Wawan&quot; menggali kebenaran RASIONAL menyuburkan &quot;Hablum minallah.&quot; yang kebablasan .

Aku pernah bilang, &quot;KALAU SUDAH BEDA ya BEDA AJA&quot;,
kenapa harus tampil PEMBEDA lagi??

Kalau aku lebih setuju tulisan &quot;SINERGIKAN HATI DAN DAYA PIKIR KITA&quot;, lalu dari Agama Seberang digali keselarasannya.
Ini lebih elegan, lebih dihargai...
Kalau belum mampu sekarang ya tunda dulu....

Seperti TRINITAS, kalau masuk ke dalam dan berusaha memahami Dogma TRINITAS sampai kapan pun tidak ketemu. karena itu Dogma Iman Katolik, Wawan kan bukan Katolik!

Tapi gali dan kaji &quot;LAKU&quot; orang-orang Katolik kenapa Dogma TRINITAS begitu merasuk ke dalam keimannya.

Gitu Wan.....he...he....
Jangan Marah ya.....

Salam Damai dalam Allah Tuhan kita</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Wawan,</p>
<p>He&#8230;he&#8230;<br />
Namanya juga Pluralis, Sekuler, Humanis&#8230;&#8230;</p>
<p>Generalisasi memang penting,<br />
men&#8221;generalisasi&#8221; seseorang berdasarkan kehendaknya sendiri merupakan ketidak-berdayaan orang tersebut meng&#8221;eksistensi&#8221;kan atau memberadakan dirinya dalam pergaulan.<br />
Biasanya orang seperti ini ingin tampil superior. </p>
<p>Kalau aku setuju banget dan sependapat dengan tiga pertanyaan yang Wawan sampaikan, </p>
<p>Tapi pertanyaannya buat Wawan yang jawab sendiri.<br />
(Walaupun Wawan bukan pluralis)</p>
<p>Itulah sebenarnya keadaan Wawan.<br />
Wawan telah bercermin melalui pertanyaan itu.</p>
<p>Cobalah tengok ke dalam jiwa Wawan sendiri, melalui HATI bukan RASIONAL. </p>
<p>Ada Clue :<br />
Kita akan jadi KATAK kalau kita memakai rasional terus. Apalagi kalau itu menyangkut BAHASA TUHAN, BAHASA ILLAHI, yang sudah tertuang dalam BUKU SUCI, apapun BUKU SUCInya.</p>
<p>Untuk no. 4 :<br />
RASIONAL untuk RASIONAL,<br />
HATI untuk HATI<br />
BAHASA TUHAN ( dalam BUKU SUCI) bukan untuk dirasionalkan apalagi dicari-cari kebenarannya (subyektif)</p>
<p>(HATI + RASIONAL) x LAKU = IMAN  </p>
<p>((HATI + RASIONAL) X LAKU ) + KUALITAS = IMAN  (juga)</p>
<p>pilihannya hanya 2 RUMUS HIDUP berIMAN.</p>
<p>Hablum minan nash Hablum minallah.</p>
<p>Yang menarik untuk disimak,<br />
Semua orang yang &#8220;sadar diri&#8221; atau &#8220;tahu diri&#8221; tidak setuju dengan ledakan bom bunuh diri teroris.<br />
Apalagi mengatas-namakan ISLAM,<br />
Aku  tetap &#8220;membela keberadaan Islam&#8221; dalam jiwa dan pikiranku.<br />
Islam rahmatan lil alamin. That&#8217;s it!<br />
NO terrors,<br />
NO Killings,<br />
NO Provocations.</p>
<p>Tapi Karena LAKU yang tidak pakai HATI sebagai prosesor jiwa, ya begitu itu. &#8220;Hablum minallah.&#8221; yang kebablasan karena IMANnya KERDIL.</p>
<p>Metodologi yang Wawan gunakan untuk berdialog lintas agama dengan menyajikan &#8220;superioritas Wawan&#8221; menggali kebenaran RASIONAL menyuburkan &#8220;Hablum minallah.&#8221; yang kebablasan .</p>
<p>Aku pernah bilang, &#8220;KALAU SUDAH BEDA ya BEDA AJA&#8221;,<br />
kenapa harus tampil PEMBEDA lagi??</p>
<p>Kalau aku lebih setuju tulisan &#8220;SINERGIKAN HATI DAN DAYA PIKIR KITA&#8221;, lalu dari Agama Seberang digali keselarasannya.<br />
Ini lebih elegan, lebih dihargai&#8230;<br />
Kalau belum mampu sekarang ya tunda dulu&#8230;.</p>
<p>Seperti TRINITAS, kalau masuk ke dalam dan berusaha memahami Dogma TRINITAS sampai kapan pun tidak ketemu. karena itu Dogma Iman Katolik, Wawan kan bukan Katolik!</p>
<p>Tapi gali dan kaji &#8220;LAKU&#8221; orang-orang Katolik kenapa Dogma TRINITAS begitu merasuk ke dalam keimannya.</p>
<p>Gitu Wan&#8230;..he&#8230;he&#8230;.<br />
Jangan Marah ya&#8230;..</p>
<p>Salam Damai dalam Allah Tuhan kita</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: wawankardiyanto</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/06/20/perbandingan-bibel-dan-quran-menurut-non-muslim/#comment-222</link>
		<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 05:40:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=136#comment-222</guid>
		<description>Seorang pluralis biasanya tidak suka hal2 yg protokoler. Hal2 yg detail, yg rumit, dan ritual keagamaan. Mereka yg lebih dipentingkan adalah isi, dan substansinya....

sebuah kriitik buat seorang pluralis...
1. apakah anda tidak perlu pakaian?
2. tidak perlukah anda tangan, kaki, mata, telinga, rambut, kulit, hidung dll?
3. Tuhan Allah adalah mengatur setiap hal yg sangat kecil spt jatuhnya selembar daun di belantara rimba, sampai meledaknya sebuah bintang di sebuah galaksi....
4. Jadi, kebenaran perlu total wujud yg sempurna. tidak hanya isi saja tetapi juga segala luarannya...

jadi, reward pahala, syurga dan neraka, sakrament, sholat dll adalah sama pentingnya dengan substansi keimanan anda... 

sebuah identitas harus total, tidak sepotong-sepotong.
Jangan mengambil yg disukai saja.... hehe</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pluralis biasanya tidak suka hal2 yg protokoler. Hal2 yg detail, yg rumit, dan ritual keagamaan. Mereka yg lebih dipentingkan adalah isi, dan substansinya&#8230;.</p>
<p>sebuah kriitik buat seorang pluralis&#8230;<br />
1. apakah anda tidak perlu pakaian?<br />
2. tidak perlukah anda tangan, kaki, mata, telinga, rambut, kulit, hidung dll?<br />
3. Tuhan Allah adalah mengatur setiap hal yg sangat kecil spt jatuhnya selembar daun di belantara rimba, sampai meledaknya sebuah bintang di sebuah galaksi&#8230;.<br />
4. Jadi, kebenaran perlu total wujud yg sempurna. tidak hanya isi saja tetapi juga segala luarannya&#8230;</p>
<p>jadi, reward pahala, syurga dan neraka, sakrament, sholat dll adalah sama pentingnya dengan substansi keimanan anda&#8230; </p>
<p>sebuah identitas harus total, tidak sepotong-sepotong.<br />
Jangan mengambil yg disukai saja&#8230;. hehe</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sahabat</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/06/20/perbandingan-bibel-dan-quran-menurut-non-muslim/#comment-221</link>
		<dc:creator>Sahabat</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 02:27:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=136#comment-221</guid>
		<description>Dear Wawan,

Terima kasih atas semua yang positif.

Ada beberapa poin yang sama dalam berkesimpulan, Namun ada yang tidak juga.
Yaitu, &quot;THE WAY&quot;, cara pemahaman.

Apapun kalimatnya, Tuhan, Allah, God, atau apapun sebutannya yang mendifinisikan BELIAU, adalah sebuah &quot;infiniti&quot; bagi dinding rasional.

Kalau Wawan berpendapat stasiun rasional dan logikal adalah HIPOCAMPUS, sedangkan AMIGDALA sebagai stasiun rasa, hati, naluri yang ada dalam susunan Otak, itu benar.

Ada materi yang diproses langsung di HIPOCAMPUS yaitu yang jangka pendek, yang  (karena) rasional dan logis untuk di eksekusi dalam laku.
Ada materi yang tidak bisa secara langsung diproses di stasiun HIPOCAMPUS yang memiliki keterbatasan, dengan kecepatannya AMIGDALA mengambil alih. Data-datanya berupa &quot;rasa&quot; bukan &quot;rumus logika&quot;, termasuk respon reflek organ tubuh kita. Rasa itu sendiri berasal dari analisa &quot;hati&quot; (heart atau jantung), Data yang terkirim ke AMIGDALA, bersinergi dengan HIPOCAMPUS untuk mengeksekusi &quot;laku&quot;.

Mampu merasakan &quot;nikmat&quot; dari Tuhan karena ada syukur, adalah &quot;rasa&quot;. bukan logika, Karena NIKMAT yang diartikan RAHMAT bukanlah logica, matematika, sebab akibat dan lain-lain.
Sinergitas AMIGALA dan HIPOCAMPUS menentukan kita untuk bersikap... &quot;laku&quot; dalam pikiran, ucapan dan perbuatan.
NIKMAT atau RAHMAT, hanya bisa dipahami dengan &quot;hati&quot; yang akan menentukan &quot;posisi jiwa&quot;, yang hanya bisa dipahami  juga dalam &quot;subconsious&quot; alam bawah sadar.

Dalam &quot;dunia wujud&quot; AMIGALA dan HIPOCAMPUS sebagi pengendali, pengambil keputuan, &quot;harus dengan sadar&quot;
Oleh karena itu muncul sikap &quot;sadar diri&quot; atau &quot;tahu diri&quot;

Semua &quot;proses akhir untuk sebuah keputusan&quot;  adalah rasional, yang irrasional adalah penyebab dan akibatnya.
Sehingga banyak motifator menyebut &quot;jadilah penyebab&quot; bukan&quot;penerima akibat&quot;. Menyebabkan sesuatu yang besar akan dituntut tanggung jawab yang besar pula, Direktur beda gajinya dengan OB.

Subconsious tidak relevan untuk di proses di HIPOCAMPUS, ada &quot;METAFISIKA&quot;/ GAIB yang hanya dipahami oleh AMIGDALA dengan data dari &quot;proses berpikir jantung / hati&quot;

Spetir ynag saay keitk iin aldaah porses ygan aad dalma AMIGDALA, 

HIPOCAPUS tidak dapat mengartikannya karena tidak ada data (dictionary) yang mengartikannya.
Pikiran bawah sadar secara spontan bersinergi dengan kesadaran sehingga kita dapat paham maksudnya.AMIGDALA yang memproses. Ini soal &quot;rasa&quot; yang diungkapkan ke logika secara teori, bukan ekspresi.

Ada ANTITHEORY, 
Saya ga perduli pendapat apapun tentang surga atau neraka. (safety living) Berbuat positif untuk diri sendiri dan orang lain bagi saya bukan bekal untuk mati, tapi bekal untuk hidup. Hidup dengan selamat.
Saya tidak melihat surga dan neraka sebagai sebuah &quot;wujud tempat&quot; Karena SURGA DAN NERAKA bukan untuk diterjemahkan dengan rasional, bukan &quot;BAHASA HIDUP&quot; karena selagi kita hidup kita hanya &quot;membayangkan&quot;, melihatnya setelah kita &quot;MATI&quot;. 
Membayangkan adalah kerja AMIGDALA yang terpengaruh oleh HIPOCAMPUS, sebuah kondisi yang &quot;secara rasional&quot; sebagai sesuatu yang rasional mengenai rasa. Padahal rasa bukan untuk dirasionalkan.
Justru yang aneh adalah PAHALA yang dirasionalkan seperti &quot;VOUCHER&quot; belanja sebagai point reward. 

BERBUAT POSITIF untuk mendapatkan PAHALA untuk SURGA, buat saya LUCU. berbuat sesuatu untuk sesuatu yang keputusannya bukan ditangan kita, silly! 
Berbuat positif untuk hidup positif lebih realistis dan RASIONAL.

Bilangan angka umur kita seperti bilangan halaman buka yang sedang dibaca, hanya kita tidak tahu sampai halaman berapa buku akan selesai bercerita. Ceritanya adalah laku kita, perbuatan kita pemaknaan hidup kita.
Tergantung &quot;laku&quot;nya mau dilaksanakan secara positif atau negatif, 
Kalau yang indah dan menyenangkan untuk diceritakan, paling tidak dia (yang mati) mendapatkan SURGA dengan bahasa hidup, kalau ceritanya buruk atau negatif yan yang mati mendapatkan NERAKAnya. 
Simpelkan?! tidak perlu membayangkan hal yang menyenangkan atau hal yang mengerikan Karena RASIONALITAS membatasi iman akhirnya menjadi KERDIL yang hanya bisa dengan difinisi &quot;MEMBAYANGKAN WUJUD&quot;

ALPHA dan OMEGA, adalah AWAL dan AKHIR.
Awal sebagai CAUSA PRIMA , penyebab utama.
Akhir sebagai pemaknaan HIDUP yang fana.
Alpha adalah huruf awal YUNANI,
Omega adalah huruf akhirnya.

Saya tidak pernah mempermasalahkan &quot;kebenaran&quot; versi apapun. Karena ada banyak &quot;peta dunia&quot;.
Hanya yang memiliki &quot;peta dunia&quot; yang lebih luas yang bisa melihat seberapa besar / luas nilai kebenarannya.

APAPUN VERSINYA SOAL BUKU SUCI, selama itu berasal dari TUHAN buat saya SEMUANYA BENAR. hanya RASIONAL  yang terbatas sehingga IMAN JADI KERDIL hanya tahu BATAS TEMPURUNG RASIONALNYA saja.
Cukup dengan pemahaman dan terjemahan ALPHA dan OMEGA yang sesuai dengan makna rasional yang sebenarnya.

Wan,
ini adalah Antitheory, dan saya menempatkan diri dalam antitheory.
Ini hanya &quot;sebuah cara pandang dan berpikir&quot; tp kita tetap dalam ruangan yang sama...
he...he...

Seru ya!

Salam Damai dalam Allah Tuhan kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Wawan,</p>
<p>Terima kasih atas semua yang positif.</p>
<p>Ada beberapa poin yang sama dalam berkesimpulan, Namun ada yang tidak juga.<br />
Yaitu, &#8220;THE WAY&#8221;, cara pemahaman.</p>
<p>Apapun kalimatnya, Tuhan, Allah, God, atau apapun sebutannya yang mendifinisikan BELIAU, adalah sebuah &#8220;infiniti&#8221; bagi dinding rasional.</p>
<p>Kalau Wawan berpendapat stasiun rasional dan logikal adalah HIPOCAMPUS, sedangkan AMIGDALA sebagai stasiun rasa, hati, naluri yang ada dalam susunan Otak, itu benar.</p>
<p>Ada materi yang diproses langsung di HIPOCAMPUS yaitu yang jangka pendek, yang  (karena) rasional dan logis untuk di eksekusi dalam laku.<br />
Ada materi yang tidak bisa secara langsung diproses di stasiun HIPOCAMPUS yang memiliki keterbatasan, dengan kecepatannya AMIGDALA mengambil alih. Data-datanya berupa &#8220;rasa&#8221; bukan &#8220;rumus logika&#8221;, termasuk respon reflek organ tubuh kita. Rasa itu sendiri berasal dari analisa &#8220;hati&#8221; (heart atau jantung), Data yang terkirim ke AMIGDALA, bersinergi dengan HIPOCAMPUS untuk mengeksekusi &#8220;laku&#8221;.</p>
<p>Mampu merasakan &#8220;nikmat&#8221; dari Tuhan karena ada syukur, adalah &#8220;rasa&#8221;. bukan logika, Karena NIKMAT yang diartikan RAHMAT bukanlah logica, matematika, sebab akibat dan lain-lain.<br />
Sinergitas AMIGALA dan HIPOCAMPUS menentukan kita untuk bersikap&#8230; &#8220;laku&#8221; dalam pikiran, ucapan dan perbuatan.<br />
NIKMAT atau RAHMAT, hanya bisa dipahami dengan &#8220;hati&#8221; yang akan menentukan &#8220;posisi jiwa&#8221;, yang hanya bisa dipahami  juga dalam &#8220;subconsious&#8221; alam bawah sadar.</p>
<p>Dalam &#8220;dunia wujud&#8221; AMIGALA dan HIPOCAMPUS sebagi pengendali, pengambil keputuan, &#8220;harus dengan sadar&#8221;<br />
Oleh karena itu muncul sikap &#8220;sadar diri&#8221; atau &#8220;tahu diri&#8221;</p>
<p>Semua &#8220;proses akhir untuk sebuah keputusan&#8221;  adalah rasional, yang irrasional adalah penyebab dan akibatnya.<br />
Sehingga banyak motifator menyebut &#8220;jadilah penyebab&#8221; bukan&#8221;penerima akibat&#8221;. Menyebabkan sesuatu yang besar akan dituntut tanggung jawab yang besar pula, Direktur beda gajinya dengan OB.</p>
<p>Subconsious tidak relevan untuk di proses di HIPOCAMPUS, ada &#8220;METAFISIKA&#8221;/ GAIB yang hanya dipahami oleh AMIGDALA dengan data dari &#8220;proses berpikir jantung / hati&#8221;</p>
<p>Spetir ynag saay keitk iin aldaah porses ygan aad dalma AMIGDALA, </p>
<p>HIPOCAPUS tidak dapat mengartikannya karena tidak ada data (dictionary) yang mengartikannya.<br />
Pikiran bawah sadar secara spontan bersinergi dengan kesadaran sehingga kita dapat paham maksudnya.AMIGDALA yang memproses. Ini soal &#8220;rasa&#8221; yang diungkapkan ke logika secara teori, bukan ekspresi.</p>
<p>Ada ANTITHEORY,<br />
Saya ga perduli pendapat apapun tentang surga atau neraka. (safety living) Berbuat positif untuk diri sendiri dan orang lain bagi saya bukan bekal untuk mati, tapi bekal untuk hidup. Hidup dengan selamat.<br />
Saya tidak melihat surga dan neraka sebagai sebuah &#8220;wujud tempat&#8221; Karena SURGA DAN NERAKA bukan untuk diterjemahkan dengan rasional, bukan &#8220;BAHASA HIDUP&#8221; karena selagi kita hidup kita hanya &#8220;membayangkan&#8221;, melihatnya setelah kita &#8220;MATI&#8221;.<br />
Membayangkan adalah kerja AMIGDALA yang terpengaruh oleh HIPOCAMPUS, sebuah kondisi yang &#8220;secara rasional&#8221; sebagai sesuatu yang rasional mengenai rasa. Padahal rasa bukan untuk dirasionalkan.<br />
Justru yang aneh adalah PAHALA yang dirasionalkan seperti &#8220;VOUCHER&#8221; belanja sebagai point reward. </p>
<p>BERBUAT POSITIF untuk mendapatkan PAHALA untuk SURGA, buat saya LUCU. berbuat sesuatu untuk sesuatu yang keputusannya bukan ditangan kita, silly!<br />
Berbuat positif untuk hidup positif lebih realistis dan RASIONAL.</p>
<p>Bilangan angka umur kita seperti bilangan halaman buka yang sedang dibaca, hanya kita tidak tahu sampai halaman berapa buku akan selesai bercerita. Ceritanya adalah laku kita, perbuatan kita pemaknaan hidup kita.<br />
Tergantung &#8220;laku&#8221;nya mau dilaksanakan secara positif atau negatif,<br />
Kalau yang indah dan menyenangkan untuk diceritakan, paling tidak dia (yang mati) mendapatkan SURGA dengan bahasa hidup, kalau ceritanya buruk atau negatif yan yang mati mendapatkan NERAKAnya.<br />
Simpelkan?! tidak perlu membayangkan hal yang menyenangkan atau hal yang mengerikan Karena RASIONALITAS membatasi iman akhirnya menjadi KERDIL yang hanya bisa dengan difinisi &#8220;MEMBAYANGKAN WUJUD&#8221;</p>
<p>ALPHA dan OMEGA, adalah AWAL dan AKHIR.<br />
Awal sebagai CAUSA PRIMA , penyebab utama.<br />
Akhir sebagai pemaknaan HIDUP yang fana.<br />
Alpha adalah huruf awal YUNANI,<br />
Omega adalah huruf akhirnya.</p>
<p>Saya tidak pernah mempermasalahkan &#8220;kebenaran&#8221; versi apapun. Karena ada banyak &#8220;peta dunia&#8221;.<br />
Hanya yang memiliki &#8220;peta dunia&#8221; yang lebih luas yang bisa melihat seberapa besar / luas nilai kebenarannya.</p>
<p>APAPUN VERSINYA SOAL BUKU SUCI, selama itu berasal dari TUHAN buat saya SEMUANYA BENAR. hanya RASIONAL  yang terbatas sehingga IMAN JADI KERDIL hanya tahu BATAS TEMPURUNG RASIONALNYA saja.<br />
Cukup dengan pemahaman dan terjemahan ALPHA dan OMEGA yang sesuai dengan makna rasional yang sebenarnya.</p>
<p>Wan,<br />
ini adalah Antitheory, dan saya menempatkan diri dalam antitheory.<br />
Ini hanya &#8220;sebuah cara pandang dan berpikir&#8221; tp kita tetap dalam ruangan yang sama&#8230;<br />
he&#8230;he&#8230;</p>
<p>Seru ya!</p>
<p>Salam Damai dalam Allah Tuhan kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: wawankardiyanto</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/06/20/perbandingan-bibel-dan-quran-menurut-non-muslim/#comment-220</link>
		<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 08:38:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=136#comment-220</guid>
		<description>salam manis Allah,

Hahahaha......
sahabat Aloy, trims s-X slalu menemani...

ternyata banyak bukan pertanyaan2 yg blom bisa kita jawab? hehe....
Tu itu seblom kita dimatikan Allah, setidaknya sekuat tenaga dan pikir mari kita bersama mencari &quot;kebenaran yg sejati&quot; walaupun mungkin kebenaran itu sebagian tlah kita pegang, tetapi siapa tahu diluar sana ada kebenaran yg akan melengkapi keyakinan kita scr pribadi. Jangan mememandang orangtua kita, sahabat2, teman2 seiman atau apapun, jabatan, pangkat dll. Namun, individu/pribadi kita adalah tanggungjawab kita sendiri ....

&quot;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.&quot; (17:36)

============================
Apa yang membuat / menyebabkan Buku Suci sehingga ada, Jabur, Taurat, Injil, Al Quran ?
============================
Tiap2 umat manusia hidup dalam rentang waktu yg panjang dan di sana perkembangan peradaban yg selalu meningkat maju, Allah sebagai Tuhan sbg pengatur Tunggal alam semesta ini mesti membuat rencana2 yg mesti juga disesuaikan dengan kondisi konekstualnya pd waktu itu....

Karena manusia itu sombong, lemah dan mau seenaknya sendiri diturunkanlah nabi2 dan kitab2 suci....

============================
Siapa yang memilah-milah, padahal, ada kemiripan, kalau sama pastinya tidak.
Yang ada versi, bukan begitu?
============================
Kitab suci diturunkan kpd nabi2 tentu disesuaikan dgn jamannya. Jabur, Taurat, Injil dan Qur&#039;an adalah rentetan kitab suci yg dikabarkan Tuhan tlah diberikan kpd manusia sesuai jamannya tu pengingat manusia ke jalan yg lurus.

Isi kitab suci detailnya pasti berbeda, Allah sendiri redaksinya, yg memilah2 ada jabur, taurat dan Injil juga Allah sendiri.... khan harus disesuaikan jaman.
Jabur bagaimana bentu dan isinya kita tdk tahu...
taurat ada ten komandemen..
Injil ada perjanjian lama-baru ada puluhan versi
dan Qur&#039;an yg hanya satu versi, versi Ustmani
adalah kitab suci yg disesuaikan jaman. 

Tetapi, INTI isinya hanya SATU beribadahlah dan sembahlah TUHAN yg ESA satu...

=========================
Kenapa ada yang harus diluruskan, kan semua juga datangnya dari Tuhan?
=========================

Manusia itu nakal, dan sok pintar, maka banyak kitab suci yg diubah2 sekehendaknya, ditambahi, dihilangkan, disisipi, disembunyikan dll, contoh nyata adalah yg tlah terjadi pada Injil. Untuk itu kitab suci Tuhan yg terakhir Qur&#039;an adalah memang diturunkan untuk menggenapinya dan meluruskannya... Sebab, Allah tlah menuntaskan ajarannya kpd manusia lewat nabi2 dan rasul2 beserta kitab sucinya...

==========================
Kalau “dirasionalkan”, Tuhan kan bukan “wujud” yang dapat diwujudkan.
Apa pengertian Al Quran turun langsung dari Tuhan?
==========================
Betul sekali, kalau &quot;dirasionalkan&quot;, Tuhan bukanlah &quot;wujud&quot; yang dapat diwujudkan.... itulah konsep TAUHID, La kamslihihi saiun...(Tiada wujud apapun yang menyamaiNYA)... 
Allahu AHAD (Allah itu ESA) 
Allah tiada yg menyamai-NYA
Tiada beranak dan diperanakkan
Alfa dan Omega....

Maksud turun langsung dari Allah, adalah dalam salah satu versi kabar, Qur&#039;an dalam wujud isi yg penuh diturunkan langsung kpd Muhammad, tetapi masih tertahan di sebuah langit tertentu.... kemudian oleh malaikat Jibril diturunkan secara berangsur-angsur sesuai asbabun-nuzulnya....

========================
Kalau Wawan mati, milih mana Surga atau Neraka?

Trus Neraka itu apa?
Surga itu apa?
Tempatkah? Seperti “rasional”nya bahasa badan (fana) ?
========================
Kala mati tentu milih Surga....
Neraka adalah tempat manusia diadili segala dosanya...
Surga adalah tempat manusia diberi ganjaran kebaikan....
Saya percaya Syurga dan Neraka adalah sebuah wujud tempat atau dimensi ruang tertentu yg diciptakan Allah di hari pembalasan.....

=====================
Kebenaran-kebenaran yang menjawabnya tentunya bukan rasionalisasi “wujud”.
Tetap sebuah kata “faith” yang membuat jawaban, dan itu bukan rasional.
=====================
betul sekali....
tetapi kita masih bisa berpikir logis dan filosofis bahwa itu semua bisa dibenarkan secara logika, sebab materi yg kita pikirkan adalah wujud (nabi2, rasul2 dan kitab2 suci).....

===========================
Saya sebagai non muslim, yang bukan seorang islam, akan mengatakan. Kebenaran melalui pintu rasional menyebut AL Quran, adalah hal yang sudah semestinya.
Tidak ada artinya kalau tidak menunjukan kebenaran rasionalnya. Jadi menurutku diskusi kita bukan pada esensi isi tulisannya sebagai subyek. Hanya menempatkan kerasionalan di tempat yang semestinya.

Akupun menyadari, biarlah sebagai sebuah pendapat yang akan mengisi peta dunia kita.

Terima kasih sahabat,
Aku akan menemanimu selalu bercengkerama dalam perbedaan.
Maafkan tulisan-tulisanku yang mungkin menyakitkan dalam bertutur bahasanya 
===========================
Trim allways friends....
Jangan ragu, sebenarnya sahabat sudah &quot;Muslim&quot;..... hehe...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam manis Allah,</p>
<p>Hahahaha&#8230;&#8230;<br />
sahabat Aloy, trims s-X slalu menemani&#8230;</p>
<p>ternyata banyak bukan pertanyaan2 yg blom bisa kita jawab? hehe&#8230;.<br />
Tu itu seblom kita dimatikan Allah, setidaknya sekuat tenaga dan pikir mari kita bersama mencari &#8220;kebenaran yg sejati&#8221; walaupun mungkin kebenaran itu sebagian tlah kita pegang, tetapi siapa tahu diluar sana ada kebenaran yg akan melengkapi keyakinan kita scr pribadi. Jangan mememandang orangtua kita, sahabat2, teman2 seiman atau apapun, jabatan, pangkat dll. Namun, individu/pribadi kita adalah tanggungjawab kita sendiri &#8230;.</p>
<p>&#8220;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.&#8221; (17:36)</p>
<p>============================<br />
Apa yang membuat / menyebabkan Buku Suci sehingga ada, Jabur, Taurat, Injil, Al Quran ?<br />
============================<br />
Tiap2 umat manusia hidup dalam rentang waktu yg panjang dan di sana perkembangan peradaban yg selalu meningkat maju, Allah sebagai Tuhan sbg pengatur Tunggal alam semesta ini mesti membuat rencana2 yg mesti juga disesuaikan dengan kondisi konekstualnya pd waktu itu&#8230;.</p>
<p>Karena manusia itu sombong, lemah dan mau seenaknya sendiri diturunkanlah nabi2 dan kitab2 suci&#8230;.</p>
<p>============================<br />
Siapa yang memilah-milah, padahal, ada kemiripan, kalau sama pastinya tidak.<br />
Yang ada versi, bukan begitu?<br />
============================<br />
Kitab suci diturunkan kpd nabi2 tentu disesuaikan dgn jamannya. Jabur, Taurat, Injil dan Qur&#8217;an adalah rentetan kitab suci yg dikabarkan Tuhan tlah diberikan kpd manusia sesuai jamannya tu pengingat manusia ke jalan yg lurus.</p>
<p>Isi kitab suci detailnya pasti berbeda, Allah sendiri redaksinya, yg memilah2 ada jabur, taurat dan Injil juga Allah sendiri&#8230;. khan harus disesuaikan jaman.<br />
Jabur bagaimana bentu dan isinya kita tdk tahu&#8230;<br />
taurat ada ten komandemen..<br />
Injil ada perjanjian lama-baru ada puluhan versi<br />
dan Qur&#8217;an yg hanya satu versi, versi Ustmani<br />
adalah kitab suci yg disesuaikan jaman. </p>
<p>Tetapi, INTI isinya hanya SATU beribadahlah dan sembahlah TUHAN yg ESA satu&#8230;</p>
<p>=========================<br />
Kenapa ada yang harus diluruskan, kan semua juga datangnya dari Tuhan?<br />
=========================</p>
<p>Manusia itu nakal, dan sok pintar, maka banyak kitab suci yg diubah2 sekehendaknya, ditambahi, dihilangkan, disisipi, disembunyikan dll, contoh nyata adalah yg tlah terjadi pada Injil. Untuk itu kitab suci Tuhan yg terakhir Qur&#8217;an adalah memang diturunkan untuk menggenapinya dan meluruskannya&#8230; Sebab, Allah tlah menuntaskan ajarannya kpd manusia lewat nabi2 dan rasul2 beserta kitab sucinya&#8230;</p>
<p>==========================<br />
Kalau “dirasionalkan”, Tuhan kan bukan “wujud” yang dapat diwujudkan.<br />
Apa pengertian Al Quran turun langsung dari Tuhan?<br />
==========================<br />
Betul sekali, kalau &#8220;dirasionalkan&#8221;, Tuhan bukanlah &#8220;wujud&#8221; yang dapat diwujudkan&#8230;. itulah konsep TAUHID, La kamslihihi saiun&#8230;(Tiada wujud apapun yang menyamaiNYA)&#8230;<br />
Allahu AHAD (Allah itu ESA)<br />
Allah tiada yg menyamai-NYA<br />
Tiada beranak dan diperanakkan<br />
Alfa dan Omega&#8230;.</p>
<p>Maksud turun langsung dari Allah, adalah dalam salah satu versi kabar, Qur&#8217;an dalam wujud isi yg penuh diturunkan langsung kpd Muhammad, tetapi masih tertahan di sebuah langit tertentu&#8230;. kemudian oleh malaikat Jibril diturunkan secara berangsur-angsur sesuai asbabun-nuzulnya&#8230;.</p>
<p>========================<br />
Kalau Wawan mati, milih mana Surga atau Neraka?</p>
<p>Trus Neraka itu apa?<br />
Surga itu apa?<br />
Tempatkah? Seperti “rasional”nya bahasa badan (fana) ?<br />
========================<br />
Kala mati tentu milih Surga&#8230;.<br />
Neraka adalah tempat manusia diadili segala dosanya&#8230;<br />
Surga adalah tempat manusia diberi ganjaran kebaikan&#8230;.<br />
Saya percaya Syurga dan Neraka adalah sebuah wujud tempat atau dimensi ruang tertentu yg diciptakan Allah di hari pembalasan&#8230;..</p>
<p>=====================<br />
Kebenaran-kebenaran yang menjawabnya tentunya bukan rasionalisasi “wujud”.<br />
Tetap sebuah kata “faith” yang membuat jawaban, dan itu bukan rasional.<br />
=====================<br />
betul sekali&#8230;.<br />
tetapi kita masih bisa berpikir logis dan filosofis bahwa itu semua bisa dibenarkan secara logika, sebab materi yg kita pikirkan adalah wujud (nabi2, rasul2 dan kitab2 suci)&#8230;..</p>
<p>===========================<br />
Saya sebagai non muslim, yang bukan seorang islam, akan mengatakan. Kebenaran melalui pintu rasional menyebut AL Quran, adalah hal yang sudah semestinya.<br />
Tidak ada artinya kalau tidak menunjukan kebenaran rasionalnya. Jadi menurutku diskusi kita bukan pada esensi isi tulisannya sebagai subyek. Hanya menempatkan kerasionalan di tempat yang semestinya.</p>
<p>Akupun menyadari, biarlah sebagai sebuah pendapat yang akan mengisi peta dunia kita.</p>
<p>Terima kasih sahabat,<br />
Aku akan menemanimu selalu bercengkerama dalam perbedaan.<br />
Maafkan tulisan-tulisanku yang mungkin menyakitkan dalam bertutur bahasanya<br />
===========================<br />
Trim allways friends&#8230;.<br />
Jangan ragu, sebenarnya sahabat sudah &#8220;Muslim&#8221;&#8230;.. hehe&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sahabat</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/06/20/perbandingan-bibel-dan-quran-menurut-non-muslim/#comment-219</link>
		<dc:creator>Sahabat</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 07:37:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=136#comment-219</guid>
		<description>Dear Wawan,

Aku kelupaan nih, kemarin ngejawabnya sambil ngobrol soalnya.
Soal Alpha dan Omega... Awal dan Akhir.


Apa yang membuat / menyebabkan Buku Suci sehingga ada, Jabur, Taurat, Injil, Al Quran ?

Siapa yang memilah-milah, padahal, ada kemiripan, kalau sama pastinya tidak. 

Yang ada versi, bukan begitu?

Kenapa ada yang harus diluruskan, kan semua juga datangnya dari Tuhan?

Kalau &quot;dirasionalkan&quot;, Tuhan kan bukan &quot;wujud&quot; yang dapat diwujudkan. 
Apa pengertian Al Quran turun langsung dari Tuhan?

Kalau Wawan mati, milih mana Surga atau Neraka?

Trus Neraka itu apa?
Surga itu apa?
Tempatkah?  Seperti &quot;rasional&quot;nya bahasa badan (fana) ?

Kebenaran-kebenaran yang menjawabnya tentunya bukan rasionalisasi &quot;wujud&quot;.
Tetap sebuah kata &quot;faith&quot; yang membuat jawaban, dan itu bukan rasional.

Saya sebagai non muslim, yang bukan seorang islam, akan mengatakan. Kebenaran melalui pintu rasional menyebut AL Quran, adalah hal yang sudah semestinya.
Tidak ada artinya kalau tidak menunjukan kebenaran rasionalnya. Jadi menurutku diskusi kita bukan pada esensi isi tulisannya sebagai subyek. Hanya menempatkan kerasionalan di tempat yang semestinya.

Akupun menyadari, biarlah  sebagai sebuah pendapat yang akan mengisi peta dunia kita.

Terima kasih sahabat,
Aku akan menemanimu selalu bercengkerama dalam perbedaan. 
Maafkan tulisan-tulisanku yang mungkin menyakitkan dalam bertutur bahasanya

Salam Damai Dalam Allah Tuhan Kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Wawan,</p>
<p>Aku kelupaan nih, kemarin ngejawabnya sambil ngobrol soalnya.<br />
Soal Alpha dan Omega&#8230; Awal dan Akhir.</p>
<p>Apa yang membuat / menyebabkan Buku Suci sehingga ada, Jabur, Taurat, Injil, Al Quran ?</p>
<p>Siapa yang memilah-milah, padahal, ada kemiripan, kalau sama pastinya tidak. </p>
<p>Yang ada versi, bukan begitu?</p>
<p>Kenapa ada yang harus diluruskan, kan semua juga datangnya dari Tuhan?</p>
<p>Kalau &#8220;dirasionalkan&#8221;, Tuhan kan bukan &#8220;wujud&#8221; yang dapat diwujudkan.<br />
Apa pengertian Al Quran turun langsung dari Tuhan?</p>
<p>Kalau Wawan mati, milih mana Surga atau Neraka?</p>
<p>Trus Neraka itu apa?<br />
Surga itu apa?<br />
Tempatkah?  Seperti &#8220;rasional&#8221;nya bahasa badan (fana) ?</p>
<p>Kebenaran-kebenaran yang menjawabnya tentunya bukan rasionalisasi &#8220;wujud&#8221;.<br />
Tetap sebuah kata &#8220;faith&#8221; yang membuat jawaban, dan itu bukan rasional.</p>
<p>Saya sebagai non muslim, yang bukan seorang islam, akan mengatakan. Kebenaran melalui pintu rasional menyebut AL Quran, adalah hal yang sudah semestinya.<br />
Tidak ada artinya kalau tidak menunjukan kebenaran rasionalnya. Jadi menurutku diskusi kita bukan pada esensi isi tulisannya sebagai subyek. Hanya menempatkan kerasionalan di tempat yang semestinya.</p>
<p>Akupun menyadari, biarlah  sebagai sebuah pendapat yang akan mengisi peta dunia kita.</p>
<p>Terima kasih sahabat,<br />
Aku akan menemanimu selalu bercengkerama dalam perbedaan.<br />
Maafkan tulisan-tulisanku yang mungkin menyakitkan dalam bertutur bahasanya</p>
<p>Salam Damai Dalam Allah Tuhan Kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sahabat</title>
		<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/06/20/perbandingan-bibel-dan-quran-menurut-non-muslim/#comment-217</link>
		<dc:creator>Sahabat</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 08:11:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wawankardiyanto.wordpress.com/?p=136#comment-217</guid>
		<description>Dear Wawan,

Seru ya.....
he...he...

Pada titik ini aku tidak akan menganggap kebenaran siapa yang lebih benar, analisa siapa yang lebih akurat... dll

Namun intinya pada &quot;level&quot; tertentu rasionalitas akan menjebak manusia ke dalam ke-AKU an yang jadi tidak rasional. Itu yang ingin aku hindari

Dalam perjalanan mendalami &quot;jiwa&quot; dengan hati, aku mencoba &quot;tahu diri&quot; atawa &quot;sadar diri&quot;.
Barangkali hal ini akan membuat kerendahan hati untuk mendapatkan kedamaian, Rumah Damai yang sedang aku bangun, dalam JIWAku.

Kalau aku pribadi akhirnya lebih mengandalkan Hati dari pada Rasio, tapi bukan meninggalkan rasionalitas sama sekali, biar bagaimanapun juga jangan boboh-bodoh amat lah....

he....he...


====
beriman yg benar adalah sinergitas antara rasionalitas dan hati. ….
=====



Salam Damai dalam Allah, Tuhan kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Wawan,</p>
<p>Seru ya&#8230;..<br />
he&#8230;he&#8230;</p>
<p>Pada titik ini aku tidak akan menganggap kebenaran siapa yang lebih benar, analisa siapa yang lebih akurat&#8230; dll</p>
<p>Namun intinya pada &#8220;level&#8221; tertentu rasionalitas akan menjebak manusia ke dalam ke-AKU an yang jadi tidak rasional. Itu yang ingin aku hindari</p>
<p>Dalam perjalanan mendalami &#8220;jiwa&#8221; dengan hati, aku mencoba &#8220;tahu diri&#8221; atawa &#8220;sadar diri&#8221;.<br />
Barangkali hal ini akan membuat kerendahan hati untuk mendapatkan kedamaian, Rumah Damai yang sedang aku bangun, dalam JIWAku.</p>
<p>Kalau aku pribadi akhirnya lebih mengandalkan Hati dari pada Rasio, tapi bukan meninggalkan rasionalitas sama sekali, biar bagaimanapun juga jangan boboh-bodoh amat lah&#8230;.</p>
<p>he&#8230;.he&#8230;</p>
<p>====<br />
beriman yg benar adalah sinergitas antara rasionalitas dan hati. ….<br />
=====</p>
<p>Salam Damai dalam Allah, Tuhan kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
