Beranda > lintas Agama > PERBANDINGAN BIBEL DAN QUR’AN menurut NON MUSLIM

PERBANDINGAN BIBEL DAN QUR’AN menurut NON MUSLIM

imagesAL-KITAB (BIBEL)

Perjanjian Lama (Old Testament) dan Perjanjian Baru (New Testament) adalah. kitab yang dianggap suci oleh kalangan umat Nasrani. Namun apakah kita tahu, apa sebenarnya Al kitab itu. Untuk mengetahui hal ini marilah kita simak kesimpulan-kesimpulan dari kalangan ahli umat Nasrani sendiri:

Alkitab adalah tradisi-tradisi lesan yang telah ditulis oleh pengarang-pengarang Injil yang jumlahnya ada ratusan(100-an), tak terkecuali pengarang ke 4 Injil yang sekarang ini. Dan mengenai keaslian isi, serta pengarang Injil ini sangatlah diragukan.” (Pernyataan-pernyataan yang dimuat di dalam I’Introduktion a la Traduction oecumenique de la Bible, Nouveau Testament,/ Pengantar kepada terjemahan bersama Protestan, Katholik- Perjanjian Baru/ Edision du Cerf et les Bergers et les Mages, 1972 Paris, buku ini hasil karya kolektif yang mengumpulkan sarjana-sarjana Protestan dan Katholik sejumlah lebih dari 100 orang.

Alkitab itu adalah koleksi terdiri atas 66 buku yang dijilid menjadi sebuah buku besar, yaitu alkitab atau bibel. Arti Bibel adalah buku kecil. Buku kecil yang berilham itu telah disuratkan oleh lebih dari 35 orang dalam waktu kira-kira 16 abad, yaitu dari 1513 SM. Alkitab asli disuratkan dalam bahasa lbrani, sebagian dalam bahasa Aramic dan sebagian dalam bahasa Yunani biasa dari abad I tarikh masehi… Setelah Musa wafat orang-orang lbrani lain telah menulis dengan ilham Yehuwe Allah, sampai kira-kira 1000 th. belakangan, pada waktu mana buku yang terakhir dari 39 buku Alkitab 1brani yang biasa disebut wasiat lama telah ditulis oleh nabi Maleachi, pada kira-kira 442 SM. Kira-kira 5 abad, belakangan setelah datangnya dan matinya Kristus, maka penulisan Alkitab selanjutnya dengan ilham Yehuwe, sampai sebagai penutup rasul Yahya menulis buku yang terakhir dari 27 buku Alkitab Yunani Kristen , yang biasanya disebut wasiat baru, pada kira-kira 98M. Maka selesailah Alkitab segenapnya. Akan tetapi, dari tulisan-tulisan tangan manuskrip asli atau huku-buku Alkitab itu, yang tertulis dengan tangan, suatu pun tiada dikenal pada waktu sekarang ini. Maka bagaimanakah dapat kita mengetahui, bahwa salinan-salinan yang ada sekarang isinya benar dan tidak berubah ? (Watch tower, Bible and Tract Society, inc. Dalam dasar Kepercayaan akan dunia baru, hal 17)

Alkitab ini dikarang pada waktu yang tertentu dan pengarang-pengarangnya memang manusia juga, yang terpengaruh oleh keadaan waktunya dan suasana sekitarnya juga pembawaan pengarang itu sendiri. Naskah-naskah yang asli dari kitab suci tidak ada lagi, yang ada pada kita hanya turunan atau salinan, itupun bukannya salinan langsung dari naskah asli, melainkan salinan dari salinan dan seterusnya, sering salinan Alkitab itu terjadi salah salin.(Dr Mr Mulder DC, Pembimbing ke dalam Perjanjian lama, 1963 hal 12)

Adakalanya penyalin tersentuh pada kesalahan dalam naskah aslinya yang dipergunakannya, lalu kesalahan itu diperbaikinya padahal perbaikan itu sering melibatkan perbedaan yang lebih besar dengan yang sungguh-sungguh asli. (Drs Duyverman ME, Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, 1966 hal 24)

Alkitab telah tercampuri oleh tangan-tangan manusia. (Encyclopedia Universalis, SP Sandraz guru besar pada Dominican Faculties, Saulchoir, dia adalah termasuk para specialis yang berkompeten tentang Alkitab.

Kita tidak usah merasa malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan di dalam Alkitab, tentang angka-angka, perhitungan tahun, dan fakta-fakta.(Dr Van Nif-trik GC, Dr Boland BY, Dogmatika Masa Kini, hal 298)

Akhirnya marilah kita tengok sekali lagi kesimpulan dari semua kesimpulan diatas dengan menyadur ucapan yang ironis dan apologik sbb;

“Bukanlah karena terjemahan (Alkitab) itu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tidak! Kita boleh bangga atas jerih-payah yang tak terbilang banyaknya yang telah dan sedang dicurahkan atas tugas ini. Sepanjang manusia tahu menulis, tidak ada satupun kitab yang untuknya dikorbankan sebegitu banyak tenaga, usaha, akal-budi dan hasil ilmu pengetahuan, daripada Alkitab. Dan patut kita menghormati orang-orang yang telah menjunjung tinggi tugas ini.(Dra Duyverman ME Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, cet 5, 1985, hal 18)

AI.-QUR’AN

Alqur’an adalah kitab yang dianggap suci oleh kalangan umat Islam. Namun apakah kita tahu, apa sebenarnya kitab Alqur’an itu. Untuk mengetahui hal ini marilah, kita simak pendapat-pendapat kalangan ahli yang non muslim untuk keperluan obyektifitas.

1. Setelah menerangkan panjang lebar sejarah penurunan A1Qur’an, Sir William Muir dalam bukunya The life of Muhammad berkata tentang; kesucian dan keasliannya? “Jadi kesimpulan yang dapat kita sebutkan dengan menyakinkan sekali ialah: bahwa A1Qur’an itu bukan hanya ketelitian saja, bahkan seperti beberapa kejadian menunjukkan –adalah juga lengkap, dan bahwa penghimpunnya tidak bermaksud mengabaikan apapun dari wahyu itu. Juga kita dapat menyakinkan berdasarkan bukti-bukti yang kuat, bahwa setiap dari ayat dari Qur’an itu, memang sangat teliti sekali dicocokkan seperti persis yang dibaca oleh Muhammad.”

2. “Qur’an itu adalah sebuah kitab agama, kitab kemajuan kenegaraan, persaudaraan, kemahkamah-agungan dan undang-undang tentara dalam agama Islam. Qur’an mengandung isi yang lengkap, mulai dari urusan ibadat, ketauhidan, sampai kepada pekerjaan sehari-hari, mulai dari urusan mengenai rohani sampai kepada hal mengenai jasmani, mulai dari pembicaraan hak-hak dan kewajiban segolongan umat sampai kepada akhlak dan perangai, sampai kepada hukum siksa di dunia ini. Di dalam Alqur’an dijelaskan segala pembalasan amal. Sebab itu amat besar perbedaan Qur’an dengan Bibel. Bibel tidak mengandung aturan yang bertalian dengan keduniaan. Yang terdapat didalamnya hanya cerita-cerita kesucian diri. Bibel tidak dapat mendekati Qur’an, karena Qur’an itu tidak saja hanya menerangkan apa yang bertalian dengan amalan keagamaan, tetapi juga mengupas asas politik kenegaraan. Qur’aniah yang menjadi sumber peraturan negara (bagi umat Islam), sumber undang-undang dasar, memutuskan suatu perkara yang berhubungan dengan kehartaan, maupun dengan kejiwaan. (Edward Gibbon 1737 -1794 M)

3. Prof G- Margoliouth berkata, “Adapun Qur’an itu menempati kedudukan yang maha penting dalam barisan agama-agama yang besar di seluruh dunia. Meskipun umurnya masih muda, ia mempunyai bagian dalam ilmu kitab, pernah menghasilkan apa yang belum pernah dihasilkan oleh yang lain. Qur’an itulah yang membuat perubahan cara berpikir dalam lingkungan manusia dan membawa anjuran tentang peradaban tinggi dan perubahan hidup manusia. Qur’anlah yang mula-mula menggerakkan bangsa Arab yang sedang dalam gulita menjadi suatu bangsa yang gagah berani dan Qur’anlah yang telah membawa bangsa itu masuk ke medan pemuka dalam agama yang berdasarkan politik sehingga dapat membangunkan sebuah organisasi Islam yang mengherankan. Qur’an tidak saja sebuah kitab suci, tetapi merupakan suatu suara yang hidup teguh, maklumat titah dan perintah, satu rangkaian peraturan pergaulan, perjanjian, pemberian pelajaran yang menuntun persatuan dari bangsa-bangsa kepada kemajuan. la membawa perubahan dalam dunia ahli filsafat, dunia Yahudi dan Kristen, dalam abad pertengahan. Kemajuan dari kaum Islam ini, meskipun sekarang agak terhenti namun telah meletakan dasar kemajuan Barat. Ahli penyusun pengetahuan menunjukkan, bahwa apa yang dianut oleh Eropa dari filsafat Yunani saat ini, dari ilmu hisabnya, ilmu bintangnya, ilmu hadasahnya dan semua pengetahuan yang serupa itu, yang pada suatu zaman datang ke Eropa, boleh dikatakan adalah dorongan dari Islam. Hanya Qur’anlah yang telah menunjukkan pertama kali pada studen-studen bangsa Arab hikmah pengetahuan itu. Di antara pengaruh Qur’an itu ialah tercapainya ilmu bahasa, susunan-susunan kalimatnya, pergerakan dalam dunia syairan dalam ilmu kitab, Qur’an itu telah menghasilkan harga pengajaran yang setinggi-tingginya.”

4. IOM Deutsch (1829-1875) Jerman; “Saya melihat keajaiban dalam Qur’an, satu kitab yang sudah menolong umat Arab dalam membuka dunia, lebih besar dari apa yang telah diperbuat Alexander de Groote, juga lebih besar dari apa yang telah dicapai bangsa Rumania. Pengaruh AlQur’anlah yang menarik bangsa Arab dalam sedikit waktu maauk Eropa dan menjadi raja dunia. Bangsa Arab pernah ke Eropa sebagai tuan dan ahli dagang yang terkenal, yang demikian digerakkan oleh Alqur’an yang dibawanya ke sana sebagai suluh dalam gelab gulita. Mereka membawa peradaban, kecerdasan, pengetahuan dan kebijaksanaan, memberi pelajaran tentang ilmu falsafah, ilmu bintang, kedokteran, ilmu-ilmu syair, yang kemajuannya pernah berkilau-kilau di Eropa sebagai juga di tanah Timur. Dengan Qur’an itulah bangsa Arab berdiri tegak mennyiarkan ilmu pengetahuan dan dengan mengenangkan jasa mereka yang amat mulia itu, kita membuang air mata tatkala mereka pergi ke Andalus, ketika Granada lepas dari tangan mereka.

5. Dan paling menarik sekali adalah laporan Hamka, tentang mengalamannya selama kunjungannya di Amerika. Hamka telah pernah mengunjungi Yale Univercity di New York Haven, USA th 1952, yaitu salah satu Universitas yang besar jasanya dalam mempertahankan agama Kristen dan penyiarannya. Hamka sempat menghadiri suatu perayaan syukuran atas selesainya suatu pekerjaan besar yang dikerjakan selama 15 tahun, dengan panitianya terdiri dari 40 Gereja, yang telah bekerja keras menyalin kitab Bibel bahasa Inggris dari salinan yang lama, yakni dari zaman pemerintahan King James (1916). Suatu pekerjaan yang berat, untuk menyesuaikan bahasa salinannya yang lama kepada bahasa yang sekarang ini. Selanjutnya Hamka menceritakan, bahwa untuk mengadakan suatu pemilihan bahasa kadang-kadang terpaksa memakan waktu berbulan-bulan; sedang bila terjadi perselisihan di antara mereka, maka terpaksalah hukum “stem” dijalankan. Lalu suara terbanyaklah yang menang, dan dipakai. Lebib lanjut Hamka menceritakan, bahwa kesempatan yang berharga itu ia pergunakan betul-betul. Dia dibawa oleh seorang Prof Muda bernama Hendon, berkeliling-keliling melihat-lihat pameran kitab-kitab suci yang ditulis 200th yang lalu, 600th yang lalu, 800 th yang lalu dan begitulah seterusnya. Akhirnya sampailah pada suatu perbincangan yang cukup berkesan. Prof Muda itu berkata: “Beruntunglah tuan orang Islam!, sebab tuan mempunyai Qur’an yang tidak usah diperkomitekan dan dipanitiakan, sebab tuan mempunyai bahasa kitab suci yang asli dan tetap. Bahkan bahasa Arab yang terpakai setiap harilah yang harus disesuaikan kepada Qur’an, bukan Qur’an yang harus disesuaikan kepada perkembangan bahasa.” (Pembicaraan di sekitar Bible dan Qur’an dalam segi isi dan riwayat penulisannya, Drs. Abu Jamin Roham, Bulan Bintang, 84 )

6. George Bernard Shaw orang Inggris, “Agama Islam dengan Qur’annya cukup untuk mengobati penyakit kemanusiaan dan orang-orang yang berkemajuan sekarang mulai insyaf akan hakekatnya. Berat sangkaku untuk mengatakan, bahwa dua abad kemudian, orang akan Islam semuanya.”

  1. Juni 20, 2009 pukul 4:12 am | #1

    subhanallahi wabihamdii..
    terima kasih sudah share…

  2. SAHABAT
    Juni 21, 2009 pukul 8:44 am | #2

    Mas Wawan,
    Aku siy tetap menghargai apapun yang mas wawan tulis baik yang subyektif maupun yang obyektif. Dan misi adalah misi, kesenangan adalah kesenangan, indah adalah indah. Pola pikir yang menjadi bingkai perjalanan “indah” mas wawan kenapa ya kok arahnya menjadi sangat sempit dan tidak indah lagi. Pola yang indah menjadi tidak elok dinikmati, ketika terfokus pada pola komparasi yang dangkal. Karena apapun akan memberikan jawaban yang pada dasarnya sama. Memang di dalam sebuah blog pribadi merupakan hak pribadi pula terserah orang mau komentar, atau sekedar diam.
    Saya yang melihat perjalanan “indah” mas wawan terlalu merefleksikan kegelisahan, kecurigaan, ketidaknyamanan akan hadirnya non mulim, dan seolah bahwa yang berada di seberang rumah mas wawan cukup merepotan, pertama, dengan trinitas, kedua sejarah natal, ketiga pemetaan politik yang “berspekulasi” dangkal, keempat penyampaian perbandingan bible dan quran ini versi non muslim yang dikemas dalam pola dan keinginan mas wawan.
    Cobalah mulai sekarang nikmati hidup mas wawan dengan kebahagiaan, tanpa harus memikirkan tetangga seberang seperti apa. biarlah tetangga seberang mempunyai niat tersendiri, yang baik tentunya.
    Insya Allah hidup Mas Wawan akan lebih membahagiakan
    tanpa ada perasaan takut, gelisah, curiga.
    Mulailah membesarkan makna “ikhlas” sebagai sebuah kekuatan dasyat bagi hidup kita.
    Karena percayalah apapun hasilnya dalam perjalanan mas wawan dalam pola yang seperti ini tidak ada manfaat yang positif untuk hidup mas wawan.

    Salam seratus kali lebih hangat dari yang sebelumnya.

  3. Juni 23, 2009 pukul 2:20 am | #3

    to sahabat,

    hehe…

    terlalu merefleksikan kegelisahan, kecurigaan, ketidaknyamanan akan hadirnya non mulim, dan seolah bahwa yang berada di seberang rumah mas wawan cukup merepotan, pertama, dengan trinitas, kedua sejarah natal, ketiga pemetaan politik yang “berspekulasi” dangkal, keempat penyampaian perbandingan bible dan quran ini versi non muslim yang dikemas dalam pola dan keinginan mas wawan.
    Cobalah mulai sekarang nikmati hidup mas wawan dengan kebahagiaan, tanpa harus memikirkan tetangga seberang seperti apa. biarlah tetangga seberang mempunyai niat tersendiri, yang baik tentunya.
    ======================

    apa yg sahabat refleksikan dari blog ini sebenarnya bukanlah blog spt yg sahabat kemukakan tsb. Benar misi tetap misi dan visiku juga sangat terlihat spt itu.
    ini bukanlah sebagai sebuah penampilan mencari konflik, tetapi sebuah kewajiban seorang muslim untuk fastabiqul khoirat dan nahi mungkar untuk memberi kabar gembira sekaligus kabar peringatan buat non muslim bahwa kedatangan Islam adalah untuk mengingatkan kembali jalan ke mana yg mesti harus ditempuh untuk mengabdi kepada Allah.

    Kewajiban kamu hanyalah menyampaikan risalah Islam ini kepada mereka, selebihnya biarlah Allah yg menentukan nasib mereka. Begitu Qur’an bilang hehe…

    Dan kebetulan kebahagiaanku adalah konsen di sini hehe… yakni menyapa kalian…. sebagai sahabat2 yg mesti diingatkan dengan suka cita…

    salam manis Allah..slalu

  4. nur
    Juni 27, 2009 pukul 4:11 am | #4

    السلام عليكم ورحمةالله وبركاته
    Mas Wawan yang kami hormati semoga rohmat Allah selalu menyertai kita semua amin !
    Apa yang anda tulis tentu melengkapi keterangan yang ada di blog lain. Sebagai memenuhi kuwajiban kita ketika saudara tersesat untuk mengingatkan. Syukur kalau mau. kalu tidak mau paling tidak kuwajiban kita gugur. dan saya tunggu keteranganmu lebih lanjut.
    Adapun mereka yang tidak mendapat hidayah Allah,kok hanya dikomentari lewat media ini diseretpun misalnya tidak akan mau sebab mata sudah BUTA telinga sudah TULI dan hati telah GELAP,serta kaki pun telah LUMPUH. Keterangan tinggal berlalu.
    Al-Qur’an itu tidak dapat dibandingkan dengan Al-Kitab (Bible), gak level. Bagaimana tidak ! Huruf-huruf Al-Qur’an terjaga, cara membacanya saja ada ilmunya, berhenti dan terusnya dalam membaca ada pedomannya. Jadi bacaannya masih diupayakan keasliannya sehingga banyak mereka yang menghafalkannya. La sekarang mana ada Beble yang asli, mana? Beble yang asli hanya ada pada diri Nabi Isa as. Kemudian diriwayatkan oleh banyak shohabatnya. Jdi selevel dengan hadits. Itupun orang Kristen hanya mengakui dari empat orang,itupun satu sama lain saling bertentangan. Pokoknya gak levellah.
    Dalam mengambil sumber hukum, Orang Kristen hanya punya satu kitab dan bila punya yang lain hanya beda bahasa. Lain dengan Islam Al-Qur’an punya dan masih orisinil. Kemudian punya Hadits yang diriwayatkan oleh banyak shohabat yang tersusun oleh ratusan buku Hadits. Hal yang demikian ya bisa dimaklumi. Nabi Isa as menerima Kitab Injil pada usia 30 tahun kemudian diangkat ke langit pada usia 33 th pendapat yang lain 35 tahun itupun pada zaman penjajahan. Tentu syariatnya tidak lengkap tidak selengkap Islam ya jauh tentunya. Sedang Nabi kita Muhammad saw menyampaikan risalah selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Bermula dari membangun keyakinan sampai berhasil membentuk NEGARA yang berdaulat,negara yang disegani dan berlanjut menjadi negara super power selama 7abad, dengan wilayah yang luas. Dan melahirkan sarjana yang berhasil menyulap dunia yang kelanjutannya dapat kita rasakan sekarang ini. Ini fakta yang tak terbantahkan. Ada Ibn Sina yang kemudian di akui sebagai Bapak Kedokteran Dunia. Al-Khowaritsmi yang ahli matematika. Dunia tentu berhutang budi pada Islam angkanya saja masih dipakai sampai sekarang ( 1,2,3,4,5,6,7,8,9,0) itu dari mana kalau gak dari Islam. Orang kok alergi sama Islam ya gak usah pakai angka tersebut pakai saja angka Romawi ngelu-ngelu menerapkan.
    Wong diingatkan kalo tersesat kok malah marah, kalo gak orang mereng ya gak ada.
    Ohhh manusia-manusia,bentuk kambing gitu karuan.
    Hanya sayang banyak orang Islam yang gak ngerti tentang Islam malah ikut ikutan miring ya kalau demikian pantas saja Super power tinggal kenangan. Malah banyak yang menganggap aneh dan berusaha mengganti. Oh dunia apa kiamat memang sudah dekat ?
    Banyak oarang Kristen yang gak mau menerima Islam Gara-gara Nabi Muhammad saw nikah sama Aisyah yang dikala itu baru 6 tahun. Gak tahu ceritanya berani memvonis.
    Begini Aisyah ra itu adalah putri Abu Bakar yang kecantikannya luar biasa gak ada yang nanding kala itu sampai Abu Bakar susah dibikinnya. Dikala itu pernikahan muda sudah jadi tradisi. kalo nikah baru disahkan setelah usia 16 tahun inikan baru belakangan ini. Simbah-simbah kita dulu juga nikah usia dini.
    Sebagai solusi Abu Bakar tawarkan anaknya pada shohabatnya. Semuanya menolak karena merasa gak level. Apa gak susah bila orang tua punya anak gadis gak laku. Baru pemecahannya adalah diminta oleh Rasul Muhammad saw. itupun atas iZin Allah.
    Untuk itu wahai saudara-saudaraku kalo gak ngerti sebaiknya nanya sama yang ngerti, mungkin kalo saya bisa insya Allah akan saya jawab. Dan jangan minta keterangan pada orang yang gak ngerti atau malah pada orang yang ahli dosta ( Roma 3:7). Apa jadinya ya semakin tersesat.
    Sekarang sudah zaman global keterangan Islam sudah gak dapat dibendung lagi, umat manusia sudah gak mau dikibuli selalu mencari keterangan asli/fakta. Sehingga orang yang memang mencari kebenaran akan menggunakan LOGIKAnya. Bukan di doktrin terus menerus.
    Bagaimana kamu hai SAHABAT masih mau dikibuli ?
    Ya Allah berilah saudaraku hidayah-Mu , hanya inilah yang dapat aku perbuat demi untuk meraih kerelaan-Mu.!
    Trimalah permohonanku , Amiiiiiin !

  5. Sahabat
    Juli 1, 2009 pukul 3:11 am | #5

    Sahabatku,

    Sahabat-sahabatku yang bijak pernah mengatakan,
    “Kekuatan manusia yang terbesar adalah IKHLAS. Sikap RENDAH HATI adalah salah satu celah untuk mendekatkan kita ke dalam IKHLAS. Dengan membandingkan, menjelekkan, atau membuat kesimpulan sepihak adalah salah satu sikap yang bukan RENDAH HATI. RENDAH HATI adalah keyakinan yang selalu menempatkan pemikiran yang baik tanpa harus membandingkan dan tanpa harus merasa dipojokkan atau disepelekan. Bisakah kita menemukan celah untuk mendapatkan kekuatan yang akan membuat kita bahagia?”

    Melihat konteksnya lama-kelamaan, blog ini hanya akan memunculkan ke”sok-tahu”an orang-orang yang mengaku memahami Islam tapi tidak mengerti bagaimana menjalankannya. Karena Nabi Muhammad SAW tidak pernah meminta untuk menjadi “sok-tahu”, Beliau memberikan petunjuk untuk meraih kebahagiaan hidup dan sesudah hidup.

    Semoga dapat diterima, kalau tidak ya ga pa apa, toh ini hanya pilihan.

  6. Sahabat
    Juli 6, 2009 pukul 2:05 am | #6

    Dear Wawan,
    Hidup kita adalah “sebuah perjalanan”, kalau sebuah perjalanan tentunya ada tujuan. Tujuan hidup adalah pilihan mutlak setiap orang, tak ada hak orang lain untuk menentukan tujuan hidup seseorang. Paling banyak orang hanya mampu berkomentar, lalu mendukung atau tidak mendukung. Ini skenario untuk kehidupan pribadi, sehingga “ego” merupakan pusat aktifitas yang berkait dengan tujuan hidup. Namun apabila ranahnya sudah komunal, sebaiknya kita melihat dan mengenal diri kita lebih “dalam”.
    Sebagai sahabat, saya berusaha untuk menyentuh kedalaman diri Wawan lebih sekedar sebagai “pemikir”. Setiap orang ingin tampil sebagai yang terbaik di hadapan sesama manusia maupun di hadapan Allah. Namun keinginan tersebut memiliki dasar dan pola yang tidak sama, antara terbaik di hadapan sesama, dan terbaik di hadapan Allah. Terbaik di hadapan sesama, kita bisa memilih “sesama” yang mana, yang seperti apa??. Apa kita bisa memilih yang terbaik di hadapan Allah. Apa Wawan dapat memilih Allah yang mana?? Apa yakin ada Allah versi sebuah agama akan berbeda dengan versi agama yang lain, yang nantinya akan terjebak dalam konteks “poly-theisme”, kalau mengakui ada versi Allah dalam banyak agama.
    Nah, itu merupakan refleksi dari pola pikir Wawan sejauh ini, kegelisahan, ke”sok-tahu”an, keyakinan akan sebuah “kebenaran”.
    Wawan menjelajah ke dalam dunia yang Wawan mau, Wawan mengumpulkan data yang Wawan mau.
    Seseorang memberikan karena “hanya ingin memberi”, bukan memberikan yang “dibutuhkan”, itu juga bukan sebuah sikap “tulus”.
    Wawan sahabatku,
    Bukan mau menggurui, hanya mengambil makna perjalanan hidup Wawan.
    Berkaryalah tanpa harus merasa Wawan paling benar, tanpa harus membuat komparasi.
    Berkaryalah dengan keyakinan atas nama Islam yang akan “menyegarkan dunia”.
    Segitu dulu ya.
    Tetap bersemangat Sahabatku!!

  7. Juli 9, 2009 pukul 4:17 am | #7

    Kekuatan manusia yang terbesar adalah IKHLAS. Sikap RENDAH HATI adalah salah satu celah untuk mendekatkan kita ke dalam IKHLAS.
    ================

    Ikhlas = pasrah itulah arti sebenar2nya kata Islam, agama kepasrahan, damai, ketenangan, dalam berbakti kepadaNYA…

    studi sy adalah sebuah perbandingan agama, ya mesti memgkomparasikannya… komparasi tentang sebuah kebenaran ilmu tentang agama-agama bukan berarti menjelek2kan agama yg sedang kita komparasikan…

    subjektifitas tidak bisa dilepaskan dari ideologi seseorang..

    mencari kebenaran dgn komparasi adalah sah2 saja buat setiap individu, bahkan sangat sy sarankan untuk dilakukan, agar setiap orang itu mendapati keyakinan agamanya dengan puas dan keyakinan yg penuh…

    kebenaranan memang mesti ditegakkan walau terasa pahit dipihak yg tidak dibenarkan….

    saling menghormati, rendah hati, toleransi dll adalah etika dialog yg tentu sangat penting. Saya sangat sepakat….. hehe

  8. Sahabat
    Juli 10, 2009 pukul 2:44 am | #8

    Dear Wawan,

    Jalaludin Rumi pernah bilang dalam sepenggal kalimat yang aku ingat dalam karya beliau, (mungkin kata-katanya tidak persis tapi maksudnya seperti ini):
    ===
    “Sekian lama aku sudah mengetuk pintu…
    Saat pintu terbuka…
    Ternyata aku baru menyadari bahwa aku sudah berada di dalam….”
    ===
    Silakan terjemahkan sendiri dengan kebenaran yang Wawan pahami.

    Tidak ada subyektifitas dalam sudut pandang ideologi atau agama, selama sikap RENDAH HATI ada dalam diri Wawan .
    Subyektifitas hanya muncul karena AROGANSI, merasa yang”ter…” terbenar, terpintar, dan ter ter yang lain yang ingin menampilkan ego Anda.

    Maaf saya kutip:
    ===
    mencari kebenaran dgn komparasi adalah sah2 saja buat setiap individu, bahkan sangat sy sarankan untuk dilakukan, agar setiap orang itu mendapati keyakinan agamanya dengan puas dan keyakinan yg penuh…
    ===
    Inilah sikap arogan Wawan, mencari kebenaran bahkan untuk memuaskan kehadiran sebuah agama dan keyakinan Wawan .
    Kalau Wawan masih mencari, artinya Wawan masih gelisah. Kebenaran tidak perlu dicari. karena kebenaran akan muncul dalam pola berpikir dan sikap yang benar tanpa harus gelisah. Otomatis kok Wan, kebenaran akan muncul, tidak perlu dibuktikan dengan logika. Sebagai orang Jawa saya masih memegang teguh falsafah “Becik ketitik , ala ketara”, “Sapa sing nandur sapa sing ngunduh”.

    Aku pengin ngasih saran untuk berkarya, coba dengan pendekatan pendekatan yang lebih bermutu, karena perbandingan dan perseteruan kebenaran yang Wawan tampilkan sudah terjadi sejak abad ke 7. Masa sih seorang Wawan hanya mengangkat isyu dari abad ke 7.
    Coba dengan memahami Rumi, Gandhi dan Bagavat Gita, Kahlil Gibran, Komarudin Hidayat, atau Gede Prama yang bersahabat dengan keindahan, cinta dan kebahagiaan..
    Atau sepertinya Anda pernah mengagumi Kahn dengan “The Critique of Pure Reason” nya dengan statement metafisika sebagai jawaban ke luar ranah logika.
    Atau coba lihat Stephen Hawking yang tak mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya dalam motorik sadarnya, tapi kemampuan jelajah pikirannya mampu memasuki “kisah terjadinya” alam semesta

    Gitu sahabatku Wawan Kardiyanto.

    Maaf yang kedua
    IKHLAS tidak sama dengan PASRAH, lebih dari itu!
    Ada TULUS ada JUJUR, ada RENDAH HATI dan ada PASRAH dan juga KEBAHAGIAAN ada dalam IKHLAS.

    Maaf yang ketiga:
    Saya bukan seorang Muslim. saya Katolik, yang saya sampaikan pun dalam bingkai keimanan pola pikir saya yang didasari kekatolikan saya.
    Nama lengkap saya Aloysius Suryo Tanggono.
    he…he….

  9. Juli 11, 2009 pukul 5:00 am | #9

    Kalau sdr Aloy merasa terganggu dgn sebuah keterbukaan ilmu, entah itu bersifat komparasi, analisis kritis, hermeunitik dan bahkan sainstik yang mungkin mengganggu keyakinan sahabat, jangan dong itu dibilang arogansi…. memang kebenaran itu meyakitkan….

    Dalam pencarian ilmu kebenaran yg tlah sy lakukan trus terang bersifat subyektif yg terakumulasi dalam pola pikir dan dzikir ke-aku-an sy….. dalam menyimpulkan ilmu yg sy serap. Konklusi yg diambil untuk diri sendiri tentu bersifat subyektif semata…. hehe

    lagian, memang sy bermaksud berdakwah, mengingatkan sahabat2 non muslim tu mencoba merenungi kembali kesimpulan akan keyakinannnya yg tlah dianut. Islam datang adalah untuk meluruskan kembali ajaran yg tlah bengkok….

    klo sudah dikabarkan dan disampaikan merasa terganggu, yach itu mah resiko jenengan mau membaca kabar gembira ini yg ditafsiri arogansi hehe….

    Sy tdk pernah gelisah dengan keyakinan sy,tetapi sy gelisah dengan keyakinan yg sahabat non-muslim yakini….

    Stephen Hawking, sangat luar biasa ilmu astronominya hingga membenarkan teori big bang yg mutakhir sebagai hasil sains di bidang fisika…. Big Bang teori ternyata malah mengungkapkan lebih detail tentang kebenaran Alqur’an yg ternyata di ayatnya juga mengetengahkan teori big bang, big crunh, teori plank dan lain2…..

    Seluruh kebenaran sainstis mutakhir dari embriologi- astronomi lebih condong mengungkapkan mukjizat Alqur’an daripada bibel yg sudah ditinggal jauh oleh para saintis di abad pencerahan dulu….

    Sebenarnya, sy sih bisa tampil seperti, rumi, al-halaj, ibnu sina, ghandi, dll…. tapi mereka biarlah mereka, dan sy biarlah seperti saya apa adanya……. hehe

  10. Sahabat
    Juli 13, 2009 pukul 1:37 am | #10

    Dear Sahabat,
    Saya menempatkan diri dalam kapasitas manusia yang universal tanpa membawa “lebel” agamaku.Saya melepaskan diri dari “belenggu agama” dalam berbuat dan bertindak. Kemurnian dan kedalaman “agama” sudah di geser oleh rasionalitas, seperti paparan Wawan. Nilai dan esensi agama yang dirasionalkan sudah mengkerdilkan kehadiran “raksasa iman” Wawan sendiri.

    Kalau Wawan tidak AROGAN lalu apa??
    Maaf saya kutip lagi, kata “mengingatkan” sepertinya Wawan sudah hebat sekali sehingga “mengingatkan” orang lain (secara komunal bukan individu).Atau barangkali Wawan sudah merasa seperti seorang utusanNya??
    ===
    lagian, memang sy bermaksud berdakwah, mengingatkan sahabat2 non muslim tu mencoba merenungi kembali kesimpulan akan keyakinannnya yg tlah dianut. Islam datang adalah untuk meluruskan kembali ajaran yg tlah bengkok…..
    ===
    Terima kasih atas perhatian dan peringatannya,

    ===
    klo sudah dikabarkan dan disampaikan merasa terganggu, yach itu mah resiko jenengan mau membaca kabar gembira ini yg ditafsiri arogansi hehe…
    ===

    “terganggu” ??
    Tidak sama sekali, saya hanya melihat potensi yang besar ada dalam diri Wawan, namun atap dan dinding rasional Wawan menghalangi Wawan untuk melihat lebih tinggi dan lebih luas memandang, mungkin Wawan perlu keluar pagar dan melihat sesuatu yang ada di luar sana.
    Potensi yang Wawan miliki sedikit lagi akan menjadikan Wawan seorang yang akan dihargai dan dihormati oleh semua manusia apapun lebel agamanya. RENDAH HATI salah satu bumbunya. Kenapa Wawan tidak melihat seorang Quraish Shihab sebagai “outter teacher”??

    ===
    Sy tdk pernah gelisah dengan keyakinan sy,tetapi sy gelisah dengan keyakinan yg sahabat non-muslim yakini….
    ===

    Kenapa harus gelisah dengan keyakinan sahabat-sahabat Wawan yang non muslim?? Mereka toh sudah menemukan jalannnya sendiri. Kecuali kalau Wawan ingin disebut sebagai “juru selamat” atau “nabi” atau “rasul”… (apa bukan arogan kalau sudah begitu…)

    Sebuah kebenaran adalah kebahagiaan, tidak ada kebenaran yang menyakitkan. Kalau “pasrah” sudah Wawan terjemahkan dengan dalam, tidak akan muncul “kebenaran itu menyakitkan”. Kebenaran ya kebenaran yang membahagiakan. Disitulah kalau kita mengukur kebenaran yang beratap dan berdinding rasional, maka kebenaran menjadi terbelenggu di dalam “rumah rasional”, Rumah rasional kita hanya melindungi badan kita tapi tidak melindungi jiwa kita.

    Tidak perlu diungkap apa yang tertinggal dan apa yang sudah jauh di depan. Karena apapun itu, Alqur’an ataupun Injil, atau Tripitaka, atau Weda atau Bagavat Gita,atau Taurat sekalipun tidak harus diungkap fakta “kebenaran rasional”nya. Yang terpenting adalah menjalankannya sebagai sebuah petunjuk untuk mendapatkan kebenaran yang membahagiakan.

    Kenapa saya munculkan Stephen Hawking, Gandhi, dan Rumi?? Karena mereka yang sudah tidak bermasalah dengan pencarian “kebenaran”. Alam pikir mereka sudah tidak terbelenggu atap dan dinding rasional.
    Stephen Hawking masih hidup, tapi hanya “alam pikirnya”, tubuhnya??
    Wawan tidak perlu tampil seperti mereka, seandainya Wawan mampu.
    Tersererah Wawan mau tampil seperti apa, seperti yang sudah-sudah juga tidak ada masalah buat orang lain. Saya hanya membuka dialog, juga tidak ingin menggurui. Saya hanya memaparkan sejauh yang saya mampu.
    Dan sebagai non muslim, ijinkanlah saya bersahabat dengan Wawan.

  11. try harno
    Juli 15, 2009 pukul 2:07 pm | #11

    dear wawan…
    mungkin diantara ratusan orang yg kenal kamu ada salah satu yg bener2 kenal dan ngerti kamu…salah satunya adalah aku…aku tau jalan pikiran kamu…bahkan awal kita mulai kuliahpun kamu udah punya pemikiran yang cemerlang dan beda dari yg lainya…waktu diskusi kamu jadi partner aku untuk saling memberikan koreksi…itulah perjalanan hidup….seperti yg pernah aku bilang orang usuluddin ketemu ama orang syariah…pasti ada titik singgungnya…

  12. Sahabat
    Juli 16, 2009 pukul 1:00 am | #12

    Dear sahabatku,
    Maaf terkirim dua kali. yang pertaman atas nama “firmansyah”, kebetulan komputer saya sedang “opname”, saya pakai komputer sahabat saya, saya ceroboh begitu saya klik “kirim komentar”, ternyata terkirim atas nama “firmansyah”.
    Supaya tidak membingungkan identitas saya kirim lagi.
    Maaf ya Wan.
    Yang atas nama “firmansyah” dihapus saja biar ndak penuh.

  13. Sahabat
    Juli 17, 2009 pukul 2:21 am | #13

    Dear Wawan,

    Maaf kalau tulisanku mungkin membuat dirimu dan sahabat-sahabat menjadi gundah. Bukan itu maksudku. Dalam diskusi tentunya harus ada perbedaan.
    Saya menempatkan perbedaan adalah keindahan. Alam tercipta karena adanya “perbedaan warna”, “perbedaan bentuk” dan “perbedaan sudut pandang”
    Maka keindahan itu adalah kebahagiaan. Aku bahagia karena kita berbeda. Aku tidak mau perbedaan membuat duka.
    Kalau seandainya ada perbedaan yang tidak bisa diterima yang lain sebagai sebuah keindahan yang membahagiakan,
    berhentilah memunculkan perbedaan, apalagi perbandingan.

    Kedalaman mengenal diri adalah sebuah kewajiban setiap orang yang memunculkan perbedaan, sehingga menjadi sebuah keindahan.

    Kata Gede Prama:”Pelangi indah karena kita melihat banyak warna yang berbeda di dalamnya”

    Kalau lebih dalam dimaknai melalui rasional kita, keberagaman warnanya pun berasal dari yang satu, yang Illahi.

    Perbedaan kita yang indah ini pun kalau lebih dalam dimaknai adalah berasal dari yang satu juga, yang Illahi.

    Semoga para sahabat dapat memahami penjelasanku, kalau tidak ya tidak apa apa, namanya juga perbedaan.

  14. Sahabat
    Juli 21, 2009 pukul 5:37 am | #14

    Dear Indonesia,

    Kedukaan mendatangi kita lagi,
    Kedukaan yang berasal dari keinginan untuk menang
    Kedukaan yang membuat hantu teror tersenyum dan bertepuk tangan.
    Kedukaan karena,
    menjadi pengecut lebih penting dari pada pembawa damai

    Ini bukan persoalan menang atau kalah,
    ini juga bukan sebuah panggung hiburan untuk mendapatkan senyum tawa dan tepuk tangan
    Mati adalah tujuan hidup
    tapi mati sebagai pengecut tidak akan berarti

    Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton hanya saksi
    Salah satunya telah menyaksikan dua kali
    Menyaksikan mati

    Kita yakin dengan kedalaman pada keyakinan Tuhan yang Maha Baik
    Kenapa ada yang mengingkari kalau Tuhan itu Maha Baik?

    Marilah kita meminta, memohon, dan berharap
    Marilah kita meyakini dan percaya pada makna kata baik
    Marilah kita menerima apapun, sekecil apapun, sesedikit berapapun yang menjadi bagian dari rumah damai.

    Harapan,
    Percaya,
    Cinta.
    Untuk Indonesia kita.

    Pak SBY,
    sebagai Presiden Terpilih
    Kami percayakan Indonesia pada Anda,
    Seluruh Pencinta Damai percayakan Indonesia pada Anda

    Indonesia bukan batu yang dibentuk dengan tajamnya pahat dan kerasnya martil.
    Indonesia itu lemah lembut
    Indonesia tidak butuh kekerasan untuk mewujudkan bentuk
    Indonesia hanya butuh kemesraan dan ketulusan cinta yang damai.

    Doaku Untuk Indonesia.

  15. Juli 22, 2009 pukul 1:45 am | #15

    trims, sahabat Aloy,
    maaf lama da online, sebab baru dikarunia anak yg ke 2, jadi repot da sempat online hehe…

    sy juga sangat sedih dengan pemboman di hatel mariot dan charlton…. memang menggenaskan….
    semoga Allah memberkahi para korban dan memberi “ganjaran” yg setimpal kepada para pelaku pemboman….

    yg sy catat dari sahabat aloy dr tulisan terakhir, kita sudah tahu bersama bahwa kita berbeda dalam hal menyikapi persoalan aplikasi dan implementasi komponen penting kita yaitu Akal dan hati…. di sinilah perbedaan jelas kita dalam memahami konsep ini…

    Rasionalitas yg cenderung ke rasio sahabat Aloy negasikan mentah2 untuk membedah persoalan agama… dan saya tidak menegasikan apapun untuk membedah dan mengkritisi agama…

    Agama mesti bisa menghadapi pisau bedah apapun untuk membuktikan bahwa ajaran agama itu BENAR dalam arti sebenarnya….

    Identitas agama sangat perlu…. sebuah identitas agama yg secara penuh diyakini harus siap menghadapi dan digunakan untuk esistensi diri…. Untuk apa kita punya agama kalau agama kita tidak bisa berbicara mengenai rasionalitas??? atau apapun namanya???…

    perbedaan adalah sebuah kenyataan da perlu disembunyikan…. orang yg bisa scr dewasa menyikapi perbedaan adalah orang yg sangat berhasil dalam kepribadiaannya…

    metoda apapun, kritisisme, perbandingan, analitis, hermenuitik dan apapun … adalah alat untuk mencari sebuah kebenaran adalah sah-sah saja…. kita boleh spakat atau tidak dari hasil yg dihasilkan mereka….

    Sy sudah tahu siapa stephen hawking…. dari teori2nya yg spektakuler malah lebih membenarkan kebenaran Alqur’an secara ilmiah…spt hal berikut:
    1. teori Bigbang
    2. teori alam yg meluas
    3. teori plank
    4. termodinamika 2 dll

    semuanya malahan lebih menguatkan Alqur’an dari pada menjatuhkannya….. itulah kenapa sy dan Islam agama sy tidak phobia dengan pisau bedah apapun… hehe

    saya dalam suasana apapun akan selalu bersahabat dengan siapapun jua…. jangan khawatir sahabat Aloy… sy tidak pernah marah koq hahaha…..

  16. Sahabat
    Juli 22, 2009 pukul 6:17 am | #16

    Dear Wawan,

    Selamat ya atas kehadiran anak ke 2, ce ato co ??

    Yang menjadi pembeda mungkin “cara mencapkannya”, dan pembedahan Wawan, sebenarnya juga tidak ada pemasalahan yang cukup serius.
    Hanya…. sekali lagi… terkadang ada orang “fanatik” yang hanya mampu membahasakan secara rasionalitas,karena kurang dalamnya pengenalan diri.

    Seorang sahabat dan sekaligus guru mengatakan , salah satu kunci “damai” dan “kebahagiaan” adalah TAHU DIRI, (mengenal diri sendiri) Mengenal siapa dirinya dengan “navigasi” iman akan membimbing jiwa kita untuk hal yang benar dan baik. Jadi bukan lagi persoalan “merek” imannya apa. Akan menjadi “bad campaign” apabila terjadi komparasi, mana produk iman yang lebih baik mana yang kuno, atau mana yang menyesatkan, yang kalau kita mengeluarkan dari batas rasional, sebenarnya esensi lebih berarti dari pada faktual yang rasional.

    Sebuah DOGMA TRINITAS misalnya, akan menjadi kekuatan IMAN KATOLIK, karena memang tidak membutuhkan RASIONALISASI, namun pemahaman dalam kesadaran jiwa terhadap pemaknaannya. Itu juga tidak perlu dijawab secara rasional, karena IMAN KATOLIK tidak pernah dibatasi dinding rasional yang hanya melindungi badan. TRINITAS sangat efektif dalam melindungi jiwa kita.

    Kehadiran AlQuran ke muka bumi juga jangan dibatasi “kebenaran rasional”. Hanya sebagian kecil saja yang bisa di “rasionalkan”. Namun, kebebasan jelajah jiwa kita berdasarkan kesadaran jiwa terhadap keyakinan iman, akan berarti lebih dan tidak tebatas. tidak seperti memahami secara rasional yang membelenggu kita. Mukjijat dan keajaiban dalam kebesaran “karya Illahi” tidak akan dapat dimengerti hitung-hitungannya secara rasional.
    Mengupas IMAN dengan pemahaman rasional hanya akan melahirkan “FANATISME”,
    Katakan, Kejadian bom di Jakarta kemarin, mereka melakukan hal yang tidak rasional karena merasionalkan pemahaman yang semestinya tidak dipahami secara rasional.
    Apa ga cilaka tuh rasionalisasi sebuah bingkai iman yang seharusnya menyelamatkan jiwa kita malah jadi mesin pembunuh.

    Secara pribadi buatku ga ada masalah, tapi Wawan juga harus lihat dampaknya. Abu Bakar Ba’azir tidak bisa dikaitkan dengn pelaku pengeboman, namun karena ada unsur “Ngruki” maka mau tidak mau dia jadi ada keterkaitan. Beliau tidak pernah mengajarkan “jihad” dalam arti pengeboman, pembunuhan yang sebenarnya, tapi esensi dari dakwahnya akan berkembang dan di”improvisasikan” mengarah ke fanatisme tadi.

    Harapan semua orang adalah damai, aman, saling percaya, saling menghargai, saling mencintai, lalu ada ikhlas, ada ketulusan, ada keindahan, ada kebahagiaan dan lain lain..

    Kenapa kita tidak mengeset frekuensi kita selaras dengan hal-hal yang baik, maka hidup itu jadi simpel, letakan rasionalitas hanya untuk hal-hal yang rasional. Selebihnya biarkan “human wave” kita yang menentukan arah mana yang dituju berdasarkan navigasi dalam “GOD wave”.

    Terima kasih sudah diberi kesempatan bertukar pikiran.

  17. Sahabat
    Juli 23, 2009 pukul 2:35 am | #17

    Dari Gede Prama:

    Shanti, shanti, shanti

    Andaikan fisikawan besar Albert Einstein masih hidup, mungkin ia tidak akan mengira kalau ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) akan sepesat sekarang. Namun sebagaimana hukum alam, tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Kemajuan pesat iptek memakan ongkos tidak sedikit.

    Daya utilisasi manusia terhadap iptek maju pesat diikuti daya destruksi yang lebih dahsyat lagi. Meminjam hasil penelitian sejumlah sahabat ilmuwan yang menekuni social construction of technology, sebagai contoh Bijker, Hughes, Pinch (ed) dalam The social construction of technological systems, awalnya iptek hanya membantu manusia, belakangan manusia mulai gagap menyesuaikan diri terhadap iptek temuannya sendiri.

    Semua bidang kehidupan (termasuk agama) mengalami kegagapan dalam berespon terhadap kepesatan kemajuan iptek ini. Lihat saja negara-negara yang berada di barisan terdepan dalam hal iptek. Dari AS, Jepang, Inggris, Jerman sampai Perancis. Banyak indikator sosial (depresi, kriminalitas, konflik) menunjukkan kalau iptek tidak saja tidak menjawab semuanya, namun juga menghadirkan kerumitan-kerumitan baru.

    Keadaannya mirip dengan perlombaan penemuan teknologi pestisida dengan bertumbuhnya hama. Semakin keras iptek berusaha membasmi hama, semakin banyak muncul hama dengan tingkat kekebalan yang semakin tinggi dan semakin rumit. Pemanasan global, konflik yang tiada henti hanyalah sebagian contoh tentang kegagapan manusia di depan iptek temuannya sendiri.

    Di tengah kegagapan-kegagapan seperti ini, izinkanlah sekali-sekali bukan iptek yang berbicara melainkan keheningan. Bukan untuk mengganti, apa lagi menggurui, hanya mau berbagi serpihan-serpihan kontemplasi.

    Kesempurnaan dalam kealamian

    Tatkala J. Krishnamurti mengajarkan untuk kembali ke kesegaran pandangan ala anak-anak (makanya karya masterpiece-nya berjudul Freedom from the known), banyak sahabat di Barat mengerutkan alisnya sebagai tanda tidak mengerti. Lebih dari tidak mengerti, ada yang mencurigainya sebagai langkah mundur pertumbuhan jiwa.

    Dan tentu boleh-boleh saja berpendapat demikian. Sebebas kupu-kupu terbang menghinggapi bunga, sebebas burung elang terbang di udara. Dan bagi jiwa yang biasa menyatu dengan kealamian alam semesta, akan mengerti kalau ada kesempurnaan dalam kealamian.

    Kelapa tumbuh di pantai yang panas. Cemara segar bugar di gunung yang sejuk. Ikan berenang di air, serigala berlari di hutan. Ketika hujan dingin, ayam berteduh di bawah pohon, bebek mencemplungkan dirinya di kolam. Semuanya sempurna dan berbahagia di tempat alaminya. Tanpa kata-kata, tanpa analisa, tanpa penghakiman, tanpa pembandingan. Hanya diperlukan upaya melihat apa adanya. Siapa yang bisa mengalir sempurna dengan kealamian ini, ia sudah menjadi kesempurnaan itu sendiri.

    Perhatikan alam lebih dalam lagi, semuanya berjalan mengalir tanpa keluhan. Siang, malam, panas, dingin. Alam menerima segala musim tanpa keluhan. Di luar memang terlihat lemah, tetapi jauh di dalam sana betapa kokoh mereka dalam kepolosannya.

    Lebih-lebih pohon, jauh sebelum para nabi mengajarkan keikhlasan dalam diam, pohon sudah lama mempraktekkannya tanpa suara. Makanya Kahlil Gibran mengagumi pohon, karena ia perlambang pertapa yang berjalan mendekati cahaya dalam diam dan keikhlasan sempurna.

    Arsitek kenamaan dari Australia Andrian Snodgrass menulis dalam maha karyanya yang mendalam The symbolism of the Stupa, baik stupa dan pagodha orang Buddha maupun meru orang Bali, sama-sama mau mengkonstruksikan kehidupan pertapa yang menyerupai pohon: berjalan menuju cahaya dalam diam dan keikhlasan sempurna. Pertapa suci di bukit Arunachala (India) Ramana Maharshi menyebut perjalanan seperti ini dengan Dhaksinamurti (Shiva teachings in silence). Shiva yang hanya bisa dijumpai dalam diam.

    Jika ini cara memandangnya, maka sangat mengagumkan bila Rasulullah Muhammad menyebut puncak perjalanannya dengan kata Islam (pasrah total alias ikhlas sempurna di hadapan Allah). Atau Yesus Kristus yang ekspresi batinnya penuh cinta kasih bahkan ketika badannya sedang disalib.

    Kepasrahan total seperti ini lebih mungkin terjadi tatkala tidak ada lagi keinginan, tidak ada lagi masa lalu yang disesali, tidak ada lagi masa depan yang ditakuti. Yang tersisa hanya keikhlasan sempurna di masa kini yang abadi. Sebuah batin yang sepi dan sunyi.

    Dalam bahasa Nagarjuna: ‘one who is in harmony with emptiness is in harmony with all things’. Ia yang menyatu rapi dengan kekosongan sedang menyatu rapi dengan semuanya. Ini yang membuat Simpkins and Simpkins menyimpulkan: ‘emptiness is marvelous‘. Kekosongan itu menakjubkan.

    Buddha Gautama pernah ditanya habis-habisan oleh muridnya di hutan. Dengan sigap Buddha mengambil daun kemudian bertanya: mana lebih banyak daun di tangan ini atau daun yang tersebar luas di hutan? Tentu saja daun di hutan lebih banyak. Kata-kata serupa dengan daun di tangan. Ia tidak saja terbatas, namun kerap menjadi bahan-bahan percekcokan yang mengotori perjalanan.

    Mungkin ini yang membuat tidak sedikit orang Bali mengalami kesulitan menyentuh Parama Shanti (damai yang maha utama) sebagai puncak persembahyangan. Setiap kata selalu memunculkan lawan tandingannya. Salah dilawan benar, gagal dilawan sukses, suci dilawan kotor. Dan riuhlah kehidupan.

    Siapa yang berani mengembalikan kata ke tempat semula sebagai pembantu, kemudian membimbing diri dengan keutamaan perjalanan ala pohon, ia tidak saja kembali ke kesegaran pandangan anak-anak, menyentuh puncak dzogchen (tantra): nothing positive to accept nothing negative to reject, mencapai apa yang disebut Suzuki Roshi sebagai zen mind beginner’s mind, tapi juga mengalami batin yang shanti, shanti, shanti (damai, damai, damai).

    Bukan damai yang berlawankan kekacauan, bukan damai yang diikuti rasa suka kemudian menderita tatkala ia tiada. Namun damai karena semuanya sempurna dalam kealamiannya. Di titik pusat Pura Besakih Bali (antara kiwa-tengen) ia disebut Parama Shunya (ketiadaan yang maha utama). Buddha menyebutnya Shunyata. Meminjam Rohit Mehta (The call of the Upanishads): ada keheningan dalam kekacauan, ada kekacauan dalam keheningan.

    Seperti menyimpulkan, ketiadaanlah diri yang sesungguhnya. Ketika hanya ketiaadan menghuni batin, hidup berputar hanya untuk memberi, karena pemberian itulah pembebasan.

    Semoga shanti menyinari semua kegelapan (kebingungan, kebencian, keserakahan) dari Bali.

  18. Juli 25, 2009 pukul 12:22 am | #18

    Salam manis Allah,

    sy sudah paham artikel gede permana, bahkan lebih dari itu sy tidak mempermasalahkannya. Yang perlu digaris bawahi adalah sbb:

    Kenapa kita tidak mengeset frekuensi kita selaras dengan hal-hal yang baik, maka hidup itu jadi simpel, letakan rasionalitas hanya untuk hal-hal yang rasional. Selebihnya biarkan “human wave” kita yang menentukan arah mana yang dituju berdasarkan navigasi dalam “GOD wave”.
    =========================

    LETAKKAN RASIONALITAS HANYA UNTUK HAL-HAL YANG RASIONAL ….= kalimat ini yang harus dan spakat kita garis bawahi.

    1. penelusuran Asal Kitab suci apa-pun adalah rasional
    2. penelusuran siapa penulis kitab suci adalah rasaional
    3. kritik hermenuitik isi kitab suci sebagian besar adalah rasional. Memang ada makna2 filosofi dan makna2 iirasional disebagian yg lain.
    4. dan masih banyak yang lain yg harus diletakkan pada ranah rasional ataupun pisau bedah apa-pun mesti juga bisa digunakan untuk mencari kebenaran…

    RASIONALITAS, METODE ILMIAH HANYA SALAH SATU PISAU BEDAH….

    Hal2 yg berkenaan dengan WUJUD TUHAN walau ada batas rasionalitas untuk memahaminya, tapi selama konsep wujud Tuhan itu masih bisa kita pikirkan dengan rasional maupun intuisi bagi saya tetap mesti kita cari makna kebenarannya….

    Trinitas adalah hasil rasional yg dihasilkan oleh pergumulan konsepsi para rohaniawan kristiani awal sampai sekarang… konsep trinitas bagi sy masih bisa dipikirkan dgn mudah ketidak-rasionalannya….

    mungkin itu dulu…..

  19. Sahabat
    Juli 26, 2009 pukul 7:16 am | #19

    Dear Wawan,
    He…he…

    Wawan…Wawan…,
    Anda memang hebat…!
    Saya memahami Anda sebagai sahabat, sebagai pemikir…
    sebagai “dokter bedah”…

    Namun ada hal yang terpenting untuk…
    Iman bukan untuk di rasionalkan, sudut pandang soal iman juga tidak untuk dirasionalkan.
    ==
    Trinitas adalah hasil rasional yg dihasilkan oleh pergumulan konsepsi para rohaniawan kristiani awal sampai sekarang… konsep trinitas bagi sy masih bisa dipikirkan dgn mudah ketidak-rasionalannya….
    ==

    Tidak seperti itu, wawan melihat dari luar. sebagai sebuah “DOGMA” atau ajaran, para rohaniawan KATOLIK (bukan sekedar kristiani) memberikan gambaran nyata bagaimana berlaku sebagai seharusnya seorang KATOLIK.
    Tidak pernah menguji kebenaran rasional, yang ada adalah terjadinya “ketertarikan” karena sikap dan pikir yang baik. Pewartaan bukan seperti “kaset” yang bisa diputar kapan saja kita mau. Pewartaan ada perbuatan kita. Bagaiman mewartakan adalah dengan mengaktualisasikan dalam perbuatan.
    Dan Trinitas memang tidak untuk dirasionalkan karena itu adalah dogna dalam IMAN, Kalau Iman kita rasionalkan, maka terbataslah iman kita. Biarlah iman kita mengembara melampaui batas kerasionalan. Karena itu bentuk penyembahan, hormat, syukur dan percaya hanya kepada TUHAN.

    Tuhan dalam hidup kita
    atau ,
    Hidup kita dalam Tuhan…

    Terserah bagaimana kita memaknainya…

    Salam manis Allah buat Wawan….

  20. Juli 26, 2009 pukul 10:58 pm | #20

    salam manis Allah,

    Proses konsep trinitas dari awal adalah sekali lagi proses rasional yg dirumuskan, diperdebatkan dengan segala cara oleh para rohaniawan krestiani. Konseli nicea 325, konsili chalcedon, konstantinopel dan lain2 sampai sekarang merupakan forum musyawarah tertinggi gereja katholik…. INI PROSES RASIONAL…khan? hehe….

    Perkembangan rumusan konsep TRINITAS dari ALLAH yang ESA, menjadi Allah Bapa dan Allah Anak kemudian berkembang lagi menjadi Trinitas penuh, apa ini bukan proses rasional? hehe….

    Apa arti Doktrin dan Dogma? siapa yang merumuskan dan siapa yang memutuskan definisinya? khan semuanya hasil kesepakatan, dan itu kesepakatan rasional…

    trus??? hehe…..

    memang rasionalitas adalah metode terbatas untuk mengkaji hal2 yg supra rasional, tapi rasionalitaslah yang menhasilkan segala kemajuan peradaban manusia sampai saat ini…. knapa harus phobi? takut? agama yg takut dibedah oleh rasionalitas bagi sy jauh dari “kebenaran” yg sebenar2nya….. hehe

  21. Sahabat
    Juli 27, 2009 pukul 2:12 am | #21

    Dear Wawan,

    Permasalahannya bukan takut atau tidak takut, buat saya masalah rasional atau irasional adalah masalah “tahu diri” atau “sadar diri”

    Mohon sekali dibaca dengan teliti dan benar-benar seksama:

    Keselarasan Tuhan dan Manusia dalam Katolik adalah soal iman,
    dan TRINITAS bukan rumusan
    tapi dogma,
    juga bukan doktrin.

    Rasionalisasinya bukan pada diskripsi TRINITAS, namun rasionalisasi bagaimana menjadikan dogma itu sebagai instrumen identitas. Identitas dalam perilaku dan perbuatan yang berdasar pada: CINTA TUHAN, CINTA KASIH /DAMAI, CINTA JIWA dalam kesatuan dengan “yang Maha Tinggi”.

    Rasionalisasi TRINITAS akan mengecilkan iman. Karena TRINITAS adalah dogma iman yang tidak untuk dibingkai dengan rasional.
    Pemahaman melalui rasional yang menjebak adalah ketidak mampuan seseorang meyakini TUHAN.
    Maka tidak akan nyambung kalau TRINITAS harus dibuktikan dengan diskripsi secara rasional.

    Kita punya yang namanya “suara hati” , apakah itu rasional? dikatakan “ya”, karena getaran hati yang dipancarkan melalui pikiran yang “rasional” sudah dikuasai “keakuan”.
    Saya sebut “suara hati” sebagai “human wave”, dan “suara Tuhan” adalah “God wave”
    Dengan dogma TRINITAS iman Katolik, adalah penyelaras “human wave” dengan “God wave”.
    Pada dasarnya “God wave” dan “human wave” berada dalam frekwensi yang sama. Karena manusia diciptakan sesuai dengan CITRA TUHAN.

    Artinya sudah seharusnya dogma TRINITAS di”rasionalkan” dengan bentuk PEMIKIRAN dan PERILAKU, akan hal yang datangnya dari Tuhan .
    Bukan reduksi dari pemikiran manusia.

    Dogma TRINITAS menjadi irrasional karena sifat ke”AKU”an, yang congkak, yang arogan, yang tinggi hati, dan yang mementingkan diri sendiri.
    Keselarasan manusia dengan Tuhan hanya bisa didapatkan kalau kita mendengarkan “suara hati”.

    Saya berharap Wawan dapat memahami, kalaupun ada bukti-bukti rasionalisasi TRINITAS, menurut saya hanya bagaimana “suara hati” itu menerjemahkan. Apakah “rasional” sudah mengurung “suara hati” kita?

    Mungkin…. TRINITAS bisa dipahami dengan ilmu tasawuf…saya ga tahu…
    Atau mungkin pemahaman TRINITAS adalah bentuk makrifat “kecil” dalam dunia moderen. Seperti meninggalkan asiq yang terjadi pada hidup membiara seperti pada pastor, bruder dan suster.

    Dari aku ini dulu,

    “Dalam kedamaian pasti ada senyum” mother Theresa.

  22. Juli 27, 2009 pukul 1:22 pm | #22

    salam manis Allah,

    sahabat Aloy,….. mohon dibaca pelan2 dan berulang2…

    1. saya dalam berkonsep tidak menganut konsep Barat baik mengenai rasionalitas dan religius, spiritualitas dan lain2… yang….. perlu digaris bawahi menempatkan Agama dan Sains adalah sesuatu yg saling membelakangi, menegasikan dan tidak bisa ditemukan….

    2. Suara HATI dan Suara rasio adalah bersumber pada AKAL yg terdapat dalam OTAK kita. suara hati yg di neron AMIGDALA dan suara rasio di neron HIPOCAMPUS keduanya ada dalam otak yg saling sinergi bersambungan dalam sirkuit sistem syaraf mega raksasa. kalau dibandingkan dengan sirkut kabel listrik yg saling dihubungkan oleh stasiun2 di seluruh dunia itu belum apa2nya…. hehe

    3. hati/intuisi dan rasio/intelek tidak saling menegasikan…

    4. Anda sekali lagi pelan2 itu konsep mutakhir dalam konsep Islam yg jauh berbeda dengan konsep barat…

    Rasionalitas yang lebih cenderung ke nalar berpikir falsafati…

    Religius/agamis yg lebih cenderung ke intuitif/hati…..

    Sains yg bermetode ilmiah……

    Estetika seni yg cenderung juga ke hati/keindahan….

    etika yg juga cenderung ke hati…. dan masih banyak lagi metode2 cara berpikir dan berzikir….. itu semua tidak akan menegasikan agama yg sebenarnya dari Allah….

    silahkan dipahami dulu konsep kita berpikir berbeda…. tapi sebenarnya adalah bisa sama dan disinergikan, hanya perlu pengakuan nurani…….

  23. Sahabat
    Juli 28, 2009 pukul 1:23 am | #23

    Dear Wawan,

    he…he…
    “berbeda tapi sama”.

    kita punya perbedaan metodologi dalam pemahaman,
    kita masuk dari pintu yang berbeda untuk ruangan yang sama.

    Wawan mengandalkan rasionalitas dalam “pembedahan” memasuki ruang yang sama, walaupun dalam satu ruangan yang bersudut, wawan dan saya memilih sudut yang berbeda.

    Wawan dan saya memiliki subyektifitas,
    Kita saling memberikan “kebenaran” subyektif yang tidak akan mendapatkan titik temu. Namun demikan banyak sekali hal positif yang bisa saya dapatkan.

    Saya mengkritisi Wawan sebagai seorang pemikir, yang cerdik dan sangat tekun. Saya sangat menghargai itu.

    Namun ada yang perlu digaris bawahi,
    Memaparkan pandangan subyektif tentang AGAMA memang bukan hal tabu, namun memberikan perbandingan yang bersumber pada subyektifitas akan membuat orang lupa diri.
    Karena perbandingan yang dilakukan soal “IMAN”, apapun hasil penelusuran rasional TIDAK AKAN MEMBUAT PERUBAHAN APAPUN. Wawan hanya mendapatkan kepuasan diri sendiri (mungkin bersama beberapa teman)

    Rasional dan Iman adalah beda.
    Rasionalkan hal-hal yang memang untuk rasional,
    Imani hal-hal yang menjadi kebutuhan iman.

    Apapun Buku Suci, tidak perlu dirasionalkan (baik kebenaran dan asal usulnya) , hanya buktikan dengan laku, karena BUKU SUCI hanya untuk mengatur KELAKUAN KITA.

    Percaya atau tidak banyak tindakan konyol yang “irrasional” hanya karena merasionalkan BUKU SUCI. Apapun BUKU SUCInya.

    Ada studi SEJARAH KITAB SUCI dalam teologi dan filsafat Katolik. Telaahnya (walaupun subyektif) tidak pernah ada rasionalisasi (wawan sudah paparkan). Skrip sejarah (subyektif) pada dasarnya hanya ingin menempatkan sebagai manusia yang “tahu diri”, dalam laku yang sudah ditentukan Sang Pencipta. TIDAK ada hipotesa “KEBENARAN”

    Saya bukan “PENGAGUM BARAT”, saya orang yang lahir di tanah Jawa, yang penuh dengan tradisi “spiritualitas”.
    Meditasi dalam bentuk apapun setiap hari saya lakukan, hanya untuk mencari kejernihan jiwa, dengan bekal iman tentunya.
    Rasionalisasi yang aku lakukan ada rasionalisasi “LAKU”ku, untuk “tahu diri” dan “sadar diri”
    bukan rasionalisasi “SUMBER”nya

    Disinilah perbedaan kita.
    Ada kesimpulan,Wan?
    Dan aku akan terus berkomentar terhadap apapun tulisan wawan yang merasionalkan selain yang seharusnya.

    Salam mesra dari Allah…..

  24. Juli 29, 2009 pukul 1:17 am | #24

    Salam manis Allah,

    Wawan mengandalkan rasionalitas dalam “pembedahan” memasuki ruang yang sama, walaupun dalam satu ruangan yang bersudut, wawan dan saya memilih sudut yang berbeda.
    ===============================
    Sy tidak mengandalkan rasionalitas untuk mencari kebenaran. Rasionalitas hanya salah satu alat untuk menakar hal2 yg bisa/mesti ditakar dengan rasionalitas.

    Bagi sy intuisi/hati yg positif adalah tetap menjadi alat pengambil kesimpulan untuk menilai, memahami, mengerti, dan percaya.

    tentunya dengan hati yg mempertimbangkan sinergisitas segala metode berpikir yg manusia punya.

    TIDAK ADA BATASAN….!!
    TIDAK ADA DUALISME…..!

    yg ada hanya…

    SINERGISITAS menuju TAUHID MUTLAK……!
    tidak setengah-setengah…..! hehehe

  25. Sahabat
    Juli 31, 2009 pukul 2:08 am | #25

    Dear Wawan,

    Kebenaran Buku Suci adalah sebuah subyektifitas. Pasti.

    Buku Suci adalah berisikan “bahasa Tuhan” yang menerjemahkan adalah hati, bukan “bukan rasionalitas”
    Oleh sebab itu ada yang namanya “tafsir”.

    Bahasa Tuhan dan Hati Nurani seharusnya selaras, Kalau menyimpang itu karena “rasional”, Kalau sudah menyimpang dan harus diluruskan, dan “rasional”-lah yang mendengar suara hati / hati nurani untuk meluruskan.

    TAUHID mutlak seperti apa?

    Ada nilai-nilai untuk “merasa” TAUHID itu mutlak.
    TAUHID yang tanpa pamrih “pahala”?
    TAUHID yang menempatkan diri sebagai “hamba”?
    TAUHID yang menjadikan IMAN sebagai pondasi keyakinan?
    atau
    TAUHID sebagai “laku” yang menyelaraskan hati nurani kita dengan yang di TAUIHD-i.

    Banyak kemutlakan “TAUHID” yang tidak selaras dengan bahasa TUHAN.
    JIHAD dengan pengeboman adalah kemutlakan TAUHID juga.

    TAUHID yang berada dalam kondisi “makrifat” sesuai akidah dan keselarasan suara hati dengan bahasa Tuhan?

    Agar tidak melebar…

    Pengertian TAUHID yang Wawan sampaikan adalah TAUHID yang selaras dengan bahasa Tuhan yang didengar suara hati dan dilakukan berdasarkan rasionalitas yang mendengar suara hati.

    Salam Damai.

  26. Agustus 1, 2009 pukul 5:48 am | #26

    buat Aloy
    salam manis Allah slalu,

    sy boleh tanya nich hal2 dasar aja dulu:

    1. yg dimaksud rasionalitas itu apa sich?
    2. penilaian dngan hati itu apa?
    3. apa beda rasionalitas dengan sains?
    4. rasionalitas dan hati itu ada di mana?
    5. dach itu dulu ntar kepanjangan lalu lari kemana-mana hehe……

  27. Sahabat
    Agustus 3, 2009 pukul 2:26 am | #27

    Dear Wawan,

    Kemampuan menghitung, membaca, menulis lalu menganalisa itu adalah kemampuan rasionalitas. Tiap manusia mempunyai ambang batas rasional yang berbeda-beda. Ada yang kemampuan rasionalnya tinggi, ada yang rendah. Dan saya termasuk orang dengan kemampuan rasional rendah.

    Namun, Tuhan memberikan “hati”, perasaan, intuisi, naluri, yang tidak akan masuk dalam ranah rasionalitas. Kemampuan hati kita , suara hati kita, untuk merasa senang, bahagia, damai, sedih, kecewa, tidak ada dalam kamus rasionalitas. Adakah bahagia atau sedih memakai rasional?
    Hatilah yang merasa, rasionalitas kita sebagai perantara untuk mengekspresikannya, untuk menceritakannya, untuk menganalisanya. Tapi tetap hati yang merasakan.
    Rasional yang logis hanya mengenal “yes” or “no” seperti halnya robot. Tapi pada saat rasional bekerja dengan mendengarkan suara hati, tidak ada “yes”or”no”.
    Wawan sudah jabarkan dalam tulisan “SINERGIKAN HATI DAN DAYA PIKIR KITA”.

    Rasionalitas membantu manusia menempatkan dirinya sebagai makhluk rasionalitas tertinggi. Sain atau “ilmu pengetahuan” seharusnya berkembang berdasarkan “suara hati” memberikan hasil positif, namun banyak hasil dari ilmu pengetahuan yang berkembang dengan “telinga tersumbat” terhadap suara hati, yang akhirnya merusak, membunuh…

    Manusia berpikir “rasional” , adalah otak sebagai instrumennya. Hati atau “jantung” adalah pengendali dan pengolah rasa. Kadang kita tidak menyadari bahwa di jantung kita terdapat proses “berpikir”. Kalau Wawan terkejut, gelisah, takut, senang, penasaran…. dll, jatung kita berdebar-debar. Yang paling simpel kalau terkejut, begitu terkejut, jantung kita berdetak kencang, tanpa melalui proses berpikir otak. Itulah “Rasa”. frekuensi suara hati lebih rendah dibandinkan frekuensi otak.
    Kalau kita berpikir sadar, artinya kita berada dalam kesadaran, “consiuos”, kalau kita berpikir “berdasarkan” rasa, berarti kita berada dalam “subconsiuos”, alam bawah sadar. Inilah yang dikiritisi Kahn dan Sgmd Freud yang sudah mengarah ke kondisi metafisika, alam pikir subconsiuos_nya berada di frekuensi 1 – 1.9 hz. Di sini kekuatan “alam pikir” yang berdasar rasa akan mengakibatkan ke dalam hal-hal irrasional, termasuk TRINITAS. Atau coba baca “secret”, quantum ikhlas, zona ikhlas, dan karya para sufiis, Jalaluddin Rumi, Kahlil Gibran, bahkan Syech Siti Jenar dengan “manunggaling kawula gusti”nya. Mereka kaum sufiis yang sudah memasuki wilayah “emptiness” dan membiarkan suara-suara Tuhan memasuki jiwanya.

    Pointnya,
    Buku Suci adalah berisi suara-suara Tuhan untuk menjadikan manusia hidup lebih baik. Suara Tuhan hanya dapat dipahami dengan HATI bukan OTAK. Kemampuan otak kita dibatasi “dinding rasionalitas” yang hanya mengenal “on/off” dan “yes/no”, dengan penelusuran “seHARUSnya” , Kemampuan OTAK hanya sekitar 5000 – 7000 bit per detik, Kekuatan hati berpikir bisa mencapai 400.000.000.000 bit per detik, dan ini sudah dibuktikan (baca Zona Ikhlas – erbe sentanu, buka portal NLP, Neuro-Linguistic Programming).

    Soal mana yang lebih benar, mana yang bengkok, mana yang tidak tepat soal “BUKU SUCI”, henya menempatkan manusia yang mengKERDILkan iman kita.

    Kalau saya pribadi, seandainya BUKU SUCI yang Tuhan turunkan pertama kali berada terdekat dengan saya, saya akan pilih itu sebagai “dasar iman”. Karena Buku Suci memuat perintah Tuhan, Sabda Tuhan, Wahyu Tuhan. Bahkan larangan-laranganNya.
    Saya ingin jadi orang yang “tahu diri” cukup sekali saja diperingatkan dan dilarang. Tidak perlu hingga berkali-kali, sehingga yang seharusnya cukup dengan kepekaan hati, bukan rasional yang membatasi iman.
    Bagi saya TUHAN-lah sebagai CAUSA PRIMA, sebagai penentu hidup atau mati.

    gitu dulu wan….,
    Salam Damai dalam Allah, Tuhan kita.

  28. Agustus 4, 2009 pukul 5:40 am | #28

    salam manis Allah,

    Manusia berpikir “rasional” , adalah otak sebagai instrumennya. Hati atau “jantung” adalah pengendali dan pengolah rasa. Kadang kita tidak menyadari bahwa di jantung kita terdapat proses “berpikir”.
    =======================

    Inilah yg perlu sedikit dibenarkan.

    1. pengendali Rasionalitas/rasio/intelek/ letaknya ada di dalam otak manusia yg bernama stasiun HIPOCAMPUS… begitu pula …

    2. pengendali Hati/rasa/nurani/intuisi letaknya juga di otak manusia yg bernama stasiun AMIGDALA, bukan di Jantung. Bukan pula di Hati (liver). Jatung hanya mengatur detak nafas. tetapi pengendali hati (amigdala yg di otak) terhubung langsung dengan LIVER (hati/ginjal) dan juga jantung, sebagai respon mekanik atas releksi kerja hati (amigdala) di otak. Detak hati/jantung, rasa berdebar2, sakit, takut dan berkeringat, trance/mabuk, senang, sedih dan lain2 pengendalinya adalah amigdala di otak.

    semua itu, adalah hasil Sains, dan rasionalitas yg sudah terbukti kebenarannya. tidak bisa dibantah lagi. hati kalau sudah tahu itu juga akan membenarkannya.

    Kerja AKAL.

    Akal adalah alat berpikir manusia baik melalui rasio maupun hati. Kerja rasio dan hati adalah mesti sinergis karena ada dalam satu kesatuan sirkuit industri berpikir di otak manusia. Mestinya hasil rasio (melihat, mendengar dan berpikir dgn metode ilmiah) harus sama dengan hasil cara berpikir hati. Memang, hati adalah tempat (terminal) pengambil keputusan secara final, benar-salah, baik-buruk, etis-atau tidak, dan lain sebagainya. tetapi hati harus juga mensinergikan hasil rasio yg telah dihadirkan.

    sinergisitas rasio-hati ini yg disebut Qur’an orang yg berakal sehat. Kalau ada ketimpangan berarti terjadi salah dalam berpikir/berakal.

    Jadi pointnya.
    Kebenaran harus bisa diterima oleh rasio maupun oleh hati, tidak sebaliknya saling menegasikan. Itulah kebenaran yg sebenarnya.

    Hal2 yg bisa dicapai oleh rasionalitas, misalnya SAINS, adalah sebuah kebenaran yg tidak boleh dinafikan oleh hati.

    Ilmu2 sains yg sudah terbukti kebenarannya adalah juga salah satu alat untuk mencari kebenaran. Kebenaran tidak cukup dengan hati saja!!!

    SAINS saat ini sudah mengakui adanya alam ghaib di mana rasionalitas memang tidak bisa menjangkaunya. Rasionalitas memang terbatas. Tetapi bukan berarti harus disingkirkan.

    BUKU SUCI pada dasarnya dan awalnya memang langsung dari Tuhan yg diwahyukan kepada para nabi dan rasul. Tetapi karena kesombongan manusia yg merasa pintar, maka banyak buku suci yg terkotori oleh ke-AKU-an manusia tersebut. Baik secara sengaja atau tidak sengaja manusia telah mengotori buku suci lewat tafsir hatinya….

    SAINS telah menguak ulah2 rohaniawan dan manusia2 yg mengotori buku suci tersebut.

    SAINS memang tidak bisa membahas hal2 yg bersifat obyek non materi, tetapi rasionalitas masih bisa memikirkannya dengan logika. berpikir filosofis, dan juga berpikir religius.

    Akhirnya,
    beriman yg benar adalah sinergitas antara rasionalitas dan hati. ….

    rasionalitas sama sekali tidak membatasi keimanan….!!! tetapi melengkapi keimanan yg ada di hati….. hehehe

  29. Sahabat
    Agustus 4, 2009 pukul 8:11 am | #29

    Dear Wawan,

    Seru ya…..
    he…he…

    Pada titik ini aku tidak akan menganggap kebenaran siapa yang lebih benar, analisa siapa yang lebih akurat… dll

    Namun intinya pada “level” tertentu rasionalitas akan menjebak manusia ke dalam ke-AKU an yang jadi tidak rasional. Itu yang ingin aku hindari

    Dalam perjalanan mendalami “jiwa” dengan hati, aku mencoba “tahu diri” atawa “sadar diri”.
    Barangkali hal ini akan membuat kerendahan hati untuk mendapatkan kedamaian, Rumah Damai yang sedang aku bangun, dalam JIWAku.

    Kalau aku pribadi akhirnya lebih mengandalkan Hati dari pada Rasio, tapi bukan meninggalkan rasionalitas sama sekali, biar bagaimanapun juga jangan boboh-bodoh amat lah….

    he….he…

    ====
    beriman yg benar adalah sinergitas antara rasionalitas dan hati. ….
    =====

    Salam Damai dalam Allah, Tuhan kita.

  30. Sahabat
    Agustus 5, 2009 pukul 7:37 am | #30

    Dear Wawan,

    Aku kelupaan nih, kemarin ngejawabnya sambil ngobrol soalnya.
    Soal Alpha dan Omega… Awal dan Akhir.

    Apa yang membuat / menyebabkan Buku Suci sehingga ada, Jabur, Taurat, Injil, Al Quran ?

    Siapa yang memilah-milah, padahal, ada kemiripan, kalau sama pastinya tidak.

    Yang ada versi, bukan begitu?

    Kenapa ada yang harus diluruskan, kan semua juga datangnya dari Tuhan?

    Kalau “dirasionalkan”, Tuhan kan bukan “wujud” yang dapat diwujudkan.
    Apa pengertian Al Quran turun langsung dari Tuhan?

    Kalau Wawan mati, milih mana Surga atau Neraka?

    Trus Neraka itu apa?
    Surga itu apa?
    Tempatkah? Seperti “rasional”nya bahasa badan (fana) ?

    Kebenaran-kebenaran yang menjawabnya tentunya bukan rasionalisasi “wujud”.
    Tetap sebuah kata “faith” yang membuat jawaban, dan itu bukan rasional.

    Saya sebagai non muslim, yang bukan seorang islam, akan mengatakan. Kebenaran melalui pintu rasional menyebut AL Quran, adalah hal yang sudah semestinya.
    Tidak ada artinya kalau tidak menunjukan kebenaran rasionalnya. Jadi menurutku diskusi kita bukan pada esensi isi tulisannya sebagai subyek. Hanya menempatkan kerasionalan di tempat yang semestinya.

    Akupun menyadari, biarlah sebagai sebuah pendapat yang akan mengisi peta dunia kita.

    Terima kasih sahabat,
    Aku akan menemanimu selalu bercengkerama dalam perbedaan.
    Maafkan tulisan-tulisanku yang mungkin menyakitkan dalam bertutur bahasanya

    Salam Damai Dalam Allah Tuhan Kita.

  31. Agustus 6, 2009 pukul 8:38 am | #31

    salam manis Allah,

    Hahahaha……
    sahabat Aloy, trims s-X slalu menemani…

    ternyata banyak bukan pertanyaan2 yg blom bisa kita jawab? hehe….
    Tu itu seblom kita dimatikan Allah, setidaknya sekuat tenaga dan pikir mari kita bersama mencari “kebenaran yg sejati” walaupun mungkin kebenaran itu sebagian tlah kita pegang, tetapi siapa tahu diluar sana ada kebenaran yg akan melengkapi keyakinan kita scr pribadi. Jangan mememandang orangtua kita, sahabat2, teman2 seiman atau apapun, jabatan, pangkat dll. Namun, individu/pribadi kita adalah tanggungjawab kita sendiri ….

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (17:36)

    ============================
    Apa yang membuat / menyebabkan Buku Suci sehingga ada, Jabur, Taurat, Injil, Al Quran ?
    ============================
    Tiap2 umat manusia hidup dalam rentang waktu yg panjang dan di sana perkembangan peradaban yg selalu meningkat maju, Allah sebagai Tuhan sbg pengatur Tunggal alam semesta ini mesti membuat rencana2 yg mesti juga disesuaikan dengan kondisi konekstualnya pd waktu itu….

    Karena manusia itu sombong, lemah dan mau seenaknya sendiri diturunkanlah nabi2 dan kitab2 suci….

    ============================
    Siapa yang memilah-milah, padahal, ada kemiripan, kalau sama pastinya tidak.
    Yang ada versi, bukan begitu?
    ============================
    Kitab suci diturunkan kpd nabi2 tentu disesuaikan dgn jamannya. Jabur, Taurat, Injil dan Qur’an adalah rentetan kitab suci yg dikabarkan Tuhan tlah diberikan kpd manusia sesuai jamannya tu pengingat manusia ke jalan yg lurus.

    Isi kitab suci detailnya pasti berbeda, Allah sendiri redaksinya, yg memilah2 ada jabur, taurat dan Injil juga Allah sendiri…. khan harus disesuaikan jaman.
    Jabur bagaimana bentu dan isinya kita tdk tahu…
    taurat ada ten komandemen..
    Injil ada perjanjian lama-baru ada puluhan versi
    dan Qur’an yg hanya satu versi, versi Ustmani
    adalah kitab suci yg disesuaikan jaman.

    Tetapi, INTI isinya hanya SATU beribadahlah dan sembahlah TUHAN yg ESA satu…

    =========================
    Kenapa ada yang harus diluruskan, kan semua juga datangnya dari Tuhan?
    =========================

    Manusia itu nakal, dan sok pintar, maka banyak kitab suci yg diubah2 sekehendaknya, ditambahi, dihilangkan, disisipi, disembunyikan dll, contoh nyata adalah yg tlah terjadi pada Injil. Untuk itu kitab suci Tuhan yg terakhir Qur’an adalah memang diturunkan untuk menggenapinya dan meluruskannya… Sebab, Allah tlah menuntaskan ajarannya kpd manusia lewat nabi2 dan rasul2 beserta kitab sucinya…

    ==========================
    Kalau “dirasionalkan”, Tuhan kan bukan “wujud” yang dapat diwujudkan.
    Apa pengertian Al Quran turun langsung dari Tuhan?
    ==========================
    Betul sekali, kalau “dirasionalkan”, Tuhan bukanlah “wujud” yang dapat diwujudkan…. itulah konsep TAUHID, La kamslihihi saiun…(Tiada wujud apapun yang menyamaiNYA)…
    Allahu AHAD (Allah itu ESA)
    Allah tiada yg menyamai-NYA
    Tiada beranak dan diperanakkan
    Alfa dan Omega….

    Maksud turun langsung dari Allah, adalah dalam salah satu versi kabar, Qur’an dalam wujud isi yg penuh diturunkan langsung kpd Muhammad, tetapi masih tertahan di sebuah langit tertentu…. kemudian oleh malaikat Jibril diturunkan secara berangsur-angsur sesuai asbabun-nuzulnya….

    ========================
    Kalau Wawan mati, milih mana Surga atau Neraka?

    Trus Neraka itu apa?
    Surga itu apa?
    Tempatkah? Seperti “rasional”nya bahasa badan (fana) ?
    ========================
    Kala mati tentu milih Surga….
    Neraka adalah tempat manusia diadili segala dosanya…
    Surga adalah tempat manusia diberi ganjaran kebaikan….
    Saya percaya Syurga dan Neraka adalah sebuah wujud tempat atau dimensi ruang tertentu yg diciptakan Allah di hari pembalasan…..

    =====================
    Kebenaran-kebenaran yang menjawabnya tentunya bukan rasionalisasi “wujud”.
    Tetap sebuah kata “faith” yang membuat jawaban, dan itu bukan rasional.
    =====================
    betul sekali….
    tetapi kita masih bisa berpikir logis dan filosofis bahwa itu semua bisa dibenarkan secara logika, sebab materi yg kita pikirkan adalah wujud (nabi2, rasul2 dan kitab2 suci)…..

    ===========================
    Saya sebagai non muslim, yang bukan seorang islam, akan mengatakan. Kebenaran melalui pintu rasional menyebut AL Quran, adalah hal yang sudah semestinya.
    Tidak ada artinya kalau tidak menunjukan kebenaran rasionalnya. Jadi menurutku diskusi kita bukan pada esensi isi tulisannya sebagai subyek. Hanya menempatkan kerasionalan di tempat yang semestinya.

    Akupun menyadari, biarlah sebagai sebuah pendapat yang akan mengisi peta dunia kita.

    Terima kasih sahabat,
    Aku akan menemanimu selalu bercengkerama dalam perbedaan.
    Maafkan tulisan-tulisanku yang mungkin menyakitkan dalam bertutur bahasanya
    ===========================
    Trim allways friends….
    Jangan ragu, sebenarnya sahabat sudah “Muslim”….. hehe…

  32. Sahabat
    Agustus 7, 2009 pukul 2:27 am | #32

    Dear Wawan,

    Terima kasih atas semua yang positif.

    Ada beberapa poin yang sama dalam berkesimpulan, Namun ada yang tidak juga.
    Yaitu, “THE WAY”, cara pemahaman.

    Apapun kalimatnya, Tuhan, Allah, God, atau apapun sebutannya yang mendifinisikan BELIAU, adalah sebuah “infiniti” bagi dinding rasional.

    Kalau Wawan berpendapat stasiun rasional dan logikal adalah HIPOCAMPUS, sedangkan AMIGDALA sebagai stasiun rasa, hati, naluri yang ada dalam susunan Otak, itu benar.

    Ada materi yang diproses langsung di HIPOCAMPUS yaitu yang jangka pendek, yang (karena) rasional dan logis untuk di eksekusi dalam laku.
    Ada materi yang tidak bisa secara langsung diproses di stasiun HIPOCAMPUS yang memiliki keterbatasan, dengan kecepatannya AMIGDALA mengambil alih. Data-datanya berupa “rasa” bukan “rumus logika”, termasuk respon reflek organ tubuh kita. Rasa itu sendiri berasal dari analisa “hati” (heart atau jantung), Data yang terkirim ke AMIGDALA, bersinergi dengan HIPOCAMPUS untuk mengeksekusi “laku”.

    Mampu merasakan “nikmat” dari Tuhan karena ada syukur, adalah “rasa”. bukan logika, Karena NIKMAT yang diartikan RAHMAT bukanlah logica, matematika, sebab akibat dan lain-lain.
    Sinergitas AMIGALA dan HIPOCAMPUS menentukan kita untuk bersikap… “laku” dalam pikiran, ucapan dan perbuatan.
    NIKMAT atau RAHMAT, hanya bisa dipahami dengan “hati” yang akan menentukan “posisi jiwa”, yang hanya bisa dipahami juga dalam “subconsious” alam bawah sadar.

    Dalam “dunia wujud” AMIGALA dan HIPOCAMPUS sebagi pengendali, pengambil keputuan, “harus dengan sadar”
    Oleh karena itu muncul sikap “sadar diri” atau “tahu diri”

    Semua “proses akhir untuk sebuah keputusan” adalah rasional, yang irrasional adalah penyebab dan akibatnya.
    Sehingga banyak motifator menyebut “jadilah penyebab” bukan”penerima akibat”. Menyebabkan sesuatu yang besar akan dituntut tanggung jawab yang besar pula, Direktur beda gajinya dengan OB.

    Subconsious tidak relevan untuk di proses di HIPOCAMPUS, ada “METAFISIKA”/ GAIB yang hanya dipahami oleh AMIGDALA dengan data dari “proses berpikir jantung / hati”

    Spetir ynag saay keitk iin aldaah porses ygan aad dalma AMIGDALA,

    HIPOCAPUS tidak dapat mengartikannya karena tidak ada data (dictionary) yang mengartikannya.
    Pikiran bawah sadar secara spontan bersinergi dengan kesadaran sehingga kita dapat paham maksudnya.AMIGDALA yang memproses. Ini soal “rasa” yang diungkapkan ke logika secara teori, bukan ekspresi.

    Ada ANTITHEORY,
    Saya ga perduli pendapat apapun tentang surga atau neraka. (safety living) Berbuat positif untuk diri sendiri dan orang lain bagi saya bukan bekal untuk mati, tapi bekal untuk hidup. Hidup dengan selamat.
    Saya tidak melihat surga dan neraka sebagai sebuah “wujud tempat” Karena SURGA DAN NERAKA bukan untuk diterjemahkan dengan rasional, bukan “BAHASA HIDUP” karena selagi kita hidup kita hanya “membayangkan”, melihatnya setelah kita “MATI”.
    Membayangkan adalah kerja AMIGDALA yang terpengaruh oleh HIPOCAMPUS, sebuah kondisi yang “secara rasional” sebagai sesuatu yang rasional mengenai rasa. Padahal rasa bukan untuk dirasionalkan.
    Justru yang aneh adalah PAHALA yang dirasionalkan seperti “VOUCHER” belanja sebagai point reward.

    BERBUAT POSITIF untuk mendapatkan PAHALA untuk SURGA, buat saya LUCU. berbuat sesuatu untuk sesuatu yang keputusannya bukan ditangan kita, silly!
    Berbuat positif untuk hidup positif lebih realistis dan RASIONAL.

    Bilangan angka umur kita seperti bilangan halaman buka yang sedang dibaca, hanya kita tidak tahu sampai halaman berapa buku akan selesai bercerita. Ceritanya adalah laku kita, perbuatan kita pemaknaan hidup kita.
    Tergantung “laku”nya mau dilaksanakan secara positif atau negatif,
    Kalau yang indah dan menyenangkan untuk diceritakan, paling tidak dia (yang mati) mendapatkan SURGA dengan bahasa hidup, kalau ceritanya buruk atau negatif yan yang mati mendapatkan NERAKAnya.
    Simpelkan?! tidak perlu membayangkan hal yang menyenangkan atau hal yang mengerikan Karena RASIONALITAS membatasi iman akhirnya menjadi KERDIL yang hanya bisa dengan difinisi “MEMBAYANGKAN WUJUD”

    ALPHA dan OMEGA, adalah AWAL dan AKHIR.
    Awal sebagai CAUSA PRIMA , penyebab utama.
    Akhir sebagai pemaknaan HIDUP yang fana.
    Alpha adalah huruf awal YUNANI,
    Omega adalah huruf akhirnya.

    Saya tidak pernah mempermasalahkan “kebenaran” versi apapun. Karena ada banyak “peta dunia”.
    Hanya yang memiliki “peta dunia” yang lebih luas yang bisa melihat seberapa besar / luas nilai kebenarannya.

    APAPUN VERSINYA SOAL BUKU SUCI, selama itu berasal dari TUHAN buat saya SEMUANYA BENAR. hanya RASIONAL yang terbatas sehingga IMAN JADI KERDIL hanya tahu BATAS TEMPURUNG RASIONALNYA saja.
    Cukup dengan pemahaman dan terjemahan ALPHA dan OMEGA yang sesuai dengan makna rasional yang sebenarnya.

    Wan,
    ini adalah Antitheory, dan saya menempatkan diri dalam antitheory.
    Ini hanya “sebuah cara pandang dan berpikir” tp kita tetap dalam ruangan yang sama…
    he…he…

    Seru ya!

    Salam Damai dalam Allah Tuhan kita.

  33. Agustus 9, 2009 pukul 5:40 am | #33

    Seorang pluralis biasanya tidak suka hal2 yg protokoler. Hal2 yg detail, yg rumit, dan ritual keagamaan. Mereka yg lebih dipentingkan adalah isi, dan substansinya….

    sebuah kriitik buat seorang pluralis…
    1. apakah anda tidak perlu pakaian?
    2. tidak perlukah anda tangan, kaki, mata, telinga, rambut, kulit, hidung dll?
    3. Tuhan Allah adalah mengatur setiap hal yg sangat kecil spt jatuhnya selembar daun di belantara rimba, sampai meledaknya sebuah bintang di sebuah galaksi….
    4. Jadi, kebenaran perlu total wujud yg sempurna. tidak hanya isi saja tetapi juga segala luarannya…

    jadi, reward pahala, syurga dan neraka, sakrament, sholat dll adalah sama pentingnya dengan substansi keimanan anda…

    sebuah identitas harus total, tidak sepotong-sepotong.
    Jangan mengambil yg disukai saja…. hehe

  34. Sahabat
    Agustus 10, 2009 pukul 1:33 am | #34

    Dear Wawan,

    He…he…
    Namanya juga Pluralis, Sekuler, Humanis……

    Generalisasi memang penting,
    men”generalisasi” seseorang berdasarkan kehendaknya sendiri merupakan ketidak-berdayaan orang tersebut meng”eksistensi”kan atau memberadakan dirinya dalam pergaulan.
    Biasanya orang seperti ini ingin tampil superior.

    Kalau aku setuju banget dan sependapat dengan tiga pertanyaan yang Wawan sampaikan,

    Tapi pertanyaannya buat Wawan yang jawab sendiri.
    (Walaupun Wawan bukan pluralis)

    Itulah sebenarnya keadaan Wawan.
    Wawan telah bercermin melalui pertanyaan itu.

    Cobalah tengok ke dalam jiwa Wawan sendiri, melalui HATI bukan RASIONAL.

    Ada Clue :
    Kita akan jadi KATAK kalau kita memakai rasional terus. Apalagi kalau itu menyangkut BAHASA TUHAN, BAHASA ILLAHI, yang sudah tertuang dalam BUKU SUCI, apapun BUKU SUCInya.

    Untuk no. 4 :
    RASIONAL untuk RASIONAL,
    HATI untuk HATI
    BAHASA TUHAN ( dalam BUKU SUCI) bukan untuk dirasionalkan apalagi dicari-cari kebenarannya (subyektif)

    (HATI + RASIONAL) x LAKU = IMAN

    ((HATI + RASIONAL) X LAKU ) + KUALITAS = IMAN (juga)

    pilihannya hanya 2 RUMUS HIDUP berIMAN.

    Hablum minan nash Hablum minallah.

    Yang menarik untuk disimak,
    Semua orang yang “sadar diri” atau “tahu diri” tidak setuju dengan ledakan bom bunuh diri teroris.
    Apalagi mengatas-namakan ISLAM,
    Aku tetap “membela keberadaan Islam” dalam jiwa dan pikiranku.
    Islam rahmatan lil alamin. That’s it!
    NO terrors,
    NO Killings,
    NO Provocations.

    Tapi Karena LAKU yang tidak pakai HATI sebagai prosesor jiwa, ya begitu itu. “Hablum minallah.” yang kebablasan karena IMANnya KERDIL.

    Metodologi yang Wawan gunakan untuk berdialog lintas agama dengan menyajikan “superioritas Wawan” menggali kebenaran RASIONAL menyuburkan “Hablum minallah.” yang kebablasan .

    Aku pernah bilang, “KALAU SUDAH BEDA ya BEDA AJA”,
    kenapa harus tampil PEMBEDA lagi??

    Kalau aku lebih setuju tulisan “SINERGIKAN HATI DAN DAYA PIKIR KITA”, lalu dari Agama Seberang digali keselarasannya.
    Ini lebih elegan, lebih dihargai…
    Kalau belum mampu sekarang ya tunda dulu….

    Seperti TRINITAS, kalau masuk ke dalam dan berusaha memahami Dogma TRINITAS sampai kapan pun tidak ketemu. karena itu Dogma Iman Katolik, Wawan kan bukan Katolik!

    Tapi gali dan kaji “LAKU” orang-orang Katolik kenapa Dogma TRINITAS begitu merasuk ke dalam keimannya.

    Gitu Wan…..he…he….
    Jangan Marah ya…..

    Salam Damai dalam Allah Tuhan kita

  35. Agustus 11, 2009 pukul 7:28 am | #35

    Salam manis Allah,

    hahaha….
    hati selalu dijadikan tameng tuk sebuah kebenaran yg subyektif….???

    memang sangat benar rasionalitas bukan segala-galanya… sy juga 100% setuju.

    Buku Suci itu adalah obyek materi/wujud, kalau dari Tuhan beneran harus tidak boleh kalah telak dikritisi oleh rasionalitas…. Tuhan adalah Maha Benar….

    dan kalau hati dijadikan tembok tu menghadang kritikkan, itu adalah spt orang awam/bodoh/tidak tahu apa2… apologik, fanatik/ortodok dll hehe…

    oke dech,…. kalau boleh bertanya lg seperti apa tuh metode berpikir dengan hati ….??? jelaskan sedetailnya biar sy lebih mengerti hehehe…

  36. Sahabat
    Agustus 11, 2009 pukul 10:38 am | #36

    Dear Wawan,

    Hee…He…
    Subyektif kan rasionalitas….

    Pada dasarnya aku setuju dan sepakat, dengan perjalanan diskusi kita. Aku menempatkan diri pd pijakan antitheory, teotri kebalikan, walaupun tetap sepakat, hanya THE WAY nya. Itu PRLURALIS, yang SEKULAR, dan cukup rasional sebagai HUMAN, HUMANIS. Tapi Tetap ada IMAN,

    Metodologinya kan udah jelas!
    KALAU UDAH BEDA ya BEDA AJA.
    Kalau Wawan mengadakan PERBANDINGAN, KRITIK, atau MENAJAMKAN PERBEDAAN.
    Ini bukan suatu hal yang MENDIDIK.
    Kalau mau yang membangun, kaji dan gali, KESAMAANNYA dalam LAKU,
    Bahwa berZINAH itu dosa!
    Muslimah berjilbab, kenapa?? lalu bagaimana sikap Katolik dalam mengkritisi “ETIKA” (rasa/”HATI”) dengan busana. dll…dll…
    LEBIH RASIONAL kan ??!!

    Yang Wawan kerjakan dengan PERBANDINGAN atau KRITIKAN terhadap Keimanan yang BUKAN Wawan imani,
    Bukankah itu merupakan sebuah pekerjaan yang sia-sia, mengada-ada?
    Secara “ISI” aku ga masalah aku tahu Wawan cukup PROPOSIONAL.
    Aku mengkritisi “Kenapa Wawan harus melakukan itu?”
    Aku pancing dengan “protes” dan kritik balik,
    Nah, di sini apa yang melatar belakangi Wawan jadi semakin kelihatan,

    Bagaimana “SIKAP HATI” Wawan memandang Non Muslim sebagai “UMAT ALLAH NO. DUA, TIGA, EMPAT…dst”
    Bahwa MUSLIM adalah umat “NOMER WAHID”. Yang Non Muslim udah “bengkok” Begitu kan??

    Berlindung dengan “hati” boleh saja dikatakan sebagai
    [itu adalah] spt orang awam/bodoh/tidak tahu apa2… apologik, fanatik/ortodok .
    Ga pa apa…
    Tapi Wawan tentunya tahu kalau kemampuan “hati” / RASA jauh lebih “CERDAS” dibanding rasional?

    IMAN adalah BAHASA HATI , BUKAN LOGIKA,
    PERCAYA [dan hanya menuhankan] AKAN ALLAH adalah BAHASA HATI, bukan BAHASA LOGIKA.

    Apa yang salah “kalau hati dijadikan tembok tu menghadang kritikkan”?? Karena ternyata HATI jauh lebih “CERDAS”??
    BAHASA BUKU SUCI (apapun itu) adalah BAHASA ALLAH,
    yang hanya bisa dipahami dengan HATI, LOGIKA hanya merespons saja tidak mampu memPROSES.

    Wawan mencintai keluarga, kerja banting tulang, berkorban apapun demi keluarga, karena proses berpikir HATI
    LOGIKA hanya merespons hasil dari pemikiran HATI, tidak ada “bendahara” dalam proses berpikir “HATI”. karena “JUJUR” dan Super CERDAS.

    Buka ZONA IKHLAS, MESTAKUNG, NLP, QUANTUM IKHLAS, QUANTUM HIPNOSIS… dan yang ada kaitannya dengan “SUBCONSIOUS”. Jantung/heart (hati) memiliki frekuensi berpikir seperti halnya OTAK.
    Ini REAL,NYATA, SAINS, bukan ilmu yang bombastis.

    Contoh simple “NIAT” dan “INGIN” makna dan artinya sama yang berarti “hendak” atau “akan”.
    Tapi “NIAT” bersasal dari HATI,
    Dan “INGIN ” berasal dari “RASIONAL”
    Coba rasakan dan telusuri rasa “NIAT” dan “INGIN”.

    “saya berniat membantu”

    dengan

    “saya ingin membantu”

    bisakah merasakan bedanya? mana kalimat yang punya arti lebih dalam?

    Gitu dulu yo Wan,
    Suk tak sambung maneh, aku arep njemput anakku kuliah “gek ospek” hari kedua. Brkt jam setengah papat isuk mau, mesaake aku omahe bekasi anakku nang semanggi (atmajaya)

    Salam Damai dalam Allah Tuhan kita.

  37. Oktober 26, 2009 pukul 2:35 pm | #37

    Kiamat udah mau tiba… bertobatlah…

  1. Belum ada trackback.