PETA POLITIK di RI SEBENARNYA, dan PEMILU 2009

PETA POLITIK SEBENARNYA
Gus Dur kala digembosi dan akhirnya didepak dari kursi presiden RI pernah berucap kalimat: “HMI Connection”, sebenarnya apa sich yang terjadi pada waktu itu, sebelumnya, dan akhir politik 2009 nanti? Peta politik Indonesia under ground “mungkin” dibagi dalam kelompok sbb:
1. Nasionalis: mantan Golkar + ABRI, Nasionalis PDIP dan non muslim
2. Islam dalam HMI conections (merata disemua partai GOLKAR, PPP, PBB, PKB, PAN, dll)
3. Kekuatan ABRI
4. Islam pinggiran (NU, kubu Gus Dur)
Kala Suharto dijatuhkan seluruh kelompok itu beramai2 ikut menjatuhkan, tetapi dengan gesit kelompok Islam yang kala itu lebih dekat dengan Suharto dapat mengamankan lengsernya kekuasaan dan otomatis Habibie yang jadi wapres menjadi Presiden. Habibie (didukung ICMI + Islam dalam HMI connection) dapat berkuasa tapi hanya sebentar. Kubu Nasionalis + non muslim (PDIP ) yang kala itu dengan terpinggirkan tetapi karena kemudian didukung oleh kelompok ABRI dan Nasionalis murni dari GOLKAR yang tersingkir oleh infiltrasi Islam HMI connections yang kemudian berbondong2 ke PDIP, sehingga PDIP menggelembung kekauatan politiknya berusaha merorong kekuasaan Habibie. Dan akhirnya berhasil mempercepat Pemilu. Kelompok mantan Golkar dan ABRI yang kemarin menjadi kru Suharto (dalam Golkar) yang berkuasa kebanyakan lari ke PDIP dan sebagian masih bercokol di Golkar sangat mempengaruhi kekuatan2 politik yang ada.
Dalam pemilu 1999, riuh rendahnya pemilu di parlemen MPR RI dalam menentukan Presiden RI lagi2 kubu PDIP kalah dengan koalisi Islam dan Gus Dur jadilah Presiden RI. Karena ulah Gus Dur yang mengecewakan koalisi Islam dan kubu PDIP yang melihat peluang untuk menjatuhkan Gus Dur tentu ikut berperan dalam mendepak Gus Dur dari kursi Presidennya. Maka lagi2 jadilah wapres Megawati mengambil alih kekuasaan tetapi kekuatan Megawati dapat besar karena didukung juga kelompok koalisi Islam yang kecewa Gus Dur, jadi dalam kekuasaan Megawati kala itu terjadi pembagian kekuatan politik antara Nasionalis (PDIP) dan koalisi Islam.
Dalam pemilu 2004, karena kekuatan koalisi Islam dalam HMI connections sangat kuat maka Megawati gagal menjadi Presiden dengan kekalahan tipis dalam pemilihan presiden secara langsung yang pertama kali di republik ini. SBY+ Kalla menjadi Presiden dan Wapres RI. Lagi2 PDIP gagal sehingga intropeksi dan memilih menjadi oposisi dan tidak mau menerima tawaran kursi kekuasaan di eksekutif.
Besok, dalam pemilu 2009 apa yang akan terjadi?
1. Kekuatan PDIP yang sudah konsolidasi partai cukup menggetarkan?
2. Koalisi Islam HMI conections masikah kuat?
3. ABRI lebih condong kemana?
4. Rakyat yang berkuasa memilih?
Peta politik yg terjadi di atas dalam pemilu 2009 ini masih bisa dipakai untuk memprediksi dan melihat percaturan politik di negeri ini.
Prediksi sy yang berpendapat koalisi Islam + (koalisi Islam HMI koneksen + partai Islam dan ormas Islam) akan diteruskan oleh Koalisi pemerintahan SBY-JK ternyata berantakan…
JK (golkar keluar dr koalisi) karena tidak adanya kebersamaan antara SBY-JK, yg berarti koalisi tdk menghasilkan pemerintahan yg stabil dan komitmen berkelanjutan.
Memang di sayangkan retaknya koalisi kemarin. trus terang Umat yang akan dirugikan dengan retaknya SBY-JK. Lebih2 pasangan SBY dipilih Budiono yg bukan representase aktifis “Islam”, paling tidak cukup menyakitkan posisi kelompok Muslim di koalisi Demokrat.
Tapi, untuk itung2ngan, karena prediksi pemenang pemilu adalah mayoritas SBY, walau diposisikan marginal umat Islam mesti harus tetap mengawal koalisi SBY di Partai Demokrat. PPP, PAN, PKS, dan PKB sudah melakukan langkah tepat untuk tetap mendukung SBY walaupun sakit.
Kenyataannya bargaining tokoh2 politik “Muslim” masih lemah….
tetapi jangan khawatir bargaining di parlement, umat muslin dan koalisi “Islam, HMI koneksen, IMM, PMII, KAMMI dan ormas2 Islam masih sangat kuat… klo mau dipergunakan esok dengan sebaik2nya guna membangun bangsa ini. Dan membuktikan bahwa tokoh aktifis Muslim layak menjadi Presiden RI kelak… Insyaallah..






Dear Mas Wawan,
Mas Wawan yang hebat,
Sepertinya cita-cita masyarakat “muslim” di Indonesia sudah terwakilkan dengan pola pemetaan Mas Wawan di
uraian ini.
Hanya,…. ada hal yang harus sangat-sangat di perhatikan.
Yang pertama, masyarakat muslim juga sangat “plural” dan belum ada yang mampu mewakilkan secara “unversalitas
Islam ” dalam kalangan muslim sendiri. (item 2 dan 4)
Yang kedua meletakan persoalan politik dan agama seolah olah akan mudah, tapi di dalamnya masing-masing terdapat permasalahan “fundamental” yang juga tidak dapat dikesampingkan begitu saja.
Yang ketiga tokok tokoh Islam dalam mengelola konflik tidak semuanya “cerdas”, jadi sering malah menjadikan interest konflik yang sebenarnya “ecek-ecek”
Apabila seorang Gus Dur, menjadi batu sandungan “hasrat” para tokoh-tokoh Islam , terlihat sangat jelas, dan pemikiran-pemikiran Gus Dur dianggap sebagai “neko-neko” atau “nyentrik”. sebenarnya tampak sekali tidak adanya sebuah komitmen dalam memperjuangkan “eksistensi” Islam dalam kancah politik Indonesia. Karena bagaimanpun juga sosok Gus Dur adalah sebagai tokoh dari masyarakat Islam.
Menurutku ketiga hal itulah yang membuat bergaining tokoh muslim menjadi lemah.Karena masing masing golongan dalam masyarakat muslim juga pada “narsis”, alias pengen tampil….
yang bisa saja terjadi …
bagaimana jika tiba2 Megawati jadi presiden?
Apakah semua analisis dan pemikiran politik kalangan muslim akan porak poranda….???
kita lihat nanti.
salam seratus kali lebih hangat dari sebelumnya.