Beranda > Islam rahmatan lil alamin > ARAHKAN DAYA PIKIR MENCARI KEBENARAN

ARAHKAN DAYA PIKIR MENCARI KEBENARAN

ARAHKAN DAYA PIKIR MENCARI KEBENARAN
Essay oleh Wawan Kardiyanto

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanimagesya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (17:36)

Kebanyakan orang tidak pernah menggunakan daya pikirnya, sekali pun untuk merenungkan dan mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri. Siapa aku sebenarnya? Sebenarnya kenapa aku hidup? Apa tujuan hidup sebenarnya? Dan bagaimana aku hidup yang benar? Pertanyaan-pertanyaan itu cukup “sederhana”. Karena “sederhananya” orang menjadi lupa dan sering kelihatan tolol dan lucu tatkala membicarakannya. Dan kadang kita merasa malu untuk menjawabnya. Sebab, ternyata persoalan yang muncul dari pertanyaan “sederhana” itu lebih dalam dan rumit daripada jawaban yang diharapkan. Jawaban rumit tersebut berlaku juga untuk pertanyaan, Sudahkah aku memeluk agama yang benar? Sebenarnya agama mana yang benar itu? Apakah semua agama itu sama?

Bingung, tentu itu pikiran yang terlintas di dalam otak dan hati kita. Sebab, kita tidak terbiasa dengan pertanyaan dan persoalan yang demikian. Padahal jawaban atas pertanyaan itu adalah hakekat hidup kita. Maaf, kebanyakan manusia perjalanan hidupnya seperti layaknya seekor binatang, yaitu mereka hidup sepertinya hanya untuk lahir, bekerja mencari makan, kawin, beranak dan mati. Sepertinya mereka tidak pernah memikirkan arti hidup. Artinya, mereka belum mengarahkan daya pikirnya untuk mencari kebenaran.

Tentu kita semua tidak ingin seperti demikian. Kita sesungguhnya telah diciptakan menjadi manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (sempurna) oleh Tuhan dan kita kemudian tidak ingin dikembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). (QS. 95:4-5) Allah juga berfirman: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam itu), kebanyakan dan jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih rendah lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raaf 179)

Kembali kepada perumpamaan binatang. Contohnya ayam, ia hidup hanya sekedar untuk lahir, makan, kawin, beranak dan mati. Apakah kita manusia ingin hanya sekedar untuk itu. Lalu apa gunanya kita diberi daya pikir (akal) dan hati. Seekor binatang wajar ia hidup seperti itu sebab ia tidak berakal dan berhati. Tetapi manusia, ia akan lebih rendah dari binatang tatkala ia tidak mempergunakan daya pikir (akal) dan hatinya untuk mengenal, memahami dan melaksanakan hakekat hidupnya.
Selanjutnya, dimanakah kebenaran hakekat hidup itu? Melalui jalan apa? Melalui agama apa? Apakah semua agama itu sama dan benar

APAKAH SEMUA AGAMA ITU SAMA?
Hans Kung seorang teolog Katolik, dalam Theology for the Third Millennium, 230-237. Bdk. Hans Kung, “Towards an Ecumenical Theology of Religions: Some These for Clarifcation” dalam Conciliun 183 (1986), 119s dalam Dialog: Cara Baru Beragama, St, Sunardi, mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan melontarkan empat (4) kemungkinan kebenarannya. Kung menunjuk empat kemungkinan pendirian itu terhadap keanekaragaman agama-agama dunia.

Pertama, tak ada satu agama pun yang benar (atau Semua agama sama-sama tidak benar); kedua, hanya ada satu agama yang benar (atau Semua agama lainnya tidak benar); ketiga, hanya ada satu agama yang benar dalam arti semua agama lainnya mengambil bagian dalam kebenaran agama yang satu itu, dan keempat, setiap agama adalah benar (atau Semua agama “sama-sama” benar).
Pendirian pertama (Tak ada satu agama pun yang benar), yang bercorak ateistik (tidak percaya adanya Tuhan), tentu saja tidak pernah terjadi di antara orang-orang yang beragama. Pendirian ini dianut oleh mereka yang memandang agama sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Feuerbach menunjuk esensi agama terletak pada manusia; agama merupakan proyeksi manusia yang sama sekali bersifat jasmani (ateisme antropologis); Marx menyebutnya sebagai ideologi kaum borjuis (pengusaha), agama itu candu bagi masyarakat (ateisme sosio-politis); Freud menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak riil, fungsinya bertentangan dengan cara hidup yang wajar dan manusiawi. Kalau orang mau hidup secara benar-benar manusiawi, orang harus menyingkirkan agama dari setiap cara mereka berfikir, berperilaku dan bertindak. Posisi yang paling radikal diajukan oleh F. Nietzsche yang mengaku telah “membunuh Tuhan”. Demikianlah dia menyatakan “Tuhan sudah mati” (nihilisme) dan mengusulkan kembali mengevaluasi seluruh nilai. Dalam teologinya, Kung selalu memperhitungkan posisi ini sebagai fungsi kritis yang tak bisa diabaikan begitu saja oleh agama. Gema kritik mereka akan selalu relevan sepanjang sejarah, walaupun perspektifnya berubah-ubah sesuai dengan perkembangan jamannya.

Kedua adalah pendirian absolutis yang menyatakan bahwa hanya ada satu agama yang benar, sedangkan agama-agama lainnya tidak benar atau palsu. Ini berarti bahwa agama-agama lainnya tidak menjamin keselamatan para pemeluknya. Oleh karena itu, semua pemeluk agama lain harus “dibaiat atau ditobatkan” ke satu-satunya agama yang benar itu. Dalam sejarah Gereja pendirian semacam itu pernah dianut seperti tampak dalam ungkapan: Extra ecclessiam nulla salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan). Berhadapan dengan Islam, misalnya, Gereja tidak mengakuinya sebagai agama. Muhammad Rasulullah tidak hanya tidak diakui sebagai utusan Allah, tetapi bahkan dicap sebagai utusan Setan. (Gullio Basetti-Sani, Koran in the Ligh of Chritianity, 1977, hal. 11) Sikap seperti ini telah memberikan corak suram dalam sejarah hubungan antar agama Kristen dan Islam yang pada dasarnya bersumber pada satu tradisi iman Ibrahim.

Pendapat ketiga yang berpendirian bahwa hanya ada satu agama yang benar dalam arti semua agama lainnya mengambil bagian dalam kebenaran agama yang satu itu sering disebut pendirian inklusifisme. Pendirian ini lebih toleran. Toleransi ini didukung oleh suatu pandangan teologis bahwa keselamatan tidak hanya menjadi monopoli satu agama, Islam misalnya, sebagai satu-satunya agama yang benar. Tetapi keselamatan juga dapat terjadi di dalam agama lain. Keselamatan tidak butuh pernyataan eksplisit ungkapan iman kepada agama tertentu. Namun, keselamatan dapat terjadi tanpa adanya hubungan yang eksplisit dan hubungan yang disadari dengan agama tertentu. Iman yang seperti ini sering disebut Iman Anonim. Jelasnya, orang yang beragama di luar Kristen berhak memperoleh keselamatan sejauh mereka berbuat baik dan hidup dalam ketulusan hati terhadap Tuhan, sebab karya Tuhan pun ada pada mereka, walaupun mereka belum mendapat kabar baik agama Kristen misalnya.
Hans Kung menganggap bahwa pendirian inklusif ini masih mengandung kesombongan yang tersembunyi atau sikap merasa diri super atas agama-agama lain. Kung menawarkan pendirian lain yang bisa menjadi dasar yang, di satu pihak, tidak meremehkan agama lain dan di lain pihak, tidak menghianati agamanya sendiri? Pendiriannya itu ia sebut kritis-ekumenis. Menurutnya kita harus memandang kedudukan agama-agama dari dua arah: dari dalam dan dari luar. Benarkah hanya ada satu agama yang benar dalam arti agama-agama lainnya mengambil bagian dalam kebenaran agama yang satu itu (inklusifisme)? Dari luar: Diakui adanya bermacam-macam agama yang benar. Inilah dimensi relative dari suatu agama. Agama-agama ini mempunyai satu tujuan, yaitu keselamatan (dengan konsep keselamatan yang berbeda-beda. Lewat perbedaannya ini, agama-agama bisa memperkaya satu sama lain. Dari dalam: Diakui adanya satu agama yang benar. Inilah dimensi mutlak dari suatu agama. Bagi Kung, seorang pemeluk agama Kristen, satu agama ini adalah Kristianisme. Kebenaran ini ada “sejauh Kristianisme mengakui akan satu Allah yang benar sebagaimana diwahyukanNya dalam diri Yesus Kristus”. Pendirian ini tidak harus menolak kebenaran agama-agama lain, walaupun benar sampai tingkat tertentu. Sejauh tidak bertentangan dengan pesan agama Kristen, agama-agama lain dapat “melengkapi, mengoreksi dan memperdalam agama Kristen”.
Apapun pandangan Hans Kung tersebut intinya dia masih bisa disebut mempunyai pendirian inklusifisme atau lebih tepatnya neoinklusifisme. Pandangan Kung ini sebenamya hendak menuju pendirian Pluralisme, namun masih ragu-ragu.

Pendirian Pluralisme adalah pendirian yang keempat, pendirian ini berpendapat dan percaya bahwa setiap agama atau semua agama mempunyai jalan keselamatannya sendiri-sendiri. Dia menolak inklusifisme. Namun, bagi sebagian besar agama-agama berpendapat bahwa Pluralisme adalah tidak relevan dan Absurd (tidak mungkin). Paham Pluralisme ini percaya bahwa semua agama adalah sama, tetapi bukan seperti paham Deisme yang sudah tidak mementingkan lagi agama-agama formal walaupun la berpendirian bahwa agama-agama semuanya sama. Pluralisme menganggap semua agama adalah penting dan sah.

Orang-orang (sering disebut aliran Deisme) melihat agama sebagai sesuatu yang kurang penting karena mereka beranggapan bahwa agama-agama formal (organized religions) semisal Yahudi, Nasrani dan Islam sebagai tidak memiliki masa depan. Yang bertahan bagi mereka adalah pesan-pesannya yang universal semisal kemaha-Esa-an Tuhan (Unitarianisme) dan kebenaran Universal (Universalisme), namun ritus-ritus formal dan label yang membungkusnya dircmehkan dan ditinggalkan, sehingga mereka tidak merasa perlu mengikatkan diri kepada salah satu agama dan mempermasalahkan kesalahan dan kebenarannya masing-masing.

JALAN LURUS DENGAN KALIMATUN SAWA’
(titik temu agama-agama)
Setelah melihat uraian di atas lalu, bagaimana pandangan Islam? Pandangan Islam sepertinya lebih “mendekati” pendirian inklusifisme, kritis-ekumenis dan sekaligus Pluralis.

Budi Munawar Rachman dalam artikelnya yang berjudul Filsafat Perennial dan Masalah Klaim Kebenaran berpendapat; Salah satu kesadaran yang sangat berakar dalam pandangan seorang Muslim: Agama Islam adalah sebuah agama universal untuk sekalian umat manusia. Landasan prinsip-prinsip tersebut adalah Tunggal, meskipun ada berbagai manifestasi lahiriahnya yang beraneka ragam. Ini juga yang telah menghasilkan pandangan antropologis bahwa pada mulanya umat manusia adalah Tunggal, karena berpegang kepada Kebenaran Tunggal (Tuhan). Tapi kemudian manusia berselisih paham, justru setelah penjelasan tentang Kebenaran itu datang, dan mereka berusaha memahami Kebenaran itu, setaraf dengan kemampuan atau sesuai dengan keterbatasan mereka. Sehingga di sinilah mulai terjadi perbedaan penafsiran terhadap kebenaran Yang Tunggal itu.

Perbedaan itu itu kemudian dipertajam oleh kepentingan pribadi dan kelompok (vested interest). Kesatuan asal umat manusia itu dilukiskan Alqur’an, “…adalah manusia itu melainkan semvia merupakan umat yangtunggal, kemudian mereka berselisih.” (QS.10:19)
Pokok pangkal kebenaran universal yang tunggal itu ialah paham Ketuhanan Yang Maha Esa, atau Tauhid. Tugas para rasul adalah menyampaikan ajaran tentang Tauhid ini, serta ajaran tentang keharusan manusia tunduk patuh hanya kepada-Nya saja (Islam).Dan, justru berdasarkan paham ketauhidan inilah, Alqur’an mengajarkan paham kemajemukan keagamaan (religious plurality). “Tidak ada paksaan untuk beragama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa ingkar kepada Thaghut (syaitan dan apa saja yang disembah selain Allah), dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amatkuat yang tidak akan putus.”(QS. 2:256)

Dalam pandangan teologi Islam, sikap ini dapat ditafsirkan sebagai suatu harapan kepada semua agama yang ada: Bahwa semua agama itu pada mulanya menganut prinsip yang sama. Karena alasan inilah Alqur’an mengajak kepada “titik pertemuan” atau dalam istilah Alqur’annya adalah: kalimatun Sawa’. “Katakanlah olehmu (Muhammad): wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan (kalimah sawa’} antara kami dan kamu: yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak memeperserikatkan-Nya kepada apa pun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai “tuhan-tuhan ” selain Allah. “(QS. 3:64)

Implikasi dari kalimah sawa’ ini adalah: siapa pun dapat memperoleh “keselamatan” asalkan dia beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, dan berbuat baik. Pandangan ini akan mendorong umat Islam secara normatif untuk menghargai kemajemukan keagamaan lewat sikap-sikap toleransi, dan keterbukaan seperti dicerminkan dalam konsep tentang siapa yang digolongkan sebagai Ahli Kitab.

Demikianlah, Islam berpandangan mengenai Kebenaran haluan hidup, yaitu manusia hendaknya menuju jalan yang lurus itu dengan (minimal) beriman kepada Allah dan berbuat baik, sebagai titik pertemuan adanya keberagaman jalan hidup (agama). Berkenaan dengan hal tersebut daya pikir kita pasti membenarkan logika itu.
Selebihnya dalam mencenderungkan hati kita kepada Kebenaran, daya pikir memberitahukan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah contoh tauladan kita. Dalam mengarungi hidupnya sehari-hari Rasulullah mempunyai pedoman dan prinsip-prinsip pribadi yang patut ditiru.

Pedoman dan prinsip-prinsip haluan hidup Rasulullah adalah seperti apa yang ada di dalam hadits ini:
“Ma’rifat (pengetahuan) adalah modalku, akal pikiran adalah sumber agamaku, cinta adalah dasar hidupku, rindu adalah kendaraanku, berdzikir adalah kawan dekatku, keteguhan adalah perbendaharaanku, duka adalah kawanku, limn adalah senjataku, ketabahan adalah pakaianku, kerelaan adalah sasaranku, faqr (kesederhanaan) adalah kebanggaanku, menahan diri adalah pekerjaanku, keyakinan adalah makananku, kejujuran adalah perantaraku, ketaatan adalah ukuranku, berjihad adalah perangaikii dan hiburanku adalah sholat.” (Al Hadits)

  1. Aloysius ST
    Mei 22, 2009 pukul 11:25 am | #1

    Yuhuuuuu.. Aku niy Mas Wawan.
    Rupanya Anda senang sekali berkelana menjelajahi keaneka ragaman pendapat tentang “posisi dan eksistensi” agama.
    Dan Anda adalah ilmuwan.Yang saya suka pada diri Anda Anda orang yang ulet mencari dan mencari, ditambah dengan dasar emosional yang stabil.

    Pada titik tertentu sebenarnya kita tidak perlu menganalisa “esensi beragama”, tapi lebih ke “ekspresi beragama”. Walaupun pemahaman esensi mempengaruhi orang berekspresi, tapi itu tidaklah mutlak pada kodisi tertentu. Yang paling aman adalah menganalisa ekspresi beragama di mana manusia dalam keadaan nyaman. Tidak ada kegelisahan, tidak ada penderitaan dan lain sebagainya.
    Kehidupan sudah dikodratkan mempunyai 2 sisi. Anda berada di sisi yang satu tentunya mencoba mengerti ke sisi yang lain. Anda seorang kaya… pernakah Anda berpikir seandainya Anda orang miskin. Anda seorang yang baik, alim, dan taat beragama, pernakah anda berpikir seandainya Anda seorang penjahat, perampok, pembunuh…? Tuhan telah memberikan siang dan malam, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, yang semuanya semestinya kita sadari, pada saat kita berada di sisi itu, di sisi sana ada apa ya?

    ====
    “Ma’rifat (pengetahuan) adalah modalku, akal pikiran adalah sumber agamaku, cinta adalah dasar hidupku, rindu adalah kendaraanku, berdzikir adalah kawan dekatku, keteguhan adalah perbendaharaanku, duka adalah kawanku, limn adalah senjataku, ketabahan adalah pakaianku, kerelaan adalah sasaranku, faqr (kesederhanaan) adalah kebanggaanku, menahan diri adalah pekerjaanku, keyakinan adalah makananku, kejujuran adalah perantaraku, ketaatan adalah ukuranku, berjihad adalah perangaikii dan hiburanku adalah sholat.” (Al Hadits)
    ====

    Ijazahnya adalah “IKKLAS” dengan “grade” yang tertinggi.

    Al-Quran, adalah referensi yang paling nyaman buat Anda tentunya. Tapi kalau hati dan pikiran anda sedang tidak “nyaman” dan “gelisah”… seberapa mampu Anda menempatkan “nyaman” dalam memahami bahasa di dalamnya.

    Bravo Mas….

  2. Mei 25, 2009 pukul 1:14 am | #2

    salam manis Allah Yang Esa tu mas Aloy,

    Al-Quran, adalah referensi yang paling nyaman buat Anda tentunya. Tapi kalau hati dan pikiran anda sedang tidak “nyaman” dan “gelisah”… seberapa mampu Anda menempatkan “nyaman” dalam memahami bahasa di dalamnya.

    sangat nyaman, tenang dan damai mas….
    Makna Akidah = Cinta mas…

    1. percaya kebenaran hal2 yg berhubungan dengan dasar keyakinan.
    2. kepercayaan itu mendatangkan ketenangan, ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan jiwa.
    3. dan keyakinan kebenaran yang seperti itu diikuti dengan sikap tanpa ragu2 sekecil apapun, walaupun dihadapkan oleh kritik rasio + hati (AKAL).

    salam..

  3. Aloysius ST
    Mei 25, 2009 pukul 2:52 am | #3

    Mas Wawan,
    Ini mungkin ada / tidak ada hubungannya.
    Ya…, sekedar komentar dari boss aku di Vatikan.
    Bisa jadi “hardikan” bagi pengguna blog atau facebook, atau apalah, agar menempatkan sebagai niat yang “benar”

    Pesan Bapa Suci Benediktus XVI untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-43, 24 Mei 2009
    Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan

    Saudara dan Saudari Terkasih,

    1. Mendahului Hari Komunikasi Sedunia yang akan datang, Saya ingin menyampaikan kepada anda beberapa permenungan mengenai tema yang dipilih untuk tahun ini yakni Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan. Sesungguhnya teknologi digital baru sedang membawa pergeseran yang hakiki terhadap perilaku-perilaku komunikasi juga terhadap ragam hubungan manusia.

    Pergeseran itu secara istimewa dialami oleh kaum muda yang bertumbuh bersama teknologi baru dan telah merasakan dunia digital sebagai rumah sendiri. Mereka berusaha memahami dan memanfaatkan peluang yang diberikan olehnya, sesuatu yang bagi kita orang dewasa seringkali dirasakan cukup asing. Dalam pesan tahun ini, Saya ingat akan mereka yang dikenal sebagai generasi digital, dan Saya ingin berbagi dengan mereka, khususnya tentang gagasan-gagasan menyangkut potensi ulung teknologi baru demi mamajukan pemahaman dan rasa kesetiakawanan manusia. Teknologi baru sesungguhnya merupakan anugerah bagi umat manusia dan kita mesti memberikan jaminan bahwa manfaat yang dimilikinya tentu dipergunakan untuk melayani semua manusia secara pribadi dan komunitas, teristimewa mereka yang kurang beruntung dan menderita.

    (Manfaat Media Baru)

    2. Akses terhadap telpon seluler dan komputer yang kian mudah disertai dengan jangkauan dan penyebaran internet secara meluas sampai ke wilayah jauh dan terpencil telah menjadikan internet sebagai prasarana jalan bagi penyampaian berbagai jenis pesan. Sungguh sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Daya dasyat media baru ini telah digenggam oleh orang-orang muda dalam mengembangkan jalinan, komunikasi dan pengertian di antara individu maupun secara bersama. Mereka telah beralih ke media baru sebagai sarana berkomunikasi dengan teman-teman, berjumpa dengan teman-teman baru, membangun paguyuban dan jejaring, mencari informasi dan berita, serta sarana berbagi gagasan dan pendapat. Budaya baru ini membawa banyak manfaat bagi komunikasi, antara lain keluarga-keluarga tetap bisa berkomunikasi meski terpisah oleh jarak yang jauh, para pelajar dan peneliti memperoleh peluang lebih cepat dan mudah kepada dokumen, sumber-sumber rujukan dan penemuan-penemuan ilmiah sehingga mereka mampu bekerja secara bersama meski dari tempat yang berbeda. Lebih dari itu, kodrat interaktif yang dihadirkan oleh berbagai media baru mempermudah pembelajaran dan komunikasi dalam bentuk yang lebih dinamis dan pada akhirnya memberikan sumbangsih bagi perkembangan sosial.

    (Jangan hanya terpukau dengan kecanggihan teknis media baru. Media baru sebagai jawaban mendasar kerinduan umat manusia untuk berkomunikasi)

    3. Kita tidak perlu terlalu terpukau dengan kehebatan media baru dalam menjawab kerinduan manusia dalam berkomunikasi dan berelasi dengan sesama, karena sesungguhnya, hasrat berkomunikasi dan bersahabat ini berakar dari kodrat kita yang paling dalam sebagai manusia dan tak boleh dimengerti sebagai jawaban terhadap berbagai inovasi teknis. Dalam terang amanat Kitab Suci, hasrat untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain, pertama-tama harus dimengerti sebagai ungkapan peran-serta kita akan kasih Allah yang komunikatif dan mempersatukan, yang ingin menjadikan seluruh umat manusia sebagai suatu keluarga. Tatkala kita ingin mendekati orang lain, tatkala kita ingin mengetahui lebih banyak tentang mereka dan membuat kita dikenal oleh mereka maka saat itulah kita sedang menjawab panggilan Allah, yakni panggilan yang terpatri dalam kodrat kita sebagai mahkluk yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, Allah komunikasi dan persekutuan.

    ( Hasrat mendasar manusia adalah berkomunikasi)

    4. Hasrat saling berhubungan dan naluri komunikasi yang melekat dalam kebudayaan masa kini sungguh dipahami sebagai ungkapan kecenderungan mendasar dan berkelanjutan manusia modern untuk menjangkau keluar serta mengupayakan persekutuan dengan orang lain. Tatkala kita membuka diri terhadap orang lain, kita sedang memenuhi hasrat kita yang terdalam dan menjadi lebih sungguh manusia. Pada dasarnya, mengasihi adalah hal yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Dalam hal ini, Saya tidak berbicara tentang hubungan sekilas dan dangkal, tetapi tentang kasih yang sesungguhnya, yang menjadi inti ajaran moral Yesus: “Kasihilah TuhanAllahmu dengan sepenuh hati, dengan seluruh jiwa raga, dengan seluruh akal budimu dan dengan seluruh kekuatanmu” dan ” kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (bdk. Mrk 12:30-31). Dalam terang pemahaman ini, merenungi makna teknologi baru sungguh penting, agar kita tidak sekadar menaruh pehatian pada kemampuannya yang tak dapat diragukan itu, tetapi terutama pada kwalitas isi yang disebarkan melalui media tersebut. Saya ingin mendorong semua orang yang berkehendak baik yang sedang bergiat di lingkungan komunikasi digital masa kini untuk sungguh membaktikan diri dalam memajukan budaya menghomati, dialog dan persahabatan.

    Oleh karena itu, mereka yang bergiat dalam pembuatan dan penyebaran isi media baru harus benar-benar menghormati martabat dan nilai pribadi manusia. Apabila teknologi baru dipergunakan untuk melayani kebaikan pribadi dan masyarakat, semua penggunanya akan mengelakkan tukar menukar kata dan gambar yang merendahkan umat manusia, keintiman hubungan seksual, atau yang mengeksploitasi orang lemah dan menderita.

    ( Media baru sebagai gelanggang berdialog)

    5. Teknologi baru juga membuka jalan untuk dialog di antara orang-orang dari berbagai negara, budaya dan agama. Gelanggang digital baru yang disebut jagat maya, memungkinkan mereka untuk bertemu dan saling mengenal kebiasaan dan nilai-nilai mereka masing-masing. Perjumpaan-perjumpaan yang demikian, jika ingin berhasil guna, menuntut bentuk pengungkapan bersama yang jujur dan tepat disertai sikap mendengar dengan penuh perhatian dan penghargaan. Bila dialog bertujuan untuk memajukan pertumbuhan pengertian dan sikap setia kawan, ia harus berakar pada ikhtiar mencari kebenaran sejati dan bersama. Hidup bukanlah sekadar rangkaian peristiwa dan pengalaman. Hidup adalah sebuah pencarian kebenaran, kebaikan dan keindahan. Untuk maksud inilah maka kita membuat pilihan; untuk maksud inilah maka kita meragakan kebebasan kita, dengan maksud inilah-yakni dalam kebenaran, dalam kebaikan dan dalam keindahan-kita menemukan kebahagiaan dan sukacita. Kita tidak boleh membiarkan diri diperdaya oleh orang-orang yang memandang kita semata-mata sebagai konsumen sebuah pasar, yang dijejali dengan aneka ragam kemungkinan, yang mengubah pilihan menjadi barang, kebaruan mengganti keindahan dan pengalaman sukyektif menggantikan kebenaran.

    (Persahabatan ‘on-line’ dan persahabatan riil)

    6. Gagasan tentang persahabatan telah mendapat pemahaman baru oleh munculnya kosa kata jaringan sosial digital dalam beberapa tahun belakangan ini. Gagasan ini merupakan suatu pencapaian yang paling luhur dalam budaya manusia. Dalam dan melalui persahabatan, kita bertumbuh dan berkembang sebagai manusia. Karena itu, persahabatan yang benar harus selalu dilihat sebagai kekayaan paling besar yang dapat dialami oleh pribadi manusia. Dengan ini, kita mestinya hati-hati memandang remeh gagasan atau pengalaman persahabatan. Sungguh menyedihkan apabila hasrat untuk mempertahankan dan mengembangkan persahabatan ‘on-line’ mengorbankan kesempatan untuk keluarga, tetangga serta mereka yang kita jumpai dalam keseharian di tempat kerja, di tempat pendidikan dan tempat rekreasi. Apabila hasrat akan jalinan maya berubah menjadi obsesi, maka hasrat itu akan memarjinalkan pribadi dari interaksi sosial sehari-hari sekaligus menghambat pola istirahat, keheningan dan permenungan yang berguna bagi perkembangan kesehatan manusia.

    7. Persahabatan adalah kekayaan terbesar manusia, tetapi nilai ulungnya bisa hilang apabila persahabatan itu dipahami sebagai tujuan itu sendiri. Sahabat harus saling mendukung dan saling memberi dorongan dalam mengembangkan bakat dan pembawaan mereka serta memanfaatkannya demi pelayanan umat manusia. Dalam konteks ini, sungguh membanggakan bila jejaring digital baru beriktiar memajukan kesetiakawanan umat manusia, damai dan keadilan, hak asasi manusia dan penghargaan terhadap hidup manusia serta kebaikan ciptaan. Jejaring ini dapat mempermudah bentuk-bentuk kerjasama antar manusia dari konteks geografis dan budaya yang berbeda serta membuat mereka mampu memperdalam rasa sepenanggungan demi kebaikan untuk semua. Karena itu, secara tegas kita harus menjamin bahwa dunia digital, dimana jejaring serupa itu dapat dibangun, adalah dunia yang sungguh terbuka untuk semua orang. Sungguh menjadi tragedi masa depan umat manusia apabila sarana baru komunikasi yang memungkinkan orang berbagi pengetahuan dan informasi dengan cara yang lebih cepat dan berdayaguna, tidak terakses oleh mereka yang terpinggirkan secara ekonomi dan sosial, atau apabila ia hanya membantu memperbesar kesenjangan yang memisahkan orang miskin dari jejaringan baru itu yang justru dikembangkan bagi pelayanan sosialisasi manusia dan penyebaran informasi.

    (Pesan khusus untuk kaum muda: menginjil di dunia digital)

    8. Saya bermaksud menyimpulkan pesan ini dengan menyampaikan secara khusus kepada orang muda katolik untuk mendorong mereka memberikan kesaksian iman dalam dunia digital. Saudara dan Saudari terkasih, Saya meminta kepada anda sekalian untuk memperkenalkan nilai-nilai yang melandasi hidup anda ke dalam lingkungan budaya baru yakni budaya teknologi komunikasi dan informasi. Pada awal kehidupan gereja, para rasul bersama murid-muridnya mewartakan kabar gembira tentang Yesus kepada dunia orang Yunani dan Romawi. Sudah sejak masa itu, keberhasilan karya evangelisasi menuntut perhatian yang seksama dalam memahami kebudayaan dan kebiasaan bangsa-bangsa kafir sehingga kebenaran Injil dapat menjamah hati dan pikiran mereka. Demikian juga pada masa kini, karya pewartaan Kristus dalam dunia teknologi baru menuntut suatu pengetahuan yang mendalam tentang dunia jika teknologi itu dipergunakan untuk melayani perutusan kita secara berdayaguna.

    9. Kepada anda kalian, orang-orang muda, yang memiliki hubungan spontan terhadap sarana baru komunikasi, supaya bertanggungjawab terhadap evangelisasi ‘benua digital’ ini. Pastikan untuk mewartakan Injil ke dalam dunia jaman sekarang dengan penuh semangat. Kamu mengetahui kecemasan dan harapan mereka, cita-cita dan kekecewaan mereka. Hadiah terbesar yang dapat kalian berikan kepada mereka adalah berbagi dengan mereka “kabar gembira” Allah yang telah menjadi manusia, yang menderita, wafat dan bangkit kembali untuk menyelamatkan semua orang. Hati umat manusia sedang haus akan sebuah dunia dimana kasih meraja, dimana anugerah dibagikan dan dimana jati diri ditemukan dalam bentuk persekutuan yang saling menghargai. Iman kita mampu menjawab harapan-harapan itu. Semoga kamu menjadi bentaraNya! Ketahuilah, Bapa Suci memberkati anda dengan doa dan berkatnya

    Vatikan, 24 Januari 2009, pesta Santo Fransiskus de Sales

    Paus Benediktus XVI

  4. Mei 28, 2009 pukul 1:00 am | #4

    trims Aloy tu infonya…
    klo ada keputusan konsili vatikan II boleh juga di share ke sini..

  5. Aloysius ST
    Mei 28, 2009 pukul 6:27 am | #5

    Mas Wawan,
    sori keburu terkirim.

    kalau mau lengkap ya ada di:
    http://www.imankatolik.or.id/f.php?f=index1.html,
    cari di DOKUMEN GEREJA

    Td maksudnya untuk melihat kulitnya dulu.

  6. Mei 29, 2009 pukul 12:30 am | #6

    bukan itu yg sy maksud, tapi keputusan konsili vatikan II khusus tu tema: Keselamatan bagi orang2 Katolik/kristen anonim… (non kristiani). Maaf kuhapus yach, daftar isi di atas agar biar fokus diskusinya?

  7. Mei 29, 2009 pukul 12:42 am | #7

    http://www.ekaristi.org/vat_ii/Pernyataan_ttg_Hub_gereja_dgn%20Agama2_Bkn_Kristiani.php

    link ini pasnya berkenaan dengan konsili vatikan II:
    berkenaan dengan hubungan Katolik dengan diluar Katolik.

  8. Aloysius ST
    Mei 29, 2009 pukul 2:31 am | #8

    Mas,
    maksudnya mau cari yang apa??
    Adakah yang mengganjal yang mana??

    No problem kalau dihapus, apalagi kan panjang dan menuh menuhin tempat…..

  9. Aloysius ST
    Mei 29, 2009 pukul 5:01 am | #9

    mas fotone nggantheng sing ndhisik

  10. Mei 30, 2009 pukul 12:40 am | #10

    Ini yang saya maksud pernyataan Konsili Vatikan II bab dibawah yg berkenaan tema agama keturunan gmana menurut teman2 tafsir konsili ini:

    PERNYATAAN TENTANG HUBUNGAN GEREJA DENGAN AGAMA-AGAMA BUKAN KRISTIANI

    1. (Pendahuluan)

    PADA ZAMAN KITA bangsa manusia semakin erat bersatu dan hubungan-hubungan antara pelbagai bangsa berkembang. Gereja mempertimbangkan dengan lebih cermat, manakah hubungannya dengan agama-agama bukan kristiani. Dalam tugasnya mengembangkan kesatuan dan cinta kasih antar manusia, bahkan antar bangsa, gereja disini terutama mempertimbangkan manakah hal-hal yang pada umumnya terdapat pada bangsa manusia, dan yang mendorong semua untuk bersama-sama menghadapi situasi sekarang.

    Sebab semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi[[1]]. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir, yakni Allah, yang penyelenggaraan-Nya, bukti-bukti kebaikan-Nya dan rencana penyelamatan-Nya meliputi semua orang[[2]], sampai para terpilih dipersatukan dalam Kota suci, yang akan diterangi oleh kemuliaan Allah; di sana bangsa-bangsa akan berjalan dalam cahaya-Nya[[3]].

    Dari pelbagai agama manusia mengharapkan jawaban tentang teka-teki keadaan manusiawi yang tersembunyi, yang seperti di masa silam, begitu pula sekarang menyentuh hati manusia secara mendalam: apakah manusia itu? Manakah makna dan tujuan hidup kita? Manakah yang baik dan apakah dosa itu? Dari manakah asal penderitaan dan manakah tujuannya? Manakah jalan untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati? Apakah arti maut, pengadilan dan pembalasan sesudah mati? Akhirnya apakah Misteri terakhir dan tak terperikan itu, yang merangkum keberadaan kita, dan menjadi asal serta tujuan kita?

    2. (Berbagai agama bukan kristen)

    Sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini diantara pelbagai bangsa terdapat suatu kesadaran tentang daya-kekuatan yang gaib, yang hadir pada perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-kadang ada pengakuan terhadap Kuasa ilahi yang tertinggi atau pun Bapa. Kesadaran dan pengakuan tadi meresapi kehidupan bangsa-bangsa itu dengan semangat religius yang mendalam. Adapun agama-agama, yang terikat pada perkembangan kebudayaan, berusaha menanggapi masalah-masalah tadi dengan faham-faham yang lebih rumit dan bahasa yang lebih terkembangkan. Demikianlah dalam hinduisme manusia menyelidiki misteri ilahi dan mengungkapkannya dengan kesuburan mitos-mitos yang melimpah serta dengan usaha-usaha filsafah yang mendalam. Hinduisme mencari pembebasan dari kesesakan keadaan kita entah melalui bentuk-bentuk hidup berulah-tapa atau melalui permenungan yang mendalam, atau dengan mengungsi kepada Allah penuh kasih dan kepercayaan. Buddhisme dalam pelbagai alirannya mengakui, bahwa dunia yang serba berubah ini sama sekali tidak mencukupi, dan mengajarkan kepada manusia jalan untuk dengan jiwa penuh bakti dan kepercayaan memperoleh keadaan kebebasan yang sempurna, atau – entah dengan usaha sendiri entah berkat bantuan dari atas – mencapai penerangan yang tertinggi. Demikian pula agama-agama lain, yang terdapat diseluruh dunia, dengan pelbagai cara berusaha menanggapi kegelisahan hati manusia, dengan menunjukkan berbagai jalan, yakni ajaran-ajaran serta kaidah-kaidah hidup maupun upacara-upacara suci.

    Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya[[4]].

    Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.

    3. (Agama Islam)

    Gereja juga menghargai umat Islam, yang menyembah Allah satu-satunya, yang hidup dan berdaulat, penuh belaskasihan dan mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, yang telah bersabda kepada umat manusia. Kaum muslimin berusaha menyerahkan diri dengan segenap hati kepada ketetapan-ketetetapan Allah juga yang bersifat rahasia, seperti dahulu Abraham – iman Islam dengan sukarela mengacu kepadanya – telah menyerahkan diri kepada Allah. Memang mereka tidak mengakui Yesus sebagai Allah, melainkan menghormati-Nya sebagai Nabi. Mereka juga menghormati Maria Bunda-Nya yang tetap perawan, dan pada saat-saat tertentu dengan khidmat berseru kepadanya. Selain itu mereka mendambakan hari pengadilan, bila Allah akan mengganjar semua orang yang telah bangkit. Maka mereka juga menjunjung tinggi kehidupan susila, dan berbakti kepada Allah terutama dalam doa, dengan memberi sedekah dan berpuasa.

    Memang benar, disepanjang zaman cukup sering timbul pertikaian dan permusuhan antara umat Kristiani dan kaum Muslimin. Konsili suci mendorong mereka semua, supaya melupakan yang sudah-sudah, dan dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami, dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan.

    4. (Agama Yahudi)

    Sementara menyelami Misteri gereja, Konsili suci ini mengenangkan ikatan rohani antara Umat perjanjian Baru dan keturunan Abraham.

    Sebab Gereja Kristus mengakui bahwa – menurut rencana ilahi penyelamatan yang bersifat rahasia – awal mula iman serta pemilihannya sudah terdapat pada para Bapa Bangsa, Musa dan para Nabi. Gereja mengakui, bahwa semua orang beriman kristiani, putera-putera abraham dalam iman[[5]], terangkum dalam panggilan Bapa bangsa itu, dan bahwa keselamatan Gereja dipralambangkan secara misterius dalam keluarnya bangsa yang terpilih dari tanah perbudakan. Oleh karena itu Gereja tidak dapat melupakan, bahwa ia telah menerima Wahyu Perjanjian Lama melalui bangsa itu, dan bahwa karena belas-kasihan-Nya yang tak terhingga Allah telah berkenan mengadakan Perjanjian Lama dengannya. Gereja tetap ingat, bahwa ia menerima santapannya dari akar zaitun yang baik, dan bahwa cabang-cabang zaitun yang liar, yakni kaum kafir, telah dicangkokkan pada pohon zaitun itu[[6]]. Sebab Gereja mengimani, bahwa Kristus, Damai kita, melalui salib telah mendamaikan bangsa Yahudi dan kaum Kafir dan telah menyatukan keduanya dalam diri-Nya[[7]].

    Selalu pula Gereja mengenangkan kata-kata rasul paulus tentang sesama sukunya: “mereka telah diangkat menjadi anak, dan telah menerima kemuliaan, dan perjanjian, dan hukum Taurat dan ibadah dan janji-janji; mereka keturunan para bapa leluhur, yang menurunkan Kristus menurut daging” (Rom 9:4-5), Putera Perawan Maria. Gereja mengingat juga, bahwa dari bangsa Yahudi lahirlah para Rasul, dasar dan saka guru Gereja, begitu pula amat banyak murid pertama, yang mewartakan Injil Kristus kepada dunia.

    Menurut Kitab suci Yerusalem tidak mengenal saat Allah melawatnya[[8]], dan sebagian besar orang-orang Yahudi tidak menerima Injil; bahkan banyak juga yang menentang penyebarannya[[9]]. Tetapi, menurut Rasul, orang-orang Yahudi tetap masih dicintai oleh Allah demi para leluhur, sebab Allah tidak menyesalkan kurnia-kurnia serta panggilan-Nya[[10]]. Bersama dengan para nabi dan Rasul itu juga Gereja mendambakan hari yang hanya diketahui oleh Allah, saatnya semua bangsa serentak akan menyerukan Tuhan, dan “mengabdi-Nya bahu-membahu” (Zef 3:9)[[11]].

    Maka karena sebesar itulah pusaka rohani yang diwariskan bersama oleh umat Kristiani dan bangsa Yahudi, Konsili suci ini bermaksud mendukung dan menganjurkan saling pengertian dan saling penghargaan antara keduanya, dan itu terwujud terutama melalui studi Kitab suci dan teologi serta dialog persaudaraan.

    Meskipun para pemuka bangsa Yahudi beserta para penganut mereka mendesak kematian Kristus[[12]], namun apa yang telah dijalankan selama Ia menderita sengsara tidak begitu saja dapat dibebankan sebagai kesalahan pada semua orang Yahudi yang hidup ketika itu atau kepada orang Yahudi zaman sekarang. Walaupun Gereja itu umat Allah yang baru, namun hendaknya orang-orang Yahudi jangan digambarkan seolah-olah dibuang oleh Allah atau terkutuk, seakan-akan itu dapat disimpulkan dari Kitab suci. Maka hendaknya semua berusaha, supaya dalam berkatekese dan mewartakan Sabda Allah jangan mengajarkan apa pun, yang tidak selaras dengan kebenaran Injil dan semangat Kistus.

    Selain itu Gereja, yang mengecam segala penganiayaan terhadap siapapun juga, mengingat pusaka warisannya bersama bangsa Yahudi. Gereja masih menyesalkan kebencian, penganiayaan, pun juga unjuk-unjuk rasa antisemitisme terhadap bangsa Yahudi, kapan pun dan oleh siapa pun itu dijalankan, terdorong bukan karena motivasi-motivasi politik, melainkan karena cinta kasih keagamaan menurut Injil.

    Kecuali itu Kristus, seperti selalu telah dan tetap masih diyakini oleh gereja, demi dosa-dosa semua orang telah menanggung sengsara dan wafat-Nya dengan sukarela, karena cinta kasih-Nya yang tiada taranya, supaya semua orang memperoleh keselamatan. Maka merupakan tugas Gereja pewarta: memberitakan salib Kristus sebagai lambang cinta kasih Allah terhadap semua orang dan sebagai sumber segala rahmat.

    5. (Persaudaraan semesta tanpa diskriminasi)

    Tetapi kita tidak dapat menyerukan nama Allah Bapa semua orang, bila terhadap orang-orang tertentu, yang diciptakan menurut citra kesamaan Allah, kita tidak mau bersikap sebagai saudara. Hubungan manusia dengan Allah Bapa dan hubungannya dengan sesama manusia saudaranya begitu erat, sehingga Alkitab berkata: “Barang siapa tidak mencintai, ia tidak mengenal Allah” (1Yoh 4:8).

    Jadi tiadalah dasar bagi setiap teori atau praktik, yang mengadakan pembedaan mengenai martabat manusia serta hak-hak yang bersumber padanya antara manusia dan manusia, antara bangsa dan bangsa.

    Maka Gereja mengecam setiap diskriminasi antara orang-orang atau penganiayaan berdasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama, sebagai berlawanan dengan semangat kristus. Oleh karena itu Konsili suci, mengikuti jejak para Rasul kudus Petrus dan Paulus, meminta dengan sangat kepada Umat beriman kristiani, supaya bila ini mungkin “memelihara cara hidup yang baik diantara bangsa-bangsa bukan Yahudi” (1Ptr 2:12), dan sejauh tergantung dari mereka hidup dalam damai dengan semua orang[[13]], sehingga mereka sungguh-sungguh menjadi putera Bapa di sorga[[14]].

    Semua itu dan setiap hal yang diungkapkan dalam pernyataan ini telah berkenan kepada para Bapa Konsili suci. Adapun kami, dengan kuasa kerasulan yang diserahkan kristus kepada Kami, bersama para Bapa yang terhormat, mengesahkan, menetapkan serta mengundangkannya dalam roh Kudus. Dan kami memerintahkan, agar apa yang telah ditetapkan bersama dalam Konsili ini diumumkan demi kemuliaan Allah.

    Roma, di gereja Santo Petrus, tanggal 28 bulan Oktober tahun 1965.

  1. Belum ada trackback.