AGAMA KETURUNAN

Ada sebuah pertanyaan yg sulit dijawab yakni sbb: “Kita semua beragama disebabkan oleh warisan bapak-ibu kita, jadi agama kita adalah agama keturunan. Yang bapak-ibunya Islam menjadi Islam, yang bapak-ibunya Kristen menjadi Kristen dan seterusnya. Perbedaan ternyata telah terpampang di depan sesosok bayi tatkala baru dilahirkan! Dengan demikian berhakkah kita menghakimi saudara2 kita yang lain agama, bahwa mereka kafir dan tidak akan selamat kelak di hari pembalasan?
Categories: lintas Agama
agama, agama keturunan, dosa warisan, Islam, kristen, warisan






orang yang tidak islam itu kafir. alias islam itu vs kafir.
orang yang tidak islam itu kafir. alias islam itu vs kafir.
hanya sebegitukah jawabannya?? fantastis!!!
islam itu sangat detail dan dalam filosopinya menyangkut semua aspek kehidupan menjanjikan kenikmatan duniawi dan akhirat sehingga penganut islam sangat bangga dan cenderung menganggap yg bukan islam lebih rendah alias kafir. qur,an adalah keajaiban tuhan tapi dari generasi ke generasi kemerosotan moral pada sebagian besar pemeluknya benar2 telah mengubah quran itu sendiri. entah yg salah qurannya atau orangya? itu semua kembali pada hati kecil setiap pemeluk islam yg bernurani bersih…
Tul mas ali, salam kenal. Islam saat ini terasa garang… seakan-akan Islam telah meninggalkan prinsip dakwah yang paling utama, yaitu rahmatan lil alamin. Kalau mau rahmatan lil alamin koq, blom2 udah garang gitu??? hehe.. apanya yang salah??? Apakah Islam emang gitu???
Ada pendapat dr kalangan umat islam mengatakan :
non islam adalah kafir
yahudi dan nasrani adalah kaum ahli kitab
hindu-budha adalah kaum musyrikin.
Salam semuanya
memang benar kebanyakan dari kita beragama karena orang tua kita beragama. Tapi adakalanya diantara beberapa orang yang dulunya menganut agama orang tuanya lalu pindah menganut agama lain.
misalnya dahulu menganut agama budha yang merupakan keturunan dari orang tuanya lalu karena suatu hal berpindah agama menganut agama katolik.
Sahabatku,
Aku nongol di sini boleh ga????…..
sahabat Aloy… boleh2 silahkan… mari diskusi tema ini hehe…
Dear All,
Saya tidak ingin memasuki sebuah wilayah polemik yang bersifat “personal faith”. Apakah yang terbaik dan tersuci dan yang memiliki hak atas “tempat”Nya hanya bagi seseorang dengan lebel agama tertentu??
Kesalahan manusia memahami TUHAN adalah menempatkan pemikiran dan kehendakNya hanya dengan takaran akal manusia. Kesalahan terbesar manusia menerjemahkan wahyu, atau sabda atau perintahNya hanya sebatas kekuatan akal.
Tuhan memberikan “free will” [kehendak bebas] kepada manusia sejak manusia ada di dunia ini. Manusia boleh memilih apa saja yang manusia suka, milih agama ini, atau itu, milih jadi orang baik atau orang jahat, bahkan milih jenis kelamin…..
Istilah kafir atau bukan, itu kan akal-akal manusia…. masalah pembalasan….. emangnya pertandingan atau turnamen karate… atau liga champion yang ada agregate nya…….
Soal surga dan neraka bukan urusan kita…..
tapi, kalau ada yang jual tiket ke surga saya mau jadi agennya…..
Kiranya anda semua sudi untuk mampir ke blog saya. Tolong kasi komentar ya..
http://islambukanpenyembahberhala.blogspot.com
Arti nama agama Kristen adalah pengikut Kristus,
Budha = pengikut Budha
Konghucu = pengikut Kong fu tse
Taoisme = pengikut Tao tse tsing
lalu ISLAM = artinya bukan pengikut Muhammad tapi berarti
agama kepasrahan, damai, ikhlas, kebahagiaan, kemakmuran, dengan cara beriman kepada Allah Yang ESA (MUTLAK) dan beribadah (beramal baik)..
Kekuatan AKAL = Rasio + hati (yang harus tidak saling menegasikan)..
Tul, manusia mempunyai free will…. suka2 aja lah hehe…
tapi jangan lupa mesti ada petunjuk cara mengarahkan free will itu ke arah yang semestinya….
Mengkafirkan orang, saya sepakat sangat tidak mudah melakukannya, saya percaya hanya Allah yg berhak melakukannya….
Pembalasan/Pahala = secara nalar + hati Wajib ada. Argument Moral konsep dari Immanuel kant sangat mengharuskan itu!
–Apakah orang2 jahat yang begitu banyak di dunia ini yang luput dari jerat hukum dunia di hari akhir akan lenggang kangkung tanpa pembalasan??? ataukah cukup dimatikan?? begitu konsep Nasrani berpendapat??
Mari menjual tiket syurga bersama kami hehehe…
Apabila saya mengesampingkan nilai spiritual dari sebuah agama, artinya bahwa pada saat kita bercengkerama dengan akal dan logika.
Nilai-nilai dalam setiap agama memiliki “jargon”… (keyword) yang menjadi “produk” unggulannya.
Itulah alasan bagi manusia untuk “membeli” tiket ke surga, selain ada beberapa “produk” lebih populer di wilayah tertentu, karena alsan geografiskah… alasan budayakah…. alasan sosial dan ekonomikah….
Nah PEMBALASAN dan/atau PAHALA adalah bentuk rasional dan merupakan kesimpulan manusia… seperti halnya surga dan neraka…. bukan urusan kita….
Logikanya … berbuat baik akan selalu mendapatkan hasil yang baik selama dilihat dan berada di sudut pandang yang baik…
Paling tidak kalau kita “mampu berbuat baik” kita akan mendapatkan “point reward”…. Masuk akal …. !
Jadi benar mari kita “bersaing” menjual tiket ke surga …..
barangkali “point value” kita nambah dan naik posisi ….
MLM kaleee………
Tapi apabila nilai spiritual religius jadi bahan pertimbangan…. itu adalah sangat pribadi untuk menentukan pilihannya….Masing-masing mempunyai “ambang” yang berbeda dalam menentukan koridor “free will”nya
Dan ini yang sangat sensitif dibicarakn untuk lintas agama… harus hati-hati dan penuh rasa hormat….
Salam,
Oya…,
saya belum menjawab Mas Wawan secara jelas, (soalnya saya sering berkelana dengan statement yg absurd…he…he.)
——–
Apakah orang2 jahat yang begitu banyak di dunia ini yang
luput dari jerat hukum dunia di hari akhir akan lenggang kangkung tanpa pembalasan??? ataukah cukup dimatikan?? begitu konsep Nasrani berpendapat??
——–
Jahat atau baik itu juga kreasi manusia dalam menyatakan pendapatnya untuk hal yang positif atau negatif atas perbuatannya.
Lalu apakah seekor macan yang membunuh anak rusa termasuk perbuatan jahat……?? Atau seekor elang yang menculik anak ayam termasuk pebuatan jahat…….?
Naluri bagi binatang adalah kejujuran. Naluri pada manusiapun tidak bisa sesat. Yang sesat pada saat akal dan nurani tidak sinkron… Potensi Nurani sering di kesampingkan…. Kemampuan nurani selalu diukur dengan akal… Sehingga sering nurani tidak didengarkan karena harus melewati akal. Padahal nurani selalu jujur dan akal adalah sumber kejahatan (kebohongan) terbesar dalam diri manusia.
Suara Tuhan harus didengar melalui akal…tapi biarlah nurani yang memahaminya… Tuhan itu tidak masuk akal tapi “perbuatanNya” dapat dipahami nurani kita…
Jadi FREE WILL , keputusannya harus didasari NURANI, tidak ada masalah dengan DASAR IMAN yang mana.
Ibarat,
Bumi ini adalah milik bersama… Bukan milik orang Islam, bukan milik orang Buda, atau Kristiani… Bukan milik orang Bule…Bukan pula milik monyet…atau kadal….
Tapi milik semua makhluk…..
Jadi surga juga milik bersama…. dan tiket ke surga salah satu serinya adalah “SERI NURANI”.
(mungkin bisa dibandingkan di surah al israa` (QS. 17:17))
Mohon dikoreksi kalau saya salah memberikan perbandingan….
Jahat atau baik itu juga kreasi manusia dalam menyatakan pendapatnya untuk hal yang positif atau negatif atas perbuatannya.
Lalu apakah seekor macan yang membunuh anak rusa termasuk perbuatan jahat……?? Atau seekor elang yang menculik anak ayam termasuk pebuatan jahat…….?
mas, manusia jangan dibandingkan dengan hewan lho.. manusia diberi anugerah AKAL (rasio dan hati) sehingga menjadi gambar Tuhan, mempunyai free will dan AKAL sebagai potensi untuk mengerti dan berprilaku bebas, mau baik ato jahat, iman ato kufur dll… dari kebebasannya itu besok mesti juga mempertanggungjawabkan dihadapan Tuhan.
hewan tidak diberi potensi tersebut, sehingga yang terjadi masih hukum Tuhan (sunatullah) yang tanpa prosesi moral, etika apalagi ilmu. Tul da’ hehe…
Mas, yg saya catat dari pikiran2 anda:
1. Mas Aloy mengakui Tuhan Allah itu ESA (tauhid), walau masih blom murni karena msh mengakui Trinitas.
2. Mengakui Al Qur’an sebagai kitab suci Tuhan..
3. pasti setuju beramal baik.
4. mengakui Muhammad sebagai nabi (karena udah tak terbantahkan)
kurang sedikit mas jenengan sudah berstatus Muslim lho hehehe…..
Jelas sekali manusia tidak bisa dibandingkan dengan hewan, hanya untuk urusan “alam semesta” kita harus mengakui bahwa binatang lebih pandai mengelola keseimbangannya. Karena mereka jujur. Karena binatang tidak menggunakan LOGIKA. Kalau manusia dikatakan lebih jago menggunakan akal dan logikanya tanpa berimbang dengan nurani, manusia malah cenderung merusak keseimbangan alam. Kita tidak pernah tahu apakah binatang harus bertanggung jawab kepada Tuhan atau tidak. Kita hanya tahu bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Tuhan.
He…he…
Trinitas lagi….. Anda ga paham sih soal Trinitas….Anda masih bermain dengan logika soal Trinitas…. Simple kok mas memahami Trinitas, cukup dengan kejujuran dari nurani Anda. maka akal dan logika akan menyertai pemahaman Trinitas.
“Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh.
Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: “Kamu harus dilahirkan kembali”.” (Yohanes 1: 6-7)
Gitu Mas Wawan, salah satu pemikiran Kristus yang ditulis Yohanes, yang nantinya akan berkembang menjadi Trinitas. (masih banyak lagi yang masih dapat disimpulkan dari pemikiran, perbuatan dan mukjijat Kristus untuk berkembang menjadi Trinitas.) Tidak ada yang aneh kok….! Dan kalau kita jujur…. itu masuk akal.
He…he….
Saya kan orang pluralis…Konsep agama apapun selama masih berpaham monotheis bisa dan monggo masuk ke dalam roh dan jiwa saya…. Tapi dalam pelaksanaan ibadah pribadi saya milih katolik…
hanya untuk urusan “alam semesta” kita harus mengakui bahwa binatang lebih pandai mengelola keseimbangannya.
=================
bukan lebih pandai, makhluk selain manusia di jagat ini oleh Allah dikenai hukum sunatullah yang sudah diatur oleh Allah tanpa free will, jadi memang apa adanya dan akan berlaku begitu hingga kiamat.. tapi lain bagi manusia yang diberi free will dan AKAL (nurani dan rasio)….
Gitu Mas Wawan, salah satu pemikiran Kristus yang ditulis Yohanes, yang nantinya akan berkembang menjadi Trinitas. (masih banyak lagi yang masih dapat disimpulkan dari pemikiran, perbuatan dan mukjijat Kristus untuk berkembang menjadi Trinitas.)
=============
konsep Dzat Tuhan kog berkembang hehe….
Tuhan itu alfa dan omega, baqa’ ato Kekal sejak dulu sampai akhir dan tidak berubah hehe….
emang sih, kenyatannya di sejarah Nasrani konsep Dzat Tuhannya emang ditentukan oleh konsensus2 konsili manusia hahaha… aneh… 24 nabi + Isa aja da’ mengajarkan gitu lho, hehe…
Hati nurani kita lebih memilih Tuhan Yang Esa mutlak lho…..drpd Trinitas yg ambiqu….
nb…
Mas Akal itu mempunyai komponen hati nurani dan rasio yg mesti berjalan seiring dan tidak saling menegasikan….. nilai Hati harus sesuai dengan rasio dan nilai rasio juga harus sesuai dengan hati…, jadi keimanan kita mesti harus sesuai rasio sekaligus hati kita..
konsep Dzat Tuhan kog berkembang hehe….
Tuhan itu alfa dan omega, baqa’ ato Kekal sejak dulu sampai akhir dan tidak berubah hehe
=============
“… Rohku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia adalah daging, tetapi umurnya hanya seratus duapuluh tahun saja.” (Kejadian 6:3)
Persis !!!
Saya rasa itu soal presepsi atau sudut pandang,
===========
emang sih, kenyatannya di sejarah Nasrani konsep Dzat Tuhannya emang ditentukan oleh konsensus2 konsili manusia hahaha… aneh… 24 nabi + Isa aja da’ mengajarkan gitu lho, hehe…
Hati nurani kita lebih memilih Tuhan Yang Esa mutlak lho…..drpd Trinitas yg ambiqu….
============
Kembali ke persoalan aja ya, capek kalau ngomongin yag kaya gitu. muter-muter…!
Jadi mana yang mau nimpalin soal AGAMA KETURUNAN…he…he….
salam,
emang capek kalau ngomongin trinitas ntar muter-muter terus hehe….…
klo ngomongin Tuhan Allah Yang Esa (tauhid) jelas kita semua mengimaninya hehe…..
kembali ke topik ni…
Muhammad diutus Allah tidak untuk menghakimi hati seseorang
Landasan dalam Qur’an:
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2 : 62)
Riwayat Asbabun nuzul ayat Qur’an tersebut sbb:
” ada seorang sahabat nabi Muhammad (fulan) bertanya kepada nabi, “Bagaimana nasib sahabatnya yang beragama yahudi, nasrani, shabiin kelak di hari pembalasan? Nabi pada awal menjawab, “mereka semua tidak akan selamat.” Mendengar sabda nabi itu si fulan bermuram durja mukanya. Kemudian turunlah ayat (QS. 2: 62) tersebut tu mengingatkan kepada nabi Muhammad bahwa hanya Allah-lah yg berhak mengklaim keselamatan seseorang di hari pembalasan kelak. selanjutnya kala menerima ayat itu Muhammad segera sadar dan meralat sabdanya kepada fulan dengan membacakan ayat itu. Maka, sahabat tersebut langsung berwajah cerah dan berbahagia.
dalam hadist ini:
“Dari Miqdad bin ‘Amr ; ia pernah bertanya kepada Nabi : Bagaimana jika ia berperang dengan kaum kafir, lalu berkelahi dengan seorang diantaranya hingga tangannya terputus dan dalam satu kesempatan sang musuh berhasil dijatuhkan lalu saat akan dibunuhnya dia berseru “Aslamtu lillah” – aku Islam kepada Allah – namun masih dibunuhnya, apa jawab Nabi ?
- Jangan kau bunuh dia, jika kau bunuh dia maka sesungguhnya dia sudah berada dalam kedudukanmu sebelum engkau membunuhnya, yaitu seorang Muslim, sedangkan kamu berada dalam posisinya sebelum dia mengucapkan kalimat itu (yaitu kafir).; lalu dijawab oleh Miqdad bahwa pernyataan orang itu hanya untuk menghindari pembunuhan saja, jawab Nabi lagi, bahwa dirinya diutus Allah tidak untuk menghakimi hati seseorang.”
dari dua landasan Qur’an dan Hadist di atas Islam mengajarkan dengan pasti bahwa:
1. Muhammad diutus Allah tidak untuk menghakimi hati seseorang..
2. Keselamatan seseorang di akherat kelak adalah mutlak hak Allah semata.
3. Islam melarang mengkafirkan secara sembarangan seseorang.
4. Orang mukmin, yahudi, nasrani, shabiin, majusi dll sebagai seorang manusia mempunyai derajat yg sama di mata Tuhan.. (wallahu a’lam bishowab…)
itu dulu, gmana komentar teman2…
He…he….
Mas, Aku rada “ngeri” juga kalo Mas Wawan menanyakan Trinitas terus, apalagi kalau sampe kebawa tidur….
Ntar malah : “tresno mergo soko kulino” lho Mas….
He…he….
Sayang ya, dalam Injil blom disampaikan soal Islam secara “nyata”dan rinci , bahwa ada “prediksi” yang diyakini bahwa akan ada manusia entah itu namanya “agus” atau “roger” atau “mohammad”… atau siapalah pernah disebutkan tapi tidak jelas, dan bisa diterjemahkan macam-macam.
Menarik kesimpulan sedikit…
Agama ada di muka bumi adalah untuk mengendalikan manusia supaya berakal dan berbudi dan berhati nurani.
Tapi kenyatannya agama menjadi sebuah “tool” untuk mendapatkan kekuasaan, kekuatan dan lain lain yang untuk kepentingan kelompok agama tertentu…
Kelompok agama tertentu membuat kepentingan hanya di dasari “akal”, tidak berbudi dan tidak berhati nurani.
Apa itu kelompok nasrani, yahudi, islam, hindu, budha…. Sama saja !! karena hanya mengandalkan akal.
Itulah Mas Wawan….
Akal kita bisa jadi jahat kalau tidak dibarengi budi dan hati nurani….
Mohammad SAW, adalah tokoh yang sangat mulia bagi siapapun manusia di muka bumi. Beliau tidak akan di sebut sebagai nabi apabila oreientasinya sebagai penghakim, beliau sebagai “penjaga” tatanan apa yang sudah ada, kalau ada yang kurang turunlah firman kepadanya untuk melengkapi.
Saya bukan muslim, tetapi seperti itulah presepsi saya.
Dear Mas Wawan,
Soal Konsili Vatikan II saya masukkan di sini ya…. dan maaf baru sempet merespon. pertama aku harus berpikir ekstra dulu, kedua kbtulan waktuku mepet, alias sibuk.
aku mulai dengan kutipan ini kali ya :
===
Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya[[4]].
Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.
===
Karena ini sebuah pernyataan resmi tentang bagaimana sikap gereja terjemahkan saja secara tekstual.
Hanya pada kutipan Yoh:14,6 pemahamannya akan kembali ke konsep Trinitas. (Aku ada artikel tentang Tauhid untuk anak2 muda katolik, kalau berkenan kirim alamat email pribadi ke hp aku 0856 78 255 39, ntar aku attch. Tauhidnya juga menyoal Trinitas lho mas.)
Tapi, dalam konteks konsili tersebut hanya ditujukan bagi umat katolik di sluruh dunia untuk bersikap.
===
Maka Gereja mengecam setiap diskriminasi antara orang-orang atau penganiayaan berdasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama, sebagai berlawanan dengan semangat kristus. Oleh karena itu Konsili suci, mengikuti jejak para Rasul kudus Petrus dan Paulus, meminta dengan sangat kepada Umat beriman kristiani, supaya bila ini mungkin “memelihara cara hidup yang baik diantara bangsa-bangsa bukan Yahudi” (1Ptr 2:12), dan sejauh tergantung dari mereka hidup dalam damai dengan semua orang[[13]], sehingga mereka sungguh-sungguh menjadi putera Bapa di sorga[[14]].
===
Mas,Sebuah propaganda dan ajakan “anti kekerasan dan anti diskriminasi ” bagi umat gereja katolik, tidak ada yang aneh, Mas.
“Barang siapa tidak mencintai, ia tidak mengenal Allah” (1Yoh 4:8).
Maksudnya meletakan inti ajaran katolik “cinta kasih”.
aku rasa sangat jelas bahwa gereja dari waktu ke waktu selalu memperbaiki diri dalam mewartakan kasih Tuhan, juga bagi penganut agama lain.
Kita mewartakan bukan untuk umat agama lain berpindah agam kemudian jadi katolik. Siapapun juga berhak atas kasih Allah, dan kasih Allah diwujudkan dalam perilaku kita dalam kehidupan. Lebih jelas lagi, Umat katolik wajib berbuat baik dan menghargai dan mencintai sesamanya.
gitu mas, aku lagi buru2 niy…..
Lebih lengkapnya lihat pernyataan Konsili Vatikan II bab dibawah yg berkenaan tema agama keturunan gmana menurut teman2 tafsir konsili ini:
PERNYATAAN TENTANG HUBUNGAN GEREJA DENGAN AGAMA-AGAMA BUKAN KRISTIANI
1. (Pendahuluan)
PADA ZAMAN KITA bangsa manusia semakin erat bersatu dan hubungan-hubungan antara pelbagai bangsa berkembang. Gereja mempertimbangkan dengan lebih cermat, manakah hubungannya dengan agama-agama bukan kristiani. Dalam tugasnya mengembangkan kesatuan dan cinta kasih antar manusia, bahkan antar bangsa, gereja disini terutama mempertimbangkan manakah hal-hal yang pada umumnya terdapat pada bangsa manusia, dan yang mendorong semua untuk bersama-sama menghadapi situasi sekarang.
Sebab semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi[[1]]. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir, yakni Allah, yang penyelenggaraan-Nya, bukti-bukti kebaikan-Nya dan rencana penyelamatan-Nya meliputi semua orang[[2]], sampai para terpilih dipersatukan dalam Kota suci, yang akan diterangi oleh kemuliaan Allah; di sana bangsa-bangsa akan berjalan dalam cahaya-Nya[[3]].
Dari pelbagai agama manusia mengharapkan jawaban tentang teka-teki keadaan manusiawi yang tersembunyi, yang seperti di masa silam, begitu pula sekarang menyentuh hati manusia secara mendalam: apakah manusia itu? Manakah makna dan tujuan hidup kita? Manakah yang baik dan apakah dosa itu? Dari manakah asal penderitaan dan manakah tujuannya? Manakah jalan untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati? Apakah arti maut, pengadilan dan pembalasan sesudah mati? Akhirnya apakah Misteri terakhir dan tak terperikan itu, yang merangkum keberadaan kita, dan menjadi asal serta tujuan kita?
2. (Berbagai agama bukan kristen)
Sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini diantara pelbagai bangsa terdapat suatu kesadaran tentang daya-kekuatan yang gaib, yang hadir pada perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-kadang ada pengakuan terhadap Kuasa ilahi yang tertinggi atau pun Bapa. Kesadaran dan pengakuan tadi meresapi kehidupan bangsa-bangsa itu dengan semangat religius yang mendalam. Adapun agama-agama, yang terikat pada perkembangan kebudayaan, berusaha menanggapi masalah-masalah tadi dengan faham-faham yang lebih rumit dan bahasa yang lebih terkembangkan. Demikianlah dalam hinduisme manusia menyelidiki misteri ilahi dan mengungkapkannya dengan kesuburan mitos-mitos yang melimpah serta dengan usaha-usaha filsafah yang mendalam. Hinduisme mencari pembebasan dari kesesakan keadaan kita entah melalui bentuk-bentuk hidup berulah-tapa atau melalui permenungan yang mendalam, atau dengan mengungsi kepada Allah penuh kasih dan kepercayaan. Buddhisme dalam pelbagai alirannya mengakui, bahwa dunia yang serba berubah ini sama sekali tidak mencukupi, dan mengajarkan kepada manusia jalan untuk dengan jiwa penuh bakti dan kepercayaan memperoleh keadaan kebebasan yang sempurna, atau – entah dengan usaha sendiri entah berkat bantuan dari atas – mencapai penerangan yang tertinggi. Demikian pula agama-agama lain, yang terdapat diseluruh dunia, dengan pelbagai cara berusaha menanggapi kegelisahan hati manusia, dengan menunjukkan berbagai jalan, yakni ajaran-ajaran serta kaidah-kaidah hidup maupun upacara-upacara suci.
Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya[[4]].
Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.
3. (Agama Islam)
Gereja juga menghargai umat Islam, yang menyembah Allah satu-satunya, yang hidup dan berdaulat, penuh belaskasihan dan mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, yang telah bersabda kepada umat manusia. Kaum muslimin berusaha menyerahkan diri dengan segenap hati kepada ketetapan-ketetetapan Allah juga yang bersifat rahasia, seperti dahulu Abraham – iman Islam dengan sukarela mengacu kepadanya – telah menyerahkan diri kepada Allah. Memang mereka tidak mengakui Yesus sebagai Allah, melainkan menghormati-Nya sebagai Nabi. Mereka juga menghormati Maria Bunda-Nya yang tetap perawan, dan pada saat-saat tertentu dengan khidmat berseru kepadanya. Selain itu mereka mendambakan hari pengadilan, bila Allah akan mengganjar semua orang yang telah bangkit. Maka mereka juga menjunjung tinggi kehidupan susila, dan berbakti kepada Allah terutama dalam doa, dengan memberi sedekah dan berpuasa.
Memang benar, disepanjang zaman cukup sering timbul pertikaian dan permusuhan antara umat Kristiani dan kaum Muslimin. Konsili suci mendorong mereka semua, supaya melupakan yang sudah-sudah, dan dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami, dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan.
4. (Agama Yahudi)
Sementara menyelami Misteri gereja, Konsili suci ini mengenangkan ikatan rohani antara Umat perjanjian Baru dan keturunan Abraham.
Sebab Gereja Kristus mengakui bahwa – menurut rencana ilahi penyelamatan yang bersifat rahasia – awal mula iman serta pemilihannya sudah terdapat pada para Bapa Bangsa, Musa dan para Nabi. Gereja mengakui, bahwa semua orang beriman kristiani, putera-putera abraham dalam iman[[5]], terangkum dalam panggilan Bapa bangsa itu, dan bahwa keselamatan Gereja dipralambangkan secara misterius dalam keluarnya bangsa yang terpilih dari tanah perbudakan. Oleh karena itu Gereja tidak dapat melupakan, bahwa ia telah menerima Wahyu Perjanjian Lama melalui bangsa itu, dan bahwa karena belas-kasihan-Nya yang tak terhingga Allah telah berkenan mengadakan Perjanjian Lama dengannya. Gereja tetap ingat, bahwa ia menerima santapannya dari akar zaitun yang baik, dan bahwa cabang-cabang zaitun yang liar, yakni kaum kafir, telah dicangkokkan pada pohon zaitun itu[[6]]. Sebab Gereja mengimani, bahwa Kristus, Damai kita, melalui salib telah mendamaikan bangsa Yahudi dan kaum Kafir dan telah menyatukan keduanya dalam diri-Nya[[7]].
Selalu pula Gereja mengenangkan kata-kata rasul paulus tentang sesama sukunya: “mereka telah diangkat menjadi anak, dan telah menerima kemuliaan, dan perjanjian, dan hukum Taurat dan ibadah dan janji-janji; mereka keturunan para bapa leluhur, yang menurunkan Kristus menurut daging” (Rom 9:4-5), Putera Perawan Maria. Gereja mengingat juga, bahwa dari bangsa Yahudi lahirlah para Rasul, dasar dan saka guru Gereja, begitu pula amat banyak murid pertama, yang mewartakan Injil Kristus kepada dunia.
Menurut Kitab suci Yerusalem tidak mengenal saat Allah melawatnya[[8]], dan sebagian besar orang-orang Yahudi tidak menerima Injil; bahkan banyak juga yang menentang penyebarannya[[9]]. Tetapi, menurut Rasul, orang-orang Yahudi tetap masih dicintai oleh Allah demi para leluhur, sebab Allah tidak menyesalkan kurnia-kurnia serta panggilan-Nya[[10]]. Bersama dengan para nabi dan Rasul itu juga Gereja mendambakan hari yang hanya diketahui oleh Allah, saatnya semua bangsa serentak akan menyerukan Tuhan, dan “mengabdi-Nya bahu-membahu” (Zef 3:9)[[11]].
Maka karena sebesar itulah pusaka rohani yang diwariskan bersama oleh umat Kristiani dan bangsa Yahudi, Konsili suci ini bermaksud mendukung dan menganjurkan saling pengertian dan saling penghargaan antara keduanya, dan itu terwujud terutama melalui studi Kitab suci dan teologi serta dialog persaudaraan.
Meskipun para pemuka bangsa Yahudi beserta para penganut mereka mendesak kematian Kristus[[12]], namun apa yang telah dijalankan selama Ia menderita sengsara tidak begitu saja dapat dibebankan sebagai kesalahan pada semua orang Yahudi yang hidup ketika itu atau kepada orang Yahudi zaman sekarang. Walaupun Gereja itu umat Allah yang baru, namun hendaknya orang-orang Yahudi jangan digambarkan seolah-olah dibuang oleh Allah atau terkutuk, seakan-akan itu dapat disimpulkan dari Kitab suci. Maka hendaknya semua berusaha, supaya dalam berkatekese dan mewartakan Sabda Allah jangan mengajarkan apa pun, yang tidak selaras dengan kebenaran Injil dan semangat Kistus.
Selain itu Gereja, yang mengecam segala penganiayaan terhadap siapapun juga, mengingat pusaka warisannya bersama bangsa Yahudi. Gereja masih menyesalkan kebencian, penganiayaan, pun juga unjuk-unjuk rasa antisemitisme terhadap bangsa Yahudi, kapan pun dan oleh siapa pun itu dijalankan, terdorong bukan karena motivasi-motivasi politik, melainkan karena cinta kasih keagamaan menurut Injil.
Kecuali itu Kristus, seperti selalu telah dan tetap masih diyakini oleh gereja, demi dosa-dosa semua orang telah menanggung sengsara dan wafat-Nya dengan sukarela, karena cinta kasih-Nya yang tiada taranya, supaya semua orang memperoleh keselamatan. Maka merupakan tugas Gereja pewarta: memberitakan salib Kristus sebagai lambang cinta kasih Allah terhadap semua orang dan sebagai sumber segala rahmat.
5. (Persaudaraan semesta tanpa diskriminasi)
Tetapi kita tidak dapat menyerukan nama Allah Bapa semua orang, bila terhadap orang-orang tertentu, yang diciptakan menurut citra kesamaan Allah, kita tidak mau bersikap sebagai saudara. Hubungan manusia dengan Allah Bapa dan hubungannya dengan sesama manusia saudaranya begitu erat, sehingga Alkitab berkata: “Barang siapa tidak mencintai, ia tidak mengenal Allah” (1Yoh 4:8).
Jadi tiadalah dasar bagi setiap teori atau praktik, yang mengadakan pembedaan mengenai martabat manusia serta hak-hak yang bersumber padanya antara manusia dan manusia, antara bangsa dan bangsa.
Maka Gereja mengecam setiap diskriminasi antara orang-orang atau penganiayaan berdasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama, sebagai berlawanan dengan semangat kristus. Oleh karena itu Konsili suci, mengikuti jejak para Rasul kudus Petrus dan Paulus, meminta dengan sangat kepada Umat beriman kristiani, supaya bila ini mungkin “memelihara cara hidup yang baik diantara bangsa-bangsa bukan Yahudi” (1Ptr 2:12), dan sejauh tergantung dari mereka hidup dalam damai dengan semua orang[[13]], sehingga mereka sungguh-sungguh menjadi putera Bapa di sorga[[14]].
Semua itu dan setiap hal yang diungkapkan dalam pernyataan ini telah berkenan kepada para Bapa Konsili suci. Adapun kami, dengan kuasa kerasulan yang diserahkan kristus kepada Kami, bersama para Bapa yang terhormat, mengesahkan, menetapkan serta mengundangkannya dalam roh Kudus. Dan kami memerintahkan, agar apa yang telah ditetapkan bersama dalam Konsili ini diumumkan demi kemuliaan Allah.
Roma, di gereja Santo Petrus, tanggal 28 bulan Oktober tahun 1965.
ass…smoga kbahagian dan keselamatan milik kita bersama….saya cma ikutn nimbrung nech, sbtulnya klo qt brtanya pd diri kita sndiri…mmng kita tdk memungkiri bahwa kita ada saat ini krna org tua kita shingga ppun kita saat ini y hasil dari ortu kita…..trmsuk agama, dan syapun tidak memungkirinya klo agama yg saya anut skr ini adalh agama turunan…….!!! tp skilas tentang sejarah agama itu sndiri….
sbnarnya p sih agama itu : klo menurut definisi agama adalah a : tidak, dan gama sendiri : kacau….jd secara istilah bs di artikan bahwa agama itu ada di dunia ini agar kita sebagai manusia yg adanya di dunia ini sebagai kholifah/pemimpin tidak tersesat atau kacau balau hidup’y dalam menjalani khidupan d dunia ni, jd kesimpulan yg bs dtarik dari semua itu bhwa apapun agama dan kepercayaan itu sama di hadapan tuhan, krna tuhan itu satu dan bukan hanya milik dari satu agama trtentu…..dalam islam sendiri disebutkan bhwa….’ kanjeng nabi muhammad saw diturunkan k dunia ini bukan untuk mbawa ajaran agama islam tp untuk menyempurnakan ahlak…..!!! islam itu sgt smpit klo di pandang sebagai suatu agama…..krna islam sendiri diturnkan untuk menyempurnakan ahlak bukan untuk membawa ajaran agama…..jd islam itu lebih cocok sebagai aturan hidup bagi semua alam semesta, krna islam adalah rahmat bagi alam semesta….!!! menurut bahasa islam adalah selamat dan menyelamatkan….. klo menurut org sunda bhwa islam adalah pasrah, ridho, iklas, welas jeung asih….y itulah islam….jd islam adalah aturan hidup bagi semua untuk membawa dunia ini apa yg dinamakan oleh sebagian org jawa dengan hamemayu hayuning bawana……., thanks